
Elleanore langsung kaget dan mematung saat melihat Edward yang kini sudah berada di depannya. Sedang apa pria ini disini?
"Hai, El! Aku mengantar bantuan," sapa Edward seraya membuka topinya. Ini benar-benar kali pertama Elleanore melihat Edward tanpa kemeja. Hanya celana jeans panjang dan kaus berkerah yang menjadi outfit seorang Edward.
"Kenapa harus datang sendiri kesini? Kau bisa menitipkannya di yayasan," ujar Elleanore sedikit tergagap karena gadis itu memang masih kaget.
"Aku menelepon pihak yayasan semalam dan katanya mereka kekurangan tenaga relawan disini. Jadi aku pikir, mungkin aku bisa ikut jadi relawan."
"Bukankah katamu hidup harus bermanfaat untuk orang lain dan jangan memikirkan diri sendiri terus?" Tukas Edward panjang lebar yang ternyata masih mengingag kata-kata dan sindiran pedas Elleanore waktu itu.
"Ya!" Jawab Elleanore lirih.
"Jadi, aku bisa membantu apa?" Tanya Edward selanjutnya yang mungkib baru sekali ini menjadi relawan.
"Yang disini kamp khusus anak-anak dan wanita. Kau bisa menemani anak-anak bermain kalau tak keberatan. Atau mungkin kau mau mengajari anak-anak sesuatu agar mereka tak bosan," jelas Elleanore yang langsung membuat Edward menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Sesuatu? Misalnya?" Tanya Edward bingung.
"Membuat prakarya, menyanyi, berhitung. Kegiatan apa saja untuk anak-anak asal jangan mengajak mereka memeriksa berkas!" Tukas Elleanore yang langsung membuat Edward tertawa kecil. Elleanore bahkan baru tahu kalau Edward sudah bisa tertawa sekarang. Padahal sejak dulu pria ini selalu kaku dan jarang tersenyum apalagi tertawa.
"Aku sedang cuti kerja saat ini, jadi akh tak membawa pekerjaan apapun kesini dan aku benar-benar ingin menjadi relawan." Ujar Edward bersungguh-sungguh.
"Bagus! Hidup sebaiknya memang seimbang dan tak melulu hanya pekerjaan yang dipikirkan," pendapat Elleanore yang langsung diiyakan oleh Edward.
"Ayo ikut dan kenalan pada anak-anak!" Ajak Elleanore selanjutnya pada Edward. Elleanore mengayunkan langkahnya menuju ke sebuah tenda di mana ada sekitar dua puluh anak yang sedang duduk dan sibuk dengan kegiatan masing-masing.
"Kak El! Ini kenapa bukunya bahasa inggris? Ini cerita apa? Aku tidak tahu," lapor seorang anak yang baru saja mendapatkan sebuah buku cerita baru yang tadi dibawa Edward.
"Kebetulan Abang Edward ini jago bahasa inggris," Elleanore memaksa Edward untuk duduk di dekat bocah tadi.
"Abang Edward yang akan membantu men-translate ceritanya, oke!" Lanjut Elleanore lagi yang langsung membuat kedua bola mata Edward membulat dengan lucu.
"Aku?" Edward mengarahkan telunjuknya ke wajahnya sendiri.
"Iya, kau yang membawa buku cerita itu. Jadi bacakan sekalian translate-kan!" Bisik Elleanore pada Edward.
"Anak-anak! Ayo kumpul di sini! Abang Edward mau cerita!" Panggil Elleanore selanjutnya pada anak-anak yang langsung mendekat ke arah Edward dan mereka duduk melingkar mengelilingi Edward. Pria itu terlihat gugup sekarang.
"Dengarkan baik-baik cerita abang Edward, ya! Nanti yang bisa jawab pertanyaan dapat hadiah!" Ujar Elleanore lagi yang begitu ahli bicara pada anak-anak. Elleanore memang menyukai anak-anak dan tak kaku seperti Edward.
"Siaap, Kak El!" Jawab anak-anak serempak.
"El, kau mau kemana?" Tanya Edward saat melihat Elleanore yang hendak pergi.
"Ke tenda bayi dan ibu hamil. Bye!" Pamit Elleanore yang akhirnya meninggalkan Edward bersama anak-anak.
Mati kau, Edward!
"Abang Ed! Ayo cerita!" Tagih salah satu anak yang langsung membuat Edward menelan saliva berkali-kali karena gugup. Edward meraih satu buku cerita yang ada di dekatnya, lalu mulai membacakan untuk anak-anak.
"Pada suatu hari....."
****
Hari beranjak sore. Elleanore kembali lagi ke tenda anak-anak untuk memeriksa Edward yang tadi membacakan cerita. Beberapa anak sudah pergi membersihkan diri dan beberapa lagi bermain di luar tenda. Sedangkan Edward masih duduk di dalam tenda seraya memangku seorang anak yang sepertinya sudah terlelap.
"Kau tadi sudah makan?" Tanya Elleanore yang langsung membuat Edward tersentak dan sedikit kaget.
"Belum. Aku masih memangku," ujar Edward seraya menunjuk ke anak yang ada di pangkuannya.
"Dia kehilangan kedua orangtuanya karena bencana kemarin. Anak tunggal dan tak punya saudara," jelas Elleanore yang sepertinya hafal dengan kondisi anak-anak di tenda pengungsian. Elleanore mengangkat anak yang berusia lima tahunan tersebut, dan memindahkannya dari pangkuan Edward.
"Makan dulu!" Elleanore ganti mengangsurkan nasi bungkus untuk Edward.
"Kau sudah makan?" Edward balik bertanya pada Elleanore sebelum pria itu menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
"Sudah tadi bareng teman-teman," jawab Elleanore.
Edward hanya mengangguk dan lanjut melahap makannya. Tak ada lagi obrolan antara Edward dan Elleanore hingga pria itu menghabiskan makanannya.
"Nanti kalau mau membersihkan diri, ke toilet umum yang ada di belakang sana. Kau bawa baju ganti, kan?" Tanya Elleanore sekaligus memberitahu Edward.
"Iya, ada di dalam ranselku tadi," jawab Edward.
"Nanti malam kau tidur bersama anak-anak disini tidak apa-apa, kan?" Tanya Elleanore lagi.
"Tidak apa," jawab Edward seraya tersenyum.
"Kau, tidur dimana?" Edward balik bertanya.
"Di tenda seberang bersama para ibu hamil dan menyusui. Susu dan diapers yang tadi kau bawa benar-benar bermanfaat bagi mereka."
"Terima kasih," ucap Elleanore tulus yang langsung membuat hati Edward terasa menghangat.
"Itu sebagian yang mengirim adalah Richard. Aku hanya memastikan saja semuanya sampai disini. Nanti Richard akan mengirimkan lagi apa-apa yang masih dibutuhkan disini," tukas Edward yang langsung membuat Elleanore mengangguk.
"Kau bisa membersihkan diri dulu sebelum nanti melakukan kegiatan bersama anak-anak lagi," pungkas Elleanore sebelum gadis itu beranjak dan berlalu meninggalkan Edward.
Edward mengawasi Elleanore yang tampak berbincang dengan beberapa rekannya. Sesekali gadis itu akan tertawa lepas bersama teman-temannya.
****
Malam merangkak naik.
Anak-anak sudah banyak yang tidur. Sebagian dari mereka tidur bersama orang tuanya dan sebagian lagi tidur di tenda tanpa kehadiran orang tua mereka. Edward menperhatikan satu per satu wajah anak-anak yang sudah terlelap dan sesaat hatinya merasa iba, saat membayangkan anak-anak yatim piatu yang kelak akan tumbuh tanpa kasih sayang orang tua tersebut.
Edward sendiri sebenarnya bukanlah anak yatim piatu. Kedua orang tua Edward masih ada hingga kini meskipun mereka tak lagi tinggal satu atap. Mereka juga tak berada di negara ini dan sudah sibuk dengan urusan masing-masing. Meninggalkan Edward yang memilih untuk tetap berada di negara ini dan di kota ini. Kesepian adalah teman sehari-hari Edward. Sejak SMA Edward sudah terbiasa dengan keadaan ini. Hanya transferan uang yang datang pada Edward tanpa adanya kasih sayang dari mama dan papanya. Itulah alasan lain Edward selalu iri melihat kehangatan di keluarga Alexander.
