
Richard meraih ponselnya di atas meja, lalu menelepon seseorang. Cukup lama hingga telepon tersambung.
"Halo, Bang!"
"El, kau sudah baikan?" Tanya Richard khawatir. Suara Elleanore masih terdengar serak serta sedikit sesenggukan. Sepertinya gadis itu masih menangis semalaman.
"El sudah baikan, Bang! Abang di kantor?"
"Ya! Kemarin setelah dari pemakaman Henry, abang langsung ke apartemen karena malamnya ada acara. Kata Mom kau madih menangis semalam. Abang coba menghubungi ponselmu tapi tak kau angkat." Cerita Richard seraya menatap keluar jendela kantornya. Posisi Richard yang kini membelakangi pintu ruangannya, membuat Richard tak menyadari kalau ada seseorang yang masuk ke ruangannya nyaris tanpa suara.
"El tidur cepat dan tak mendengar telepon dari Abang. Maaf!"
"Tidak apa-apa! Abang senang jika kau sudah baikan. Kau juga harus mulai bangkit, El!"
"Henry sudah bahagia di surga dan tidak merasakan sakit lagi." Nasehat Richard panjang lebar pada Elleanore di telepon. Seseorang yang sejak yadi sudah berada di dalam ruangan Richard terlihat kaget hingga beberapa kertas di tangannya lolos dan terjatuh saat mendengar Richard yang menyebut tentang Henry yang sudah bahagia di surga.
Apa itu maksudnya...
"Iya, Bang!"
"Kak Ashley kuliah hari ini?"
"Dia ada kelas pagi. Ada apa?" Jawab Richard sekaligus bertanya kembali pada Elleanore.
"El ingin mengajaknya pergi mencari udara segar. Mungkin sedikit jalan-jalan juga ke pusat perbelanjaan bersama Mom dan Kak Alsya. Tadi Hendy sudah dibawa Abang Gika pergi katanya mau nonton ke bioskop bersama Sunny juga."
"Nanti saja setelah makan siang," Richard melihat arlojinya.
"Kau bisa menjemput Ashley ke sini." Lanjut Richard lagi.
"Ke kantor Abang?"
"Iya, tadi pagi Ashley bilang kalau dia mau kesini saat makan siang." Jawab Richard seraya tersenyum karena membayangkan wajah Ashley yang belakangan ini membuatnya tergila-gila.
"Baiklah! Nanti El akan bilang ke Mom dulu."
"Jangan sedih-sedih lagi, Oke!" Pesan Richard sekali lagi pada Elleanore.
"Iya, Bang! Bye!"
"Bye!" Pungkas Richard bersamaan dengan telepon yang terputus. Richard berbalik dan gantian pria itu yang kaget saat mendapati Edward yang sudah berada di salam ruangannya.
"Kapan kau tiba Ed?" Tanya Richard yang sudah duduk di kursi kerjanya dan menerima kertas yang disodorkan oleh Edward. Dua hari kemarin Edward memang pergi ke luar kota untuk menggantikan Richard.
"Tadi kau menelepon siapa?" Tanya Edward meskipun sebenarnya Edward sudah bisa menebaknya.
"Elleanore." Richard menghela nafas.
"Dia masih sedih karena baru kemarin Henry meninggal," lanjut Richard ddngan suara lirih.
"Henry?" Gumam Edward yang terlihat kaget.
"Tapi bukankah saat pernikahan Naka kemarin Elleanore dan Henry sedang berlibur?" Tanya Edward lagi yang masih merasa tak percaya dengan kabar yang baru saja disampaikan oleh Richard.
"Mereka tidak berlibur. Elleanore menemani Henry yang ingin menghabiskan saat terakhir hidupnya di rumah masa kecilnya." Richard kembali menghela nafas.
"Henry sakit?" Tanya Edward yang lebih mirip gumaman tak percaya.
"Ya! Dia sakit keras dan kami juga baru tahu sebulan belakangan. Sudah tahap akut dan Henry menolak pengobatan apapun. Jadi Elleanore hanya ingin membuat Henry bahagia di sisa usianya," terang Richard yang langsung membuat ludah Edward terasa pahit. Susah payah Edward menghela nafas karena seolah ada batu besar yang menghimpit dadanya.
"Jadi bagaimana pertemuanmu kemarin di luar kota?" Richard mengalihkan pembicaraan dan Edward meskipun masih merasakan sesak di dadanya, mau tak mau tetap menjelaskan hasil pertemuannya dengan klien di luar kota kemarin.
Tepat saat Edward selesai menjelaskan pada Richard, Ashley datang seraya membawa bungkusan di tangannya.
"Siang!" Sapa Ashley seraya mengulas senyum. Istri Richard itu langsung meletakkan makanan yang ia bawa ke atas meja.
