
"Casey sudah tidur!" Lapor Ashley seraya melompat ke atas temoat tidur dan langsung menyusup ke dalam dekapan Richard yang masih sibuk dengan laptopnya.
"Hati-hati! Kau sedang hamil, Sayang!" Richard mengingatkan seraya mengusap perut Ashley.
"Oh, iya. Lupa!" Ashley meringis dan semakin membenamkan tubuhnya ke dalam dekapan Richard.
"Mana ponsel kamu, Sayang!" Pinta Ashley selanjutnya seraya mencari-cari ponsel Richard.
"Mau apa?" Tanya Richard yang sudah menyodorkan ponselnya pada Ashley. Richard menyimpan semua file yang baru saja ia kerjakan dan mematikan laptop di pangkuannya.
"Menelepon Edward. Mungkin saja dia tidak tahu caranya memulai malam pertama," kikik Ashley seraya mencari kontak Edward di ponsel Richard. Ternyata ada di baris paling atas.
"Edward tidak sepolos itu, Sayang!" Richard yang sudah meletakkan laptopnya ke atas nakas, ganti mengusap lembut kepala Ashley danbsedikit membenarkan ikatan rambut istrinya tersebut.
"Masa? Dia kan kanebo kering! Lebih kaku dari kau dulu malahan," Ashley kembali tertawa kecil.
"Aku dulu langsung bisa saat melakukannya kepadamu! Jadi Edward juga pasti langsung bisa meskipun dia itu kanebo kering," pendapat Richard yang langsung membuat Ashley menimbang-nimbang untuk menekrpon Edward atau tidak.
"Aku akan telepon Edward sebentar kalau begitu untuk memastikan!" Ashley akhirnya menekan tanda hijau di layar ponsel Richard, lalu menyalakan loudspeaker.
Richard menarik Ashley dan semakin erat mendekap istrinya tersebut. Tangan Richard juga sudah aktif menyusup ke bawah piyama Ashley dan mengusap perut Ashley secara langsung. Sesekali, Richard juga akan menciumi wajah Ashley yang masih menunggu teleponnya di angkat oleh Edward. Hanya terdengar nada tunggu dan telepon tak kunjung diangkat.
"Dia pasti sedang sibuk mencumbu El! Jangan diganggu!" Bisik Richard sebelum pria itu menggigiti telinga Ashley dan membuat Ashley menggelinjang kegelian.
"Rich!"
"Matikan teleponnya! Kau mau aku cumbu juga, kan?" Richard mengerling nakal, lalu mengambil ponselnya dari tangan Ashley. Richard mematikan ponselnya, lalu meletakkan benda itu serampangan.
Baru saja Richard bersiap untuk membuka piyama Ashley, tiba-tiba istrinya itu malah sudah naik ke atas Richard dan menindih pria tersebut.
"Woman on top!" Bisik Ashley nakal, sebelum kemudian wanita itu menyatukan bibirnya dengan bibir Richard.
****
Edward masih terperangah, melihat Elleanore yang sedang membenamkan tubuhnya di dalam bathtube yang dipenuhi kelopak bunga dan busa sabun. Istri Edward itu memejamkan kedua matanya dengan kepala yang mendongak ke langit-langit dan sepertinya juga tak menyadari kehadiran Edward di dalam kamar mandi.
Atau Elleanore hanya pura-pura tak tahu saja?
Edward maju satu langkah dan hebdak mendekati bathtube Elleanore, saat kemudian terdengar dering dari ponsel Edward yang entah Edward taruh dimana tadi. Tapi dering itu begitu familiar, karena Edward memang memasang dering khusus pada nomor prioritas tersebut.
Richard!
Ada apa juga mantan kanebo kering itu menelepon Edward disaat seperti ini? Mengganggu konsentrasi Edward saja yang baru mau mendekati Elleanore pelan-pelan.
Dan jangan tanya Elleanore sekarang sedang apa!
Karena gadis itu sudah membuka kedua matanya yang tadi terpejam dan kini Elleanore menganga kaget saat melihat Edward yang hanya mengenakan underwear sedang berdiri di dalam kamar mandi.
Glek!
Elleanore menelan salivanya sendiri karena ini kalo pertama Elleanor melihat Edward yang bertelanjang dada. Dan tubuh suami Elleanore itu begitu....
Sempurna!
Edward dan Elleanore sama-sama diam dan keduanya hanya saling bertatap pandang.
Dering dari ponsel Edward tak lagi terdengar dan sepertinya Richard sudah menyerah untuk menghubungi Edward. Atau mungkin Ashley baru saja mengomeli pria itu karena mengganggu malam pertama Edward dan Elleanore?
"Aku boleh ikut berendam?" Tanya Edward yang akhirnya memecah kebisuan diantara dirinya dan Elleanore. Meskipun suara pria itu terdengar ragu-ragu.
Tapi bukankah Edward harus mengikuti kata hatinya? Dan hari Edward baru saja mengatakan kalau Edward harus mandi atau berendam bersama Elleanore lalu mulai mencumbu pelan istrinya tersebut. Lalu setelahnya Edward tidak tahu.
Masih belum ada bayangan!
"Ya!" Jawab Elleanore singkat seraya sedikit menggeser tubuhnya ke depan untuk memberi ruang pada Edward.
"Aku boleh melepasnya? Atau kau mau aku tetap memakainya?" Tanya Edward sembari menunjuk ke underwear-nya.
"Terserah kau saja!" Jawab Elleanore seraya memalingkan wajahnya yang sudah bersemu merah ke arah jendela di samping bathtube.
