Queen Of Alexander'S

Queen Of Alexander'S
SILAHKAN SAJA!



"Gika De Chio!" Sapa Tuan Bowles yang benar-benar diluar dugaan Gika.


Kenapa opa gadis macan rrrooaaar ini mengenal Gika?


Apa dia berlangganan tabloid remaja juga?


"Tuan Bowles! Senang berjumpa dengan anda!" Sapa Gika seraya tersenyum sopan. Tak lupa Gika juga menjabat tangan Tuan Bowles.


"Ngomong-ngomong, bagaimana kondisi Tiffany rrr-" Gika membungkam mulutnya dengan cepat karena hampir keceplosan mengaum saat menyebut si gadis macan.


"Bagaimana kabar Tiffany maksud saya, Tuan!" Gika mengulangi pertanyaannya.


"Kemarin itu yang menabrak Tiff adalah saudara kembar saya, Naka," Gika menunjuk ke arah Naka yang sedang menyapa seorang bocah kisaran umur sepuluh tahun yang mengenakan gaun princess warna pink.


Tunggu! Itu siapa?


Kenapa Naka akrab sekali dengan bocah itu?


Mungkinkah itu Sunny, Sunny?


"Ehem!" Deheman serta batuk dari tuan Bowles membuyarkan lamunan Gika perihal gadis sepuluh tahun yang sedang berbincang akrab bersama Naka.


"Iya, maaf, Tuan Bowles!"


"Jadi kemarin itu yang menabrak Tiff adalah Naka, saudara kembar saya, tapi Tiff mengira itu adalah saya jadi dia mengomeli saya habis-habisan!"


"Tapi saya tidak mempermasalahkannya dan tidak mengambil hati juga dengan semua makian Tiff." Gika bercerocos panjang lebar.


"Jadi?" Tuan Bowles menanggapi dengan singkat.


"Jadi, ya....Sebagai bentuk kesopanan bukankah seharusnya Tiff meminta maaf pada saya, Tuan Bowles?" Jawab Gika yang langsung membuat Tuan Bowles diam untuk beberapa saat.


Apa Gika baru saja salah bicara?


"Tiff belim bisa kemana-mana saat ini karena kau tahu sendiri kalau kaki cucu kesayanganku itu sedang patah." Tuan Bowles akhirnya angkat bicara.


"Tentu saja saya memahaminya, Tuan Bowles! Dan saya tidak keberatan menemui Tiff di rumah besar anda agar gadis itu bisa minta maaf pada saya," ujar Gika seraya tak berhenti memuji dirinya sendiri di dalam hati.


Modus yang bagus, Gika!


Kau akan tahu keberadaan gadis macan rrrooaaar itu sebentar lagi, lalu kau akan bisa segera minta kompensasi!


"Ide yang bagus, silahkan jika kau ingin datang ke rumah dan menemui Tiff," ucap Tuan Bowles seraya tersenyum ramah yang justru membuat Gika ternganga.


Apa maksudnya mempersilahkan tapi tanpa memberikan alamat?


Apa Tuan Bowles pikir Gika adalah cenayang?


"Tapi, Tuan Bowles! Maaf sebelumnya!"


"Alamat rumah anda?" Gika tak percaya dirinya benar-benar menanyakan alamat Tuan Bowles hanya demi bisa menemui Tiffany.


Sial sekali!


Belum pernah ada seorang wanita pun yang membuat Gika melakukan hal konyol seperti ini sebelumnya.


Dasar gadis macan rrrooaaar rrrooaaar!


Gika harus bisa menaklukkan gadis macan galak itu atau Gika benar-benar akan gila!


"Kediaman Bowles!" Jawab Tuan Bowles santai seolah sedang menguji kesabaran Gika. Gika benar-benar ingin garuk-garuk aspal sekarang!


"Di jalan?" Gika benar-benar sudah kehilangan muka sekarang.


"Tanya saja pada Henry! Dia tahu," pungkas Tuan Bowles sebelum kemudian opa Tiffany macan rrrooaaar itu pamit dari hadapan Gika.


Sial!


Tidak cucunya, tidak opanya, semuanya suka sekali membuat orang kesal!


Brengsek!


Gika harus mencari tahu!


Dimana asisten kurang ajar Gika itu?


