
Ashley sudah duduk di sofa yang berada di dalam ruang kerja Richard, saat Richard dan Edward kembali dari tempat meeting.
"Siang!" Sapa Ashley seraya mengulas senyuman ke dua pria kanebo kering yang baru saja masuk. Tak ada jawaban dari keduanya.
Kriik kriik!
Kriik kriik!
Kebisuan itupun dipecahkan oleh dering telepon internal dari meja Richard. Edward yang melangkah dengan sigap untuk mengangkatnya.
"Halo!"
"Tuan Edward, Tuan Fang sudah tiba dan katanya sudah ada janji dengan Tuan Richard. "
"Langsung antarkan ke atas!" Perintah Edward to the point.
"Baik, Tuan! Selamat siang!"
Edward tak membalas dan langsung menutup telepon. Dasar ketus!
"Tamumu sudah datang," lapor Edward selanjutnya pada Richard yang sudah berdiri di dekat Ashley yang masih duduk dengan anggun di sofa.
"Baiklah! Aku yang akan menjemputnya," gumam Edward dengan nada sinis seraya keluar dari ruangan Richard.
"Apa make up-ku terlalu menor?" Tanya Ashley meminta pendapat dan penilaian Richard.
"Tidak!" Jawab Richard singkat.
Tak berselang lama, pintu ruang kerja Richard dibuka dari luar dan langsung muncul Edward bersama seorang pria yang mungkin seusia dengan Dad Dean, lalu satu lagi yang membuat Richard dan Ashley terkejut adalah kehadiran wanita itu!
Anneth!
Kenapa Anneth mengekori Tuan Fang? Apa wanita itu anaknya Tuan Fang?
"Siang, Rich! Senang kita berjumpa lagi!" Sapa Anneth yang hendak memeluk Richard, namun Richard langsung mundur dengan cepat seolah memberikan kode kalau ia tidak menerima pelukan dari Anneth.
"Maaf jika aku membawa Anneth turut serta, Rich! Kau sudah dengar kabar kalau Anneth akan bertunangan dengan keponakanku, Andrew!" Ucap Tuan Fang yang tentu saja langsung membuat Richard sedikit kaget.
"Benarkah? Surprize!" Jawab Richard akhirnya dengan ekspresi wajah datar. Tangan Richard sudah melingkar di pinggang Ashley dan pria itu sedikit merapatkan rangkulannya.
"Ngomong-ngomong, ini calon tunanganmu, Rich?" Tanya Tuan Fang lagi seraya menunjuk ke arah Ashley.
"Ya, namanya Ashley!" Jawab Richard sebelum kemudian pria itu memanggil Edward dan menyuruh asistennya tersebut untuk memberikan undangan pertunangan Richard dan Ashley pada Tuan Fang.
"Silahkan, Tuan Fang!"
"Terima kasih undangannya, Rich! Aku pasti akan datang bersama Anneth dan Andrew juga.
"Aku masih tak percaya, kau dulu membatalkan pertunangan dengan Anneth yang luar biasa ini," ujar Tuan Fang lagi yang hanya ditanggapi Rich dengan senyuman tipis.
Skandal perselingkuhan Anneth dengan Jasson memang berhasil ditutup rapat oleh keluarga Anneth yang kaya. Entah bagaiamana nasib Jasson nanti setelah Anneth bertunangan dengan Andrew, mungkin mantan asisten Richard itu hanya akan menjadi simpanan Anneth seterusnya. Murahan sekali!
"Anneth pantas mendapatkan pria yang luar biasa juga, Tuan Fang! Keponankan anda contohnya," ujar Richard sedikit menyindir Anneth. Ekspresi wajah wanita itu langsung beribah seketika.
Skakmat!
"Ngomong-ngomong, Rich! Calon tunanganmu ini putri pengusaha siapa? Aku tak pernah melihatnya di lingkaran kaum sosialita di negeri ini." Anneth sudah mengusap lengan Ashley dan bertanya dengan nada meremehkan.
"Saya bukan putri konglomerat, Nona Anneth!" Jawab Ashley mendahului Richard yang baru saja akan buka suara. Richard mengurungkan niatnya untuk menjawab, dan sepertinya pria itu akan membiarkan Ashley yang menjawab pertanyaan pongah dari Anneth.
"Saya kebetulan hanya anak magang di Alexander Group, lalu sempat beberapa kali menggantikan Edward sebagai asisten Richard, lalu kami mulai saling jatuh cinta, dan ya seperti itulah! Cinta kami sederhana!" Jelas Ashley dengan raut wajah tanpa beban dan terlihat santai sekali. Tak ada sedikitpun raut wajah Ashley menunjukkan kalau gadis itu sedang berakting.
"Jadi, apa ini semacam cinta lokasi?" Tebak Tuan Fang.
"Benar sekali, Tuan Fang!"
"Pembawaan Ashley yang cheerful, komunikatif, serta penampilannya yang sederhana membuat saya tertarik kepadanya," jelas Richard yang tiba-tiba sudah merapatkan dekapannya pada Ashley serta mengecup singkat pipi gadis itu, benar-benar membuat semua orang yang berada di ruangan tersebut terkejut. Kecuali Tuan Fang sepertinya.
Ashley sendiri juga shock karena tiba-tiba Richard menciumnya meskipun hanya di pipi. Ini bahkan tak ada di skrip dan jantung Ashley!