Edward menanggalkan underwear-nya dengan cepat, lalu pria itu masuk ke dalam bathtube dan mengambil posisi di belakang Elleanore. Edward membuka lebar kedua kakinya dan kini posisi tubuh Elleanore berada di antara kedua kaki Edward yang terbuka. Edward meneguk salivanya, saat sebuah perasaan aneh mulai merambati setiap syarafnya dan menimbulkan gelenyar aneh. Edward mengusap pelan pundak Elleanore, lalu memberikan kecupan di sana hingga Elleanore sedikit menggeliat.
"Maaf, apa aku menyakitimu?" Tanya Edward yang tak jadi melanjutkan kecupannya. Namun kedua tangan pria itu masih berada di pundak Elleanore sekarang.
"Tidak!" Jawab Elleanore lirih yang tiba-tiba sudah menyandarkan punggungnya ke dada Edward.
Edward sedikit terlonjak kaget, namun kemudian pria itu langsung bisa menguasai dirinya sendiri. Edward memberanikan diri untuk ganti melingkarkan kedua lengannya di tubuh Elleanore, lalu sedikit menarik tubub istrinya tersebut agar mendekat ke arahnya.
Edward menggeleng dan menyusupkan kepalanya ke ceruk leher Elleanore. Edward juga tak tahu kenapa ia melakukan itu, tapi Edward hanya mengikuti naluri dan kata hati. Mungkin ini hal alamiah yang tadi dimaksud oleh Elleanore.
"Dulu aku pernah hanpir dijodohkan dengan seorang gadis," Edward memulai ceritanya.
"Kedua orangtuamu yang mengatur perjodohan itu?" Tebak Elleanore yang langsung membuat Edward menggeleng.
"Tuan Bowles." Jawab Edward lirih yang langsung membuat Elleanore kaget.
"Opa Bowles? Kau dekat dengan Opa Bowles?" Tanya Elleanore penuh selidik.
"Aku pernah bekerja di perusahaan miliknya." Edward menghela nafas panjang sejenak.
"Lalu Opa Bowles mengatakan kalau ia ingin cucu kesayangannya menikah dengan seseorang yang bisa mengelola perusahaan Bowles ke depannya."
"Lalu pilihan itu jatuh kepadamu? Jadi kau pernah dijodohkan dengan Kak Tiff sebelumnya? Apa itu yang membuat Kak Tiff kabur dari rumah Opa Bowles?" Cecar Elleanore mulai mengait-ngaitkan.
"Bukan Tiffany! Tapi Stefy yang akan dijodohkan denganku," jelas Edward mengoreksi.
"Stefy?" Suara Elleanore tercekat di tenggorokan. Gadis itu bahkan sudah memutar kepalanya dan menatap tak percaya pada Edward.
"Stefy kekasih Henry?" Tanya Elleanore lirih.
"Ya!"
"Stefy memutuskan untuk mengakhiri hidupnya karena gadis itu menolak perjodohan yang direncanakan oleh Opa Bowles."
"Aku merasa bersalah dan mendadak merasa kalau mungkin aku memang terlalu buruk untuk menjadi seorang suami. Jadi setelah itu aku tak pernah lagi menjalin hubungan lagi dengan gadis manapun," Edward tertawa kecut.
"Kau mencintai Stefy?" Tanya Elleanore menatap serius pada Edward, namun suami Elleanore itu hanya menggeleng.
"Aku belum mengenal Stefy dan satu-satunya alasanku menerima perjodohan itu adalah karena aku menghormati Tuan Bowles."
"Tuan Bowles adalah sosok ayah bagiku selama aku bekerja di perusahaan Bowles. Aku berpikir, jika dengan menerima perjodohan itu aku bisa membuat Tuan Bowles bahagia du hari tuanya, maka masa bodoh dengan yang namanya cinta." Jawab Edward seraya menerawang.
"Apa itu berlaku juga padaku?" Tanya Elleanore tiba-tiba yang langsung membuat Edward mengernyit.
"Kau mungkin saja menikahiku demi membuat seseorang bahagia," lanjut Elleanore memperjelas pertanyaannya.
"Satu-satunya yang ingin aku bahagiakan saat ini hanya kau!"
"Aku menikahimu karena aku mencintaimu, El!" Ucap Edward menatap sungguh-sungguh pada Elleanore.
"Aku mencintaimu dan aku baru sadar saat kau sudah dekat dengan Henry."
"Aku sering uring-uringan dan tak fokus bekerja karena terus saja memikirkan kau yang pergi bersama Henry-
"Kau cemburu?" Sela Elleanore menebak.
"Kata Richard dan Ashley begitu," Edward mengendikkan bahu dan tersenyum malu.
"Aku mencintaimu, Elleanore!" Ucap Edward sekali lagi meyakinkan Elleanore.
"Aku percaya." Jawab Elleanore yang sudah kembali memutar tubuhnya dan bersandar lagi di dada Edward.
"Kau tidak mungkin menyusulku ke lokasi bencana dan ikut menjadi relawan kalau memang kau tidak mencintaiku," lanjut Elleanore lagi yang kini sudah menggenggam tangan Edward.
"Maaf karena pernah mengabaikan perhatianmu dan hampir membuatmu celaka. Tapi aku berjanji kalau mulai hari ini aku akan terus berusaha untuk membuatmu bahagia."
"Aku akan terus menjagamu dan membuatmu tersenyum bahagia!" Ucap Edward sekali lagi penuh tekad.
Elleanore tersenyum dan kembali berbalik, lalu gadis itu mengalungkan kedua lengannya ke leher Edward.
"Aku juga mencintaimu, Ed!" Ucap Elleanore lirih yang langsung membuat Edward tersenyum. Edward menyatukan bibirnya dengan bibir Elleanore dan mereka berdua segera hanyut dalam sebuah pagutan panas.
.
.
.
Lanjut malam.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.