Queen Of Alexander'S

Queen Of Alexander'S
SEDANG APA?



"Sasha! Sedang apa kau disini?" Suara Alsya menghentikan perdebatan Naka dan Sasha di ruang UGD.


"Kak Alsya!"


"Mau membawa Sunny kemana?" Tanya Alsya lagi seraya menghentikan Sasha yang hendak menggendong Sunny.


"Kak Alsya sendiri darimana? Kenapa membiarkan Sunny bersama dua pria asing ini? Masih bagus Sasha tadi melihat Sunny saat mereka membawa Sunny masuk ke ruamh sakit. Kalai Sunny diapa-apain sama mereka bagaimana?" Cecar Sasha tanpa jeda pada Alsya.


"Sunny menddak sakit dan aku sedang mengurus kue untuk acaea pertunangan putra sulung keluarga Alexander. Dia Naka Alexander dan dia bukan orang jahat! Dia kenal baik dengan aku dan Sunny!" Jelas Alsya panjang lebar yang langsung membuat Sasha membulatkan bibirnya. Berbeda dengan Jasmine yang hanya menahan tawa.


"Diam kau!" Sasha memukul pundak Jasmine yang malah menertawakannya.


"Apa? Udah dibilang tanya dulu baik-baik dan jangan pakai emosi!" Ucap Jasmine masih sambil menahan tawa tanpa gadis itu sadari ada sepasang mata yang tengah menatap kagum ke arahnya. Entah kagum karena parasnya atau karena suara Jasmine.


"Jadi mereka ini temannya Kak Alsya?" Sasha memastikan sekali lagi.


"Iya!" Jawab Alsya tegas.


"Yaudah! Sasha akan pulang saja!" Ucap Sasha akhirnya seraya menahan rasa malu.


"Minta maaf dulu, Kak!" Jasmine mengingatkan dan menyenggol pundak Sasha.


"Iya, Ish! Dasar bawel! Mirip abang kamu!" Sasha kembali bersungut-sungut.


Naka dan Juan berusaha menahan tawanya saat melihat Sasha dan Jasmine yang hendak minta maaf.


"Jadi, Om-"


"Om!" Juan sontak tergelak saat Sasha memanggil Naka Om. Pun dengan Alsya yang ikut tergelak.


"Sorry, sorry! Maksud aku, Abang! Aku minta maaf karena sudah menuduh sembarangan!" Sasha mengulangi permintaan maafnya.


"Jasmine juga minta maaf Abang Naka dan Abang?" Jasmine menatap pada Juan karena tidak tahu nama pria itu.


"Juan!" Jawab Juan lembut memperkenalkan namnya sendiri.


"Biasa saja nyebutin namanya! Udah mirip pujangga!" Cibir Naka pada Juan yang bersikap lebay pada Jasmine. Sepertinya ada something!


Tapi masa iya, baru saja patah hati sudah langsung jatuh cinta lagi pada gadis lain. Dasar Juan labil!


"Oh, iya, Jasmine minta maaf Abang Juan! Udah bikin rusuh gara-gara sepupu Jasmine yang rada somplak ini," Jasmine sedikit berbisik dan menunjuk ke arah Sasha.


"Sialan! Kenapa ngatain aku somplak?" Sasha yang ternyata mendengar ucapan Jasmine refleks menoyor kepala sepupunya itu.


"Udah! Kalau rusuh diluar sana dan jangan disini!" Alsya menengahi kelakuan Sasha yang gemar membuat kerusuhan, padahal sudah jadi seorang ibu juga tapi seolah tak sadar diri!


"Iya, Kak! Sorry!" Ringis Sasha ke arah Alsya.


"Tapi ngomong-ngomong inisial nama kita kok sama, sih, Jasmine? Statusnya masih J juga nggak?" Tanya Juan kepo yang langsung berhadiah toyoran dari Naka.


"Mau bucin di luar sana!" Naka ikut-ikutan mengusir Juan.


"Hah? Status J apaan, Bang?" Tanya Jasmine bingung.


"Jomblo! Polos amat kamu!" Sasha menyenggol pundak Jasmine.


"Oh-"


Jasmine belum selesai menjawab saat Sasha sudah menariknya ke arah pintu ruang UGD.


"Udah ayo pulang!"


Namun saat di ambang pintu, Sasha menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Alsya serta melemparkan tatapan penuh selidik.


"Ngomong-ngomong, calon papanya Sunny yang mana, Kak Alsya?" Tanya Sasha usil yang langsung membuat telunjuk Juan mengarah ke Naka.


Sasha tersenyum mencurigakan dan Alsya langsung bergegas menyusul langkah tetangganya itu.


"Akan aku sampaikan saat pertemuan keluarga besok malam!" Seru Sasha seraya menarik tangan Jasmine dan mengajak gadis itu berlari meninggalkan ruang UGD serta Alsya yang betusaha mengejarnya.


"Sasha! Jangan ember!" Seru Alsya yang tak berhasil mengejar Sasha.


Sial!


Naka juga refleks menoyor kepala Juan yang masih mengarahkan telunjuknya ke arah Naka. Dasar Juan!


Alsya sudah kembali ke samping Sunny dengan nafas sedikit terengah.


"Minum dulu!" Naka menyodorkan sebotol air mineral ke arah Alsya. Sedangkan Juan memilih keluar secara diam-diam dari ruang UGD meninggalkan keluarga cemara itu.


"Papi tidak tahu kalau malam ini aku mengurusi orderan di keluarga Alexander," cerita Alsya akhirnya pada Naka setelah wanita itu meneguk air di botol yang tadi disodorkan oleh Naka.


"Aku tahu, kalau sebenarnya Papi juga melarangmu menemui aku dan Sunny, kan?" Lanjut Alsya lagi seraya menatap pada Naka yang ternyata sedang menatapnya dengan lekat.


"Ya! Tapi aku tidak bisa melakukannya," jawab Naka dengan tatapan mata yang sungguh sulit dijelaskan.


"Besok malam ada acara apa memangnya? Boleh aku ikut datangagar aku bisa mengatakan pada keluargamu-"


"Tidak!" Alsya memotong kalimat Naka dengan cepat karena wanita itu sudah langsung bisa tahu arah pembicaraan Naka.


"Alsya, dengarkan aku dulu-" Naka berusaha merengkuh kedua pundak Alsya namun secepat kilat disentak oleh wanita itu.


"Hentikan, Naka!"


"Kau masih muda dan kau tak perlu melakukannya!" Alsya sudah beringsut menjauh dari Naka sekarang.


"Tapi aku hanya ingin menjadi papa sambung untuk Sunny! Aku menyayangi Sunny dan aku juga mencintaimu, Alsya!" Ucap Naka bersungguh-sungguh yang langsung membuat Alsya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Itu bukan cinta! Itu rasa iba! Maaf, tapi lebih baik kau jauhi kami mulai sekarang dan lupakan saja semuanya!" Alsya memohon pada Naka.


"Bagaimana aku bisa melupakannya kalau hatiku sudah tertaut pada kalian berdua?"


"Kau masih muda, Naka! Kau pantas mendapatkan yang lebih baik!" Ucap Alsya tegas.


"Itu bukan alasan!" Sergah Naka keras kepala.


"Pergi dari sini!" Usir Alsya seraya mengarahkan tangannya ke arah pintu ruangan.


"Alsya-"


"Pergi sekarang!" Usir Alsya lebih tegas.


"Sunny berhak mendapatkan kasih sayang seorang Papa, Alsya! Pikirkan perasaan putrimu!" Pungkas Naka sebelum pria itu mencium kening Sunny, lalu keluar dari ruangan.


Elleanor masih diam seraya memandang langit malam yang hanya hitam tanpa ada satupun bintang. Sedangkan Henry masih betah menemani gadis itu di rooftop hotel.


"Kau pernah punya pacar, Henry?" Tanya Elleanore tiba-tiba pada Henry.


"Hanya sekali-"


"Benarkah? Kapan?" Potong Elleanore seraya menatap wajah Henry.


"Sekitar setahun yang lalu," Henry tersenyum kecut seraya mengendikkan kedua bahunya.


"Lalu kenapa hubungan kalian tak berlanjut?" Tanya Elleanore lagi.


"Dia sudah pergi untuk selamanya," jawab Henry seraya mendongakkan kepalanya dan berusaha menahan airmatanya agar tak mengalir turun. Henry membayangkan sebuah wajah di hitamnya langit malam, saat wajah itu tersenyum atau merengut. Hampir mirip Elleanore, tapi bedanya gadis itu lebih emosional.


Stefy!


Henry menghela nafas panjang sekali lagi saat membaca tulisan demi tulisan di atas kertas putih yang kini ia pegang. Benar-benar sulit dipercaya!


Kenapa ini harus terjadi pada Henry?


Tok tok tok!


Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunan Henry. Pria itu melipat kertas di tangannya lalu menyimpannya di tempat tersembunyi dan lanjut membuka pintu.


"Stefy!" Gumam Henry kaget saat melihat Stefy yang bersimbah airmata sedang berdiri di depan rumahnya.


Gadis itu langsung menghambur ke pelukan Henry.


"Ada apa?" Tanya Henry lembut seraya mengusap punggung Stefy.


Stefy tak langsung menjawab dan masih sesenggukan. Jadi Henry membimbing gadis itu untuk masuk ke rumah sederhananya, lalu membimbing Stefy untuk duduk di kursi ruang tamu.


"Opa mau menjodohkan aku," cicit Stefy akhirat setelah gadis itu sedikit tenang.


"Lalu?"


"Aku hanya mencintaimu, Hen! Aku tidak mau dijodohkan dengan pria lain. Aku hanya ingin menikah denganmu!" Stefy sudah menggamit erat tangan Henry dan meletakkan kepalanya di pundak pria itu. Sementara Henry hanya diam seraya mengingat kata demi kata di kertas yang ia terima siang tadi dari rumah sakit.


"Anda dinyatakan positif."


"Positif!"


"Positif!"


Satu kata itu terus saja terngiang di benak Henry.


"Hen, kau mencintaiku juga, kan? Ayo kita menikah dan-"


"Kita tidak akan menikah, Stefy," Potong Henry yang langsung membuay Stefy mengangkat kepalanya dari pundak pria itu. Raut wajah Stefy juga sudah berubah sekarang.


"Tapi bukankah kita saling mencintai?" Tanya Stefy menatap tak percaya pada Henry.


"Iya, itu benar! Aku mencintaimu, Stefy!"


"Lalu kenapa lau mengatakan kalau kita tidak akan menikah?" Sergah Stefy emosi.


"Maaf!" Henry kehilangan kata-kata sekarang. Henry busa saja mengatakan perihal sakitnya pada Stefy, tapi Henry tak mau orang lain ikut tahu juga nantinya. Jadi biarlah Henry menyimpan rahasia ini sendiri.


"Uhuuk!" Terdengar suara batuk Ibu Henry dari dalam kamar.


"Ibu kenapa?" Tanya Stefy yang langsung bangkit dari duduknya dan menuju ke kamar untuk melihat kondisi ibunya Henry.


"Ibu sakit. Batuknya kambuh lagi," terang Henry yang sudah mengekori Stefy.


"Sudah ke rumah sakit? Kenapa tidak dirawat saja?" Tanya Stefy yang sudah duduk di samping tempat tidur Ibu Henry dan menyodorkan segelas air.


Stefy memang akrab dengan Ibu Henry serta adiknya Henry.


"Biasanya akan sembuh jika sudah minum obat dari dokter. Dan ibu selalu menolak saat disuruh opname," terang Henry yang hanya berdiri di ambang pintu kamar menyaksikan keakraban Stefy dan sang ibu. Henry sebenarnya juga ingin melihat pemandangan indah ini setiap hari. Namun rasanya mustahil, karena jika Henry menikahi Stefy, itu sama saja ia akan menyakiti Stefy ke depannya.


Tuan Bowles juga sudah menyiapkan calon suami untuk Stefy yang Henry yakin pastilah seorang pria baik. Henry akan mengantar Stefy pulang besok, setelah keadaan ibu membaik.


"Henry!" Seruan dari Gika yang entah sejak kapan sidah sampai di rooftop membuat lamunan Henry tentang masalalunya bersama Stefy mendadak buyar. Henry baru menoleh saat Gika tiba-tiba sudah menarik kerah kemeja Henry dengan kasar.


"Dasar brengsek!" Maki Gika yang sepertinya sedang kesetanan. Entah ada apa dengan tuan model pawang macan ini.


"Abang!" Jerit Elleanore yang buru-buru melepaskan cengkeraman Gika di kerah baju Henry. Meskipun gagal karena Gika yang begitu emosi.


"Kau kenapa?" Tanya Henry yang tetap dengan wajah santainya.


"Kau kenapa! Kau kenapa!"


"Kau tahu apa saja tentang gadis macan rrrooaaar itu?" Tanya Gika berapi-api


"Apa maksudmu?" Henry balik bertanya bingung.


"Kata Tuan Bowles, kau tahu alamat rumah Tuan Bowles! Lalu kenapa kau tak mengatakannya kepadaku dan malah membiarkan aku kehilangan muka di depan Tuan Bowles dengan bertanya padanya kabar si gadis macan rrrooaaar itu!" Gika bercerocos kesetanan.


"Kau tidak bertanya, jadi kenapa aku harus memberitahumu? Lagipula kau sendiri yang bilang kalau kau tidak ada perasaan apa-apa pada Tiff, lalu kenapa sekarang kelimpungan mencarinya kalau memang kau tidak ada perasaan apapun pada Tiffany?" Henry balik mencecar Gika dan langsung berhasil membuat tuan model itu bungkam seribu bahasa.


"Abang jatuh cinta pada Kak Tiff, kan?" Celetuk Elleanore yang langsung membuat Gika mengumpat dalam hati berulang kali.


Brengsek!


Sialan!


Kenapa Gika bisa melupakan keberadaan adiknya yang ember bocor dan speaker konslet ini?


Hancur sudah harga diri seorang Gika De Chio!


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.