Queen Of Alexander'S

Queen Of Alexander'S
TERSENYUMLAH!



Elleanore menatap lekat wajah Edward, setelah pria itu selesai mengucapkan ikrar janji suci pernikahan. Akhirnya, Elleanore dan Edward sudah sah menjadi suami istri sekarang.


"Ada apa?" Tanya Edward pelan saat mendapati Elleanore yang tak lepas menatapnya sejak tadi. Elleanore hanya menggeleng samar.


Edward mengecup kedua tangan Elleanore yang sejak tadi ia genggam erat. Tangan itu begitu dingin, menandakan kalau Elleanore sedang gugup sekarang.


Edward lanjut mendekatkan wajahnya pada Elleanore. Lalu hanya dalam hitungan detik, Edward sudah menyatukan bibirnya dengan bibir Elleanore yang hanya diam mematung. Edward sedikit mel*mat bibir Elleanore, sebelum akhirnya terdengar tepuk tangan dari para tamu hadir di acara pernikahan Elleanore dan Edward sore hari ini.


Elleanore meraba bibirnya sendiri, setelah first kiss pertamanya bersama Edward yang kini sudah sah menyandang status sebagai suami Elleanore. Dulu Elleanore tergila-gila pada pria ini saat pertama kali ia menjadi asisten Abang Richard. Lalu Elleanore sempat marah dan benci pada Edward, saat pria ini hampir membuat Elleanore celaka. Siapa menyangka, kalau itu justru menjadi titik balik hubungan Elleanore dan Edward.


Edward pada akhirnya menyadari kalau dia juga mencintai Elleanore. Dan Edward akhirnya juga ounya keberanian untuk menyatakan serta membuktikan rasa cintanya pada Elleanore.


Henry benar, Edward memang mencintai Elleanore dan pria itu sudah berjuang keras untuk kembali membuat Elleanore membuka hati setelah kesalahan yang Edward lakukan. Dan Elleanore sebenarnya juga masih mencintai Edward. Elleanore tak pernah membenci Edward.


"Senyum!" Bisik Elleanore yang tangannya sudah terulur, lalu menarik kedua sudut bibir Edward agar tersenyum agak lebar.


Edward sangat bisa tersenyun lebar bahkan tertawa lepas. Elleanore sydah melihatnya di kamp pengungsian kala itu, saat Edward bercengkerama bersama anak-anak.


"Apa?" Tanya Edward bingung.


"Tersenyumlah! Kita sedang difoto dan aku tak mau kau terlihat merengut di foto pernikahan kita," ujar Elleanore panjang lebar yang sudah ganti menggamit lengan Edward, lalu menyandarkan kepalanya di pundak pria yang baru saja sah menjadi suaminya tersebut.


"Kau bahagia, El?" Tanya Edward seraya mengusap lembut wajah Elleanore.


"Sangat."


"Kau sendiri bagaimana?" Elleanore balik bertanya pada Edward.


"Aku juga sangat bahagia," jawab Edward yang sudah ganti berdiri di depan Elleanore, lalu menggenggam kedua tangan Elleanore dan menciumnya dengan begitu mesra.


"Ayo berdansa!" Ajak Edward selanjutnya yang langsung membuat Elleanore tersenyum bahagia dan mengangguk. Elleanore mengikuti langkah Edward menuju ke tengah-tengah ruangan, lalu pasangan pengantin baru itu memulai dansa pertama mereka.


"Pasangan yang manis!" Puji Alsya seraya mengusap lengan Naka yang sejak tadi melingkar di pinggangnya.


"Mau berdansa juga?" Tawar Naka yang sudah menyusupkan kepalanya di ceruk leher Alsya.


"Mumpung si kembar sedang dijaga Sunny dan Hendy," lanjut Naka lagi seraya mengendikkan dagu ke arah Sunny dan Hendy yang sedang sibuk momong si kembar Kasya dan Alka, lalu si kembar Gwen dan Griff, serta Casey, si putri kesayangan Richard dan Ashley. Beberapa pengasuh juga ada disana untuk mengawasi para bayi sementara para orang tuanya sibuk berdansa dan menikmati acara sore ini.


Alsya tertawa kecil, lalu berbalik dan mengalungkan kedua lengannya di leher Naka.


"Ayo!" Ajak Alsya selanjutnya pada sang suami, dan pasangan suami istri tersebut ikut bergabung bersama pasangan lain.


