
Bruuuk!.
"Aduh!" Ashley mengaduh sebentar sebelum kemudian gadis itu bangkit berdiri dengan cepat. Ashley baru saja menabrak seorang wanita yang wajahnya tidak asing.
Tunggu!
Bukankah ini wanita yang waktu itu menyapa Richard di acara perusahaan, namun ditanggapi ketus oleh Richard?
Sedang apa dia di sini?
"Rich!" Panggilan wanita itu pada Rich menyentak lamunan Ashley yang baru sadar kalau Richard sudah merangkul pinggangnya sekarang dan merapatkan posisi tubuh mereka. Detak jantung Richard saja bisa Ashley dengar dengan sangat jelas.
"Rich, kau tak sungguh-sungguh berkencan dengan gadis bayaran ini, kan?" Wanita tadi menatap Ashley dengan tatapan sinis meremehkan.
"Jaga ucapanmu, Anneth!" Richard menuding ke arah wanita bernama Anneth tersebut.
"Kenapa? Kau takut kalau identitas kekasih palsumu ini-"
"Ashley bukan gadis bayaran atau kekasih palsuku! Kami akan bertunangan Sabtu nanti, lalu menikah setelahnya!" Jawab Richard cepat dan tegas.
"Mustahil! Kau hanya mencintaiku, Rich! Kau tidak mungkin mencintai gadis pecicilan dan miskin seperti ini!" Anneth mencaci Ashley habis-habis dan terus saja menuding pada gadis itu.
"Itu hanya masa lalu dan aku sudah membuangnya jauh ke dasar samudera!" Richard menyentak tangan Anneth yang sejak tadi terus menuding ke arah Ashley. Tatapan mata Richard pada Anneth benar-benar sengit dan penuh amarah.
"Jadi jangan pernah mengganggu hidupku lagi karena kau bukan siapa-siapa lagi bagiku!"
"Pulang saja pada pria yang bisa memberikanmu kehangatan!" Sindir Richard seraya berlalu dari hadapan Anneth masih sambil merangkul erat pinggang Ashley.
"Aku akan menggagalkan tunanganmu, Rich!" Geram Anneth menatap frustasi ke arah Richard yang sedang membukakan pintu mobil untuk Ashley, lalu memakaikan juga sabuk pengaman pada gadis itu.
Seharusnya Anneth yang mendapat perlakuan itu!
****
"Mom!"
"Mom, Abang Gika-"
"Diam!" Gika secepat kilat membungkam mulut Elleanore yang seperti ember bocor.
"Jangan kasar begitu ke El!" Naka refleks menoyor kepala Gika karena tak terima sang adik kesayangan mulutnya dibungkam-bungkam oleh Gika.
"Kau juga diam! Atau aku lapor perihal Sunny pada Mom!" Gika ganti mengancam Naka.
"Sunny siapa, Bang?" Tanya Elleanore yang sudah berhasil meloloskan diri dari cengkeraman Gika.
"Calon keponakan kamu!" Jawab Gika asal yang langsung berhadiah toyoran kedua dari Naka.
"Aamiin, gitu! Kenapa malah memukulku?" Cibir Gika pada sang saudara kembar.
"Tunggu, tunggu! Tapi El bingung."
"Maksudnya calon keponakan El itu bagaimana?" Tanya Elleanore yang memang terlihat bingung.
"Calon anaknya Naka!" Gika memperjelas jawabannya.
"Gika!" Tegur Naka pada Gika yang selalu berlebihan dalam menjelaskan sebuah hal.
"Apa? Kau sendiri yang bilang agar aku mengadu pada Mom agar Mom dan Dad cepat-cepat melamarkan mama Sunny untukmu," celetuk Gika menyanggah teguran Naka dan mengingatkan Naka tentang jawabannya di telepon tadi.
Dasar Gika!
Padahal cuma bercanda tapi dianggap serius!
"Jadi Abang Naka sudah punya calon istri juga?" Teriak Elleanore tiba-tiba yang wajahnya langsung girang.
"Speaker konslet dan ember bocor beraksi sebentar lagi," gumam Gika bersamaan dengan Elleanore yang berlari melintasi lorong, lalu menghampiri Mom Fe.
"Mom! Abang Naka sudah punya calon istri!" Teriak Elleanore sesuaikan dengan tebakan Gika barusan.
"Habis kau, Saudara kembar!" Gika menepuk punggung Naka dengan lebay.
"Selamat menjelaskan pada mom!" Pungkas Gika seraya tertawa kecil. Gika menyusul langkah Elleanore tadi sambil bersenandung kecil,
"Sunny, Sunny, Papa Naka menunggumu disini!"
"Sunny, Sunny."
"Diamlah!" Naka yang geram menoyor kepala Gika lagi dari belakang.
"Naka!" Panggil Mom Fe yang sudah bisa ditebak kalau ibu empat anak itu akan mencecar Naka sebentar lagi.
"El mau punya kakak ipar ketiga," celetuk Elleanore penuh semangat.
"Bagaimana ceritanya sudah yang ketiga? Yang kedua siapa memangnya?" Tanya Gika menatap bingung pada Elleanore.
"Kak Tiffany!" Jawab Elleanore tanpa dosa yang langsung membuat Gika membelalakkan kedua matanya.
"Maksudmu aku menikah dengan gadis macan rrrooaaar itu?"
"Bagaimana kalau aku berubah jadi macan juga nanti? Rrrooaaar! Rrrrooooaaar!" Gika mengaum seperti orang sinting.
"Pawang macan lebih tepatnya," celetuk Naka yang sudah duduk bersama Mom Fe dan Dad Dean.
