Queen Of Alexander'S

Queen Of Alexander'S
GADIS MACAN



Tiffany masih menganga dan shock dengan cerita Ashley yang mengatakan kakau Gika De Chio ternyata punya saudara kembar.


Gila!


Satu Gika De Chio saja sudah membuat gila!


Apa kabar kalau mereka ada dua?


"Saudara kembarnya seorang model juga?" Tanya Tiffany menatap penuh selidik pada Ashley dan Henry.


"Bukan!" Jawab Henry cepat.


"Abang Naka pemilik travel agency dan bukan model," jelas Henry lagi.


"Kenapa memanggil Naka Abang?" Tanya Gika mendengus pada Henry.


"Usianya lebih tua ketimbang aku," jawab Henry memberikan alasan seraya meringis.


"Lalu aku?" Gika menunjuk ke wajahnya sendiri.


"Kau pikir aku dan Naka bayi kembar yang lahir di tahun berbeda?" Lanjut Gika bersungut-sungut.


"Barangkali iya! Secara, sifat kalian bak langit dan bumi," jawab Henry asal dan Gika kembali berdecak.


"Jadi yang menabrakku?" Tiffany kembali bertanya dan sepertinya gadis itu masih bingung.


"Mainaka Dechio Alexander!" Jawab Gika lengkap. Tiffany ganti menatap pada Ashley yang hanya mengendikkan bahu. Tak berselang lama, ponsel Ashley berdering nyaring.


"Aku angkat telepon dulu, permisi!" Pamit Ashley pada semua yang berada di kamar perawatan Tiffany.


"Ada apa? Kau terlihat shock, Gadis macan!"


"Rrrrooooaaar!" Gika baru selesai mengaum saat Henry menghadiahinya sebuah toyoran di kepala.


"Jangan lebay!"


"Apa kau!" Gika bersungut-sungut pada Henry.


"Kalian berdua kenapa tidak pergi? Aku tak butuh kehadiran kalian disini!" Usir Tiffany pada Gika dan Henry.


"Kami menggantikan Abang Naka disini dan memastikan kalau kondisimu baik-baik saja!" Jawab Henry mencari alasan.


"Aku baik-baik saja!" Sergah Tiffany galak.


"Iya, kau memang terlihat baik! Ayo kita pulang, Hen!" Ajak Gika yang sudah berjalan duluan ke arah pintu.


"Baiklah, kami pulang dulu," pamit Henry akhirnya pada Tiffany yang masih menatapnya dengan tajam.


"Maaf soal Stefi," lirih Henry sebelum pria itu berbalik menuju ke pintu kamar perawatan, dan menyusul langkah Gika.


Di depan pintu, keduanya berpapasan dengan Ashley yang sudah selesai menerima telepon.


"Kalian sudah mau pulang?" Tanya Ashley menatap bergantian pada Gika dan Henry.


"Kami sudah diusir oleh gadis macan rrrooaaar itu!"


"Jadi kami akan pulang karena kami cukup tahu diri," jawab Gika dengan nada lebay dan sedikit bersungut.


"Segera hubungi kami jika Tiff sudah diperbolehkan pulang!"pesan Henry selanjutnya pada Ashley yang hanya mengangguk. Dua pria itupun akhirnya berjalan beriringan menyusuri lorong rumah sakit sambil sesekali bergurau atau saling ejek.


****


"Kapan aku boleh pulang, Ash?" Tanya Tiffany saat Ashley sedang menyuapi gadis itu. Tiffany sebenarnya tadi menolak disuapi, tapi omelan galak Ashley membuat gadis itu akhirnya menurut. Tiffany suka sakit kepala jika mendengar Ashley mengomel karena terkadang hal itu mengingatkan Tiffany pada seseorang yang sudah hampir satu tahun ini meninggalkan dirinya dan meninggalkan dunia ini.


"Aku tidak tahu. Nanti aku tanyakan ke dokter dulu," jawab Ashley seraya mengendikkan bahu.


"Aku sudah kenyang! Sisanya untukmu saja!" Tolak Tiffany saat Ashley hendak menyuapinya lagi.


"Baru tiga sendok, Tiff! Lihatlah tubuhmu kurus kering begini!" Omel Ashley yang langsung membuat Tiffany berdecak. Tiffany kembali berbaring dan menarik selimut hingga menutupi kepalanya.


