Queen Of Alexander'S

Queen Of Alexander'S
SINDIRAN



Elleanore masih menimang-nimang bayi Alka, saat gadis itu melihat tentang berita bencana alam di layar televisi. Anak-anak korban bencana terlihat kebingungan dan sebagian dari mereka juga terpisah dari orang tuanya.


"Ada bencana alam?" Tanya Naka yang sudah duduk di sofa ruang tengah dan ikut melihat berita.


"Kasihan anak-anak itu, Bang!" Gumam Elleanore yang sejak dulu memang memiliki jiwa sosial tinggi. Elleanore dan beberapa temannya bahkan membentuk sebuah komunitas sosial yang sering mengadakan berbagai acara amal atau penggalangan dana.


"El akan bertemu teman-teman hari ini untuk penggalangan dana dan bantuan lain," cetus Elleanore seraya memberikan Bayi Alka pada Naka.


"Ide bagus! Utamakan kebutuhan bayi dan anak-anak, El!" Ujar Naka memberikan saran dan Elleanore langsung mengangguk.


"Bayi Kasya mana, Bang? Belum selesai mandi?" Tanya Elleanore lagi mencari keberadaan salah satu keponakan kembarnya.


Tadi bayi Casey sudah tidur setelah dimandikan. Lalu bayi Griff serta bayi Gwen sedang dibawa Kak Tiffany menginap ke rumah opa Bowles. Jadi suasana di rumah sedikit lengang. Mom dan Dad juga sedang pergi ke acara setelah beberapa minggu kemarin, Mom sibuk dengan kelima cucunya dan Dad Dean sedikit ngambek karena ia yang harus datang sendiri ke acara-acara klien-nya.


"Sudah tadi. Masih dipakein baju." Naka baru menyelesaikan kalimatnya, saat Alsya sudah keluar dari kamar seraya menggendong Bayi Kasya yang sudah tampan dan wangi.


"Hai, Ganteng!" Sapa Elleanore merasa gemas pada keponakan laki-lakinya tersebut.


"Mau pergi, El?" Tanya Alsya yang melihat Elleanore sudah menenteng tas selempangnya.


"Mau ketemu teman-teman buat acara penggalangan dana, Kak," Elleanore mengendikkan dagu sekilas ke arah layar televisi yang masih menampilkan berita tentang bencana alam.


"Ya ampun! Anak-anak yang malang," Alsya merasa trenyuh melihat para anak kecil yang terpisah atau bahkan kehilangan orang tuanya.


"El akan pergi sekarang," pamit Elleanore setelah berulang kali menciumi pipi Kasya dan Alka.


"Aunty pergi dulu, ya! Bye bye!" Pamit Elleanore sedikit lebay pada dua bayi kembar nan menggemaskan tersebut.


"Hati-hati, El! Nanti kalau pulangnya lewat jam sembilan, telepon supir saja biar dijemput." Pesan Naka pada sang adik bungsu.


"Siap, Bang!" Jawab Elleanore sebelum gadis itu berlalu pergi.


****


Edward masuk ke sebuah kafe karena mendadak ia ingin minum kopi sebentar sekalian me-refresh otaknya yang belakangan ini terasa semakin kusut. Bukan karena pekerjaan tapi karena hal lain yang entah apa namanya.


Edward mengedarkan pandangannya ke dalam kafe untuk mencari satu tempat yang cocok untuknya. Meja kecil dengan satu kursi saja sepertinya yang paling cocok untuk Edward. Namun belum.selesai pria itu mencari, pandangannya malah tak sengaja tertumbuk pada sekumpulan muda-mudi yang salah satu dari mereka terlihat seperti Elleanore.


Tunggu! Itu memang Elleanore dan mungkin teman kuliahnya. Atau salah satu dari mereka adalah pacar Elleanore? Ada tiga empat pria dan tiga wanita disana termasuk Elleanore, jadi bisa hadi salah satu dari ketiga pria itu adalah pacar Elleanore.


Ya ampun!


Apa Edward sedang cemburu sekarang?


