Queen Of Alexander'S

Queen Of Alexander'S
SETELAH SATU BULAN



Kau sedang apa disini pagi-pagi?" Gertak Gika pada Edward yang sudah berada di kediaman Alexander, padahal jam baru menunjukkan pukul tujuh pagi.


"Dia sedang ada urusan denganku, Gika!" Bukan Edward, melainkan Richard yang baru turun dari tangga, yang menjawab gertakan Gika tadi.


"Ayo, Ed!" Ajak Richard selanjutnya pada Edward seraya menuju ke ruang kerjanya di kediaman Alexander.


Edward masih mengedarkan pandangannya seolah mencari keberadaan seseorang.


"Sedang mencari El, hah?" Tebak Gika sinis.


"Dia sudah tak tertarik padamu, Bung!" Lanjut Gika lagi tetap sinis, sampai panggilan Tiffany dari lantai atas membuat Gika berhenti mencibir Edward.


"Gika De Chio!" Panggil Tiffany geram karena Gika tak kunjung naik ke atas.


"Magika Alexander! Bisakah kau berhenti memanggilku dengan nama sialan itu?" Sungut Gika seraya menaiki tangga.


"Hoek!" Tiffany kembali masuk ke kama dan langsung menuju ke kamar mandi untuk muntah-muntah.


"Kau jadinya masuk angin, Tiff?" Tanya Gika seraya menyusul Tiffany ke dalam kamar mandi.


"Nggak tahu! Pasti karena semalam-"


"Hoek!" Tiffany kembali muntah-muntah.


"Aku beli testpack dulu, oke!" Cetus Gika yang langsung membuat Tiffany menarik lengan Gika.


"Aku belum hamil! Mana mungkin secepat itu benihmu tumbuh?" Serfah Tiffany masih bersungut pada Gika.


"Benih Magika yang terbaik, oke! Jadi pasti langsung tumbuh setelah ditabur," jawab Gika penuh percaya diri.


"Dan lagi, ini sudah hampir sebulan setelah tanggal pernikahan kita. Jadi aku sangat yakin kalau disini sudah tumbuh Gika junior," imbuh Gika seraya mengusao perut Tiffany, meskipun langsung dikeplak oleh Tiffany macan.


Rrrroar!


"Apalagi kita bercocok tanamnya kan setiap malam," sambung Gika lagi yang sudah ganti menaik turunkan alisnya ke arah Tiffany.


"Kita? Kamu itu yang hobi memperkosaku-"


"Hoek!" Tiffany muntah-muntah lagi.


"Jangan memakiku atau mualmu akan semakin parah," Gika mengancam Tiffany.


"Apa maksudnya?"


"Hoek!"


"Kau sengaja menghamiliku agar bisa menyiksaku begini?" Teriak Tiffany yang muali kesal dengan drama muntah-muntahnya.


"Dasar!"


Bugh!


Bugh!


Tiffany memukuli dada Gika dengan barbar dan Gika sekuat tenaga menangkis serangan Tiffany.


"Tiff! Jangan barbar!"


"Kau menyebalkan, membuatku sengsara, membuatku menderita!" Tiffany terus memukuli Gika dengan membabi buta sampai akhirnya....


"Hoek!" Tiffany menyemburkan muntahnya tepat di tubuh Gika yang tadi sudah mandi.


"Tiffany!!!"


****


"Ma, kita pulang ke rumah Oma dan Opa hari ini, kan?" Tanya Sunny pada Alsya.


Sudah hampir tiga hari ini Sunny, Alsya, dan Naka menginap di rumah Papi Juna karena mendadak Alsya ingin menginap di rumah papi kandungnya tersebut.


"Mama masih ingin disini, Sayang!"


"Kau kangen pada Hendy, ya?" Tebak Alsya yang langsung membuat Sunny merengut.


"Mana ada! Sunny kan hanya tanya." Kilah Sunny cepat.


"Ada apa?" Tanya Naka yang sudah menghampiri Alsya dan Sunny.


"Sayang, bisa kau carikan mangga muda pagi ini?" Pinta Alsya tiba-tiba yang langsung membuat Naka mengernyit. Sunny juga ikut-ikutan mengernyit mendengar permintaan aneh sang mama.


"Pagi-pagi kok minta mangga muda, Ma? Nggak takut sakit perut?" Tanya Sunny heran.


"Mama pengen banget soalnya, Sunny!" Ujar Alsya seraya menelan saliva beverapa kali.


