Queen Of Alexander'S

Queen Of Alexander'S
TAK INGIN BERHENTI



"Sekali lagi!" Bisik Edward setelah pria itu mencapai pelepasannya entah yang keberapa kali. Elleanore bahkan sudah terkulai tak berdaya dengan tubuh yang masih dipenuhi oleh peluh.


"Kau tidak lelah?" Tanya Elleanore seraya mengusap wajah Edward yang sudah kembali mendekat ke arah wajahnya. Sesekali Edward juga mencium bibir Elleanore yang tak berhenti menyunggingkan senyum. Seperti halnya Edward yang sedang bahagia, Elleanore juga sedang bahagia sekarang karena apa yang terjadi malam ini bersama Edward adalah sebuah hal yang sudah sejak lama Elleanore impikan.


"Rasanya aku tak ingin berhenti," Edward mengecup panjang pundak putih Elleanore dan kembali menambahkan tanda kepemilikannya di sana. Elleanore sudah melingkarkan kedua lengannya pada tubuh Edward dan mendekap erat tubuh polos suaminya tersebut.


"Kau bersedia, kan?" Tanya Edward meminta izin sekali lagi pada Elleanore.


"Ya!" Jawab Elleanore lirih, seraya melirik ke jam di atas nakas yang menunjukkan hampir pukul tiga pagi. Empat jam sudah, Elleanore dan Edward bergelut dibatas tempat tidur yang kini bentuknya sudah tak karuan.


Elleanore juga baru ingat, kalau ia dan Edward sejak tadi tak berada di kamar mereka sendiri, melainkan di kamar tamu di lantai bawah.


Tapi siapa peduli?


Hanya ada mereka berdua di rumah, dan setiap sudut kediaman Alexander adalah milik mereka berdua sekarang.


"Emmmmhhh!" Elleanore melenguh saat milik Edward kembali menyentak masuk. Rasanya masih sedikit perih, namun Elleanore memilih untuk menikmatinya karena rasa perih ini akan berganti menjadi sebuah perasaan nikmat yang tak mampu lagi Elleanore ungkapkan dengan kata-kata.


"Satu kali saja! Aku sudah mengantuk," pesan Elleanore pada Edward yang sudah mulai bergerak di atasnya.


Setelah tadi mereka berdua mencoba beragam gaya, sekarang Elleanore memilih kembali berada di bawah karena ia rak sanggup lagi jika harus mencoba posisi lain. Padahal semangat Edward masih terlihat begitu membara.


Ya ampun!


Edward memang luar biasa!


"Kau bisa tidur setelah ini selesai," ucap Edward lembut seraya mengecup kening Elleanore.


"Masih sakit?" tanya Edward yang pergerakannya mulai intens dan berirama. Elleanore masih mencoba mengimbangi, meskipun wanita itu sedikit tersengal.


"Tidak terlalu. Sepertinya sudah terbiasa karena sudah beberapa ronde tadi," Elleanore tertawa kecil dan wajah wanita itu langsung bersemu merah.


"Kau keberatan jika aku menginginkannya setiap malam?" Tanya Edward seraya berbisik di telinga Elleanore. Hembusan nafas Edward yang mengenai cuping telinga Elleanore, langsung menimbulkan gelenyar aneh yang merasuki aliran darah Elleanore.


"Rasanya seperti candu," ujar Edward lagi.


"Ya, rasanya seperti candu," jawab Elleanore bergumam. Tangan Elleanore mengusap dada bidang Edward yang begitu nyaman dan hangat untuk bersembunyi. Membuat Elleanore ingin selalu menyusupkan kepalanya di sana setiap saat.


"Hei!" Edward mengusap lembut wajah Elleanore yang masih bersemu merah.


"Apa?" Gumam Elleanore yang tak bisa lagi menahan senyum kebahagiaan di bibirnya.


"Kau cantik," puji Edward sedikit genit.


"Apa kau sedang belajar bergombal sekarang?" Elleanore tertawa kecil dan Edward ikut tertawa.


"Masih terlihat kaku, ya? Aku sudah berusaha padahal." Edward menarik nafas beberapa kali sebelum kembali bergerak.


"Tidak juga. Aku menyukai usahamu untuk berubah tak kaku lagi," tukas Elleanore bersungguh-sungguh. Elleanore menarik kepala Edward lalu mencium bibir Edward dengan agresif, hingga membuat pergerakan Edward di bawah sana semakin terasa bersemangat.


Edward dan Elleanore terus berpagutan dengan panas, saat kemudian tubuh Edward kembali mengejang, dan sekali lagi, Edward menyemburkan cairan hangat yang langsung memenuhi rahim Elleanore.


Edward mengakhiri pagutannya pada bibir Elleanore, lalu lanjut mengecup kening istrinya tersebut cukup lama.


"Aku mencintaimu," bisik Edward mesra, sebelum pria itu berguling ke samping Elleanore, lalu menarik tubuh Elleanore ke dalam pelukannya.


"Aku juga mencintaimu!" Balas Elleanore seraya menyusupkan kepalanya ke dada bidang Edward.


Edward menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan juga tubuh Elleanore, lalu mengeratkan dekapannya pada Elleanore. Beberapa kali Edward juga mengecup puncak kepala Elleanore.


"Aku boleh bertemu kedua orang tuamu, Ed?" Tanya Elleanore yang tangannya masih mengusap-usap dada Edward.


Edward tak langsung menjawab dan pria itu menghela nafas beberapa kali sepertinya sedang berpikir.


"Ed," Elleanore sudah mengangkat kepalanya, lalu menatap wajah Edward dan menuntut jawaban.


"Aku takut kau akan kecewa," jawab Edward akhirnya seraya menatap lekat wajah Elleanore. Edward juga merapikan beberapa helai rambut Elleanore yang menutupi wajah istrinya tersebut.


"Kecewa kenapa?" Tanya Elleanore tak mengerti.


"Mereka tak seperti Mom dan Dad yang begitu harmonis," Edward terlihat menerawang dan sorot matanya seolah menunjukkan sebuah luka yang selama ini Edward pendam.


"Mereka sudah sibuk dengan dunia mereka sendiri saat aku beranjak remaja, seolah aku tak berarti apapun bagi mereka," gumam Edward lagi seraya tersenyum kecut.


"Ed," Elleanore langsung menangkup wajah suaminya tersebut dan menatap prihatin pada Edward yang terlihat begitu sedih.


"Bahkan di hari bahagiaku, mereka juga tak datang-"


"Mungkin karena kita menikah secara mendadak," Elleanore menyela kalimat Edward dan mencoba menghibur suaminya tersebut.


"Kau masih ingin bertemu mereka?" Tanya Edward tiba-tiba pada Elleanore.


"Aku tidak mau memaksamu," Elleanore sudah menyandarkan kembali kepalanya ke pelukan Edward.


"Aku akan minta izin pada Abang Richard dulu," tukas Edward seraya mengusap lembut kepala Elleanore yang hanya mengangguk di pelukan Edward.


"Sekarang tidurlah! Sudah hampir pagi," ujar Edward lagi pada Elleanore.


"Ayo pindah ke kamar atas!" Ajak Elleanore tiba-tiba yang langsung membuat Edward tertawa kecil.


"Aku baru ingat kalau kita di kamar lain."


Setelah sedikit membersihkan diri dan memakai baju, Edward menggendong Elleanore di punggung dan mereka langsung menuju ke kamar pengantin mereka di lantai dua.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.