Edward akhirnya duduk di bangku yang ada di dekatnya, agar bisa menperhatikan Elleanore sekaligus mencari tahu yang mana pacar Elleanore. Seorang pelayan kafe datang,dan Edward langsung memesan satu kopi esspreso tanpa gula agar Edward bisa menikmati pahitnya dengan maksimal seperti kisah cinta di dalam hidup Edward yang senantiasa terasa pahit.


Ya, andai saja dulu saat Elleanor masih tergila-gila padanya, Edward tak sok-sokan jual mahal dan langsung menerima gadis itu dengan tangan terbuka,mungkin sekarang Edward tak perlu berulang kali terbakar api cemburu begini.


Konyol!


Edward masih duduk di tempatnya semula dan sudah menghabiskan dia cangkir kopi esspreso.


Bagus sekali! Nanti malam Edward sepertinya akan begadang dan tak akan bisa tidur.


Sedangkan Elleanore masih terlihat sibuk berbincang bersama keenam temannya tadi dan entah sedang membahas apa. Wajah mereka semua terlihat serius.


Edward melihat arloji di tangannya yang sudah menunjukkan pukul delapan lebih. Dan kini Elleanore sudah bangkit berdiri, lalu memeluk teman perempuannya satu persatu dan berjabat tangan dengan teman pria.


Tak ada yang dipeluk!


Apa itu artinya salah satu dari mereka bukan pacar Elleanore.


Ah, ini adalah angin segar untuk Edward!


Elleanore dan keenam temannya keluar bersamaan dari dalam kafe, dan Edward buru-buru ikut keluar tapi sambil menjaga jarak tentu saja.


"Ponselku mati dan aku tak bisa telepon sopir." Samar-samar, Edward mendengar Elleanore mengeluh pada satu temannya.


"Yaudah, pulang bareng kita-kita saja, El!" Tawar salah satu teman Elleanore.


"Tapi kan nggak searah. Aku naik taksi-"


"Jangan, El! Udah malam begini bahaya naik taksi. Udah kita antar aja!" Tawar satu teman Elleanore yang laki-laki.


"Tapi-"


"El!" Edward akhirnya memberanikan diri untuk menyapa Elleanore. Edward akan memberi Elleanore tumpangan dengan alasan ada berkas yang tertinggal di rumah.


"Abang Edward?" Elleanore terlihat kaget dengan kehadiran Edward di kafe yang sama.


"Siapa, El? Pacar kamu, ya?"


"Ciyee!" Teman-teman Elleanore menyoraki gadis itu.


"Sudah mau pulang? Ayo bareng sekalian!" Ajak Edward yang berusaha mengulas senyum meskipun bibirnya terasa lalu sekali seperti sedang memakai masker wajah.


Atau Elleanore akan kembali menolak tawaranmu!


"Diajak pulang bareng itu, El! Kami fuluan kalau begitu, ya!" Pamit teman-teman Elleanor akhirnya yang langsung meninggalkan Elleanore menuju ke tempat parkir.


"Yaudah! Besok jangan lupa, ya!" Seru Elleanore pada teman-temannya yang langsung mengacungkan jempol mereka.


"Abang Edward ngapain disini?" Tanya Elleanore sedikit ketis pada Edward.


"Tadi kebetulan sedang ngopi,lalu tak sengaja lihat kamu sama teman-teman kamu," jawab Edward yang berusaha untuk tidak kaku.


"Ayo aku antar sekalian! Aku juga harus mengambil berkas di rumah. Baru ingat kalau ada yang tertinggal," Edward tertawa kaku dan Elleanore hanya berekspresi datar.


Kriik kriik kriik!


"Yaudah! Ponsel El juga kebetulan mati dan nggak bisa telepon supir," jawab Elleanore yang akhirnya mengiyakan ajakan Edward. Dalam hati Edward sudah bersorak senang sekarang.


"Ayo!" Edward sudah merangkul pinggang Elleanore namun tatapan aneh Elleanore membuat Edward buru-buru melepaskan rangkulannya.


"Maaf!"