"Tiff-"


"Berhentilah mengomel, Ash! Aku sakit kepala mendengar omelanmu yang seperti speaker konslet itu!" Ujar Tiffany tanpa membuka selimut yang menutup hingga kepalanya.


"Ck! Dasar keras kepala!" Decak Ashley seraya bangkit dari duduknya dan hendak membereskan sisa makanan Tiffany. Namun baru juga mengangkat bokong, pintu kamar perawatan tiba-tiba sudah menjeblak terbuka. Ada Richard yang berdiri di ambang pintu dan pria itu menatap tajam ke arah Ashley.


Baiklah!


"Kau bersama siapa?" Tanya Richard dengan sorot mata penuh amarah atau mungkin penuh kecemburuan. Richard melangkah dengan langkahnya yang besar dan lebar, lalu menghampiri bed perawatan Tiffany, dan menyibak selimut gadis itu.


"Ash!" Teriak Tiffany marah pada Ashley. Namun saat tahu yang menyibak selimutnya adalah Richard, Tiffany semakin terlihat marah.


"Kau siapa?" Tanya Tiffany galak.


Richard tak menjawab dan hanya melangkah mundur. Pria itu ganti menatap pada Ashley seolah minta penjelasan.


"Apa? Aku sedang menemani sahabatku yang kecelakaan dan kakinya patah," ujar Ashley dengan raut wajah tanpa dosa.


"Lalu kenapa tadi tidak mengatakannya di tele-"


"Ash!" Tiffany memotong kalimat Richard dan berteriak marah pada Ashley.


"Ayo keluar sebelum gadis macan rrooaaar ini mengamuk!" Ashley meraih lengan Richard dan memaksa pria itu untuk keluar dari kamar perawatan Tiffany.


"Ashley!" Geram Tiffany karena Ashley yang ikut-ikutan menyebutnya gadis macan ditambah auman khas macan di belakangnya seperti yang sering dilakukan oleh Gika.


Ck!


Ashley dan Richard sudah keluar dari kamar perawatan Tiffany. Namun Ashley kaget setengah mati saat mendapati seorang pria yang berdiri di depan kamar perawatan dengan ekspresi wajah datar atau malah cenderung tanpa ekspresi.


Siapa lagi pria ini?


"Urusanmu sudah selesai, Rich?" Tanya pria itu pada Richard.


"Belum!" Jawab Richard singkat dan tegas.


"Kau siapa?" Tanya Ashley menatap penuh selidik pada pria yang sama datarnya dengan Richard tersebut.


Ashley tak paham, kenapa ada pria-pria sejenis mereka di dunia ini?


"Dia Edward, asistenku," ujar Richard memperkenalkan Edward pada Ashley.


"Sama-sama dingin dan kaku juga?" Tebak Ashley mengungkapkan penilaiannya pada Richard dan Edward secara terang-terangan. Namun tak ada jawaban dari kedua pria itu dan hanya seperti bicara pada dua patung.


Kriik kriik!


Kriik kriik!


Baiklah, terserah!


"Jadi, kau tadi kesini kenapa, Tuan Kaya? Mengkhawatirkan keadaanku?" Ledek Ashley pada Richard yang masih berekspresi datar.


Ya ampun!


Ashley butuh sebaskom air untuk merendam kanebo kering ini.


"Kenapa tak mengatakan to the point di telepon kalau yang sakit adalah temanmu dan bukan kau?" Tanya Richard yang akhirnya buka suara. Namun ekspresi wajahnya tetap datar seperti biasa.


"Sengaja, karena aku ingin mengetesmu," jawab Ashley cengengesan. Sementara Richard sepertinya tak terpengaruh dan raut wajahnya tetap sama saja.


Ck!


Dasar kanebo kering!


"Rich!" Panggil Edward yang langsung membuat Richard mengangkat tangan ke arahnya.


"Pulang saja kalau kau ingin pulang! Aku akan disini!" Richard menatap tegas pada Edward yang tak lagi berucap seoatah katapun. Pria kaku asisten Richard itu langsung berbalik dan pergi. Benar-benar seperti robot!


Richard dan Ashley baru mendaratkan bokongnya di kursi tunggu, saat terdengar pekikan dari kejauhan yang memanggil nama Edward.


"Abang Edward!"


"Sedang apa disini?"


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.