
Maaf.
-E-
Elleanore berdecak saat membaca inisial nama di buket coklat yang baru saja ia terima.
"Pweeet! Dapat buket dari siapa, El?" Seru Gika yang baru saja turun dari lantai dua. Ada Tiffany juga yang mengekor di belakang Gika dan mengenakan syal di lehernya.
"Kak Tiff sakit?" Tanya Elleanore khawatir karena melihat Tiffany yang mengenakan syal.
"Tidak!" Jawab Tiffany singkat.
"Dia tidak mau pakai concelear saja, dan malah memilih memakai syal-"
"Diam!" Gertak Tiffany menatap galak pada sang suami.
"Apa? Aku gigit lagi!" Gika malah cengengesan dan mencondongkan kepalanya lagi ke arah leher Tiffany. Namun segera ditangkis dengan cepat oleh istrinya tersebut.
Elleanore hanya tertawa kecil melihat Gika dan Tiffany yang masih seperti kucing dan tikus. Padahal kalau malam kamar mereka berisik sekali kata Abang Naka.
Abang Naka dan Kak Alsya juga sampai pindah ke kamar lantai bawah karena merasa terganggu dengan kerusuhan di kamar Abang Gika dan Kak Tiffany. Mom Fe bahkan sudah mengganti ranjang di kamar Abang Gika dua kali sejak pernikahan Abang Gika dan Kak Tiffany.
Semoga yang ketiga ini tak menjadi korban ranjang patah selanjutnya!
"Jadi, itu buket dari siapa? Kenapa isinya coklat semua? Ala sudah valentine?" Cecar Gika mengulangi pertanyaannya yang belum dijawab oleh Elleanore.
"Entah!" Elleanore mengendikkan kedua bahunya.
"Kak Tiff mau?" Tawar Elleanore selanjutnya pada Tiffany yang sepertinya tertarik pada buket di tangan Elleanore.
"Benar buat aku?" Tanya Tiffany memastikan.
"Yup! El kurang suka makan coklat," jawab Elleanore seraya mengulas senyum.
"Thanks!" Ucap Tiffany yang sepertinya senang sekali mendapat coklat dari Elleanore.
"Coba lihat!" Gika hendak mengambil buket tadi dari tangan Tiffany, namun Tiffany mengelak dengan cepat.
"Milikku semua!" Tiffany mendelik galak pada Gika.
"Lihat saja!" Gika masih memaksa untuk mengambil buket coklat tadi dan Tiffany terus saja mengelaknya.
"Cuma mau lihat itu dari siapa!" Geram Gika yang akhirnya berhasil merebut buket tadi setelah pria itu mendekap tubuh Tiffany dari belakang.
"Lepas!" Tiffany berusaha berontak.
"Diam!" Gertak Gika galak. Gika akhirnya berhasil mengambil kertas ucapan yang berada di buket tadi bersamaan dengan sikutan Tiffany yang tepat mengenai perutnya.
"Wadaaauw!" Jerit Gika lebay yang hanya membuat Tiffany memutar bola matanya dan Elleanore yang tertawa melihat perkelahian abang serta kakak iparnya.
"Maaf! E?" Gika membaca tulisan di kertas tadi masih sambil meringis dan pria itu ganti mengernyit saat membaca inisial pengirim buket.
"E?"
"Elleanore!" Celetuk Tiffany seraya terkekeh.
"Kau mengirim buket untuk dirimu sendiri?" Tanya Gika merasa heran pada sang adik.
"Edward!" Gumam Elleanore sinis seraya berlalu dari hadapan Tiffany dan Gika.
"Oh, Edward," Tiffany tertawa kecil dan mengambil satu bungkus coklat dari buket lalu memakannya.
"Tunggu! Buket ini dari Edward?" Tanya Gika memastikan.
"Ya!" Jawab Elleanore malas.
"Jangan dimakan!" Gika buru-buru merebut coklat yang sudah digigit oleh Tiffany tadi.
"Apa, sih? Kembalikan!" Gertak Tiffany galak seraya mengejar Gika yang membawa lari coklatnya.
"Tidak!" Jawab Gika tegas seraya melemparkan sisa coklat Tiffany tadi ke dalam tempat sampah.
"Gika!" Geram Tiffany emosi.
"Sekalian, buang ini semua coklatnya!" Gika lanjut merebut buket yang masih di dekap oleh Tiffany tadi. Namun tentu saja Tiffany tidak memberikannya begitu saja. Tiffany berusaha mempertahankan dan Gika juga pantang menyerah merebutnya. Sekarang pasangan suami istri itu sedang tarik menarik buket coklat yang sudah tak karuan bentuknya.
"Abang! Kak Tiff!" Elleanore berusaha melerai pasangan macan yang sama-sama sedang kesurupan macan itu. Tapi Elleanore juga bingung harus melerai bagaimana?
