
"Kau mengenalnya, El?" Tanya Naka pada Elleanore yang ia hubungi via video call. Tak lupa Naka juga menunjukkan wajah gadis yang tadi ia tabrak yang masih terlelap karena pengaruh obat bius.
Ya, gadis itu baru selesai menjalani operasi setelah dokter menyatakan tulang kaki kanannya patah akibat kecelakaan tadi.
Kakinya patah, tapi masih sempat mengomel pada Naka dan bersungut-sungut! Benar-benar gadis yang kuat!
"El tidak tahu itu siapa, Bang!" Jawab Elleanore seraya geleng-geleng kepala. Tak berselang lama, Naka melihat Elleanor yang kepalanya dilempar bantal oleh seseorang.
"Abang Gika!" Gertak Elleanore galak seraya melempar kembali bantal tadi ke kepala Gika yang sepertinya sedang usil pada Elleanore.
"Gika di rumah?" Tanya Naka akhirnya pada adik bungsunya tersebut.
"Ya, dia baru mau berangkat ke studio sesatnya. Semalam dia tidur di rumah. Bukankah itu sebuah keajaiban?" Jawab Elleanore menyindir Gika.
Naka langsung bisa mendengar dengkusan Gika sekaligus tangan saudara kembarnya itu yang hendak menyentil Elleanore tapi sepertinya meleset.
"Gika!" Panggil Naka pada sang saudara kembar yang wajahnya belum muncul di layar ponsel.
"Ada apa, Saudara kembar?" Jawab Gika sombong.
"Kau kenal gadis ini?" Tanya Naka seraya kembali mengarahkan kamera ponselnya ke arah Tiffany.
"Gadis-" Gika tak jadi melanjutkan kalimatnya.
"Abang Gika kenal?" Elleanore ikut-ikutan bertanya.
"Ada apa dengan gadis macan itu? Dia mati? Rrrroaar?" Tanya Gika sembarangan lengkap dengan raungan macannya yang tentu saja langsung berhadiah cubitan dari Elleanore.
"Auuuw! Kau mau jadi gadis macan juga? Rroooar!" Gika kembali meraung lebay pada Elleanore.
"Kau kenal, Gika?" Tanya Naka sekali lagi memastikan.
"Kenal tak kenal!" Jawab Gika cengengesan.
"Dia kenapa memangnya? Dan kenapa kau bersamanya? Apa dia pacar barumu?" Cecar Gika sinis.
"Dia kecelakaan!" Jawab Naka cepat yang tentu saja langsung membuat Gika kaget.
"Dia kecelakaan di mana? Kondisinya bagaimana?" Cecar Gika lagi yang terlihat khawatir.
Aneh!
Kenapa juga Gika mengkhawatirkan gadis macan itu?
"Di lampu merah. Dia menerobos lampu merah, lalu aku tak sengaja menabrak motornya. Kakinya patah dan saat aku tanya tentang keluarga yang bisa aku hubungi, dia malah menyebut aku amnesia karena tidak ingat padanya," cerita Naka panjang lebar pada Gika dan Elleanore.
"Dia tinggal di panti asuhan Kasih Bunda," jawab Gika cepat yang raut wajahnya masih menunjukkan kekhawatiran.
"Apa itu Kak Tiff yang dimaksud Kak Ashley semalam?" Tebak Elleanore cepat yang ingatannya setajam ingatan gajah. Dasar wanita!
"Ashley siapa?" Tanya Naka bingung.
"Calon kakak ipar! Abang Naka kelayapan terus! Sampai tidak tahu kalau Abang Richard sudah punya calon istri!" Celetuk Elleanore yang langsung membuat Naka bersiul.
"Surprize! Ternyata kalimat Abang Richard waktu itu hanya candaan, kan?" Kekeh Naka di layar ponsel Elleanore.
"Jadi, apa hubungan Ashley dan gadis ini?" Tanya Naka selanjutnya. Gika sendiri sudah tak terlihat di layar ponsel.
Elleanor tak langsung menjawab pertanyaan Naka dan menatap sejenak pada Gika yang sepertinya sedang menelepon seseorang. Elleanore mengendikkan bahu dan kembali fokus pada layar ponselnya.
"Abang tanya apa tadi?" Tanya Elleanore yang tadi tak fokus oada pertanyaan Naka.
"Apa hubungan Ashley dengan gadis ini? Tiff tadi katamu?" Naka mengulangi pertanyaannya.
"Mereka tinggal di panti asuhan yang sama. El akan menghubungi Kakak ipar dan memberitahu kalau Tiff kecelakaan. Bisa abang kirimkan fotonya untuk memastikan?" Pinta Elleanore yang langsung diiyakan oleh Naka.
Tak lama setelahnya Elleanore dan Naka mengakhiri panggilan video call mereka. Foto Tiff masuk ke ponsel Elleanore tak berselang lama. Segera Elleanore menghubungi Ashley untuk memastikan.
****
Ashley masih menemani Tuan Bowles mengobrol di halaman bersama anak-anak lain juga saat sebuah pesan masuk ke ponsel gadis itu.
[Kak, kenal gadis ini?] -Elleanore-
Sebuah foto ikut terkirim ke ponsel Ashley yang langsung membuat Ashley memekik kaget.
