
Ashley belum tidur dan masih mengerjakan tugas kuliah saat tiba-tiba ponselnya yang berada di atas nakas bergetar. Ada nama Richard tertera di layap ponsel.
Padahal Richard ada di kamarnya di lantai dua. Lalu kenapa pria itu menelepon Ashley?
"Halo, Rich!" Sapa Ashley yang akhir mengangkat telepon Richard.
"Kau sudah tidur?"
Suara Richard terdengar berbeda dan sedikit berat.
"Belum. Aku masih mengerjakan tugas. Kau sedang di luar? Aku pikir tadi kau sudah tidur setelah minum obat," cecar Ashley pada suaminya tersebut.
"Aku lupa belum minum obat karena saat sampai tadi kepalaku sakit dan aku langsung memejamkan mata."
"Dan sekarang kepalaku semakin sakit dan aku tak bisa bangun. Bisa kau ke kamar sebentar?" Suara Richard hanya terdengar samar-samar. Ashley langsung beranjak dari atas tempat tidur tanpa mematikan laptop.
"Aku ke kamarmu sekarang!" Pungkas Ashley seraya menutup tekepon dan melempar ponselnya ke atas kasur. Ashley keluar dari kamar dan menuju ke dapur untuk mengambilnya minum untuk Richard, lalu bergegas naik tangga dan langsung menuju ke kamar Richard.
"Rich!" Ashley mengetuk pintu sambil mendorongnya perlahan. Ternyata pintu tak dikunci dan kamar gelap. Ashley menyalakan lampu kamar dan langsung terlihat Richard yang sudah pucat berbaring di atas tempat tidur masih sambil memegang ponselnya.
"Kau sakit?" Tanya Ashley yang buru-buru menghampiri Richard dan memeriksa suhu tubuh pria iti.
"Auw!" Ashley mengibaskan tangannya sendiri karena suhu badan Richard yang panas sekali.
"Ayo minum dulu!" Ashley membantu Richard untuk bangun dan minum, lalu merebahkan kembali tubuh Richard dan menyelimutinya.
"Kau biasa menyimpan obat dimana?" Tanya Ashley yang memang masih asing dengan apartemen Richard.
"Dapur-"
"Dekat minibar-" Richard menjawab dengan terbata karena pria itu mulai menggigil sekarang.
Ashley membuka lemari Richard untuk mencari keberadaan selimut. Sepertinya satu selomut tidak mempan mengatasi rasa dingin yang dirasakan Richard.
"Aku ambil obat dulu," pamit Ashley setelah menyelimuti Richard dengan dua selimut. Ashley berlari menuruni tangga dan langsung mencari kota obat di dekat minibar. Tak lupa Ashley juga membawa air untuk mengompres Richard.
"Minum dulu obatnya," Ashley kembali membantu Richard untuk setengah bangun agar pria itu bisa minum obat. Lalu Ashley lanjut mengompres Richard agar demamnya segera turun.
"Masih dingin?" Tanya Ashley seraya menggenggam tangan Richard. Pria itu hanya mengangguk dan matanya sudah terpejam. Efek dari obat tadi sepertinya memang membuat ngantuk.
Ashley memilih untuk tak bertanya lagi dan fokus mengompres Richard hingga malam terus merangkak naik.
Ashley menguap lebar dan mengambil handuk kecil dari kening Richard. Suami Ashley itu sudah tertidur pulas, dan tubuhnya mulai berkeringat. Demam Richard juga sudah turun.
"Hooooaam!" Ashley menguap sekali lagi dan matanya sudah benar-benar terasa berat. Tanpa berpindah ke kamar, Ashley memilih untuk meletakkan kepalanya di pinggir tempat tidur Richard dan memejamkan matanya sejenak.
"Lima menit saja, Rich!" Gumam Ashley yang langsung terlelap saking ngantuknya.
****
Jam masih menunjukkan pukul lima pagi, saat Richard bangun dengan tubuh yang penuh keringat dan sudah terasa lebih baik ketimbang semalam saat ia menggigil. Kepala Richard juga sudah tak sakit lagi, dan saat Richard menengok ke samping, pria itu langsung mendapati Ashley yang masih terlelap dengan posisi duduk dan kepala menyender ke tepi tempat tidur Richard.
