Queen Of Alexander'S

Queen Of Alexander'S
OPA KENAPA?



"Tuan Bowles tiba-tiba drop, Nona Muda!"


Gika bisa mendengar suara seorang wanita yang sepertinya adalah maid di kediaman Tuan Bowles.


"Apa?"


"Tapi tadi Opa-"


Tuut tuut!


Telepon terputus begitu saja tanpa ada kata pamit dari Tiffany.


"Halo! Tiff!" Panggil Gika berteriak pada ponselnya. Gika mencoba menghubungi Tiffany lagi, namun tak diangkat. Sepertinya Tiffany baru saja melempar ponselnya ke tong sampah.


"Om Gika kenapa teriak-teriak?" Tanya Sunny heran pada Gika yang wajahnya terlihat kalang kabut.


"Kalian sudah selesai yang membeli buku?" Gika balik bertanya sekaligus menatap bergantian pada Sunny dan Hendy.


"Sudah, Bang! Hanya beberapa," Hendy menunjukkan beberapa buku di tangannya.


"Ayo dibayar cepat, lalu pulang!" Ajak Gika yang sepertinya sedang tergesa-gesa. Sunny dan Hendy hanya menurut dan mereka segera membayar buku. Setelah selesai, mereka bertiga langsung ke tempat parkir lalu pulang ke kediaman Alexander.


****


Gika turun dari mobil dengan tergesa tanpa menunggu Hendy dan Sunny. Pria itu langsung berlari ke dalam rumah dan hampir menabrak Mom Fe yang sepertinya baru saja akan pergi bersama Elleanore dan Kak Alsya.


"Abang Gika, sudah selesai yang nonton? Hendy dan Sunny mana?" Cecar Elleanore pada Gika yang wajahnya masih terlihat kalang kabut.


"Di belakang!" Jawab Gika ngos-ngosan.


"Kau kenapa, Gika?" Tanya Mom Fe heran.


"Dad mana, Mom?" Gika balik bertanya to the point.


"Sudah kembali ke kantor," jawab Mom Fe yang langsung membuat Gika mengumpat.


"Ada apa sebenarnya?" Tanya Mom Fe bingung. Sementara Hendy dan Sunny sudah menyusul Gika dan menyapa Elleanore, Alsya, serta Mom Fe.


"Gika harus ke rumah Tiffany dan hanya Dad yang tahu alamatnya." Jawab Gika yang sepertinya tergesa-gesa. Pria itu mengeluarkan ponselnya kembali dan hendak menghubungi Dad Dean.


Kenapa juga tidak sejak tadi!


"Mau apa ke rumah Tiffany? Kau masih tahap belajar, Gika! Tuan Bowles akan menolak jika kau melamar Tiffany sekarang! Memeriksa berkas saja masih banyak yang salah!" Cecar Mom Fe seraya menahan tangan Gika yang hendak menghubungi Dad Dean.


"Tuan Bowles sedang sakit, Mom! Gika mau kesana dan menjenguknya!" Jawab Gika keras kepala.


"Tahu darimana Tuan Bowles sakit?" Tanya Mom Fe penuh selidik.


"Tiffany yang-" Kalimat Gika terhenti karena ponsel Mom Fe di dalam tas tiba-tiba berdering. Mom Fe mengangkat telepon yang rupanya dari Dad Dean.


"Halo, Dean!"


"Kau jadi pergi bersama anak-anak?"


"Kami masih di rumah. Ada apa?"


"Tuan Bowles masuk rumah sakit karena kondisinya tiba-tiba menurun. Apa Gika sudah pulang ke rumah?"


"Ya, dia baru sampai dan dia juga bilang kalau Tuan Bowles sakit. Jadi bagaimana?" Tanya Mom Fe seraya menatap pada Gika yang wajahnya terlihat cemas.


"Suruh Gika ke bandara sekarang! Aku sudah memesan tiket."


"Baiklah!" Pungkas Mom Fe bersamaan dengan telepon yang terputus.


"Dad bilang apa, Mom?" Tanya Gika tak sabar.


Mom Fe melepaskan topi dan masker yang dikenakan Gika, lalu sedikit merapikan rambut gondrong putranya tersebut.


"Pergilah ke bandara sekarang! Dad akan mengantarmu bertemu Tuan Bowles!" Ujar Mom Fe dan Gika langsung berbalik hendak melesat pergi.


"Gika!" Panggil Mom Fe lagi yang langsung membuat Gika kembali menoleh.


"Cincin untuk Tiff-"


"Gika sudah bawa!" Jawab Gika cepat memotong kalimat Mom Fe sekaligus menunjukkan cincin yang ia jadikan bandul kalung.


