Queen Of Alexander'S

Queen Of Alexander'S
PEKERJAAN



"Aku pikir kau sudah kembali kemarin," ujar Alsya membuka obrolan bersama Naka yang duduk di sebelahnya. Alsya dan Naka masih menunggui Sunny yang terpaksa harus dinfus di ruang rawat inao pusat kesehatan masyarakat karena kondisi gadis itu yang lemah dan pucat. Namun sekarang wajah pucat Sunny sudah berangsur membaik dan Alsya terlihat sudah bernafas lega.


"Urusanku masih belum selesai,dan aku juga sekalian mau berlibur mumpung disini." Naka menyilangkan lututnya lalu meletakkan tangannya disana.


"Tadinya aku mau mengajak kau dan Sunny ke pantai sekalian menunggu matahari terbenam. Tapi ternyata Sunny malah sakit." Naka ganti menatap pada Sunny, lalu mengusap punggung tangan gadus sepuluh tahun tersebut. Naka mengulas senyum tipis.


"Kau dan Sunny cepat sekali akrab," pendapat Alsya yang langsung membuat Naka melebarkan senyumnya.


"Sunny mengingatkan aku pada adik bungsuku."


"Kebetulan dia satu-satunya perempuan diantara kami berempat-"


"Kau empat bersaudara?" Tanya Alsya menyela.


"Ya! Tiga laki-laki satu perempuan dan yang paling bungsu." Naka menyambung ceritanya.


"Aku dan El sangat dekat sejak dulu. Tapi kemudian kesibukan yang membuat kami jarang bertemu sekarang. El kuliah dan aku mengurus travel agency milikku," cerita Naka lagi yang hanya membuat Alsya mengangguk.


"El itu adik perempuan bungsumu?"


"Iya. Dia hampir mirip dengan Sunny yang cerewet, periang, mudah akrab dengan semua orang." Naka kembali tersenyum dan menatap pada wajah Sunny yang masih terlelap.


"Sepertinya kau sangat menyayangi adikmu," pendapat Alsya lagi yang langsung membuat Naka mengangguk.


"Semua abang pasti menyayangi adiknya."


"Kau punya Abang?" Tanya Naka menyelidik. Alsya langsung menggeleng.


"Aku anak sulung. Tapi aku punya satu adik laki-laki dan hubungan kami sedikit kurang dekat." Wajah Alsya terlihat sendu.


Sejak dulu Alsya memang tak dekat dengan Rumi. Ditambah perseteruan Alsya dan Vivian beberapa tahun silam dimana Alsya yang sudah menuduh Vivian dengan membabi buta, membuat Alsya semakin jauh dari Rumi. Meskipun Vivian dan Rumi selalu mengatakan kalau mereka memaafkan Alsya, tapi tetap saja. Hubungan mereka tak pernah bisa akrab. Seperti ada jurang pemisah di antara mereka.


"Mama!" Panggilan Sunny yang rupanya sudah bangun langsung menyentak lamunan Alsya.


"Iya, Sayang! Mama disini," jawab Alsya yang bergegas mendekat ke arah Sunny.


"Masih pusing?" Tanya Alsya seraya memeriksa suhu tubuh Sunny. Sudah tidak demam lagi.


"Enggak, Ma!" Sunny menggeleng samar.


"Om Naka disini juga?" Tanya Sunny lagi seraya ganti menoleh ke arah Naka.


"Kan jagain kamu," jawab Naka yang sudah mengusap kepala Sunny.


"Sunny udah baikan, Om! Nanti ke pantai-"


"Sunny!" Tegur Mama Alsya mengingatkan sang putri tentang kondisinya.


"Sunny sudah baikan, Ma!" Sunny hendak bangun san Naka langsung sigap membantu.


"Sunny mau minum," ucap Sunny lagi yang tangannya sudah meraih gelas di atas nakas. Alsya sigao membantu mengambilkan untuk sang putri.


"Ke pantainya besok sore saja, ya!"


"Hari ini Sunny istirahat dulu!" Nasehat Naka akhirnya mengambil keputusan bijak.


"Tapi sama Om Naka," Sunny mengulurkan kelingkingnya ke arah Naka.


"Oke! Janji!" Naka menyambut kelingking Sunny dan mereka berdua pun membuat janji kelingking seraya mengulas senyum.


Alsya hanya tersenyun tipis melohat keakraban Sunny dan Naka. Sudah lama sekali Alsya tak pernah melihat wajah Sunny seceria itu. Naka daddyable sekali!


****


"Ashley memeluk Mom Fe dan Elleanore secara bergantian sebelum gadis itu masuk ke dalam mobil Richard.


"Jangan ngebut, Rich!" Pesan Mom Fe pada Richard yang sudah duduk di belakang kemudi.


"Iya, Mom!"


"Sering-sering main ke sini, ya! Nanti lain kali kita shopping bertiga," Mom Fe ganti berpesan pada Ashley.


"Iya, Mom!"


"Nanti berlima sama istrinya Abang Gika dan Abang Naka, Mom!" Timpal Elleanore yang berdiri tak jauh dari Mom Fe.


"Iya, berlima! Nanti kita habiskan uang Dad," jawab Mom Fe seraya tertawa kecil. Elleanore dan Ashley ikut tertawa.


"Ashley pulang dulu, Mom! Bye!" Pamit Ashley sekali lagi seraya melambaikan tangan sebelum kemudian mobil Richard melaju pergi dan keluar lewat gerbang utama.


"Keluargamu ternyata ramah-ramah dan tidak ada yang sombong, ya!" Pendapat Ashley masih sambil senyum-senyum sendiri.


"Rasanya seperti punya keluarga baru saat berada di tengah-tengah keluargamu. Beruntung sekali gadis yang kelak akan menjadi menantu di keluargamu," tambah Ashley lagi seraya tertawa kecil.


"Sedang memuji dirimu sendiri?" Tanya Richard dengan nada menyindir.


"Maksudnya?" Ashley menoleh ke arah Richard dan bertanya bingung.


"Bukan apa-apa!" Jawab Richard malas menjelaskan.


"Oh, ya! Ngomong-ngomong soal pekerjaan untukku di kantormu tadi aku tidak bercanda, oke!" Ashley memberitahu Richard.


"Aku benar-benar ingin kau memberiku pekerjaan di kantormu." Ucap Ashley lagi sok tegas.


"Sebagai cleaning service?" Tanya Richard meremehkan.


"Sebagai sekretarismu!" Sergah Ashley yang suaranya sudah naik tujuh oktaf.


"Jangan berteriak! Aku tidak tuli!" Gertak Richard yang ternyata galak juga.


"Aku sekretarismu mulai besok!" Ashley bersedekap seolah tak mau dibantah.


"Aku sudah punya sekretaris!" Jawab Richard tegas.


"Apa dia lebih cantik, seksi, berambut pirang, kakinya jenjang dan panjang?" Cecar Ashley sok tahu.


"Maaf, tapi sekretarisku pria!" Jawab Richard cepat yang langsung membuat Ashley membulatkan kedua bola matanya.


"Aku akan menjadi sekretarisnya sekretarismu kalau begitu!" Ashley masih keras kepala.


"Edward tidak suka punya partner kerja. Terutama kalau itu seorang perempuan bawel sepertimu!" Ucap Richard menatap tegas pada Ashley.


"Apa sekretarismu seorang maho juga?" Tanya Ashley to the point yang langsung membuat Richard menatap aneh pada Ashley.


"Maaf?"


"Sekretarismu? Maho juga sepertimu? Kalian pasangan maho?" Tanya Ashley lagi memastikan.


"Aku bukan maho!" Jawab Richard tegas.


"Lalu kenapa kalian tidak suka pada wanita kalau memang kalian bukan maho?" Cecar Ashley yang langsung membuat Richard berdecak.


"Bukan urusanmu!"


"Apa kalian trauma pada wanita karena pernah dikhianati?" Tanya Ashley lagi.


"Jangan sok tahu!"


"Lalu apa masalahnya sampai kalian tidak tertarik pada wanita? Bukankah wanita di dunia ini bukan hanya satu tapi ada banyak! Satu berkhianat yang lain belum tentu sama!"


Ciiit!


Richard menginjak rem secara mendadak dan menghentikan mobilnya di tepi jalan.


"Kau bisa diam atau aku harus menurunkanmu di sini?" Gertak Richard galak.


"Kau tidak bisa melakukannya! Kau tidak ingat pesan Mom agar mengantarku sampai ke panti?"


"Mom tidak akan tahu!" Jawab Richard seraya mendelik pada Ashley.


"Aku akan menelepon Mom, Dad, El, dan Gika De Chio!" Ashley sudah mengambil ponselnya dari dalam tas, lalu mengutak-atiknya sebentar sebelum kemudian menempelkannya di telinga.


"Kau tidak akan bisa menghubungi mereka! Kau saja tak punya nomor mereka!" Sergah Richard tak percaya.


"Tentu saja aku punya! Aku bagian dari keluarga Alexander sekarang!" Ashley tertawa mengejek ke arah Richard seraya menunjukkan kontak di ponselnya yang berisi nama-nama anggota keluarga Alexander. Richard akhirnya hanya bisa berdecak sekaligus mendengus kesal.


"Duduk diam kalau begitu dan jangan membuatku marah!" Richard kembali menyalakan mesin mobilnya, lalu lanjut melaju ke panti asuhan Kasih Bunda.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.