"Buang, Tiff!" Gika menggeram pada Tiffany.
"Nanti aku belikan satu kontainer!" Janji Gika yang masih berusaha merebut buket tadi.
"Benar?" Tiffany masih tak percaya.
"Iya, benar!" Jawab Gika sungguh yangasih sekuat tenaga menarik buket yang sudah tak karuan bentuknya tadi dari tangan Tiffany.
"Baiklah! Buang saja!" Tiffany melepaskan begitu saja buket tadi dan otomatis Gika yang masih dalam posisi menarik, langsung terjengkang ke belakang.
Bugh!
Gika mendarat tanpa persiapan ke atas lantai dan Tiffany serta Elleanore refleks tertawa.
"Auuuw! Kenapa mendadak kamu lepas?" Protes Gika pada Tiffany.
"Katanya mau kamu buang? Udah rusak juga buketnya," jawab Tiffany enteng seraya mengulurkan tangannya untuk membantu Gika berdiri. Namun bukan Gika namanya kalau tak punya jiwa usil.
Gika bukannya bangkit berdiri setelah mendapat bantuan dari Tiffany, namun pria itu malah menarik Tiffany hingga ikut jatuh tepat di pangkuannya.
"Dapat!" Gika langsung mendekap erat tubuh Tiffany.
"Apa, sih!" Tiffany merengut pada Gika dan pura-pura marah.
"Diih! Ngambek!" Gika meraih dagu Tiffany dan tanpa basa-basi langsung mengecup bibir istrinya tersebut.
"Abang!" Pekik Elleanore yang refleks menutup kedua matanya dengan telapak tangan dan balik kanan.
Elleanore hanya geleng-geleng kepala dan memilih pergi meninggalkan salah satu pasangan bucin di kediaman Alexander tersebut. Setelah Mom dan Dad, abang Richard dan Kak Ashley, serta abang Naka dan Kak Alsya.
Semuanya benar-benar sudah terkontaminasi virus kebucinan setelah menikah!
"El!" Panggil Gika pada Elleanore yang hanya menghentikan langkah tanpa menoleh.
"Kalau Edward mengirimimi buket bunga atau hadiah lain, langsung buang saja! Abang tidak setuju kau menjalin hubungan dan tergila-gila lagi pada pria pengecut itu!" Lanjut Gika berpesan pada Elleanore.
"Siapa juga yang tergila-gila? Abang itu yang tergila-gila pada Kak Tiff, sampai lupa daratan!" Sahut Elleanore sedikit mencibir Gika. Elleanore melanjutkan langkahnya dan gadis itu dengan cepat menghilang ke dalam kamar.
"Lanjut ke kamar, yuk!" Ajak Gika setelah beberapa pagutan panasnya bersama Tiffany.
"Ck! Dasar pikun! Mesum!" Tiffany menyentil kening Gika. Istri Gika itu masih berada di atas pangkuan Gika dan mereka berdua masih duduk di atas lantai di ruang tengah kediaman Alexander. Tumben sekali rumah sepi. Entah kemana perginya para penghuni rumah.
"Sakit, Sayang! Kenapa kau selalu saja barbar? Nanti bagaimana kalau Gika junior sebarbar dirimu juga?" Gika mengusap perut Tiffany dengan lebay.
"Gika junior? Emang udah jadi?" Kekeh Tiffany meledek Gika.
"Bulan depan pasti sudah positif!" Jawab Gika penuh keyakinan. Tiffany hanya mencibir.
"Udah, ah! Tadi katanya mau ke airport dan pulang ke rumah Opa." Tiffany hendak bangkit berdiri namun Gika mencegah dan kembali menarik istrinya tersebut.
"Satu ronde dulu baru ke airport!" Mohon Gika pada Tiffany.
"Enggak!" Jawab Tiffany tegas.
"Tadi malam udah beronde-ronde sampai pangkal pahaku nyeri!" Keluh Tiffany lagi bersungut pada Gika.
"Nanti aku gendong kalau masih sakit," rayu Gika seraya merem*s dada Tiffany.
"Gika!" Tiffany memukul lengan Gika, namun gerakan refleks Gika lebih cepat.
"Tidak kena! Dapat satu ronde berarti!" Gika sudah bangkit berdiri dan menggendong Tiffany ke pundaknya.
"Gika, iiih!"
"Kita akan tertinggal pesawat!" Tiffany memukul-mukul punggung Gika.
"Nanti tinggal beli tiket! Atau aku belikan pesawatnya sekalian, kalau warisan Dad sudah turun," Kelakar Gika yang sudah mulai menaiki tangga dan membawa Tiffany masuk ke kamar.
Semoga ranjang yang sudah sedikit retak semalam tak benar-benar patah pagi ini.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.