"Tiff!"
"Ashley, ada apa?" Tanya Tuan Bowles saat mendengar pekikan Ashley.
"Tidak ada, Opa! Ashley permisi sebentar," pamit Ashley seraya buru-buru berdiri dan sedikit menjauh dari Tuan Bowles serta anak-anak yang lain. Ashley langsung menelepon Elleanore.
"Halo, Kak!"
"El, Tiff kenapa?" Tanya Ashley to the point.
"Kak Ashley kenal gadis tadi?"
"Iya, dia Tiffany! Yang semalam aku bicarakan itu!"
"Tiff kenapa, El?" Tanya Ashley lagi yang sudah mulai panik dan sedikit lebay sebenarnya.
"Maksudmu Gika?" Ashley mengoreksi dan mengira Elleanore salah sebut.
"Bukan! Abang Naka! Kembarannya Abang Gika!"
"Gika punya kembaran?" Ashley membelalak kaget dan malah membahas hal lain.
"Ya. Apa Abang Richard tidak cerita?"
Kanebo kering itu cerita?
Hahahaha!
Bicara saja irit boro-boro cerita soal keluarganya!
"Tidak! Dia kan kanebo kering dan jarang bicara," Jawab Ashley asal yang langsung membuat Elleanore tertawa di ujung telepon.
"Jadi, gadis tadi benar adalah Kak Tiff?"
"Iya benar! Aku akan ke rumah sakit sekarang. Bisa tolong kirimkan alamat rumah sakitnya?" Pinta Ashley pada Elleanore.
"Tentu, Kak! Bye!"
Telepon terputus. Ashley segera kembali menghampiri Tuan Bowles yang masih bercerita pada anak-anak.
"Opa, Ashley pamit pergi sebentar," bisik Ashley pada Tuan Bowles.
"Mau kemana? Sepertinya ada hal penting?" Tanya Tuan Bowles menyelidik.
"Iya, ada sedikit masalah yang harus Ashley selesaikan," jawab Ashley tanpa menyebut apa masalahnya.
"Ya sudah, hati-hati! Biar di antar supir-"
"Tidak usah, Opa! Ashley akan naik taksi." Tolak Ashley cepat sebelum kemudian gadis itu masuk ke dalam panti untuk mengambil jaket serta tasnya. Tak berselang lama, Ashley sudah keluar lagi dan kembali berpamitan pada Tuan Bowles serta adik-adiknya.
****
"Kenapa lama sekali?" Omel Gika pada Henry yang baru datang menjemputnya.
"Jalan macet, Gika De Chio!"
"Lagipula, ada lusinan mobil beserta supirnya di rumahmu! Kenapa manja sekali dan minta aku menjemput? Aku sudah tiba di lokasi pemotretan padahal!" Henry balik mengomel panjang lebar pada Gika yang sudah masuk ke mobil.
"Temanmu, si gadis macan rrrooaaar! Kecelakaan!" Ucap Gika yang langsung membuat Henry terkejut.
"Serius?"
"Tentu saja! Kau pikir aku mengarang?" Jawab Gika seraya bersedekap.
"Lalu dia dimana sekarang? Kau dapat info dari siapa? Apa keadaannya parah?" Cecar Henry yang langsung membuat Gika berdecak berulang-ulang.
"Tanya satu persatu! Kau pikir ini sesi konferensi pers?" Omel Gika pada Henry.
"Aku hanya khawatir," kilah Henry mencari pembenaran.
"Kakinya patah kata Naka. Selebihnya aku tidak tahu. Tadi gadis macan itu masih memejamkan mata saat Naka video call," Gika akhir menjawab pertanyaan Henry dan sedikit menjelaskan.
"Naka? Maksudmu Tiff bersama Naka sekarang?" Tanya Henry bingung. Gika sudah menyebutkan alamat rumah sakit tempat Tiffany dirawat. Jadi Henry segera melajukan mobilnya ke arah rumah sakit tersebut.
"Iya! Lucu bukan? Aku curiga Naka dan gadis macan itu berpacaran."
"Rrroooaaar!" Gika berteori ngawur dan kembali meraung seperti macan. Lama-lama yang jadi macan Gika sendiri karena sering meraung.
"Memangnya Naka darimana? Tadi malam saat makan malam dia tidak kelihatan." Henry bertanya serius pada Gika.
"Mana aku tahu? Aku bukan Mom yang selalu tahu semua orang dimana, kemana, dan sedang apa!" Jawab Gika ketus.
"Hei, kau mau membawaku kemana?" Tanya Gika selanjutnya saat mobil Henry mengambil arah berlawanan dengan studio pemotretan.
"Ke rumah sakit menemui Tiffany," jawab Henry cepat.
"Untuk? Aku ada pemotretan!" Gika mulai bersungut-sungut.
"Untuk mencari info apa benar Tiff dan Naka pacaran!"
"Aku sudah membatalkan semua jadwalmu hari ini," jawab Henry santai.
"Dasar manajer kurang ajar! Aku akan memotong gajimu!" Gika bersedekap dan memasang wajah kesal.
"Siap, Bos!"
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.