"Ayo!" Ajak Edward sekali lagi tanpa acara rangkul-rangkulan. Mereka berdua berjalan beriringan menuju ke mobil Edward yang masih berada di tempat parkir. Edward membukakan pintu untuk Elleanore terlebih dahulu, dan setelah gadis itu masuk, Edward baru ikut masuk dari sisi lainnya.


"Ngomong-ngomong tadi sedang rapat apa bersama teman-temanmu?" Tanya Edward membuka percakapan sekaligus berbasa-basi pada Elleanore serelah mobil melaju membelaj jalanan kota.


"Acara amal dan penggalangan dana," jawab Elleanore singkat.


"Untuk bencana alam?" Tebak Edward.


"Ya!" Hanya jawaban singkat dari Elleanore.


"Aku boleh ikut menyumbang?" Tanya Edward lagi.


"Boleh!" Elleanore menghela nafas sejenak.


"Siapapun boleh ikut menyumbang dan menjadi donatur tanpa ada batas minimal. Kami menerima berapapun sumbangan yang diberikan." Sambung Elleanore lagj yang langsung membuat Edward mengangguk.


"Aku lihat, kau sering membuat acara amal seperti ini," ujar Edward lagi seraya menoleh sekilas pada Elleanore yang pandangannya tetap lurus ke depan.


"Ya!"


"Bukankah hidup harus bermanfaat untuk sesama dan tidak hanya memikirkan diri sendiri atau gila pada pekerjaan hingga melupakan tanggung jawab pada sesama manusia?" Jawab Elleanore yang langsung membuat hati Edward merasa tertohok. Bayangan saat Edward meninggalkan Elleanore sendirian di GOR hanya demi pekerjaan yang sangat bisa Edward lakukan keesokan harinya, mendadak menari-nari di benak Edward. Masih bagus saat itu Edward hanya mendapay bogem mentah dari Gika dan Richard dan tidak dijebloskan ke penjara oleh Uncle Dean karena sudah hampir membuat Elleanore celaka.


Suasana seketika menjadi hening, hingga mobil Edward sampai di kediaman Alexander. Elleanore langsung membuka sabuk pengaman begitu mobil berhenti di depan teras.


"Terima kasih tumpangannya." Ucap Elleanore tanpa menatap pada Edward. Pria itu juga sepertinya tak berniay turun dan mesin mobilnya masih menyala.


"Sama-sama! Aku benar-benar minta maaf soal kejadian di GOR waktu itu, El! Aku benar-benar menyesal!" Ucap Edward bersungguh-sungguh yang langsung membuat Elleanore diam sejenak.


"Tidak perlu dibahas lagi!" Jawab Elleanore akhirnya.


"Ngomong-ngomong, bukankah tadi katamu kau akan mengambil berkas?" Tanya Elleanor bingung karena Edward masih di posisinya dan seperti tak berniat untuk turun.


"Aku baru ingat, kalau berkasnya sudah aku bawa tadi," Edward menunjuk ke arah beberapa map di jok belakang dan pria itu juga menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Aku langsung pulang," pamit Edward akhirnya setelah Elleanore keluar dari mobilnya.


"Ya!" Hanya jawaban singkat itu yang keluar dari bibir Elleanore. Gadis itu masih berdiri di teras rumah, saat mobil Edward melaju pergi dan menghilang di balik pintu gerbang.


"Kalau aku bilang sekarang Edward jatuh cinta kepadamu dan mulai tertarik kepadamu, apa hatimu tidak merasa bergetar?"


"Tidak!"


"Bukankah dulu kau begitu tergila-gila padanya dan tak berhenti mengejarnya? Aku yakin kalau kau itu masih memiliki perasaan pada Edward, El! Kau hanya sedang marah kepadanya sekarang!"


"Aku tidak marah! Dan aku tak punya perasaan apa-apa lagi pada pria dingin itu!"


"Berikan kesempatan untuk Edward, oke!"


"Biarkan Edward berjuang dan kau akan melihat ketulusan cinta darinya."


Kalimat demi kalimat yang pernah dilontarkan Henry sebelum kepergian pria itu, mendadak berkelebat dj benak Elleanore.


Benarkah Edward sudah jatuh hati pada Elleanore sekarang?


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.