Richard tersenyum simpul dan sedikit merapikan rambut Ashley yang menutupi wajahnya. Wajah Ashley lucu juga saat gadis itu tidur. Tapi sepertinya posisi Ashley kurang nyaman.
Setelah sedikit menegangkan ototnya, Richard akhirnya bangun dari tempat tidur dan segera memindahkan Ashley ke atas tempat tidurnya. Richard juga mengambil satu selimut baru dari lemari, lalu ia selimutkan ke tubuh Ashley yang tetap terlelap.
"Terima kasih karena sudah merawatku semalam," gumam Richard yang hendak mengusap wajah Ashley tapi tak jadi. Richard hanya merapatkan selimut Ashley, lalu bergegas mengambil ponselnya dan keluar dari kamar. Richard menghubungi Edward tanpa peduli sekarang masih pukul lima pagi.
"Halo, Rich!" Cukup lama Edward mengangkat telepon Richard dan suara pria itu masih terdengar serak.
"Kau meneleponku pagi-pagi buta hanya untuk menanyakan jadwal meeting?" Edward terdengar berdecak kesal.
"Ada tidak?" Richard bertanya sekali lagi.
"Tidak ada! Jadwal meetingmu setelah makan siang!"
"Baiklah, aku akan ke kantor selepas makan siang kalau begitu." Pungkas Richard seraya menutup telepon. Richard lanjut menuruni tangga dan langsung menuju ke dapur. Perut Richard sudah keroncongan sekarang.
****
Ashley mengerjapkan matanya saat melihat pemandangan langit-langit kamar yang berbeda dengan yang setiap pagi ia lihat. Ashley tidur dimana memangnya? Bukankah semalam....
"Richard!" Gumam Ashley seraya bangun dan duduk di atas temoat tidur. Saat itulah Ashley sadar kalau ia baru saja tidur di atas tempat tidur di dalam kamar Richard. Tapi Richard tidak ada. Kemana pria itu pergi?
"Rich!" Panggil Ashley seraya menyibak selimut dan beranjak dari atas tempat tidur Richard. Ashley memeriksa kamar mandi dan tak menemukan Richard. Gadis itu ganti keluar dari kamar, lalu menuruni tangga.
"Richard!" Panggil Ashley lagi.
"Aku di dapur, Ash!" Jawab Richard dari arah dapur. Ashley segera mengayunkan langkahnya menuju ke dapur.
"Hai, kau sudah sehat?" Sapa Ashley seraya mengintip Richard yang sedang berkutat di depan kompor. Ashley tak tahu kalau Richard ternyata bisa memasak.
"Ya! Terima kasih karena sudah merawatku semalam," jawab Richard seraya meletakkan telur ceplok di atas nasi goreng yang sepertinya sudah siap sejak tadi.
"Kau yang memasak ini? Aku tidak tahu kau bisa memasak," Tanya Ashley tak percaya. Gadis itu mencium aroma nasi goreng di piring dan wanginya langsung membuat cacing di perut Ashley menari-nari.
"Hanyaemasak nasi goreng yang aku bisa," jawab Richard seraya tertawa kecil.
"Ayo sarapan!" Ajak Richard selanjutnya seraya membawa dua piring masi tadi ke atas meja makan.
"Kau tidak ke kantor? Kenapa belum bersiap? Apa kau masih demam?" Ashley meletakkan punggung tangannya di kening Richard yang sama sekali sudah tak terasa panas seperti semalam.
"Aku sudah sehat!" Jawab Richard bersungguh-sungguh.
"Sekarang, ayo sarapan!" Ajak Richard selanjutnya seraya mengendikkan dagu ke arah kursi di depannya seolah memberikan kode agar Ashley segera duduk disana.
"Kau tidak ke kantor?" Ashley mengulangi pertanyaannya.
"Nanti setelah jam makan siang. Kau sendiri ada kuliah pagi ini?" Richard balik bertanya pada Ashley.
"Ya! Nanti jam sepuluh," jawab Ashley sebelum gadis itu menyuapkam masi goreng buatan Richard ke dalam mulutnya. Ashley merasakan sejenak nasi goreng tersebut dan rasanya benar-benar enak ternyata.
"Nasi goreng buatanmu enak, Rich!" Puji Ashley yang hanya membuat Richard tersenyum tipis.
Ya ampun!
Tuan kanebo kering ini ternyata masih kering!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.