
"Abang Edward!"
"Sedang apa disini?"
Richard dan Ashley sangat hafal pada suara itu. Siapa lagi kalau bukan Elleanore.
"Selamat sore, Nona Elleanore!" Sapa Edward kaku seperti kanebo kering.
Ditanya sedang apa disini malah menjawab selamat sore.
Dasar aneh!
"El!" Panggil Ashley pada adik bungsu Richard tersebut.
"Kak Ash!" Elleanore buru-buru menghampiri Ashley dan Richard dan meninggalkan Edward yang sudah melanjutkan langkahnya, lalu masuk ke dalam lift.
"Kau sedang apa disini, El?" Tanya Richard pada sang adik yang masih sibuk berpelukan dan cipika-cipiki dengan Ashley.
"Kak Cecil kecelakaan, Bang! Tapi sudah selesai operasi tadi," jelas Elleanore pada Richard.
"Abang dan Kak Ashley sendiri sedang apa disini?"
"El mau punya keponakan, ya?" Goda Elleanore seraya mengusap perut Ashley.
Hah?
Keponakan?
Maksudnya Elleanore mengira Ashley hamil begitu?
Belum juga diapa-apain sama Richard, masa iya sudah hamil!
Memangnya proses membuat anak bisa dilakukan melalui telepati?
"El! Jaga bicaramu!" Tegur Richard pada sang adik.
"Iya, maaf!" Elleanore meringis.
"Jadi Kak Ashley dan Abang Rich sedang apa disini? Siapa yang sakit?" Elleanore mengulangi pertanyaannya.
"Menjaga Tiffany. Bukannya tadi kamu yang memberitahuku kalau Tiff kecelakaan?" Jawab Ashley mengingatkan yang langsung membuat Elleanor menepuk keningnya sendiri.
"Ya ampun! El lupa!"
"Abang Naka di dalam juga?" Tanya Elleanore selanjutnya.
"Naka sudah pulang. Lalu Gika dan Henry juga sudah pulang karena Tiff mengusir-"
"Abang Gika kesini juga?" Elleanore memotong kalimat Ashley.
"Iya. Gika dan Henry tadi ikut menunggui Tiffany sampai gadis itu bangun." Jawab Ashley yang langsung membuat Elleanore menepuk kedua tangannya dengan keras.
"Berarti benar-benar ada something antara Abang Gika dan Kak Tiff!" Celetuk Elleanore yang langsung disambut decakan dari Richard.
"Gika kan memang playboy dan tertarik pada gadis mana saja yang dia temui." Pendapat Richard yang langsung membuat Ashley menganga.
Richard bisa ghibahin adiknya ternyata!
"Kak Ashley kenapa?" Tanya Elleanore heran karena melihat Ashley yang masih menganga. Sedangkan Elleanore sibuk mengutak-atik ponselnya sekarang dan menghubungi seseorang.
"Mom! Mau lihat Kak Tiff tidak?" Elleanor berbicara di telepon dengan penuh semangat.
"Tiff siapa?"
"Yang kemarin diceritain Abang Gika saat makan malam. Yang katanya gadis macan rrrooaaar! Mom kan penasaran kemarin," jelas Elleanore yang langsung membuat Ashley menahan yawa karena Elleanore yang ikut-ikutan menirukan auman macan
"Ah, iya! Kau sudah bertemu dengannya?"
"Dia sedang di kamar perawatan lantai dua. Mom kesini, deh! Kata Kak Ashley tadi siang Kak Tiff kecelakaan karena ditabrak oleh Abang Naka," cerita Elleanore pada sang Mom.
"Ditabrak Naka? Apa dia baik-baik saja sekarang?"
"Kakinya patah kata Kak Ashley! Mom kesini saja! El juga penasaran dengan calon kakak ipar kedua El," jawab Elleanore penuh semangat.
"Baiklah! Mom akan turun sekarang."
Sambungan telepon terputus dan Elleanore segera menyimpan kembal ponselnya.
"Mom disini?" Tanya Richard yang masih belum mengubah posisi duduknya. Duduk dengan kaki saling menyilang dan tangan kanan yang terentang seolah sedang merangkul Ashley yang duduk di sebelahnya. Meskipun tak benar-benar merangkul sebenarnya!
"Mom menjenguk Kak Cecil tadi," jelas Elleanore yang langsung membuat Richard mengangguk.
Tak berselang lama, pintu lift di ujung lorong terbuka dan Mom Fe yang penampilannya selalu anggun dan membuat Ashley kagum, melangkah keluar dari lift lalu menghampiri kedua anaknya, serta calon menantunya.
"Kalian semua disini?" Sapa Mom Fe yang langsung memeluk Ashley dan mengusap lembut wajah gadis itu.
"Dimana Tiff, El? Apa dia baik-baik saja? Kenapa Naka bisa sampai menabraknya?"
"Mom akan memarahi Naka nanti," cecar Mom Fe yang raut wajahnya sudah berubah khawatir.
"Emmm, sebenarnya ini bukan sepenuhnya salah Naka, Mom!"
"Lalu sekarang bagaimana keadaan Tiff?" Tanya Mom Fe masih khawatir.
"Kaki kanannya patah. Tapi sudah dioperasi dan sudah bangun juga tadi. Sekarang mungkin sedang tidur," jawab Ashley menjelaskan.
