Queen Of Alexander'S

Queen Of Alexander'S
MENCURIGAKAN



Ashley turun dari taksi dan baru saja akan masuk ke pintu utama rumah sakit, saat gadis itu tak sengaja bertemu dengan Henry dan Gika yang penampilannya sudah mirip ninja.


Jaket hitam, kacamata hitam, topi hitam, celana hitam, dan masker hitam. Semuanya dikenakan oleh Gika.


"Gika De Chio!" Sapa Ashley lebay.


"Ssstttt! Kenapa masih mengenaliku?, aku sudah menyamar padahal!" Gerutu Gika seraya merapatkan hoodie jaketnya. Gika juga tak tahu kenapa calon istri abang Richard ini selalu lebay saat bertemu dengannya.


"Sudah kubilang, sebaiknya kau pakai topeng scream saja," seloroh Henry yang langsung membuat Gika mendengus.


"Jadi, kalian mau menjenguk Tiffany juga?" Tanya Ashley kepo yang sudah berjalan beriringan bersama Henry dan Gika ninja.


"Tidak! Aku hanya ingin memastikan kalau saudara kembarku tidak diamuk massa karena menabrak seorang gadis macan. Rrrooooarrr!" Jawab Gika lengkap dengan raungan macan yang langsung membuat Ashley tertawa.


"Lagipula, bukankah kalau tidak bisa naik motor itu sebaiknya diam di rumah saja?" Celetuk Gika lagi.


"Siapa yang tidak bisa naik motor?" Tanya Henry dan Ashley serempak.


"Gadis macan!" Jawab Gika cepat.


"Sebelum ini, motornya tertabrak mobilku. Yang sekarang ganti tertabrak mobil Naka," sambung Gika lagi yang ternyata masih ingat.


"Pekerjaan Tiff kan memang kurir. Kalau kau menyuruhnya diam di rumah, memang kau mau menunjang hidupnya?" Jawab Ashley membela Tiffany.


"Tidak masalah!" Jawab Gika sombong.


"Biaya hidup seorang gadis macan rrrrooooaaar-"


"Bisa kau hilangkan raungan macanmu itu? Kau akan berubah jadi macan jika meraung seperti itu berkali-kali," celetuk Henry memotong kalimat Gika.


"Mustahil!"


"Rrrrooooaaar! Rrrrooooaaar!" Gika meraung lebay ke arah Henry dan Ashley sontak tertawa dengan kekonyolan adik Richard itu.


Mereka bertiga akhirnya sampai di kamar perawatan Ashley. Naka yang menunggu di luar kamar perawatan langsung mengernyit saat melihat ninja hitam yang datang bersama Henry.


"Kau bersama siapa, Hen?" Tanya Naka seraya menunjuk pada Gika.


"Ninja macan," jawab Henry asal yang langsung berhadiah toyoran di kepala dari Gika.


"Gadis macan rrrooaaar itu belum bangun?" Tanya Gika seraya membuka kaca mata hitamnya, serta menurunkan masker di wajahnya.


"Belum sepertinya," jawab Naka seraya mengintip ke dalam kamar perawatan Tiffany.


"Aku boleh masuk dan melihatnya?" Izin Ashley yang langsung membuat Naka mengernyit.


"Kau?"


"Dia Ashley, calon kakak ipar!" Sergah Gika cepat memperkenalkan Ashley pada Naka.


"Oh, astaga! Maaf, Kakak ipar!" Naka langsung menyalami Ashley sebagai tanda perkenalan.


"Kau saudara kembar Gika De Chio? Benar-benar mirip, ya?" Tanya Ashley yang sudah giranh melihat kemiripan Naka dan Gika.


"Biasanya tidak semirip itu," gumam Gika sedikit bersungut.


"Aku cukur agar terlihat beda. Lagipula, tak ada yang mengira aku Gika De Chio sejak aku bersihkan. Sepertinya hanya Tiff yang mengira aku adalah kau," jawab Naka seraya tersenyum. Raut wajah Naka menang lebih ramah dan hangat ketimbang Gika. Cara bicara Naka juga lebih terlihat dewasa dan tidak lebay seperti Gika.


"Jadi maksudmu aku sudah tak terkenal, begitu?" Sungut Gika merasa tak terima.


"Aku tak berkata seperti itu-"


"Eheeem!" Deheman Ashley menyela perdebatan saudara kembar beda profesi, Gika dan Naka.


"Aku akan masuk dan menunggu Tiff bangun. Permisi semua dan selamat berdebat lagi," pamit Ashley pada Gika dan Naka.


"Ash! Aku ikut!" Seru Henry yang segera menyusul Ashley masuk ke dalam kamar perawatan Tiffany. Sekarang tinggal Gika dan Naka di luar kamar perawatan.


"Jadi, bagaimana ceritanya kau bisa bersama gadis macan rrrooaaar itu?" Tanya Gika lebay pada sang saudara kembar.


"Gadis macan rrrooaaar?" Naka mengernyitkan kedua alisnya.


"Tiff!" Koreksi Gika yang akhirnya bisa menyebut nama gadis macan itu.


"Aku tak sengaja menabraknya karena dia menerobos lampu merah. Kakinya patah, jadi aku membawanya ke rumah sakit dan bertanggung jawab," jelas Naka panjang lebar.


"Kau darimana sebelum itu?" Tanya Gika kepo.


"Bandara kota. Menjemput customer yang baru pulang dari Maratua," jelas Naka lagi.


"Menjemput selama tiga hari? Apa customermu salah jadwal?" Gika menuding curiga pada Naja sekaligus tertawa mengejek.


"Customermu single atau pasangan pengantin baru?" Tanya Gika lagi yang sepertinya kepo sekali.


"Bukan urusanmu!" Jawab Naka malas.


"Aku sudah melunasi semua biaya perawatan Tiff, jadi aku akan pulang karena aku ngantuk sekali!" Naka menguap lebar.


"Kau bawa supir?" Tanya Naka lagi yang sepertinya tak sanggup mengemudi.


"Supirku Henry dan dua sedang di dalam," Gika menunjuk ke kamar perawatan.


"Aku naik taksi saja kalau begitu!" Ujar Naka seraya berlalu dari hadapan Gika.


"Aku masih curiga kau punya something dengan customermu, Naka! Aku akan melapor pada Mom!" Seru Gika pada sang saudara kembar.


"Terserah! Jawab Naka balik berseru pada Gika. Naka hanya ingin bertemu kasurnya sekarang.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.