
"Kalau menurutku, sikapmu itu masih kaku, Ed! Tidak bisakah kau bersikap lebih luwes lagi dan lebih romantis lagi pada Elleanore?" Ungkap Ashley mengemukakan pendapatnya tentang usaha Edward dalam mendekati Elleanore beberapa bulan terakhir. Usaha Edward memang belum bisa maksimal, karena saat Ashley hamil kemarin, Richard jadi jarang ke kantor dan otomatis Edward jadi sibuk di kantor, dan tidak punya banyak waktu untuk melakukan pedekate pada Elleanore. Dan sekalinya Edward punya kesempatan, pria itu malah langsung dicecar oleh seluruh keluarga Alexander.
"Edward sudah bekerja dengan keras dan maksimal, Ash! Hargai sedikit usahanya dan jangan membuatnya jadi patah semangat begitu!" Ujar Richard memberikan pembelaan pada Edward.
Ya, ya, ya!
Sesama kanebo kering ya pasti menilainya sudah maksimal. Padahal sebenarnya juga belum maksimal.
"Aku kan hanya mengungkapkan pendapatku!" Sergah Ashley seraya kembali memakan kuenya.
Bayi Casey sudah mulai menggeliat di dalam box bayinya, dan Richard langsung dengan sigap menggendong bayi perempuannya tersebut, lalu menimang-nimangnya.
"El selalu bersikap ketus dan sudah menyatakan penolakannya. Apa menurut kalian aku masih punya kesempatan?" Tanya Edward tanpa semangat.
"Hhhh! Ayolah, Ed! Jangan lembek begitu!"
"Jika kau berusaha dan berjuang lebih keras lagi, El pasti akan kembali jatuh hati kepadamu!"
"Tapi kalau kau sudah menyerah di awal ya silahkan nikmati patah hatimu!" Ujar Ashley panjang lebar seraya mengambil Bayi Casey dari gendongan Richard. Ashley mengambil apron menyusui, lalu memasangnya sebelum mulai menyusui bayi Casey.
"Aku belum menyerah!" Sergah Edward seraya menatap tajam pada Ashley.
"Kau sedang melihat apa?" Tegur Richard pada Edward yang masih menatap tajam ke arah Ashley.
"Melihat apa maksudnya?" Edward balik bertanya bingung.
"Kau melihat Ashley yang sedang menyusui! Dasar tidak sopan!" Richard tiba-tiba sudah mendorong Edward ke arah pintu kamar dan Ashley hanya menahan tawanya.
"Aku tak melihat apa-apa! Ashley memakai apron juga dan sama sekali tak terlihat!" Kilah Edward menyanggah tuduhan Richard yang aneh.
"Ck! Keluar dan pergi sana!"
"Jangan coba-coba melihat Ashley saat sedang menyusui Casey lagi!" Tuding Richard memperingatkan Edward sebelum kemudian pria itu membanting pintu lumayan keras.
"Pelan-pelan, Rich! Kau membuat Casey kaget!" Ashley mengomeli sang suami.
"Mana?" Richard langsung duduk di sebelah Ashley dan membuka apron menyusui yang menutupi dada Ashley.
"Hai, Sayang! Kaget, ya?" Richard mengusap-usap pipi merah Casey.
"Maafin Dad, ya!" Ucap Richard lagi yang usapannya sudah melebar ke tempat lain.
"Rich, itu bukan pipi Casey!" Ashley sedikit geregetan pada Richard.
"Kenapa memang kalau aku usap begini? Kau bergairah?" Goda Richard seraya mengerling nakal pada Ashley.
"Dasar mesum!" Decak Ashley sebelum wanita itu menggigit bibir bawahnya.
"Kau bergairah," Richard langsung bisa paham.
"Tidak!" Sanggah Ashley cepat.
"Kita titipkan Casey pada Mom malam ini, lalu kita honeymoon sebentar," bisik Richard seraya mengecup tengkuk Ashley lalu menggigit kecil cuping telinga istrinya tersebut.
"Mau honeymoon kemana memangnya?" Tanya Ashley yang sudah mulai menggeliat dengan gelisah.
"Bagaimana kalau ke apartemen? Sudah lama kita tidak kesana," usul Richard meminta pendapat Ashley.
"Terserah kau saja!" Ashley mencium sekilas bibir Richard lalu mengulas senyum ke arah suaminya tersebut. Richard yang seolah tak melewatkan kesempatan, langsung balik mengecup bibir Ashley dan pasangan suami istri tersebut berpagutan cukup lama, hingga tangisan bayi Casey membuat mereka mengakhiri pagutan panasnya.
****
"Gwen sudah tidur. Berhentilah menimangnya, dan letakkan saja di box!" Ujar Tiffany pada Gika yang masih sibuk menimang-nimang Gwen.
"Baiklah!" Gika langsung menurut karena Tiffany sudah mulai terlihat kesal sekarang.
Baru saja Gika menyelimuti kedua bayinya, Tiffany tiba-tiba sudah menarik punggung Gika, lalu mendorong suaminya itu ke arah sofa. Gika yang tak siap dan terjejut, kini sudah telentang di sofa dan menatap heran pada Tiffany yang tiba-tiba sudah menindih tubuhnya.
Bagus sekali!
Apa Tiffany ajan memperkosa Gika setelah ini?
Gika akan pura-pura pasrah saja kalau hal itu benar. Lagipula, sudah satu bulan lebih Gika menahan diri dari godaan milik Tiffany yang sempit dan menjepit.
"Kau mau apa?" Tanya Gika pura-pura polos.
Gika polos?
Hmmmm, sepertinya itu hanya akting belaka.
"Tidak usah pura-pura!" Tiffany membuka bajunya sendiri masih sambil menundih Gika.
"Wow!" Gumam Gika yang langsung menangkup dada Tiffany yang kini semakin besar dan berisi.
"Sudah berani memangnya?" Tanya Gika merasa ragu.
Tiffany mengendikkan kedua bahunya.
"Aku sedang ingin sekarang. Kenapa memang? Kau tidak tertari lagi kepadaku karena dadaku besar dan perutku bergelambir?" Tiffany memamerkan kilit perutnya yang tak lagi kencang seperti saat wanita itu belum hamil.
"Hmmmm, kau semakin seksi sekarang dan aku masih tertarik kepadamu!" Gika menarik kedua lengan Tiffany, lalu mengecup bibir istrinya tersebut.
"Coba katakan, gadis macanku!" Bisik Gika disela pagutannya bersama Tiffany.
"Katakan apa? Rrrooaaar!" Tiffany malah mengaum pada Gika.
"Bukan itu!" Gika berdecak karena Tiffany yang tak paham maksudnya.
"Katakan i love you!" Bisik Gika pada Tiffany.
"I love you too!" Balas Tiffany cepat.
"Sekali lagi!"
"I love you, i love you, i love you!" Gumam Tiffany tanpa henti sambil tangannya melucuti satu persatu baju Gika. Kini mereka berdua sudah sama-sama naked dengan Tiffany yang tetap berada di atas Gika.
"Ouuugh!" Lenguh Gika saat Tiff dengan agresif melesakkan milik Gika ke dakam miliknya sendiri.
"Ada apa? Sudah longgar?" Tanya Tiffany merasa insecure.
Gika tertawa kecil.
"Masih tetap terasa nikmat."
"Kemari!" Gika menarik tubuh Tiffany lalu mencecap kedua gundukan kenyal Tiffany secara bergantian dan pasangan suami istri itu lanjut bercinta dengan panas.
Semoga Griff atau Gwen tidak terganggu dengan suara ribut Gika dan Tiff yang tak pernah bisa diam saat sedang bercinta.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.