****


"Dean! Jangan lebay!" Tegur Mom Fe pada Dad Dean yang berdansa sedikit lebay.


"Kenapa?" Dad Dean kembali melingkarkan lengannya di pinggang Mom Fe.


"Kau ingat dansa pertama kita dulu," tanya Dad Dean selanjutnya yang sudah menyatukan keningnya dengan kening Mom Fe.


"Ya, dansa yang disaksikan oleh Richard, Gika, dan Naka waktu itu," Mom Fe tertawa kecil.


"Setidaknya keempat anak kita tak ada yang mengikuti jejak mesummu dulu yang punya anak dulu baru menikah," lanjut Mom Fe seraya memukul dada Dad Dean.


"Bukan salahku, oke! Kau itu yang jual mahal dan kabur-kabur terus!" Dad Dean malah menyalahkan Mom Fe.


"Sudah melahirkan ketiga anakku, masih mau kabur meninggalkan aku!"


"Sekarang mau kabur lagi?" Cecar Dad Dean yang malah membuat Mom Fe tergelak.


"Kau dulu menyebalkan!" Jawab Mom Fe jujur.


"Sekarang masih menyebalkan?"


"Mau kabur lagi? Aku akan menghamilimu lagi kalau begitu agar kau tak kabur!" Ancam Dad Dean yang langsung membuat Mom Fe mendelik ke arah suaminya tersebut.


"Cucumu sudah setengah lusin, masih mau membuat anak lagi?" Mom Fe geleng-geleng kepala dan Dad Dean hanya terkekeh.


"Anak-anak suruh bikin selusin cucu untuk kita kalau begitu," usul Dad Dean yang kembali membuat Mom Fe geleng-geleng kepala.


"Agar kamar di rumah tak ada yang kosong, ya? Sekarang kamarnya sudah penuh dan mungkin akan kurang sebentar lagi," ujar Mom Fe memberitahu Dad Dean.


"Tak masalah! Nanti kita bikin satu lantai tambahan khusus untuk cucu-cucu kita!" Jawab Dad Dean enteng bersamaan dengan deheman seseorang dari balik punggung pria paruh baya tersebut.


"Dad, ingat umur dan tolong dansanya jangan over!" Ujar Gika yang tadi juga berdehem.


"Dad hanya sedang menikmati momen berduaan bersama Mom-mu!" Jawab Dad Dean yang sudah ganti merangkul Mom Fe.


"Kenapa tak honeymoon saja kalau begitu? Naik kapal pesiar, keliling Eropa, keliling dunia," Cerocos Gika mengajukan usul.


"Ide bagus!" Sahut Dad Dean cepat.


"Tolong kau pesankan tiket dan urus semuanya!" Lanjut Dad Dean lagi yang langsung membuat Gika berdecak.


"Gika bukan agen travel, Dad! Itu Naka yang agent travel!"


"Astaga! Dad sudah pikin ternyata, Mom!" Decak Gika yang langsung berhadiah toyoran dari Dad Dean.


"Hoek!" Gika seketika mual hanya karena ditoyor Dad Dean.


"Sial!" Umpat Gika yang langsung berlari ke arah toilet.


Tiffamy yang yang tadi bersama Gika hanya bisa menghela nafas.


"Masih belum berhenti mual muntahnya Gika?" Tanya Mom Fe pada Tiffany.


"Belum, Mom!"


"Dad dulu mual muntahnya sampai kandungan Mom umur berapa?" Tanya Tiffany selanjutnya.


"Sampai lahiran!" Bukan Mom Fe melainkan Dad Dean yang menjawab. Mom Fe hanya tertawa kecil.


"Apanya yang sampai lahir?" Sahut Gika yang sudah kembali dari toilet.


"Mual muntahnya Dad saat Mom hamil kau dan Abang Naka," jawab Tiffany.


"Bukan hanya saat Mom hamil Gika dan Naka, Tiff! Tapi saat Mom hamil Richard dan Elleanore, Dad juga mual muntah hebat," terang Mom Fe yang langsung membuat Gika dan Tiffany menganga tak percaya.


"Masih berencana membuat kesebelasan?" Tiffany tiba-tiba sudah menyenggol pundak Gika.


"Masihlah! Kemarin saat si kembar kan bukan aku yang mual muntah," jawab Gika sombong sebelum kemudian pria itu kembali berlari ke toilet karena mual.


"Semoga seterusnya kau yang mual jika aku hamil lagi, lagi, dan lagi!" Gumam Tiffany merasa geregetan.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.