Queen Of Alexander'S

Queen Of Alexander'S
SUNNY HILANG



Alsya keluar dari dapur produksi setelah menyelesaikan sedikit masalah yang ada di sana. Wanita itu langsung menuju ke ruangannya untuk melihat Sunny.


"Sunny, kau mau kudapan?" Panggil Alsya seraya mendorong pintu ruangannya. Namun alangkah terkejutnya Alsya saat tak mendapati Sunny di dalam ruangannya.


"Sunny!" Alsya ganti memeriksa toilet di ruangannya, namun Sunny tetap tidak ada.


"Sunny!" Panggil Alsya lagi seraya kembali keluar, lalu berkeliling toko dan memeriksa setiap tempat yang kemungkinan menjadi tempat persembunyian Sunny.


"Sunny! Kamu dimana?" Alsya mulai frustasi sekarang mencari keberadaan Sunny. Beberapa karyawan toko yang Alsya tanya juga tidak tahu menahu tentang keberadaan Sunny.


Alsya akhirnya membuka ponsel dan menelepon Mami Lily.


"Alsya! Kau dimana? Kenapa belum datang?"


"Mi, apa ada yang menjemput Sunny ke toko tadi? Atau apa Sunny ada di situ sekarang?" Alsya langsung balik menanyai Mami Lily tanpa menjawab pertanyaan dari Mami sambungnya tersebut.


"Sunny tidak ada disini! Kau dan Sunny sedang dimana memangnya? Kenapa belum pulang? Acaranya sudah dimulai!"


"Sunny hilang, Mi!" Lapor Alsya frustasi.


"Hilang bagai-" kalimat Mami Lily belum selesai dan Alsya bisa mendengar mami sambungnya itu bicara dengan seseorang.


"Sunny sudah pulang? Bersama siapa?"


"Seorang pria? Siapa?"


"Mami!" Alsya yang samar-samar mendengar Mami Lily menyebut Alsya sudah pulang buru-buru memanggil sang mami.


"Sunny sudah sampai di rumah, Sya! Kata maid diantar seorang pria bernama Naka!"


"Apa?" Alsya tentu saja kaget dan langsung menutup telepon. Tanpa bertanya lagi, Alsya segera mengambil mobilnya dan meluncur pulang.


****


Naka turun dari mobilnya dengan tergesa dan segera mendorong pintu depan kantornya yang hari ini memang tutup. Juan terlihat sedang duduk di sofa yang berada di dalam kantor bersama Sunny yang masih sesenggukan.


"Om Naka!" Seru Sunny yang langsung berlari menghampiri Naka dan menghambur ke pelukan pria itu.


"Kenapa menangis?" Tanya Naka seraya menghapus airmata yang kembali bercucuran di kedua pipi Sunny.


"Apa Om Juan nakal?" Tanya Naka lagi karena Sunny tak kunjung menjawab.


"Hey! Aku sudah berusaha menghiburnya! Tapi dia terus saja mencari Papa Naka!" Decak Juan yang masih duduk santai di sofa.


"Sunny tadi kesini sama siapa?" Tanya Naka akhirnya seraya mengajak Sunny untuk kembali duduk di sofa.


"Sendiri, naik taksi," jawab Sunny yang masih sesenggukan.


"Sunny darimana?" Tanya Naka lagi.


"Dari toko kue. Ada acara makan-makan di rumah Omi Ghe sore ini. Tapi Mama malah sibuk di toko kue dan mengabaikan Sunny."


"Jadi Sunny kesini mau ngajak Om Naka saja ke rumah Omi Ghe. Tapi Om Naka malah nggak ada dan kantornya tutup. Sunny juga nggak bawa uang untuk bayar taksi. Jadi Om taksi nungguin sampai Sunny bayar."


"Lalu Om Juan datang," Sunny bercerita panjang lebar tentang kronologi kejadian sampai Sunny bisa sampai di kantor Naka.


"Kau ke kantor?" Naka ganti bertanya pada Juan.


"Mengambil sesuatu," Juan mengendikkan kedua bahunya. Naka hanya mengangguk dan tak bertanya lagi.


"Jadi tadi Sunny kesini tidak pamit pada Mama?" Tanya Naka lagi pada Sunny. Gadis sepuluh tahun itu langsung menggeleng.


"Sekarang Om Naka harus mengantar Sunny kemana?"


"Ke rumah Omi Ghe! Ada acara di sana. Opi, Omi, Aunty Ruby, Lena, Rena, semuanya berkumpul disana." Jawab Sunny menjelaskan.


"Dimana itu rumah Omi Ghe?" Tanya Naka bingung.