****


"Abang Edward!" Sapa Elleanore pada Edward yang malam ini duduk menyendiri di sudut ballroom hotel dan hanya ditemani segelas minuman. Ekspresi wajah asisten Richard itu juga hanya datar seperti biasa seolah hidupnya memang hanya flat.


"Malam, Nona El!" Edward menjawab sapaan Elleanore ala kadarnya sebelum kembali menatap lurus ke arah Ashley dan Richard yang menjadi pusat perhatian pada malam hari ini. Pasangan itu baru melakukan sesi foto dan keduanya terlihat begitu serasi. Sampai kedatangan seorang wanita membuat Elleanore terkejut.


"Wanita ular itu! Sedang apa disini dan siapa yang mengundangnya?" Gumam Elleanore menatap tak suka ke arah Anneth yang entah bagaimana bisa datang dan kini sedang memberikan ucapan selamat pada Richard dan Ashley.


Pun dengan Edward yangvsudah bangkit dari duduknya serta menatap awas ke arah wanita ular bernama Anneth itu. Edward seolah sedang berdiap siaga untuk mengamankan Anneth kalau-kalau wanita itu akan membuat kekacauan malam ini.


Namun rupanya, sikap yang ditunjukkan Richard di depan Anneth benar-benar membuat Edward kaget. Berbeda dengan Elleanore yang langsung mengulas senyum saat melihat Richard yang mencium Ashley dengan mesra, lalu membawa calon kakak ipar Elleanore itu ke tengah-tengah ruangan untuk berdansa mengikuti alunan musik yang mulai mengalun.


Bisa Elleanore lihat wajah kesal Anneth sekarang, dan Elleanore benar-benar ingin tertawa terbahak-bahak.


"Dasar wanita ular! Masih saja punya muka untuk datang ke acara pernikahan Abang Richard!" Gumam Elleanore seraya tersenyum mengejek ke arah Anneth.


Berbeda dengan Edward yang tak berekspresi apa-apa dan pria itu kembali duduk ke tempatnya, lalu meneguk minuman di gelasnya hingga tandas.


"Abang Edward, ayo berdansa!" Elleanore tiba-tiba sudah menggamit tangan Edward dan sedikit merayu pria itu agar mau berdansa dengannya.


"Tidak, maaf! Saya akn duduk di sini, Nona El!" Jawab Edward tegas seraya melepaskan gamitan lengan Elleanore dari lengannya.


"Ayolah, Abang! El nggak punya teman dansa ini!" Elleanore kembali menggamit lengan Edward dan sekali lagi Edward kembali melepaskannya. Namun kali ini Elleanore mengeratkan gamitannya pada lengan Edward dan benar-benar sulit dilepaskan.


"Ayo, Abang!" Paksa Elleanore sekali lagi.


"Maaf. Saya tidak bisa dansa!" Edward masih berusaha menolak dengan bahasa sehalus mungkin pada gadis keras kepala di depannya tersebut.


"Nanti aku ajari!"


"Ayo, Bang!" Elleanore terus saja memaksa Edward hingga mungkin kesabaran Edward sudah hampir habis sekarang.


"Maaf, Nona El! Saya sedang tidak ingin berdansa! Jadi silahkan mencari pria lain sebagai pasangan dansa anda!" Ucap Edward tegas atau mungkin cenderung galak pada Elleanore yang langsung merengut.


Elleanor sudah melepaskan gamitan lengannya pada Edward dan gadis itu berbalik pergi, saat Henry tiba-tiba sudah menghampirinya.


"El, kenapa merengut?" Tanya Henry penuh perhatian.


Elleanor hanya menggeleng dan bibirnya semakin merengut.


"Mau berdansa?" Tawar Henry lagi pada Elleanore.


"Tidak! Aku mau ke rooftop," jawab Elleanore lirih.


"Aku temani!" Tawar Henry cepat.


Elleanor hanya mengangguk samar dan gadis itu segera menggamit lengan Henry, tanpa Elleanore sadari ada sepasang mata yang sedang menatap penuh kekecewaan atas kedekatan Elleanore dan Henry.


"Dasar lamban!" Gumam pria itu yang masih terus menatap pada Elleanore dan Henry hingga keduanya menghilang masuk ke dalam lift.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.