
Richard mengemudikan mobilnya mengikuti lokasi di ponselnya, dimana ia akan menjemput pacar sewaannya sore ini. Pria itu mulai mengurangi kecepatan saat hampir sampai di lokasi penjemputan di depan sebuah ruko.
Seorang gadis berpakaian kasual sudah terlihat. Tapi mungkinkah itu hadis yang akan menjadi partner Richard? Kenapa tidak memakai gaun dan malah memakai t-shirt serta celana jeans? Seperti baru pulang kuliah saja!
Ponsel Richard berbunyi bersamaan dengan gadis yang tadi Richard lihat sedang meletakkan ponselnya di telinga.
"Halo!" Richard mrmgangkat telepon dari nomor asing tersebut.
"Richard Alexander?" Suara seorang wanita yang terdengar dari ujung telepon.
"Ya. Ini?"
"Ashley, klien yang akan menjadi pacar sewaan anda. Sudah dimana sekarang? Kenapa belum datang?"
"Sudah di depan ruko. Kau di sebelah mana?"
"Depan ruko orens, berdiri di bawah tiang lampu, pakai t-shirt warna putih dan celana jeans."
Ternyata benar gadis itu!
Ck! Kenapa bisa salah kostum begini?
"Aku melihatmu. Mobil warna putih" pungkas Richard seraya menutup telepon. Richard melajukan mobilnya mendekat ke arah gadis bernama Ashley itu.
Richard membuka kaca jendela mobilnya dan sedikitpun terkejut saat melihat wajah asli Ashley yang menurut Richard berbeda dengan foto profilnya kemarin.
"Richard Alexander?" Ashley memastikan sekali lagi.
"Ashley Umika?" Richard balik memastikan nama gadis itu.
"Ashley saja!" Jawab Ashley seraya membuka pintu mobil dan masuk ke dalam, lalu duduk di sebelah Richard.
"Kenapa pakai baju anak kuliahan? Kita akan ke pesta perusahaan!" Richard langsung melayangkan protes. Sementara Ashley malah sibuk membuka ponselnya.
"Tidak ada di catatan," ujar Ashley seraya menunjukkan layar ponselnya ke arah Richard.
"Apa?"
"Kau seharusnya menambahkan catatan kostum apa yang harus aku pakai dan acara yang akan kita hadiri. Aku kira hanya mau ke acara santai jadi aku juga pakai baju santai," terang Ashley yang langsung membuat Richard berdecak. Pria itu melirik arlojinya seolah sedang menghitung waktu.
"Kita ke butik dulu!" Ujar Richard akhirnya sebelum mulai melajukan mobilnya.
"Aku harus berpura-pura menjadi pacar, tunangan, atau istrimu?" Tanya Ashley saat mobil Richard mulai melaju.
"Pacar." Jawab Richard singkat dan padat.
"Bukan tunangan? Kebanyakan pengusaha muda akan membawa tunangannya ke acara dan jarang yang masih berstatus pacar tapi sudah dibawa ke acara perusahaan."
"Karena mayoritas pengusaha muda seperti kau ini suka gonta-ganti pacar. Tidak bisa dibayangkan saat ke acara perusahaan A bawa pacarnya yang ini. Lalu bulan selanjutnya ke acara perusahaan B bawa pacarnya yang baru lagi karena yang lama sudah putus."
"Aku bukan termasuk yang seperti itu!" Jawab Richard tegas dan sedikit galak. Ashley langsung diam dan tak melanjutkan penjabaran teorinya. Gadis itu mengutak-atik radio di dashboard mobil dan hendak menyalakannya, saat Richard langsung berdecak dengan tingkah lancang Ashley tersebut.
"Baiklah, maaf!" Ucap Ashley yang tak jadi menyalakan radio.
"Ngomong-ngomong, kau pengusaha apa? Perusahaanmu namanya apa dan bergerak di bidang apa? Lalu usiamu berapa?" Cecar Ashley menanyai Richard dengan detail.
"Apa aku harus menjelaskan semuanya?" Tanya Richard ketus.
"Tentu saja! Nanti jika ada klien bisnismu yang bertanya aku juga harus bisa menjawabnya. Agar mereka semakin percaya dan tidak curiga," terang Ashley menjabarkan alasannya.
"Bilang saja kau tunangan Richard Alexander dari Alexander Group! Semua orang akan langsung tahu!" Jawab Richard ketus.
"Wow! Jadi kau putra pemilik Alexander Group itu, ya? Gedung milik perusahaan papamu sungguh ikonik dan membuat terpesona. Lalu kenapa kau harus mencari pacar sewaan?"
"Dengan kekayaan, nama baik, dan popularitas yang dimiliki keluargamu, pasti sangat mudah untukmu mencari wanita untuk dijadikan pacar atau calon istri?" Cecar Ashley lagi yang sepertinya cerewet sekali melebihi Elleanore.
"Itu bukan urusanmu, dan kurangi bertanya hal-hal tidak penting seperti itu!" Richard menuding ke arah Ashley.
"Tugasmu hanyalah berpura-pura menjadi tunanganku agar aku bisa datang ke acara. Selebihnya cukup diam dan jangan bicara apa-apa lagi!" Tegas Richard yang masih menuding ke arah Ashley. Mobil Richard sudah berhenti di halaman parkir sebuah butik mewah di kota ini.
"Kau yakin akan membelikanku baju dari butik ini?" Ashley menunjuk ke arah butik di depan mereka. Sedangkan Richard hanya menatap tajam pada gadis itu.
"Aku dengar harga satu bajunya yang paling murah setara dengan harga satu motor sport baru," Ashley sedikit meringis dan Richard semakin menajamkan tatapannya pada Ashley.
"Baiklah aku percaya uangmu banyak, dan itu bukan harga yang mahal bagimu!"
"Namamu saja Rich yang artinya kaya, jadi kau memang kaya, ya!" Kikik Ashley seolah itu adalah hal yang lucu dan Richard masih menatapnya dengan tajam.
"Aku diam! Hentikan tatapan anehmu itu!" Ashley akhirnya tak tahan lagi dan gadis itu sedikit merengut.
"Cepat turun dan jangan membuang waktuku lagi dengan kebawelanmu itu!" Perintah Richard tegas. Ashley tak menjawab lagi dan segera turun dari mobil, lalu mengekori Richard yang tak langsung masuk ke butik melainkan ke salon di sebelahnya.
"Selamat sore, Tuan Richard!" Sapa penjaga salon yang sepertinya sudah kenal dengan Richard.
"Waktuku hanya tiga puluh menit. Tata rambut gadis ini untuk ke acara perusahaan!" Perintah Richard jelas dan tegas seraya menunjuk ke arah Ashley.
"Baik, Tuan!" Karyawan salon langsung membimbing Ashley agar duduk di depan kaca dan mereka langsung mengerubungi gadis dua puluh satu tahun tersebut.
"Dandani wajahnya agar terlihat lebih dewasa!" Pesan Richard lagi seraya duduk di sofa dan meraih majalah. Richard akan membaca majalah sembari menunggu penampilan Ashley dipermak.
****
Setelah menghabiskan waktu satu jam lebih di salon dan butik mewah, Ashley dan Richard melanjutkan perjalanan menuju ke lokasi acara. Penampilan Ashley sudah berubah seratus delapan puluh derajat. Gadis itu terlihat lebih anggun, feminim, dan wajah imutnya sudah sedikit tersamarkan oleh make up yang tadi dipoleskan ke wajahnya. Tas selempang murahan yang tadi tersampir di pundaknya juga sudah berganti dengan tas tangan kecil bertabur berlian swarovski.
Mobil Richard memasuki sebuah hotel mewah, dimana acara malam ini berlangsung.
"Jangan cerewet, bawel, atau bertanya ini itu pada klien bisnisku! Diam saja dan jawab seperlunya jika ada yang bertanya!" Pesan Richard sekali lagi pada Ashley sebelum mereka berdua turun.
"Iya, aku mengerti!" Jawab Ashley cepat seraya meraih tangan Richard yang membukan pintu mobil. Namun Richard menyentaknya dengan cepat.
"Hai, Tuan kaya! Aku tunanganmu! Bersikaplah selayaknya tunangan yang baik!" Tegur Ashley yang langsung membuat Richard berdecak.
Richard akhirnya terpaksa membiarkan lengannya digamit oleh Ashley saat mereka berdua melangkah masuk ke ballroom hotel, dimana acara sedang berlangsung.
"Apa kau sebenarnya alergi pada wanita, atau tidak suka pada kaum kami?" Tanya Ashley berbisik-bisik pada Richard yang wajahnya terlihat menahan kesal.
"Baiklah, aku akan diam agar wajahmu tidak mengerikan begitu," bisik Ashley lagi yang benar-benar ingin Richard bungkam mulutnya.
Richard menyapa tuan rumah dan beberapa tamu yang hadir. Dan tak lupa ia juga memperkenalkan Ashley pada mereka sebagai tunangan.
Tunangan sewaan lebih tepatnya.
"Rich, kau datang juga?" Sapaan dari seorang wanita membuat Richard menoleh dengan cepat dan raut wajah pria itu seketika berubah aneh.
Bukan raut kesal seperti saat tadi ia mendelik pada Ashley, bukan juga raut marah. Wajah Richard lebih menunjukkan raut kekecewaan, terluka, dan kebencian yang menjadi satu.
Siapa memangnya wanita bergaun hitam ini?
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.