"Baiklah! Hati-hati!" Pesan Mom Fe dan Gika sudah dengan cepat pergi meninggalkan kediaman Alexander.


"El akan punya kakak ipar ketiga setelah ini," celetuk Elleanore yang akhirnya bisa tersenyum setelah sejak kemarin gadis itu wajahnya selalu sendu.


"Kita jadi jalan-jalan?" Tanya Mom Fe seraya merangkul pundak Elleanore. Putri bungsu Mom Fe itu menggeleng.


"Kita dirumah saja menunggu kabar dari Dad, Mom! El akan menelepon Kak Ashley dan menyuruhnya kesini." Tukas Elleanore seraya mengambil ponselnya dari tas, lalu berjalan ke arah halaman belakang dan menghubungi Ashley.


****


Perjalanan satu jam via udara terasa seperti satu abad bagi Gika yang sudah tak sabar untuk segera bertemu Tiffany. Terakhir kali Gika bertemu Tiffany adalah saat pernikahan Abang Richard dan setelah itu waktu Gika seolah tersita untuk belajar dan mengurus Henry.


"Opa Bowles dibawa ke rumah sakit sepertinya, Dad!" Ujar Gika menebak-nebak.


"Iya! Kita akan langsung ke rumah sakit." Jawab Dad Dean bersamaan dengan sebuah mobil yang berhenti di depan Gika dan Dad Dean.


"Selamat siang, Tuan Alexander!"


"Siang!" Dad Dean membalas sapaan para pria bertubuh tegap dan berkostum serba hitam.


"Dad punya pengawal juga di kota ini?" Tanya Gika heran.


"Mereka pengawalnya Tuan Bowles!" Jawab Dad Dean yang sudah masuk dan duduk di dalam mobil.


"Sudah sejauh mana sebenarnya hubungan Dad dan Opa Bowles?" Tanya Gika menyelidik. Mobil sudah melaju meninggalkan bandara kota.


"Kami rekan bisnis dan sering menjalin kerjasama," terang Dad Dean.


"Kenapa Gika bisa tidak tahu?" Gumam Gika seraya bersedekap.


"Memangnya kau pernah ke kantor? Memeriksa siapa saja rekan bisnis Alexander Group?" Sindir Dad Dean yang langsung membuat Gika meringis.


"Sekarang kan Gika ke kantor terus, Dad!" Ujar Gika mencari alasan.


"Kalau bukan karena syarat dari Tuan Bowles, paling kamu juga masih di depan kamera!" Cibir Dad Dean.


"Kan passionnya Gika memang jadi model, Dad!" Gika kembali mencari alasan dan Dad Dean hanya geleng-geleng kepala.


Setelah menempuh perjalanan selama lima belas menit, mobil yang membawa Gika dan Dad Dean akhirnya tiba di depan sebuah rumah sakit. Gika dan Dean langsung diantar menuju ke sebuah lantai di rumah sakit tersebut.


****


"Kenapa menangis?" Tanya Opa Bowles yang sudah bangun, setelah tadi sempat tak sadarkan diri saat Tiffany dan para maid melarikannya ke rumah sakit.


"Tiff tidak menangis!" Kilah Tiffany seraya menghapus butir bening di pelupuk matanya.


Opa Bowles mengulas senyum.


"Henry sudah pergi untuk selamanya menyusul Stefy," ujar Tiffany selanjutnya memberitahu Opa Bowles yang hanya mengangguk samar.


"Henry pria baik." Pendapat Opa Bowles yang langsung membuat Tiffany mengangguk.


"Mungkin Opa juga akan menyusul-"


"Opa!" Potong Tiffany yang langsung memeluk sang Opa.


"Jangan bilang begitu! Opa harus sehat lagi dan panjang umur!" Ujar Tiffany lagi penuh harap.


"Tiff," Opa Bowles mengusap kepala Tiffany. Gadis itu masih memeluknya seolah sedang menyembunyikan sesuatu.


"Opa harus sembuh dan sehat pokoknya!"


"Tiff akan melakukan apapun agar Opa bisa sembuh dan sehat lagi!" Ucap Tiffany tanpa mengangkat kepalanya. Jelas sekali kalau Tiffany sedang sesenggukan sekarang karena takut ditinggal oleh Opa Bowles. Tiffany memang seperti itu. Selalu sembunyi-sembunyi saat menangis.


"Menikahlah kalau begitu, Tiffany cucuku!" Pinta Opa Bowles akhirnya mengungkapkan keinginannya. Disaat bersamaan, pintu kamar perawatan tiba-tiba dibuka dari luar dan Gika serta Dad Dean masuk ke kamar perawatan.


"Opa!" Panggil Gika yang buru-buru menghampiri Opa Bowles.


Tiffany yang masih memeluk Opa Bowles dan berurai airmata mendadak ingin mengumpat karena kedatangan Gika di waktu yang tak tepat. Tiffany benar-benar tak mau Gika melihatnya yang tengah berurai airmata.


Sial!


"Opa baik-baik saja?" Tanya Gika khawatir yang kemudian ganti berekspresi heran karena Tiffany yang tak kunjung berhenti memeluk Opa Bowles.


"Senang melihatmu disini, Gika!" Sapa Opa Bowles pada Gika.


"Tiff!" Gika mengusap punggung Tiffany yang masih berusaha menghapus airmatanya.


"Tiff, bisakah kau menyingkir agar Opa tidak sesak nafas?" Pinta Gika lagi yang sudah ganti merengkuh kedua pundak Tiffany dan gadis itu langsung menyentaknya.


Ck! Masih jual mahal.


"Awas jangan pegang-pegang!" Sentak Tiffany setelah berhasil menyembunyikan tangisannya tadi dari Gika.


"Kau menangis?" Tebak Gika menyelidik dan Tiffany hanya bungkam. Gadis itu hendak menyingkir, namun Opa Bowles kembali memanggilnya.


"Tiff!"


Tiffany tak jadi menyingkir dan kembali ke samping bed perawatan Opa Bowles.


"Apa jika Tiffany melakukan keinginan Opa tadi, Opa akan sembuh dan kembali sehat?" Tanya Tiffany akhirnya yang sudah bisa menebak ini akan mengarah kemana.


"Ya! Apalagi jika kau nanti cepat memberikan cicit untuk opa timang-timang." Opa Bowles kembali mengajukan syarat.


Tiffany menghela nafas dan merasa kesal sebenarnya. Tapi Tiffany begitu menyayangi Opa Bowles, karena tanpa kehadiran pria tua ini di hidupnya, belum tentu Tiffany akan menjadi seperti sekarang ini.


"Baiklah! Tiff akan menikah!" Putus Tiffany akhirnya yang langsung membuat Gika membulatkan bola matanya dan merasa tak percaya. Gika rasanya ingin berteriak dan bersorak.


"Tiff harus menikah dengan siapa, Opa?" Tanya Tiffany selanjutnya pada Opa Bowles. Gadis itu sepertinya sudah pasrah.


Gika sendiri sudah tak sabar menantikan Opa Bowles mengucapkan kalimat, 'Menikahlah dengan Gika De Chio, Tiffany! Gika akan mrnjagamu, menyayangimu, mencintaimu,memberimu kehangatan setiap malam, dan membuatmu cepat hamil, lalu melahirkan banyak cicit untuk Opa.'


Ayo ucapkan, Opa!


Ayo ucapkan!


"Kau maunya menikah dengan siapa, Tiff? Karena Opa tak mau memaksamu menikah dengan pria pilihan Opa. Kau berhak menentukan siapa pria yang ingin kau jadikan pendamping hidup," jawaban Opa Bowles benar-benar membuat khayalan Gika yang sudah setinggi langit tadi ambyar seketika.


Gika sekarang ketar-ketir menunggu jawaban Tiffany mengingat gadis itu yang pernah mengatakan kalau ia tak akan pernah menikah dengan pria bekas dan playboy sejenis Gika De Chio!


Tiffany jangan-jangan sudah punya pacar di luaran sana yang tak Gika ketahui!


Sudahlah, Gika!


Kau tak lagi punya harapan pada gadis macan Rrrooaaar ini!


Pulang saja dan kubur dalam impianmu untuk menikah dengan Tiffany!


"Jadi maksud Opa, Tiffany boleh menentukan sendiri pria yang akan menjadi suami Tiff?"


"Iya!" Jawab Opa Bowles penuh keyakinan.


"Yang terpenting kamu mau menikah secepatnya," sambung Opa Bowles lagi.


"Baiklah kalau begitu, Tiff akan menikah dengan..."


Waktu terasa melambat saat Gika menunggu Tiffany mengucapkan dengan siapa ia akan menikah.


Tidak!


Gika tak mau mendengarnya.


Hati Gika pasti akan hancur karena Gika sudah sangat mencintai Tiffany.


Gika sudah jatuh cinta pada gadis macan ini!


"Tiff akan menikah dengan-"


"Maaf, Gika permisi keluar!" Pamit Gika memotong kalimat Tiffany yang belum selesai. Gika keluar dengan cepat dari kamar perawatan dan menutup pintu sedikit keras. Tiffany, Opa Bowles, dan Dad Dean hanya menatap heran pada mantan tuan model itu.


Gika kenapa?


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.