"Ed, aku membawakan makan siang untukmu!" Ashley mengangsurkan satu kotak makanan pada Edward.
"Terima kasih!"
"Ada apa denganmu?"
"Aku baik-baik saja!" Jawab Edward cepat seraya membawa kotak makanan yang tadi diangsurkan Ashley. Pria itu lanjut berjalan ke arah pintu.
"Nanti kita lanjutkan, Rich! Aku makan dulu!" Pamit Edward seraya menutup pintu ruangan Richard.
Richard mengunci pintu ruangannya dan menutup semua jendela, lalu kembali menghampiri Ashley.
"Kenapa ditutup semua?" Tanya Ashley bingung. Richard tak menjawab dan pria itu sedikit mengendurkan dasinya.
"Nanti saja makannya." Tangan Richard sudah menyusup ke bawah blouse yang Ashley kenakan, saat kemudian Ashley menghentikan tindakan suaminya tersebut.
"Ada apa?" Tanya Richard bingung.
"Aku sedang ada tamu!" Bisik Ashley sedikit terkikik dan langsung terdengar dengkusan dari Richard.
Ashley mengusap punggung suaminya tersebut dan membimbingnya untuk duduk.
"Tadi malam padahal belum," gumam Richard seraya membuka kotak makan yang dibawa Ashley tadi.
"Iya, baru saja saat di kampus tadi," jelas Ashley yang masih saja tertawa.
Richard dan Ashley akhirnya hanya menikmati makan siang bersama dan mengobrol beberapa hal.
****
Gika masih mengekori Sunny dan Hendy berkeliling di pusat perbelanjaan seperti seorang baby sitter. Sunny lumayan cerewet juga ternyata dan tak berhenti berceloteh apapun pada Hendy yang cenderung pendiam.
Bukan karena Hendy yang naru saja ditinggal oleh sang Abang, tapi sejak dulu bocah itu memang pendiam dan irit bicara.
"Kalian mau makan lagi?" Tawar Gika pada Sunny dan Hendy. Dua bocah berbeda gender itu kompak menggeleng.
"Toko buku!" Hendy menarik tangan Sunny dan membawanya masuk ke sebuah toko buku yang mereka lewati.
"Abang akan tunggu di kasir saja, Hen!" Seru Gika seraya melepas sejenak topinya agar ia bisa menyugar rambutnya yang sedikit gondrong belakangan ini. Berkeliling mall memakai masker dan topi ternyata sedikit membuat sumpek. Tapi Gika juga sedang malas dikerubuti fans-nya.
Ya ya ya!
Meskipun Gika sudah mundur sepenuhnya dari dunia modeling dan apapun yang berhubungan dengan dunia entertainment, namun fans-nya tetap bisa mengenali dan mengejar-ngejar Gika dengan gila.
Gika mengeluarkan ponselnya yang terasa bergetar dari dalam saku celana. Pria itu nyaris terjengkang saat melihat nama Tiffany tertera di layar ponselnya.
Mimpi apa Gika semalam sampai di telepon oleh gadis macan rrrooaaar pujaan hatinya. Apa Tiffany sedang menagih lamaran Gika yang tertunda karena Gika harus mengurus Henry kemarin?
"Haloooo!" Sambut Gika dengan nada lebay selebay-lebaynya menyapa Tiffany di ujung telepon.
"Apa benar Henry meninggal?"
Bukan bertanya kabar Gika atau hal lain. Tiffany malah langsung menyergah Gika dengan pertanyaan tentang Henry.
"Ya, benar!" Jawab Gika dengan nada bicara yang tak lagi lebay.
"Kau tidak memberitahuku?"
"Maaf! Aku kemarin harus mengurus semuanya dan menenangkan Elleanore juga. Lalu mengurus Hendy." Gika menjabarkan seolah dirinya orang yang paling dibutuhkan oleh semuanya.
"Henry sudah pergi dengan tenang dan bertemu Stefy lagi." Lanjut Gika sedikit bergumam.
Tak ada jawaban dari Tiffany di ujung telepon.
"Opa bagaimana? Sudah membaik kondisinya?" Gika ganti bertanya perihal Opa Bowles yang kata Tiffany sedang sakit.
"Masih belum banyak perubahan."
"Semoga Opa akan secepatnya pulih!" Ucap Gika penuh harap yang langsung di aminkan oleh Tiffany.
Namun sesaat kemudian, terdengar suara seseorang yang memanggil Tiffany dengan panik di ujung telepon.
"Nona Muda! Tuan Bowles tiba-tiba drop!"
"Apa?"
.
.
.
Berhubung tadi malam ketiduran dan ini udah siang.
Aku skip dulu nganunya Naka-Alsya
Nanti dirapel sekalian aja sama yang lain 😆😆😆
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.