Tidak!
Jantung Ashley terasa melompat-lompat sekarang.
Pembicaraan pun berlanjut membahas bisnis sambil sesekali diselingi obrolan ringan. Menjelang sore, Tuan Fang dan Anneth akhirnya berpamitan setelah mereka menyampaikan undangan pertunangan Anneth dan keponakan Tuan Fang, Andrew!
"Kau tidak cemburu aku bertunangan dengan pria lain?" Bisik Anneth pada Richard saat wanita itu berpamitan.
"Aku yakin itu adalah keputusanmu dan aku tak ada lagi perasaan apapun kepadamu," jawab Richard tegas.
"Aku menunggu hubungan palsumu dengan anak magang itu berakhir. Keluargamu pasti shock dan nama baik Dad-mu akan langsung tercoreng!" Pungkas Anneth sebelum kemudian wanita itu beralih ke Ashley.
"Selamat datang di lingkaran orang kaya, Gadis kampung! Semoga kau tidak silau dan mempermalukan keluarga Richard ke depannya!" Bisik Anneth menghina Ashley.
"Saya bukan wanita murahan yang mengkhianati tunangannya dengan tidur betsama pria lain, Nona Anneth! Jadi saya sangat yakin kalau saya tak akan mempermalukan keluarga Alexander," jawab Ashley seolah sedang menyindir Anneth.
Ashley juga sebenarnya baru tahu penyebab Richard dan Anneth putus. Tadi Ashley sempat menanyakannya pada Elleanore, saat Richard sedang meeting. Jadi sekarang Ashley bisa membalikkan kata-kata pongah wanita angkuh di hadapannya ini.
"Richard juga tak sebersih kelihatannya! Dia itu seorang player dan bukan hanya satu dua wanita yang pernah tidur dengannya!" Sergah Anneth sedikit bersungut. Ashley memilih untuk tak menanggapi dan hanya mengulas senyuman mengejek ke arah Anneth.
Dasar maling teriak maling!
Dia yang player tapi menuduh Richard sembarangan!
Murahan!
"Kami pamit, Rich! Selamat sore!" Pamit Tuan Fang akhirnya seraya kekuar daei ruang kerja Richard. Edward mengantar rekan bisnis Richard tersebut hingga ke delan lift senebtara Richard dan Ashley menilih tinggal di ruangan.
"Maaf soal tadi dan tolong jangan diambil hati," ucap Richard setelah kepergian Tuan Fang.
"Soal tadi? Soal kata-kata Anneth atau soal yang lain?" Tanya Ashley memancing.
"Semuanya!" Jawab Richard seraya melihat arlojinya.
"Kau bisa pulang dua puluh menit lagi. Sopir akan mengantarmu karena aku masih ada pekerjaan," ucap Richard selanjutnya seraya mengendurkan sedikit dasinya. Pria itu berjalan ke sudut ruangan untuk mengambil air dingin dari lemari pendingin, lalu meneguk satu botol hingga tandas.
"Aku boleh numpang tidur dulu di kamar pribadimu? Aku tadi belum jadi tidur dan sekarang aku mengantuk," izin Ashley yang sudah melepas blazernya menyisakan sebuah baju terusan selutut tanpa lengan.
"Ya!" Jawab Richard singkat.
"Boleh minta air dinginnya?" Tanya Ashley lagi menunjuk ke lemari pendingin yang masih dikekep oleh Richard.
"Ambil sendiri!" Titah Richard seraya berlalu dan kembali duduk di kursi kerjanya. Ashley segera membuka lemari pendingin berwarna putih itu dan mengambil sebotol air mineral dingin.
"Aku bawa masuk ke dalam, Bye!" Pamit Ashley seraya masuk ke dalam kamar pribadi Richard dan menutup tirai.
Tak berselang lama, Edward sudah kembali masuk ke ruangan Richard.
"Dimana gadis bawel tadi Rich? Sudah pulang melompat dari jendela?" Tanya Edward yang langsung dijawab gelak tawa Ashley dari dalam kamar pribadi Richard.
Edward hendak menyibak tirai, namun Richard mencegah.
"Biarkan Ashley istirahat. Kau juga boleh pulang jika pekerjaanmu sudah selesai!" Tukas Richard pada Edward.
"Menurutku, sikapmu pada gadis bayaran itu-"
"Namanya Ashley!" Richard menyela dan mengingatkan Edward.
"Baiklah! Sikapmu pada Ashley tadi terlalu berlebihan." Edward mengulangi kalimatnya.
"Terima kasih pendapatmu! Silahkan pulang dan biarkan aku bekerja dengan tenang!" Usir Richard halus pada Edward.
"Padahal berkas itu sangat bisa kau kerjakan besok! Kenapa kau tak pulang dan malah mengerjakannya sekarang?" Tanya Edward heran, sebelum kemudian asisten Richard itu meninggalkan ruang kerja Richard.
Richard meletakkan sebentar pena di tangannya, lalu bangkit dari duduknya dan menyibak perlahan tirai ke kamar pribadinya. Ashley rupanya sudah terlelap dan gadis itu sepertinya benar-benar lelah. Richard masuk ke dalam untuk membenarkan selimut Ashley, sebelum kemudian pria itu keluar dan menutup kembali tirainya. Richard kembali berkutat dengan berkas di mejanya hingga langit di luar gedung Alexander Group berubah menjadi hitam.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.