Apa maksud Sunny Omi Ghea Ghea yang katanya mantan Dad Dean itu?


Hhhh ada-ada saja!


"Di depan rumah Opi," jawab Sunny lagi.


"Baiklah kalau begitu!" Naka menghapus airmata Sunny sekali lagi sebelum bangkit berdiri dan menggandeng tangan kecil itu keluar dari kantor.


"Naka! Aku ikut!" Seru Juan yang sudah menyusul langkah Naka dan Sunny.


Ya, siapa tahu ada Jasmine juga disana!


****


"Besok lagi, Sunny tidak boleh pergi tanpa pamit ke mama seperti ini, ya!" Naka menasehati Sunny sekali lagi. Nada bicara Naka yang lembut dan tak terkesan menggurui membuat Sunny langsung mengangguk patuh seraya mengulas senyum.


"Sunny hanya kangen pada Om Naka karena Mama sekarang sudah melarang Sunny bertemu Om Naka," curhat Sunny dengan nada sendu.


"Apa Om Naka marah pada Sunny, sampai mama melarang Sunny bertemu Om Naka?" Tanya Sunny selanjutnya yang hanya membuat hati Naka mencelos. Naka ingat pada penolakan Alsya tempo hari saat Naka mengutarakan niatnya yang ingin menjadi papa untuk Sunny.


"Om Naka hanya sibuk, Sayang! Om Naka tidak pernah marah pada Sunny," terang Naka seraya mengusal lembut kepala Sunny bersamaan dengan mobil yang sudah berbelok ke jalan masuk kompleks perumahan tempat Papi Juna tinggal.


Naka menghentikan mobilnya di depan rumah Papi Juna yang tampak lengang. Berbeda dengan rumah di depannya yang terlihat ramai karena di halaman depan ada beberapa mobil yang terparkir.


Ya ampun!


Acara apa sebenarnya yang sedang berlangsung di dalam.


Seharusnya Naka tadi mengantar Sunny ke toko.


Ah, tapi bagaimana kalau Alsya ternyata sudah tak berada di toko dan panik mencari Sunny sekarang?


Sudah kepalang tanggung, jadi Naka akan tirin dan mengantarkan Sunny bertemu keluarganya.


"Aku disini saja, Ka! Tapi kalau kau melihat Jasmine, langsung telepon aku!" Pesan Juan yang sepertinya memamg ada something pada Jasmine.


Dasar Juan!


Baru sebentar patah hati pada Elleanore, sudah langsung dapat pelarian saja!


Mungkin Juan memang sebelas dua belas dengan Gika!


"Ayo langsung ke dalam saja, Om! Mereka berkumpul di halaman belakang!" Sunny sudah menarik lengan Naka dan membawa pria itu masuk ke teras kediaman Sanjaya.


"Omi!"


"Aunty! Uncle!" Sunny memanggil-manggil penghuni rumah dan yang muncul malah seorang maid.


"Eh, Nona Sunny!" Sapa maid yang sepertinya sudah akrab pada Sunny tersebut.


"Mama sudah datang, Mbak?" Tanya Sunny to the point pada maid tersebut.


"Belum, Nona. Tapi yang lain sudah berkumpul di halaman belakang. Ini Nona Sunny bersama siapa?" Tanya maid lagi menatap bergantian ke arah Sunny dan Naka.


"Saya Naka, Mbak! Saya mengantar Sunny pulang karena tadi dia datang ke kantor saya," jelas Naka yang langsung membuat maid itu sedikit kaget.


"Saya beritahu Bu Lily dulu, Pak!" Pamit maid tersebut seraya berlalu masuk. Sunny ganti menarik lengan Naka dan mengajak pria itu duduk di sofa ruang tamu kediaman Sanjaya.


"Om, kata Rena dan Lena, mereka punya perosotan baru. Tapi kata Mama Sunny nggak bisa naik karena nggak muat," Sunny tertawa kecil.


"Padahal Sunny juga mau naik perosotan, Om!" Lanjut Sunny menyampaikan keinginannya.


"Naik di playground kan bisa. Yang itu biasanya lebih besar," Naka memberikan solusi.


"Om Naka anterin Sunny ke playground, ya!" Rayu Sunny yang sudah naik ke pangkuan Nak dan mengalungkan lengannya ke leher Naka seperti seorang putri yang tengah bergelayut pada ayahnya. Dan pemandangan itulah yang pertama dilihat Mami Lily serta Papi Juna yang langsung bergegas ke ruangbtamu setelah mendapat laporan dari maid perihal kedatangan Sunny yang diantar Naka pulang.


"Sunny! Kamu darimana?"


"Omi! Sunny tadi menemui Om Naka!" Pamer Sunny yang masih bergelayut pada Naka. Papi Juna yang hampir murka, mendadak menahan amarahnya saat melihat binar kebahagiaan di mata Sunny yang bahkan sudah sangat jarang terlihat semenjak perceraian Alsya dan Ericko.


"Saya minta maaf, Uncle! Tapi saya juga tidak tahu kenapa Sunny bisa sampai ke kantor saya. Tadi saya sedang di rumah dan kantor juga tutup. Lalu kebetulan teman saya yang menemukan Sunny di depan kantor dan langsung menghubungi saya!" Naka bercerita panjang lebar mengenai kronologi pertemuannya dengan Sunny.


"Sunny kangen pada Om Naka, Opi!" Ujar Sunny yang kini sudah menyandarkan kepalanya di pelukan Naka.


Naka juga terlihat sabar dan tulus memeluk Sunny. Jiwa daddyable Naka sangat bisa dilihat oleh Papi Juna dan Mami Lily.


"Sunny!" Alsya yang baru tiba langsung menghambur masuk ke dalam dan mengambil Sunny dari pangkuan Naka sedikit memaksa.


"Mama sudah bilang untuk ke ruangan Mama! Kenapa malah kabur dan membuat Mama panik begini?" Alsya sudah langsung mengomeli Sunny yang kini hanya mencebik dan hampir menangis.


"Sunny mau bertemu Om Naka," cicit Sunny yang akhirnya benar-benar berlinang airmata.


"Alsya, jangan memarahinya!" Naka segera pasang badan dan memeluk Sunny yang sudah menangis sesenggukan.


"Jangan ikut campur!" Sentak Alsya kasar.


"Dia putriku dan kau-


"Meskipun dia putrimu, tapi kau tidak bisa memarahinya seperti tadi! Kau bisa bertanya baik-baik dan tak perlu pakai acara membentak begitu!" Sergah Naka memotong kalimat Alsya.


Naka sudah memeluk Sunny dengan sayang dan berusaha menenangkan bocah sepuluh tahun tersebut.


"Alsya, sudah! Yang penting Sunny sudah pulang dan dia tidak kenapa-kenapa!" Papi Juna akhirnya ikut menengahi.


"Naka juga langsung mengantar Sunny pulang dan tidak membawanya kemana-mana! Jadi kau tak perlu marah-marah begitu!" Mami Lily ikut-ikutan menimpali.


Alsya masih menarik nafas panjang berulangkali dan berusaha meredam emosinya sendiri. Wanita itu menatap pada Sunny yang masih terlihat ketakutan di pelukan Naka.


"Sunny!" Panggil Alsya lembut setelah wanita itu akhirnya berhasil menguasai dirinya.


"Mama minta maaf karena sudah bicaracketas pada Sunny tadi," lanjut Alsya seraya mengusap lengan Sunny, namun langsung disentak oleh putrinya tersebut.


"Sunny, tidak boleh begitu!" Nasehat Naka seraya menghapus airmata Sunny.


"Mama sudah minta maaf, jadi Sunny harus memaafkan dan tidak boleh dendam," sambung Naka lagi benar-benar seperti seorang ayah yang sedang menasehati putrinya. Sunny mengangguk patuh dan segera memeluk Alsya.


"Sunny juga minta maaf karena sudah pergi tanpa izin ke mama," ucap Sunny yang masih memeluk Alsya dengan erat. Semua yang melihat adegan itu langsung mengulas senyum lega karena akhirnya Alsya dan Sunny sudah tak lagi berselisih paham.


"Saya langsung pamit saja, Uncle," pamit Naka akhirnya yang merasa tugasnya untuk mengantar Sunny sudah selesai.


"Kenapa buru-buru? Ayo ke belakang dulu dan berkenalan dengan saudara Alsya!" Jawab Papi Juna yang sudah merangkul Naka dengan hangat. Tak ada lagi sikap ketus dari papi kandung Alsya tersebut.


"Papi benar, Naka! Tadi kami sedang membicarakanmu dan secara kebetulan kau malah muncul. Ayo ke belakang!" Timpal Mami Lily ikut-ikutan mengajak Naka. Sunny sudah lepas dari pelukan Alsya dan gadis kecil itu langsung bersemangat ikut menggandeng Naka ke halaman belakang.


Sementara Alsya memilih untuk diam dan mengekor saja. Tak ada hubungan darah antara Naka dan Sunny, tapi entah mengapa mereka bisa begitu dekat dan Sunny bisa sangat menurut pada Naka. Pertanda apa ini sebenarnya?


.


.


.


Juan keri nang mobil?


😆😆😆


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.