"Sama seperti Kak Cecil. Kaki kanannya juga patah karena kecelakaan. Dan semuanya salah El," cebik Elleanore seraya memainkan kedua telunjuknya.
"Salahmu bagaimana?" Tanya Richard penasaran.
"Cecil salah paham hanya karena melihat El dan Victor berpelukan. Ternyata selama ini Cecil menyukai Victor," bukan Elleanore, melainkan Mom Fe yang menjelaskan pada Richard.
"Dan Victor juga menyukai Kak Cecil. Mereka saling menyukai, jadi El akan bicara pada Aunty Navya kalau El menolak perjodohan El dan Victor. Biar Kak Cecil saja yang menjadi menantu Aunty Navya," timpal Elleanore mengungkapkan rencananya.
"Memang jaman sekarang masih musim jodoh-jodohan, ya?" Celetuk Ashley seraya cengengesan. Richard langsung mendelik ke arah gadis itu dan berdecak berulang kali.
"Apa? Aku kan hanya bertanya," kilah Ashley membela diri.
"Kalau Mom dan Dad, sudah sepakat sebenarnya untuk tak akan mencampuri masalah pasangan yanga akn dipilih Richard, Gika, Naka, dan El kelak," Ujar Mom Fe menjawab pertanyaan Ashley.
"Hanya saja, kemarin itu Aunty Navya kebetulan kan teman dekat Mom, dan dia sudah sejak lama meng-klaim Elleanore sebagai calon menantunya. Jadi Mom juga tak mau menolak dan belum menerima juga."
"Mom menunggu Elleanore mengambil keputusan sendiri apa dia mau sama Victor atau tidak." Jelas Mom Fe panjang lebar.
"Dan ternyata kami sama-sama tidak cocok jika harus jadi pasangan kekasih apalagi suami istri. Kami lebih klop sebagai teman," timpal Elleanore yang langsung membuat Ashley mengangguk paham.
"Mom akan selalu mendukung setiap keputusanmu, El! Asalkan itu tidak merugikan apalagi menyakiti orang lain," ujar Mom Fe seraya mengusap kepala Elleanore. Sungguh pemandangan yang membuat Ashley langsung ikut mengulas senyum.
Beruntung sekali Elleanore yang hidupnya dikelilingi oleh tiga kakak serta kedua orang tua yang memberinya limpahan kasih sayang.
"Terima kasih, Mom!" Jawab Elleanore seraya menghambur ke dalam pelukan Mom Fe. Kedua mata Ashley refleks berkaca-kaca. Namun Ashley menyeka butir bening itu dengan cepat.
"Pakai ini!" Richard yang ternyata peka, menyodorkan sebuah sapu tangan pada Ashley.
"Kak Ashley menangis?" Tanya Elleanore yang buru-buru menghampiri Ashley.
"Tidak! Hanya terharu saja melihat kedekatanmu dengan Mom Fe," jawab Ashley nyaris tanpa suara. Gadis itu kembali menyeka airmatanya dengan sapu tangan Richard yang wangi.
Disimpan dimana memangnya tadi?
Kenapa wangi sekali sapu tangan pria ini, dan wanginya juga enak.
"Kau juga putri Mom, Ash!" Mom Fe buru-buru memeluk Ashley yang masih sibuk memikirkan wanginya sapu tangan Richard.
"Jangan menangis lagi!" Hibur Mom Fe seraya membantu menyeka airmata Ashley yang entah mengapa tak berhenti mengalir sejak tadi.
Astaga!
Kau bukan gadis cengeng, Ash!
Berhentilah menangis!
"Emmm, ngomong-ngomong, kita jadi menjenguk Kak Tiff tidak, Mom?" Tanya Elleanore menyela kemesraan di anatra Mom Fe dan Ashley.
"Oh iya, astaga!" Mom Fe tertawa kecil dan Ashley yang masih berada di pelukan Mom Fe ikut tertawa kecil.
"Ayo masuk ke dalam!" Ajak Mom Fe selanjutnya pada Ashley dan Elleanore.
"Rich akan di luar saja, Mom!" Ucap Richard yang sudah kembali duduk dan membuka ponselnya. Ashley yang masih menggenggam sapu tangan pemberian Richard kembali mengendus aroma di sapu tangan tersebut dan sedikit melirik ke arah Richard.
Wangi!
Mom Fe membuka perlahan pintu kamar perawatan Tiffany dan langsung terlihat Tiffany yang ternyata masih menutupi kepala dan wajahnya dengan selimut.
Ck!
Dasar Tiff!
"Tiff!" Ashley berjalan cepat menghampiri bed perawatan Tiffany, lalu menyibak selimut gadis itu.
"Tiff, lihatlah siapa yang da-" suara Ashley langsung tertahan saat gadis itu melihat wajah sembab Tiffany.
Selama hampir setahun tinggal bersama Tiff, baru kali ini Ashley melihat wajah sembab gadis ini. Tiffany hampir tak pernah menangis selama ini dan gadis itu selalu terlihat kuat.
Lalu kenapa sekarang Tiffany menangis sampai wajahnya sembab begitu?
Hal apa yang membuat Tiffany sesedih ini?
"Tiff, kau menangis?"
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.