
Tiffany memperhatikan dari kejauhan, seorang gadis kecil yang sedang bermain bersama sang kakek di taman bermain. Lalu Tiffany akan menggoreskan pensil di tangannya ke atas buku gambar yang sudah nyaris penuh, dan mulai menggambar gaun yang dikenakan oleh gadis kecil itu.
Tiffany selalu menyukai semua baju yang dikenakan oleh gadis kecil yang rutin datang ke taman ini setiap akhir pekan tersebut. Andai kedua orangtua Tiffany masih ada, mungkin Tiff juga akan memakai baju-baju bagus seperti itu.
Ah, tapi Tiffany hanya bisa membayangkannya saja karena saat Tiffany berusia tiga tahun, papa dan mamanya sudah pergi meninggalkan Tiffany.
"Hai!" Gadis kecil yang sejak tadi Tiff perhatikan tiba-tiba menyapa Tiffany dan menyodorkan sebuah kue pada Tiffany.
"Gambarmu bagus! Apa boleh untukku?" Tanya gadis kecil tadi seraya menarik buku gambar Tiff. Namun Tiff menahannya dan menatap pada gadis berponi tersebut.
"Stefy!" Panggil pria yang tadi bersama Stefy.
"Opa, lihat! Dia menggambar Stefy!" Lapor Stefy pada pria yang ternyata adalah opanya tersebut.
"Hai, siapa namamu? Gambarmu bagus sekali," Puji pria tadi pada gambaran Tiffany.
"Tiffany," jawab Tiffany menatap bergantian ke arah Stefy dan pria yang memujinya tadi.
"Hai, Tiffany! Aku Stefy dan ini Opa Bowles." Stefy ganti memperkenalkan dirinya sendiri beserta sang Opa.
"Kau tinggal dimana, Tiff? Tadi kesini bersama siapa?" Tanya Tuan Bowles selanjutnya pada Tiffany.
"Di sana!" Tiffany menunjuk ke arah panti asuhan tempatnya tinggal selama enam tahun terakhir.
Tuan Bowles akhirnya menyadari kalau gadis di depannya itu adalah seorang anak yatim piatu.
Beberapa bulan setelah perkenalan Tiffany dan Tuan Bowles serta Stefy di taman, Tuan Bowles akhirnya resmi mengadopsi Tiffany dan membawa gadis sembilan tahun itu ke rumahnya yang megah.
Tiffany sangat cepat akrab dengan Stefy dan mereka selalu sekolah di sekolah yang sama, meskipun sebenarnya usia mereka selisih satu tahun.
Tuan Bowles juga memberikan kasih sayang yang sama untuk Stefy maupun Tiffany tanpa membedakan keduanya.
Tiffany yang sejak kecil sudah suka menggambar, akhirnya diarahkan oleh Tuan Bowles untuk masuk ke sekolah desain. Sedangkan Stefy masuk sekolah bisnis karena nantinya gadis itu adalah penerus bisnis milik keluarga Bowles.
"Seperti ini?" Tiffany menunjukkan gambar desain baju yang diminta oleh Stefy.
"Ya, sesuai keinginanku. Kau memang yang paling mengerti aku, Tiff!" Stefy langsung memeluk Tiffany dengan lebay.
"Lepas! Kita seperti pasangan lesb* kalau kau memelukku seperti itu," gurau Tiffany yang langsung membuat Stefy tergelak.
"Kau tidak mendesain gaun untukmu?" Tanya Stefy selanjutnya pada Tiffany.
"Untuk?"
"Celana jeans dan kemeja longgar selalu nyaman dipakai ketimbang gaun merepotkan itu," jawab Tiffany yang langsung membuat Stefy berdecak.
"Aneh sekali! Kau mendesain banyak gaun tapi tak mau memakainya?" Stefy menatap heran pada gadis di depannya.
"Aku hanya suka melihat gaun hasil rancanganku dipakai orang lain! Dan bukan aku sendiri!" Tegas Tiffany seraya meraih topinya dan memakai benda itu terbalik.
"Dasar tomboy!" Ledek Stefy yang hanya dibalas Tiffany dengan sebuah cibiran.
"Aku akan ke kampus dulu, Nona Feminim!" Pamit Tiffany seraya keluar dari kamar. Stefy mengekori Tiffany hingga ke teras dan melohat Tiffany yang menaiki motor sportnya.
Ya, harusnya itu memang motor untuk pria. Stefy juga tak tahu kenapa Tiffany malah memilih naik motor sejenis itu.
