
"Sayang, kau-" Richard tak melanjutkan sapaannya saat yang membuka pintu dan masuk ke ruangannya adalah Edward dan bukannya Ashley.
"Kau sedang menunggu seseorang?" Tanya Edward seraya meletakkan kotak makanan di atas meja.
"Ya, tadi Ashley bolang akan kesini membawakanku makan siang," Richard melihat arloji di tangannya sekali lagi, llau mengetuk-ngetuknya. Takut kalau-kalau arlojinya berputar terlalu cepat.
"Ini memang sudah jam setengah dua, Rich! Kau sudah menghubungi Ashley?" Tanya Edward setelah ikut melihat ke arloji Richard yang masih berfungsi dengan baik dan benar.
"Ponselnya tak aktif," ujar Richard yang langsung msraih ponselnya dan mencoba menghubungi Ashley lagi. Namun seperti sebelumnya, yang menjawab hanyalah operator yang mengatakan kalau nomor Ashley masih belum aktif.
"Masih tidak aktif," raut wajah Richard sudah berubah khawatir sekarang.
"Sudah menghubungi rumah? Mungkin saja dia mendadak pulang dan tak jadi kesini," Edward memberitahu tentang kemungkinan.
Richard tak menjawab dan buru-buru menelepon rumah Mom Fe. Pria itu berbicara sebentar di telepon sebelum kemudian raut wajahnya menunjukkan kekecewaan lagi.
"Ashley tak di rumah," ujar Richard seraya mengusap wajahnya berulang kali.
"Aku akan ke apartemen," cetus Richard akhirnya seraya melesat ke arah pintu.
"Rich, ada meeting-"
"Batalkan!" Potong Richard tegas.
"Aku akan mencari istriku dulu," lanjut Richard yang suaranya hanya terdengar sekilas karena pria itu sudah berlari menuju ke lift.
****
Ashley mengerjapkan matanya berulangkali demi menyesuaikan pandangannya dengan cahaya di sekitar yang tak terlalu terang. Ashley mencoba menggerakkan tangannya, namun kemudian wanita itu menyadari bahwa kedua tangannya sedang diikat dia tas kepala dan tertaut ke ranjang besi tempatnya berbaring.
Ashley ganti menggerakkan kakinya, dan ternyata kedua kakinya juga sedang diikat sekarang.
Brengsek!
Siapa yang sudah melakukan ini pada Ashley?
"Ngomong-ngomong, aku hendak le kantor Richard, suamimu. Apa kau mau ikut?"
Tawaran Andrew di depan kampus kembali berkelebat di benak Ashley. Mungkinkah Andrew yang melakukan semua ini pada Ashley? Tapi kenapa?
Saat Ashley masih berkutat dengan berbagai pertanyaan di kepalanya, pintu ruangan tiba-tiba dibuka dari luar, dan cahaya terang langsung menyusup masuk. Ashley memicingkan matanya bersamaan dengan dua wanita berpakaian serba putih yang masuk ke dalam ruangan membawa sebuah troli.
"Tolong aku!" Ucap Ashley lantang pada dua wanita yang hanya membisu tersebut.
"Hey! Kalian mendengarku, kan?" Seru Ashley lagi merasa kesal karena dua wanita itu hanya diam seolah mereka tuli dan tak mendengar panggilan Ashley.
"Kalian mau apa?" Gertak Ashley saat dua wanita itu mulai membuka baju Ashley, lalu menyeka seluruh tubuh Ashley memakai air hangat.
"Lepaskan aku! Kalian mendengarkan aku, kan?" Ashley sudah benar-benar kesal sekarang.
"Hey!" Teriak Ashley sekali lagi. Namun dua wanita itu benar-benar hanya membisu dan melakukan pekerjaan mereka dengan cekatan.
"Tolong!" Ashley akhirnya berteriak dengan keras pada siapapun yang mungkin ada di luar ruangan.
"Tolong aku!"
"Seseorang, tolong aku!" Teriak Ashley tanpa henti hingga suara wanita itu nyaris habis.
Dua wanita tadi sudah selesai menyisir rambut Ashley. Mereka melepaskan ikatan tangan dan kaki Ashley dari ranjang. Namun tetap saja, tangan dan kaki Ashley masih terikat oleh tali yang kuat dan Ashley tak bisa melepaskan diri.
"Kalian mau membawaku kemana?" Ashley berusaha berontak saat dua wanita tadi memindahkannya ke atas kursi roda.