Edward menelan ludahnya yang mendadak terasa pahit dan memilih untuk keluar sejenak dari tenda dan mencari udara segar. Pria itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamp pengungsian yang sudah mulai sepi. Malam memang hampir larut, dan para pengungsi pasti sudah banyak yang terlelap, termasuk mungkin....
"Elleanore!" Gumam Edward saat melihat Elleanore yang ternyata masih berada di luar tenda. Gadis itu terlihat masih berbicara pada seorangvtenaga medis dan Edward bergegas menghampiri.
"Ada apa?" Tanya Edward yang langsung membuat Elleanore kaget.
"Tadi ada ibu hamil yang mengalami kontraksi. Jadi ambulan langsung datang menjemput agar bisa dibawa ke rumah sakit," terang Elleanore yang hanya membuat Edward mengangguk.
"Kau belum tidur?" Elleanore berbasa-basi pada Edward.
"Aku tidak bisa tidur." Edward mencari alasan.
"Tidak ada kasur empuk disini," Elleanore sedikit menyindir.
"Bukan itu! Aku kalau di tempat baru memang susah tidur. Aku juga tidak tahu kenapa."
"Jika Richard menyuruhku ke luar kota itu juga aku akan langsung insomnia malamnya meskipun ada kasur empuk dan pendingin udara."
"Entahlah," tukas Edward panjang lebar seraya mengendikkan bahu.
Elleanore hanya mengangguk paham.
"Apa masih ada gempa susulan?" Tanya Edward selanjutnya mengganti topik pembicaraan.
"Tidak ada sejak aku datang sampaj detik ini. Semoga jangan ada lagi."
"Warga dan anak-anak banyak yang trauma," ungkap Elleanore penuh harap yang langsung diaminkan oleh Edward.
"Ayo minum teh hangat dulu!" Ajak Elleanore seraya mengayunkan langkahnya ke arah dapur umum. Edward hanya mengangguk dan mengikuti langkah Elleanore.
****
"Foto emak dan bapak ada di rumah, tapi katanya tidak boleh ke rumah karena bangunannya rawan rubuh." Ucap seorang anak yang sejak semalam menangis dalam diam karena rindu pada kedua orangtuanya yang turut menjadi korban dalam bencana kali ini.
"Cuma ingin memeluk foto emak dan bapak," lanjut anak tersebut sesenggukan.
"Ada apa? Kenapa dia menangis, El?" Tanya Edward yang sudah menghampiri Elleanore serta anak yang menangis tadi.
Elleanore tak menjawab dan segera bangkit berdiri, lalu menyeka airmatanya yang menggenang di pelupuk mata.
"Nanti Kak El carikan, ya!" Ujar Elleanore akhirnya pada bocah itu yang langsung membuatnya berbinar senang.
"Terima kasih, Kak El!" Jawab bocah tadi yang langsung menghapus airmatanya, lalu berbaur bersama anak-anak lain yang sedang mewarnai gambar yang tadi dibagikan oleh Edward.
Edward kembali masuk ke dalam tenda untuk memeriksa anak-anak dan membantu beberapa anak-anak yang mengalami kesulitan. Namun kemudian, saat Edward melihat keluar tenda, tatapan mata Edward langsung tertuju pada Elleanore yang hendak pergi keluar dari area kamp pengungsian dan entah mau kemana.
Mencurigakan!
Edward yang mendadak merasa khawatir segera menyusul langkah Elleanore dan mencari tahu kemana gadis itu pergi. Elleanore terus mengayunkan langkahnya dan keluar jauh dari kamp pengungsian, ke arah deretan rumah warga yang sebagian besar sudah porak poranda diterjang gempa dan tsunami.
Elleanore sebenarnya mau kemana?
.
.
.
.
Ke hatimu, Bang Ed! 😁😁😁
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.