"Abang Gika pawang macan!" Ledek Elleanore yang menyusul Naka untuk duduk. Sementara Gika yang diledek hanya berdecak berulang-ulang.
"Pernikahan siapa?"
"Ketiga anak bujangmu itu! Richard dan Ashley, Gika dan macannya, lalu Naka dan siapa tadi?" Uncle Aaron terlihat mengingat-ingat.
"Mamanya Sunny!" Celetuk Elleanore mengingatkan uncle Aaron.
"Nah, itu!" Timpal Uncle Aaron seraya terkekeh. Aunty Claudia sendiri sudah tak terlihat karena sepertinya sudah tidur di dalam menemani Cecilia. Victor juga sudah pamit pulang sejak tadi setelah Aunty Navya berulang kali meneleponnya.
"Aku tidak tahu. Tapi kalau mereka minta berbarengan, aku juga tak masalah!" Jawab Dad Dean santai.
"Gika tidak ikut-ikutan, Dad!" Celetuk Gika bersungut-sungut.
"Yang benar saja! Masa Gika disuruh menikah dengan gadis macan rrrooaaar itu!" Lanjut Gika lagi masih bersungut.
"Jadi, kau benar menjalin hubungan dengan mamanya Sunny itu?" Mom Fe memilih untuk menanyai Naka dan mengabaikan Gika yang belum berhenti bersungut.
"Tidak ada, Mom! Kami hanya teman dan Alsya juga customer di travel agency," jelas Naka yang keceplosan menyebut nama Alsya.
"Jadi namanya Alsya?" Goda Mom Fe yang langsung membuat Naka sedikit tersipu.
"Mom jadi penasaran pada Alsya dan Sunny," lanjut Mom Fe lagi seperti biasa. Selalu penasaran pada gadis yang dekat dengan putranya.
"Bawa ke rumah, Bang!" Elleanore mengompori.
"Naka tidak janji, karena Naka memang belum menjalin hubungan apa-apa dengannya, Mom!" Jawab Naka mencoba memberikan pengertian pada Mom Fe.
"Alsya juga kelihatannya sedikit tertutup," lanjut Naka lagi.
"Abang yang buka gembok di hatinya Kak Alsya kalau begitu!" Celetuk Elleanore sok tahu.
"Kamu dekati anaknya kalau begitu," ujar Mom Fe memberikan ide dan saran.
"Umur berapa Sunny Sunny tadi? Tiga tahun? Empat tahun?"
"Sepuluh tahun," jawab Naka cepat yang langsung membuat Mom Fe terdiam. Elleanore ikut diam padahal biasanya gadis itu aktif berkomentar.
"Siapa yang umur sepuluh tahun?" Tanya Dad Dean saat melihat istri dan putrinya yang tiba-tiba diam.
"Jika Sunny umur sepuluh tahun, lalu Kak Alsya umur berapa, Bang?" Elleanor akhirnya buka suara dan bertanya meskipun sedikit ragu.
"Oh, ya! Calon anaknya papa Naka memang sudah besar, Mom! Ada videonya di ponsel Naka saat mereka di Maratua!" Lapor Gika ember.
"Kalian berlibur ke Maratua?" Tanya Mom Fe penuh selidik.
"Naka hanya menjadi tour guide untuk Alsya dan Sunny, Mom!" Kilah Naka menyanggah tuduhan Gika.
"Sejak kapan kau merangkap jadi tour guide, Naka? Bukannya agency mu sudah punya yang profesional?" Tanya Dad Dean ikut-ikutan menyelidik.
"Itu..." Naka menggaruk kepalamya yang tak gatal.
"Ya sejak dia kepincut dengan mamanya Sunny, Dad!" Akhirnya Gika yang menjawab dengan konyol pertanyaan Dad Dean.
"Sepuluh tahun?" Mom Fe kembali bergumam tak percaya.
"Sunny mengingatkan Naka pada El dulu, Mom!" Cerita Naka dengan mata yang sudah berbinar.
"Dia cheerful, cerewet, dan sayang pada mamanya," sambung Naka lagi seraya menerawang.
Elleanor menyenggol pundak Mom Fe seolah memberitahu kalau Naka sepertinya sedang jatuh cinta.
"Kemungkinan umur Kak Alsya berapa, Mom? Mungkin Kak Alsya nikah muda saat lulus SMA, jadi umurnya sekarang baru 28 atau 29," Cerocos Elleanore berpendapat.
"Bisa saja," jawab Mom Fe membenarkan pendapat Elleanore.
"Abang bawa Kak Alsya dan Sunny ke rumah kalau begitu! Biar Mom dan El bisa ngobrol-ngobrol juga ke Kak Alsya," usul Elleanore selanjutnya.
"Atau Mom dan Dad lamarkan langsung Alsya untuk Naka! Tadi Naka sudah menyampaikan keinginannya itu ke Gika!" Timpal Gika yang masih saja ember.
"Naka bisa melamarnya sendiri!" Sergah Naka seraya berdecak pada Gika.
"Itu malah lebih bagus! Jadilah pria gentle dan jangan hanya suka memainkan wanita, meniduri mereka, lalu ganti meniduri wanita lain!" Celetuk Dad Dean seraya menepuk pundak Naka dan seolah sedang menyindir seseorang.
Disaat bersamaan, dua orang yang merasa tersendiri tiba-tiba terbatuk bersamaan karena mungkin baru saja tersedak ludah mereka sendirian.
"Uhuuuk! Uhuuuk!"
"Uhuuuk! Uhuuuk!"
"Kenapa Uncle Aaron ikut batuk juga? Bukannya Dad tadi menyindir Abang Gika, ya?" Tanya Elleanore polos yang hanya membuat Dad Dean meng*lum senyum.
Sialan memang bapak empat anak itu!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.