"Aku tidak mau!" Ashley meronta sekuat yang ia bisa, namun tetap saja semuanya sia-sia.
Ashley sudah duduk di atas kursi roda dengan tangan dan kaki yang masih terikat.
"Lepaskan aku!" Teriak Ashley pada dua wanita yang tetap membisu tadi. Salah satu dari mereka mendorong troli yang tadi mereka bawa, lalu membawanya keluar dari kamar, meninggalkan Ashley yang masih berteriak minta tolong dan minta dilepaskan.
"Lepaskan aku!"
"Toloooong!"
****
"Ashley!" Panggil Richard seraya mendorong pintu apartemen, berharap Ashley sedang di dalam, menunggu Richard pulang sambil mengenakan lingerie merahnya.
"Ashley!"
"Sayang, kau sudah pulang?" Panggil Richard lagi seraya membuka satu persatu ruangan di apartemennya yang suci. Namun Ashley tidak ada dimanapun.
"Ashley!" Panggil Richard lagi putus asa.
Richard duduk di sofa sambil menyugar kasar rambutnya. Berusaha berpikir keras, Ashley saat ini dimana. Pria itu mengambil ponselnya dan menghubungi sopir yang biasa mengantar jemput Ashley.
"Nona Ashley tidak ada di kampus saat tadi saya menjemput, Tuan!"
"Tapi dia meneleponmu?" Tanya Richard memastikan
"Iya, Nona muda sudah menelepon dan minta dijemput. Tapi saat saya datang, Nona Muda tidak ada. Saya menunggu tiga puluh menit dan Nona masih tidak ada, dan saat saya telepon ponselnya tidak aktif."
"Baiklah," Richard menutup telepon dan segera menuju ke pintu utama apartemennya. Richard kembali menelepon seseorang sembari berjalan menuju ke lift.
"Halo, Bang?"
"Kau dimana, El?" Tanya Richard tergesa.
"Sedang di rumah bersama Hendy dan Sunny. Ada apa?"
"Kau bisa ke kampus sekarang? Ashley hilang dan terakhir kali dia menghubungiku dia berada di depan kampus."
"Apa ada CCTV di depan kampus?" Tanya Richard memastikan. Pria itu sudah masuk kd dalam lift dan menekan tombol dengan cepay.
"Ada sepertinya. El akan ke kampus sekarang."
"Bawa supir dan jangan menyetir sendiri!" Pesan Richard pada sang adik.
"Iya, Bang!"
****
Richard dan Elleanore memperhatikan rekaman di CCTV dengan seksama bersama seorang security kampus. Tadinya pihak security menolak menunjukkan rekaman CCTV, namun setelah sederet ancaman yang dilayangkan oleh Richard, akhirnya mereka mau menunjukkan rekamannya pada Richard dan Elleanore.
Gambar di layar menunjukkan dimana Ashley sedang berdiri di depan kampus, lalu seseorang terlihat menabraknya.
"Apa dia yang menculik Kak Ashley, Bang?" Tanya Elleanore menebak, namun Richard hanya diam dan masih fokus ke CCTV. Raut wajah abang sulung Elleanore itu tampak begitu cemas.
Tak lama setelah Ashley ditabrak orang asing tadi, sebuah mobil berhenti di dekat Ashley, lalu seorang pria keluar dari mobil.
"Brengsek, itu Andrew!" Umpat Richard yang langsung mengenali Andrew yang baru turun dari mobil.
"Mau apa dia-" Richard belum menyelesaikan kalimatnya, saat tiba-tiba gambar di layar menunjukkan Ashley yang didorong paksa masuk ke dalam mobil Andrew.
"Keparat!" Umpat Richard lagi bersamaan dengan ponselnya yang tiba-tiba berdering.
Edward menelepon dan Richard keluar dari ruangan CCTV dengan tergesa.
"Ada apa, Ed?"
"Kau harus ke kantor sekarang, Rich! Ada masalah serius!"
"Apa maksudmu?"
"Andrew Desmond! Dia mengobrak-abrik harga saham Alexander!"
"Tapi bagaimana bisa-" Richard terpaku di tempatnya dan tak menyangka kalau Andrew menaruh dendam kesumat kepadanya perihal penolakan Richard waktu itu. Penolakan terhadap permintaan Andrew agar Richard menukar Ashley dengan sebuah mega proyek. Dan sekarang Andrew baru saja menggunakan kekuasaannya untuk mengobrak-abrik perusahaan Alexander.
"Dasar baj*ngan!"
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.