"Ngomong-ngomong, aku dan Henry sudah jadian!" Pamer Stefy memberikan berita untuk Tiffany.
"Benarkah? Surprize!" Jawab Tiffany tanpa turun dari atas motornya.
Henry adalah teman Stefy di kampus dan sebenarnya Tiffany juga tak terlalu dekat. Hanya beberapa kali bertemu karena Stefy memintanya menemani saat mereka menonton atau makan di luar.
"Jangan lupa mentraktirku karena kau sudah jadian dengan Henry!" Pesan Tiffany sebelum gadis itu menutup kaca helm fullfacenya.
"Oke!" Stefy mengacungkan jempolnya bersamaan dengan motor Tiffany yang melaju pergi.
****
"Stefy tidak mau dijodohkan, Opa! Stefy sudah punya pacar dan Stefy hanya mencintai Henry!"
Tiffany baru pulang dari kampus saat gadis itu tak sengaja mendengar perdebatan Stefy dan Tuan Bowles dari ruang tengah.
"Henry siapa? Dia tahu apa soal memimpin perusahaan?"
"Henry masih kuliah. Tapi dia akan cepat belajar, Opa!"
"Tidak!"
"Saat ini yang terbaik untuk kamu adalah Ed! Dia pria yang tepat yang kelak akan bisa membimbing kamu memimpin perusahaan kakek! Jadi kamu harus menikah dengannya agar nanti kamu juga bisa cepat belajar!"
"Stefy tidak mau!"
"Pokoknya Stefy tidak mau menikah dengan Ed! Stefy hanya mencintai Henry dan Stefy akan menikah dengan Henry!" Teriak Stefy sebelum kemudian gadis itu berlari menaiki tangga dan membanting pintu kamarnya.
Tiffany membenarkan topi di kepalanya dan berpura-pura baru tiba serta tak tahu apa-apa.
"Sore, Opa!" Sapa Tiffany seraya menghampiri Tuan Bowles yang wajahnya masih dipenuhi amarah.
"Sore, Tiff! Kau baru pulang? Bagaimana kuliahmu?" Cecar Tuan Bowles yang Tiffany tahu sedang berusaha memendam amarah di dalam dirinya.
"Kuliah Tiff sejauh ini lancar, Opa!"
"Rencananya beberapa bulan lagi Tiff sudah wisuda," sambung Tiffany lagi.
"Bagus sekali!" Tuan Bowles akhirnya mengulas senyum.
"Kau bisa membuka butikmu sendiri setelah wisuda nanti. Opa sudah menyiapkan tempat yang bagus," jelas Tuan Bowles yang tentu saja membuat Tiffany kaget.
"Te-terima kasih banyak, Opa!" Ucap Tiffany yang langsung memeluk Opa angkatnya tersebut.
"Kau juga adalah cucu Opa, Tiff!" Ucap Tuan Bowles yang sesaat langsung membuat hati Tiffany menghangat.
"Opa boleh minta tolong kepadamu?" Tanya Tuan Bowles selanjutnya.
"Minta tolong apa, Opa?"
"Ed pria yang baik dan penyayang. Stefy hanya belum pernah bertemu dengannya saja. Tapi Opa sangat yakin kalai nanti setelah Stefy bertemu dengan Ed, dia pasti akan langsing jatuh cinta pada Ed," jelas Tuan Bowles panjang lebar yang langsung membuat Tiffany terdiam.
Tiffany tahu betul kalau Stefy sangat tergila-gila pada Henry. Jadi sangat wajar jika Stefy menolak perjodohannya dengan pria lain.
"Kenapa tidak membiarkan Stefy menikah dengan pria pilihannya saja, Opa?" Tiffany berucap sedikit ragu karena sudah mengemukakan pendapatnya secara lancang.
"Ini semua demi masa depan perusahaan Bowles, Tiff! Opa tidak tahu Henry pilihan Stefy itu pria macam apa? Opa hanya ingin yang terbaik untuk Stefy!" Jelas Tuan Bowles mencari pembenaran.
Tiffany akhirnya mengangguk setengah hati.
"Tiff akan berusaha," ucap gadis itu akhirnya.
****
"Kau mau kemana, Stefy?" Tanya Tiffany pada Stefy yang sedang mengemasi pakaiannya.
"Pergi ke rumah Henry dan kawin lari kalau perlu!".
"Agar Opa tak terus-terusan memaksa untuk menjodohkan aku dengan Ed Ed itu!" Jawab Stefy penuh emosi.
"Tapi Stefy! Kau tak bisa melakukan ini! Opa akan sedih-"
"Aku tak peduli! Opa saja tak peduli dengan perasaanku!"
"Tapi perjodohan ini demi perusahaan!"
"Diam!" Gertak Stefy galak pada Tiffany.
"Kau tidak ada di posisiku! Jadi mana kau tahu perasaanku sekarang!"
Jika kau mengatakan pada Opa aku dimana, berarti kita bukan lagi teman! Tidak ada teman yang mengkhianati temannya!" Stefy menuding pada Tiffany sebelum gadis itu keluar dari kamar seraya menyeret kopernya.
"Stefy!" Panggilan Tiffany hanya sia-sia karena Stefy benar-benar keras kepala.
Stefy pergi dari rumah selama dua hari. Tuan Bowles tentu saja langsung mencari Stefy saat yahu cucu kesayangannya itu menghilang. Namun di luar dugaan, pada hari ketiga Stefy menghilang, secara tiba-tiba Henry malah mengantar Stefy pulang ke rumah Tuan Bowles.
Henry menyerahkan Stefy pada Tuan Bowles secara baik-baik setelah pria itu hampir mendapat bogem mentah dari Opa Stefy tersebut.
Sedangkan Stefy tak berucap sepatah katapun saat pulang ke rumah dan gadis itu langsung mengunci diri di kamarnya tak mau makan tak mau minum.
Tiffany yang berulang kali membujuk Stefy juga tak berpengaruh apa-apa dan Stefy masihbtetap mengurung diri di kamar. Hingga hari itu saat Tiffany sedang ada kelas di kampus, Stefy tiba-tiba meneleponnya.
"Tiff, kau dimana?"
"Masih ada kelas desain. Aku masih di kampus." Jawab Tiffany yang berbicara sambil berbisik-bisik.
"Tiff, Aku tidak mau dijodohkan! Aku mencintai Henry!"
"Tapi kenapa Henry tak mencintaiku dan malah mengantarku kembali pulang ke rumah Opa?"
"Apa itu artinya Henry tidak mencintaiku?" Stefy berucap dengan nada yang terdengar sangat sedih.
"Henry mencintaimu, Stefy! Aku yakin itu!" Tiffany mencoba menghibur Stefy.
"Tiff, kau ingat gaun pengantin yang tempo hari aku tunjukkan di butik?" Stefy tiba-tiba mengalihkan arah pembicaraan.
"Ya, aku ingat. Kau jadi membelinya?" Tanya Tiffany sedikit berkelakar. Tiffany mengura Stefy sudah tak terlalu memikirkan hubungannya dengan Henry. Jadi Tiff sedikit mengajak Stefy bercanda.
"Aku sudah memakainya malahan."
"Benarkah, Stefi? Wow! Kau akan menikah?" Tiffany kembali berkelakar. Meskipun sebenarnya Tiffany juga tak bisa tertawa.
Kenapa tiba-tiba Stefy memakai gaun pengantin?
"Tidak! Aku akan pergi jauh."
"Pergi kemana?" Perasaan Tiffany mulai tak enak sekarang
"Selamat tinggal, Tiff! Tolong jaga opa dan..."
"Maaf!"
"Stefy!"
"Tiff?" Selimut yang menutupi wajah Tiffany tiba-tiba disibak oleh Ashley sebelum Tiff sempat menghapus airmatanya karena ia ingat pada Stefy.
"Tiff, kau menangis?" Tanya Ashley yang raut wajahnya terlihat khawatir.
"Tidak!" Sanggah Tiffany cepat seraya menghapus sisa-sisa airmata di wajahnya. Gadis itu sedikit sesenggukan.
"Ada apa? Apa ada yang sakit?" Seorang wanita paruh baya tiba-tiba sudah menghampiri Tiffany dan membuat gadis itu sedikit kaget. Ada juga gadis satu lagi yang sepertinya seusia dengan Ashley.
"Mereka siapa, Ash?" Tanya Tiffany bingung.
"Ah, iya! Ini Mom Fe, mommynya Richard dan Gika De Chio." Kalimat Ashley yang ini langsung membuat bola mata Tiffany melebar.
"Dan yang ini Elleanore, adiknya Gika De Chio dan juga Richard! Mereka bersaudara!" Terang Ashley yang langsung membuat Tiffany kembali shock.
Kenapa mereka semua bersaudara dan ada di mana-mana?
.
.
.
Cetak miring adalah kejadian masa lampau atau flashback.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.