"Kamu ngidam?" Tanya Naka menatap serius pada Alsya yang langsung mematung diam.


"Apa maksudnya, Pa? Sunny mau punya adik?" Sunny sudah bertanya dengan antusias, sementara Naka masih menunggu jawaban dari Alsya.


"Nggak tahu. Tapi aku sepertinya belum dapat tamu bulan ini," Alsya setengah berbisik pada Naka dan merasa ragu.


"Aku akan ke apotek sebentar," cetus Naka akhirnya yang wajahnya sudah berbinar penuh bahagia.


"Sekalian mangga mudanya, Naka!" Seru Alsya berpesan pada Naka tang entah didengar entah tidak.


"Mami, Om! Sunny mau punya adik," jawab Sunny antusias.


"Masih belum pasti, Sunny!" Alsya mengingatkan sang putri.


Sementara Rumi langsung mengulas senyum,


"Semoga benar, Kak!" Ucapan Rumi terdengar tulus.


Sejak pernikahan Alsya dengan Naka, hubungan Alsya dan Rumi memamg berangsur membaik karena Naka yang selalu berusaha menjalin komunikasi bersama adik iparnya tersebut.


"Biar Rumi yang mncarikan mangga mudanya. Di rumah Uncle Alvin sepertinya ada," ujar Rumi lagi yang sudah berlalu dari hadapan Alsya.


"Om, Sunny ikut!" Seru Sunny yang sudah berlari untuk mengejar langkah Rumi menuju ke rumah seberang.


****


[Masih di kampus?] -Richard-


[Sudah mau pulang. Mau makan siang apa? Biar aku bawakan ke kantor] -Ashley-


[Apa saja!] -Richard-


[Ngomong-ngomong, kau ingat ini harj apa?] -Ashley-


[Selasa] -Richard-


[Selain itu?] -Ashley-


[Maksudnya? Maaf, aku bingung] -Richard-


[Baiklah tak apa! Nanti aku beritahu sekalian aku punya kejutan untukmu] -Ashley-


[Kejutan apa] -Richard-


[Bukan kejutan namanya jika aku memberitahumu sekarang] -Ashley'


[Apa ada hubungannya dengan lingerie merah?] -Richard-


Wajah Ashley langsung bersemu merah menbaca pesan konyol Richard tentang lingerie merah. Rasanya seperti remaja kemarin sore saja jika Adhlsedang berbalas chat begini bersama Richard.


Biasanya Richard akan langsung menelepon, tapi Ashley lebih suka berbalas chat seperti saat ini, jadi akhirnya Richard menuruti kemauan Ashley tersebut.


[Lihat sendiri saja nanti!] -Ashley-


[Aku ada meeting. Nanti kita bertemu di kantor, ya!] -Richard-


Richard mengirimkan sebaris emoticon kissing, dan Ashley langsung tertawa kecil.


[Mmmmuaaah! I love you, Suamiku!] -Ashley-


Tak ada balasan lagi dari Richard. Sepertinya meeting sudah dimulai.


Ashley memilih untuk menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas, saat tiba-tiba ada seorang pejalan kaki yang menyenggol pundak Ashley.


Ya ampun!


Ponsel Ashley terlempar ke trotoar dengan cepat dan layarnya sedikit retak.


"Maaf, Nona!" Ucap orang tadi sebelum berlalu pergi.


"Dasar tidak tahu diri!" Maki Ashley kesal.


Tak berselang lama, sebuah mobil sedan mewah, tiba-tiba berhenti di depan Ashley.


Siapa lagi sekarang?


"Umika!" Sapa pria yang baru turun dari pintu belakang mobil.


Rupanya pria itu adalah Andrew Desmond.


"Andy!" Ashley balik menyapa pria yang pernah menyewanya sebagai pacar bayaran tersebut.


"Ngomong-ngomong, aku hendak le kantor Richard, suamimu."


"Apa kau mau ikut?" Tawar Andrew yang langsung membuat Ashley menolak.


"Aku akan naik taksi saja," ujar Ashley seraya melangkah pergi meninggalkan Andrew. Namun, tanpa Ashley duga, Andrew tiba-tiba sudah menarik kasar tubuh Ashley dan memaksanya masuk ke dalam mobil.


"Andy!" Ashley berusaha berontak dan melawan. Namun hanya sia-sia, karena pintu mobil sudah dibanting cepat oleh Andrew hingga tertutup rapat.


" Andrew lepaskan aku!"


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia .