
"Archie!" Pekik Sunny saat melihat kalung rumah kerangnya pemberian dari Naka sudah tercerai berai dan menghiasi bingkai foto yang sedang dibuat oleh Archie.
"Apa?" Tanya Archie dengan raut tanpa dosa.
"Kalungku!" Sunny menatap dengan sedih pada beberapa rumah kerang yang sudah tak lagi berbentuk kalung.
"Kenapa kau mengambil kalungku? Itu pemberian Om Naka!" Omel Sunny seraya memukul-mukul Archie dengan membabi buta.
"Auww! Auuuw! Kak Sunny, ampun!"
"Mom! Dad!" Archie berteriak-teriak memanggil mom dan dadnya.
"Kembalikan kalungku!" Sunny masih terus memukuli Archie bersamaan dengan kedatangan Rumi yang merupakan Dad-nya Archie.
"Sunny! Stop!" Gertak Rumi tegas seraya memisahkan Archie dari Sunny yang tak berhenti memukul.
"Jangan barbar!" Tegur Rumi dengan suara lantang.
"Archie yang sudah merusak kalung Sunny, Om!" Lapor Sunny pada Rumi.
"Archie tidak tahu kalau itu kalung Kak Sunny, Dad! Tidak ada namanya dan tergeletak di meja. Archie pikir tidak ada yang punya," jelas Archie pada Rumi.
"Tapi itu kalungku dari Om Naka!"
"Kau masih bisa membuat yang baru, Sunny! Tak perlu marah-marah begitu!" Ujar Rumi mencoba memberikan pengertian pada Sunny.
"Kau juga minta maaf pada Kak Sunny!" Rumi ganti menyuruh sang putra untuk minta maaf.
"Maaf, Kak Sunny!" Ucap Archie seraya mengulurkan tangannya ke arah Sunny. Namun tangan Archie malah langsung ditampik oleh gadis sepuluh tahun itu.
"Tapi kalungku sudah terlanjur rusak!" Ucap Sunny sedih seraya berlari masuk ke rumah. Di depan pintu, Sunny hampir menabrak Papi Juna, namun gadis itu juga hanya abai dan terus berlari naik tangga menuju ke kamar atas.
"Sunny kenapa, Rumi?" Tanya Papi Juna pada satu-satunya anak laki-laki di keluarga Attala tersebut.
"Kalung kerangnya dibongkar Archie untuk membuat kerajinan. Langsung ngambek tak karuan," jawab Rumi seraya berdecak berulang-ulang.
"Selalu saja sejak dulu masalah kecil dibesar-besarkan." Komentar Rumi lagi.
"Sama seperti-" Rumi tak melanjutkan kalimatnya setelah Papi Juna mengangkat tangan dan memberikan isyarat agar Rumi diam.
"Tadi Archie sudah minta maaf, Opi! Tapi ditolak Kak Sunny " Archie ikut-ikutan bercerita pada sang Opi.
"Iya, Opi mengerti. Nanti Opi yang akan bicara pada Kak Sunny, ya!" Papi Juna tersenyum pada Archie sekaligus mengusap kepala cucu laki-lakinya tersebut.
Papi Juna lanjut menyusul Sunny ke kamar atas untuk bicara pada cucu perempuannya tersebut.
"Sunny!" Papi Juna mengetuk pintu kamar Sunny, namun tak ada jawaban.
"Sunny, Opi mau bicara!" Ketuk Papi Juna sekali lagi. Masih tak ada jawaban, jadi Papi Juna mendorong pintu di depannya tersebut dan langsung terlihat, Sunny yang sudah tidur di dalam kamar. Tapi bukan hal itu yang menjadi perhatian Papi Juna, melainkan suara dari video di dalam ponsel yang berada di samping Sunny.
"Mama dibuatkan kalung dan mahkota sama Om Naka!"
"Pakai, Ma!"
Papi Juna mengambil ponsel Sunny untuk melihat siapa yang ada di dalam video. Dan alangkah terkejutnya Opi Sunny itu saat melihat seorang pria yang sedang memakaikan kalung dari kerang yang mirip punya Sunny tadi ke leher Alsya.
"Yeaaay! Mama sudah cantik seperti Sunny!"
"Terima kasih, Om Naka!" Gambar sedikit goyang, sebelum kemudian terlihat Sunny yang memeluk serta mencium pipi pria yang dia panggil Om Naka tadi.
Itu adalah pria yang kemarin di bandara kota. Pria itu terlihat akrab sekali dengan Sunny. Ada hubungan apa sebenarnya antara Naka dan Alsya?
"Pi, apa Sunny baik-baik saja?" Tanya Alsya yang rupanya sudah pulang dari toko kue
"Sunny masih menangis, Pi? Tadi kata Rumi habis ribut sama Archie," sekarang gantian Vivian yang sudah ikut menanyakan kondisi Sunny.
"Sunny tidur," jawab Papi Juna pada putri dan menantunya.
"Sunny menangis kenapa?" Alsya ganti bertanya pada Vivian.
"Kalung kerangnya dirusak oleh Archie dan dijadikan hiasan bingkai foto," bukan Vivian, mrlainkan Papi Juna yang menjelaskan pada Alsya.
"Aku benar-benar minta maaf, Kak! Nanti aku akan menasehati Archie agar tak melakukannya lagi," ujar Vivian merasa tak enak hati.
"Tidak apa! Masih ada satu kalungnya. Nanti aku juga akan bicara pada Sunny," tukas Alsya seraya masuk ke kamar dan memeriksa Sunny.
Vivian sendiri langsung pergi dari kamar Sunny sedangkan Papi Juna memilih menghampiri Alsya untuk minta penjelasan.
"Jadi sebenarnya kau ada hubungan apa dengan Naka?" Tanya Papi Juna to the point.
"Naka?" Alsya sedikit tersentak dan kaget.
"Tidak ada hubungan apa-apa! Naka pemilik travel agency, lalu Alsya memesan tiket di sana, dan saat di Maratua Naka membantu Alsya merawat Sunny yang sakit," jelas Alsya panjang lebar.
"Sunny terlihat akrab dengannya," pendapat Papi Juna.
"Mungkin karena Naka pernah menolongnya beberapa waktu lalu," Alsya mengendikkan bahu.
"Yakin tak ada hubungan apa-apa?" Papi Juna sepertinya masih belum percaya.
"Kenyataannya memang begitu, Pi!" Alsya bersedekap dan memalingkan wajahnya dari Papi Juna, bersamaan dengan Vivian yang sudah kembali ke kamar Sunny lagi.
"Kak Alsya, ada tamu di depan yang mencari Sunny," lapor Vivian yang langsung membuat Papi Juna dan Alsya mengernyit bersamaan.
"Siapa?" Papi Juna bertanya terlebih dahulu.
"Seorang pria. Katanya namanya Naka," jelas Vivian yang langsung membuat Papi Juna keluar dari kamar Sunny lalu menuruni tangga. Sementara Alsya mengekor di belakang sang papi dengan cemas.
"Selamat siang, Uncle Juna!" Sapa Naka sopan yang langsung bangkit dari duduknya.
"Siang!" Balas Papi Juna seraya duduk di hadapan Naka.
"Duduk!" Pria paruh baya itu mempersilahkan Naka. Tak berselang lama, Alsya sudah menyusul ke ruang tamu.
"Sedang apa disini dan darimana kau tahu-" Cecaran pertanyaan Alsya pada Naka dipotong oleh Papi Juna.
"Duduk, Alsya!"
Alsya tak melanjutkan cecaran pertanyaannya oada Naka dan langsung duduk di dekat Papi Juna.
"Darimana kau tahu aku tinggal disini?" Tanya Alsya seraya menatap tak senang ke arah Naka.
"Tidak sulit menemukan kediaman Attala yang punya banyak toko kue dan supermarket di kota ini," jawab Naka seraya mengulas senyum.
"Maaf, jika saya lancang, Uncle Juna!" Lanjut Naka seraya mengangguklan kepalanya ke arah Papi Juna.
"Ada keperluan apa kesini?" Nada bicara Papa Juna akhirnya terdengar bersahabat setelah melihat sopan santun Naka serta tutur kata pria itu yang tak sedikitpun menunjukkan kepongahan.
"Sunny mengirimi saya pesan," Naka menunjukkan pesan Sunny pada Alsya dan Papi Juna.
"Kata Sunny kalung kerangnya rusak dan dia sedang sedih," lanjut Naka lagi yang langsung membuat Alsya berdecak.
"Sunny! Kenapa harus berlebihan seperti itu?" Gumam Alsya sedikit sebal.
"Jadi saya kemari membawakan hadiah untuk Sunny agar gadis itu tak bersedih lagi, Uncle!" Ujar Naka lagi menyampaikan alasan kedatangannya ke kediaman Attala.
"Seharusnya kau tidak usah repot-repot dan mengabaikan saja pesan dari Sunny!" Sergah Alsya merasa tak enak hati pada Naka selalu saja perhatian pada Sunny. Dan Sunny yang juga selalu bersikap lebay saat merengek pada Naka.
"Aku tidak akan membiarkan Sunny bersedih karena kalungnya rusak, Alsya!" Jawab Naka seraya menatap ke arah Alsya. Tatapan tak biasa yang Alsya sendiri tak paham maksudnya.
"Masih ada kalung satunya, dan Sunny hanya terlalu lebay saja menanggapi kalungnya yang rusak. Padahal Archie juga tak sengaja dan sudah minta maaf," tukas Alsya yang langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain tanpa berani lagi menatap ke dalam manik mata Naka. Pria itu kenapa?
"Sepertinya kalung itu istimewa sekali untuk Sunny," timpal Papi Juna yang langsung ditanggapi Naka dengan senyuman hangat.
"Mungkin karena rumah kerangnya dari Maratua, Uncle!" Pendapat Naka.
"Jadi, kau pemilik travel agency, Naka? Itu memang milikmu sendiri atau milik keluargamu?" Papi Juna ganti membahas hal lain setelah tiga orang itu hening untuk beberapa waktu.
"Kebetulan saya merintisnya dari nol, Uncle. Berawal dari saya yang juga hobi traveling, jadi tercetuslah ide untuk membuat travek agency sendiri," jelas Naka yang langsung membuat Papi Juna manggut-manggut.
"Mom dan Dad juga langsung mendukung dan sedikit membantu karena relasi bisnis Dad yang cukup luas," sambung Naka lagi.
"Dad-mu seorang pebisnis? Kenapa tidak melanjutkan memimpin perusahaan milik Dad-mu saja?" Tanya Papi Juna selanjutnya.
"Sudah ada Abang sulung saya yang melakukannya. Dan saya kurang tertarik bekerja di kantor seharian, memimpin rapat. Sepertinya menemukan," jawab Naka seraya tertawa kecil.
"Ya, pekerjaan yang sesuai passiom selalu lebih menyenangkan untuk dilakukan," timpal Papi Juna membenarkan.
"Ngomong-ngomong, Dad-mu pemimpin di perusahaan mana?" Tanya Papi Juna lagi. Namun saat Naka baru saja akan menjawab, sebuah sapaan menunda jawaban Naka.
"Jun!" Uncle Alvin masuk begitu saja ke ruang tamu tanpa salam. Namun kemudian sahabat sekaligus tetangga papi Juna itu terkejut saat mendapati ada tamu yang sedang berbincang dengan Papi Juna dan Alsya.
"Oh, ada tamu! Maaf!" Ucap Uncle Alvin yang langsung duduk di samping Papi Juna padahal belum dipersilahkan.
Kebiasaan!
"Siapa dia, Jun? Calon menantumu?" Tanya Uncle Alvin sok tahu.
"Temannya Alsya," jawab Juna sekenanya, sebelum pria paruh baya itu kembali menanyai Naka.
"Jadi perusahaan Dad-mu?"
"Alexander Group," jawab Naka yang langsung membuat Uncle Alvin kaget.
"Alexander Group milik Dean Alexander maksudnya?" Tanya Alvin to the point.
"Iya, kebetulan Dean Alexander adalah Dad saya, Uncle! Apa Uncle mengenal Dad?" Naka berbasa-basi pada Alvin yang langsung memindai penampilan Naka dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Kau kenal Dean Alexander, Alvin?" Papi Juna ikut-ikutan bertanya.
"Ya, dia pria sombong yang pernah menelantarkan Ghea di Bali."
.
.
.
Trus kamu sendiri opo, Vin, Alvin!
Sama-sama brengsek juga 🙄🙄
💚Cerita Archie-Rumi-Vivian ada di "RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh"
💚Cerita Papi Juna-Mami Lily ada di "Menikahi Pembunuh Istriku"
💚Cerita Uncle Alvin-Aunty Ghea ada di "GHEA: Cinta Lama Belum Usai"
Terima kasih yang sudah mampir
Jangan lupa like biar othornya bahagia.