
"Wow!" Gumam Ashley saat ia baru turun dari mobil Richard dan mrlihat gedung Alexander Group yang ikonik yang sejak dulu hanya bisa Ashley lihat dari kejauhan.
Richard melangkah masuk ke pintu utama gedung, dan Ashley mengekori tuan kanebo kering itu seraya mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan yang ia lalui bersama Richard.
"Selamat siang, Tuan Rich!"
"Siang!" Ashley membalas sapaan yang jelas-jelas ditujukan untuk Richard karena tuan kanebo kering itu hanya diam saja seperti orang bisu.
Ck!
Padahal cuma membalas sapaan kan tidak menghabiskan tenaga. Kenapa juga Richard enggan melakukannya?
"Ash!" Panggil Richard yang sudah betada di dalam lift, pada Ashley yang masih sibuk mengagumi interior Alexander Group. Ashley sedikit berlari menuju ke lift untuk menyusul Richard.
"Jadi, dulu Dad Dean yang membangun gedung ini?" Tanya Ashley membuka percakapan di dalam lift.
"Bukan! Yang membangun para pekerja proyek," jawab Richard yang langsung membuat Ashley menepuk keningnya sendiri.
Iya juga, ya!
Memangnya Dad Dean tukang bangunan?
Ashley tertawa sendiri.
"Ruanganmu ada di lantai paling atas?" Tanya Ashley lagi menebak-nebak.
"Ya!" Jawab Richard singkat, padat, dan jelas bersamaan dengan pintu lift yang akhirnya terbuka. Sebuah lantai yang hanya terdapat tiga ruangan kini membentang di depan Ashley dan Richard.
"Siang, Rich! Kau sudah kembali?" Sapa Edward yang tiba-tiba muncul dari ruangannya dan mengekori langkah Richard serta Ashley.
"Meeting jam berapa?" Tanya Richard pada Edward yang membawa setumpuk kertas di tangannya.
"Tiga puluh menit lagi." Jawab Edward, sebelum kemudian pria itu membukakan pintu ruangan Richard untuk Richard dan Ashley.
Ruangan dengan jendela yang lebar tersebut, langsung membuat Ashley menatap kagum serta melenggang masuk mendahului Richard yang langkahnya dihentikan oleh Edward.
"Boleh aku tanya sesuatu, Rich?"
"Ya!"
"Sedang apa gadis bawel itu disini?" Tanya Edward yang telunjuknya sudah menunjuk ke arah Ashley yang masih sibuk mengagumi setiap sudut dari ruang kerja Richard.
"Rich! Kenapa ada tempat tidur disini? Siapa yang suka tidur disini? Kau?" Tanya Ashley yang sepertinya baru saja menemukan ruang istirahat pribadi Richard di ruang kerjanya.
"Ya!" Jawab Richard singkat.
"Aku boleh numpang berbaring sebentar? Tadi sebelum ke butik aku ada kelas sejak pagi dan semalam aku insomnia. Sekarang aku malah ngantuk sekali," Cerocos Ashley seraya menguap lebar.
"Ya!" Jawab Richard lagi masih singkat seperti sebelumnya.
"Baiklah! Jangan menggangguku!" Ashley menarik tirai yang menutupi kamar pribadi Richard tersebut dan kini hanya tinggal Richard serta Edward yang mendelik ke arah Richard.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, Rich!" Ujar Edward mengingatkan.
"Tuan Fang akan datang kesini nanti. Dan Anneth sempat menyebarkan isue pada Tuan Fang kalau aku dan Ashley hanya berpacaran secara pura-pura-"
"Aku tidak mau Tuan Fang meragukan hubunganku dengan Ashley dan termakan gosip yang disebarkan Anneth. Jadi nanti Ashley akan menemaniku bertemu dengan Tuan Fang!"
"Kau siapkan saja semua yang perlu disiapkan dan tak perlu buka suara jika memang tidak penting!" Pesan Richard seraya menuding pada Edward.
"Kau pikir aku Ashley yang bawel itu?" Decak Edward seraya meletakkan dengan kasar, tumpukan kertas di tangannya tadi ke atas meja kerja Richard.
"Jangan lupa untuk ke ruang meeting sebentar lagi dan sedikit saran dariku, kunci saja ruanganmu, agar gadis bayaran itu tak kelayapan ke sudut-sudut gedung ini!"
"Aku lihat dia kepo sekali!" Ujar Edward sebelum asisten Richard itu keluar dari ruangan.
Richard tak menyahut sepatah katapun dan lanjut menghampiri Ashley di ruang tidur pribadinya. Pria itu menyibak tirai perlahan karena takut mengganggu Ashley yang mungkin sudah terlelap. Namun nyatanya Ashley belum tidur dan gadis itu hanya berbaring seraya menatap langit-langit ruangan.
"Hai, Rich! Aku baru saja ingin mencoba tidur, tapi tidak bisa karena kasurmu ini nyaman sekali," ujar Ashley seraya menggerakkan kedua tangannya di samping tubuh,bergerak naik dan turun seperti sedang membentuk sayap.
"Kau tahu, kasurku di panti sudah keras, mungkin karena sudah lama belum diganti. Berbeda jauh dari kasurmu ini," lanjut Ashley lagi.
"Aku ada meeting sebentar di bawah. Mungkin satu atau satu setengah jam. Kau bisa bersiap-siap dulu selagi aku meeting," Richard menyodorkan paperbag yang tadi dibawa pria itu dari butik. Ashley juga tak tahu itu isinya apa, karena Ashley pikir itu tadi berisi jas atau tuxedo mahal Richard.
"Bersiap-siap kemana?" Tanya Ashley bingung.
"Ada rekan kerja yang akan kesini nanti. Kau akan menemaniku untuk menemuinya," ujar Richard menatap tegas pada Ashley.
"Lalu aku harus bersikap bagaimana? Pengetahuanku seputar dunia bisnis masih cetek meskipun aku mahasiswi jurusan bisnis," Ashley membuat pengakuan jujur.
"Bersikap saja seperti di acara pesta kemarin! Tidak mungkin juga rekan bisnisku mengajakmu membahas bisnis," jawab Richard yang langsung membuat Ashley bernafas lega. Gadis itu meraih paperbag yang tadi disodorkan oleh Richard dan memeriksa isinya. Ada satu stel blazer dengan inner sebuah terusan selutut dan ada juga tas makeup di dalamnya.
"Dapat darimana yang ini?" Kikik Ashley seraya mengangkat tas makeup warna pink itu dari dalam paperbag. Terasa berat, sepertinya lengkap!
"Make up tipis-tipis saja dan jangan terlalu menor!" Pesan Richard tanpa menjawab pertanyaan Ashley.
Baiklah!
Terserah!
"Kamar mandinya di sana, dan aku akan meeting dulu!" Pamit Richard selanjutnya setelah menunjukkan letak kamar mandi pada Ashley.
"Oke, Bye!"
"Jangan lupa mengunci pintu agar aku tak kelayapan!" Seru Ashley yang ternyata mendengar ucapan Edward tadi. Richard hanya tersenyum tipis dan segera keluar, lalu menutup pintu ruang kerjanya tanpa mengunci.
Richard percaya pada Ashley!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.