Queen Of Alexander'S

Queen Of Alexander'S
BINGUNG



Naka, Alsya, dan Sunny tiba di bandara kota dengan senyum yang mengembang.


"Om Naka! Nanti kapan-kapan kita liburan bareng lagi, ya!" Ajak Sunny yang sejak turun dari pesawat tak melepaskan tangannya dari genggaman Naka.


"Siap! Sunny mau kemana setelah ini?" Tanya Naka antusias.


"Kemana, Ma?" Sunny malah bertanya pada sang mama.


"Entahlah! Mama belum memikirkannya, Sayang! Nanti kita berlibur lagi saat Sunny ulang tahun, ya!" Jawab Alsya berjanji pada Sunny.


"Kapan ulang tahun Sunny?" Tanya Naka yang mendadasesak merasa penasaran.


"Dua bulan lagi, tanggal sepuluh," jelas Alsya seraya mengulas senyum.


"Terima kasih karena sudah membantuku menjaga Sunny saat sakit dan memberikan-


"Opi!" Teriakan Sunny memotong kalimat Alsya. Putri kandung Alsya itu sudah berlari menghampiri seorang pria paruh baya yang tersenyum dengan hangat.


"Opi!" Sunny memeluk pria yang ia panggil Opi tersebut.


"Itu papimu?" Tebak Naka bertanya pada Alsya.


"Ya." Alsya ikut menghampiri Papi Juna. Dan Naka juga mengekori wanita tersebut.


"Bagaimana liburannya?" Tanya Papi Juna pada Sunny.


"Menyenangkan! Meskipun Sunny sempat sakit dan diinfus, Opi!" Lapor Sunny seraya menunjukkan plester di tangannya pada Opi Juna.


"Diinfus?"


"Sunny demam tinggi dan kekurangan cairan, Pi! Untung ada Naka yang membantu Alsya disana dan membawa Sunny bertemu dokter," terang Alsya seraya menunjuk ke arah Naka yang langsung tersenyum ramah pada Papi Juna.


"Selamat siang, Uncle!" Sapa Naka pada Papi kandung Alsya tersebut.


"Siang. Kamu temannya Alsya?" Tanya Papi Juna penuh selidik.


"Iya-"


"Naka pemilik travel agent tempat aku dan Sunny menesan tiket kemarin," Potong Alsya yang langsung menjelaskan identitas Naka.


"Dia jadi tour guide juga?" Tanya Papi Juna masih curiga.


"Tidak!" Jawab Alsya cepat.


"Kebetulan saya sedang ada urusan di Pulau Maratua juga, Uncle. Jadi saya pergi ke sana," jelas Naka masih sambil tersenyum.


"Lagipula, Naka berangkatnya belakangan dan hanya di Maratua selama tiga hari," Alsya menimpali penjelasan Naka.


"Sunny dibikinin kalung sama Om Naka, Opi!" Ucap Sunny memecah ketegangan di antara Alsya, Naka dan Papi Juna. Cucu perempuan pertama papi Juna itu menunjukkan sebuah kalung yang terbuat dari rumah kerang.


"Cantik tidak, Opi?" Sunny meminta pendapat Papi Juna.


"Cantik! Seperti Sunny," Puji Papi Juna seraya mengusap lembut kepala Sunny.


"Ayo pulang!" Ajak Papi Juna selanjutnya pada Sunny. Pria paruh baya tersebut ganti menggandeng tangan Sunny dan membimbingnya menuju ke tempat parkir.


"Maaf atas sikap Papi," ucao Alsya merasa tak enak hati pada Naka.


"Tidak apa-apa! Ini tas Sunny," Naka mengangsurkan tas Sunny yang sejak tadi ia bawakan.


"Terima kasih sekali lagi-"


"Alsya!" Panggil Papi Juna yang sudah cukup jauh meninggalkan Alsya dan Naka.


"Iya, Pi! Sebentar!" Jawab Alsya sebelum mengulangi kalimatnya pada Naka.


"Terima kasih sekali lagi atas semuanya, Naka!"


"Sama-sama!"


"Aku boleh minta nomor ponselmu?" Tanya Naka sebelum Alsya berlalu pergi.


"Hanya untuk mengingatkan misalnya sedang ada promo tiket." Entah bagaimana ceritanya Naka bisa memberikan alasan konyol itu.


"Baiklah!" Alsya menyambar ponsel Naka lalu mengetikkan nomornya dengan cepat bersamaan dengan panggilan kedua Papi Juna yang sudah semakin jauh.


"Alsya!"


"Iya, Pi! Alsya datang!" Jawab Alsya seraya mengembalikan ponsel Naka.


"Bye!" Pamit Alsya sekilas sebelum wanita itu berlari menyusul Papi Juna dan Sunny.


Naka ganti menelepon Juan sambil berharap mungkin sahabatnya itu bisa menjemput Naka hari ini.


"Halo!"


"Kau dimana? Jemput aku ke airport."


"Aku meninggalkan mobil di airport. Pakai saja!" .


"Aku sedang ada urusan bersama customer."


"Baiklah!" Naka kembali menutup telepon dan menuju ke tempat parkir. Pria itu sudah sangat hafal dimana Juan akan memarkir mobil saat ke bandara.


****


Cukup lama Naka menunggu lampu lalu lintas yang tak kunjung berubah menjadi hijau.


"Huh!" Naka menarik nafas panjang bersamaan dengan lampu lalu lintas tang akhirnya berubah hijau. Naka menginjak pedal gas perlahan mengikuti mobil di drpannya sambil menjaga jarak. Namun entah sedang sial atau bagaimana, saat Naka sedang meleng sedikit tiba-tiba sudah ada motor yang melaju dengan kecepatan tinggi dari arah kanan.


Ciiiit!


Naka masih sempat menginjak rem saat mobilnya menabrak motor yang melanggar lampu lalu lintas tersebut.


Sialan!


Naka tak berhenti mengumpat dan segera menepikan mobilnya, lalu turun dan melihat ke arah pengendara motor yang terkapar di jalan dan dikerumuni warga. Pengendara yang ternyata seorang gadis itu terlihat meringis dan memegangi kakinya. Namun saat melohat Naka, wajah gadus itu mendadak berubah marah dan gadis itu malah memaki Naka seolah ia mengenal Naka.


Padahal Naka juga tidak tahu itu siapa?


"Nona, apa kau-" Naka belum menyelesaikan pertanyaannya pada gadis asing tersebut saat tiba-tiba gadis itu sudah menyela dengan galak.


"Pergi kau, Tuan model sinting!" Usir gadis itu yang tentu saja langsung membuat Naka mengernyit bingung


"Maaf?" Naka benar-benar bingung sekarang.


"Sepertinya kaki nona ini patah, Mas!" Laporan seorang warga yang tadi menolong gadis itu meredam kebingungan Naka.


"Langsung bawa ke rumah sakit saja kalau begitu, Pak! Tolong bawa naik ke mobil saya dan tolong motornya diurus dulu!" Ujar Naka akhirnya seraya kembali ke arah mobilnya dan membuka pintu belakang. Beberapa warga menggotong gadis tadi masuk ke dalam mobil Naka lalu mereka berbasa-basi sebentar. Tak berselang lama, Naka sudah masuk ke dalam mobilnya dan menjalankan mobil ke arah rumah sakit.


"Siapa namamu, Nona? Kau punya keluarga yang mungkin bisa dihubungi? Aku akan bertanggung jawab penuh," ucap Naka sambil masih fokus mengemudi.


"Kau tidak tahu aku siapa? Apa kau amnesia?" Gadis itu malah balik bertanya dan nada bicaranya ketus sekali.


"Maaf, saya benar-benar tidak tahu anda siapa." Naka kembali mengernyit bingung.


"Yasudah! Tidak usah tahu! Aku juga tidak berminat berkenalan dengan orang sombong sejenismu!"


"Meskipun kau itu terkenal kata Ashley!" Omel gadis itu bercerocos sendiri.


"Aduh!" Gadis itu kembali meringis kesakitan.


Naka yang duduk di balik kemudi sedikit berpikir karena mendengar cerocosan gadis di belakangnya tersebut.


Terkenal?


Sombong?


Mungkinkah gadis ini mengira kalau Naka adalah....


Gika De Chio!


Naka tersenyum tipis dan kembali melirik ke gadis yang masih meringis di jok belakang tadi lewat kaca spion. Mungkin sebaiknya Naka menghubungi Elleanore. Putri bungsu di keluarga Alexander itu selalu tahu semua hal.


Mobil sudah sampai di rumah sakit. Naka segera turun dan memanggil bantuan untuk memberikan pertolongan pada gadis yang entah siapa namanya itu.


.


.


.


Maaf lambat Up.


Tangan kambuh lagi karena kebanyakan naik motor 😌


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia