
Richard dan Edward tiba di panti asuhan Kasih Bunda saat hari menjelang sore.
"Jadi, ini tempat tinggal pacar bayaranmu," tanya Edward meledek yang hanya dijawab sebuah dengkusan dari Richard.
"Bawa turun semua barangnya dan langsung bawa ke dalam!" Perintah Richard pada asistennya tersebut.
"Siap, Bos!" Jawab Edward seraya turun dari mobil,lali membuka bagasi belakang dan menurunkan banyak hadiah yang dibawa Richard untuk adik-adik Ashley di panti asuhan. Richard sendiri langsung masuk ke dalam panti asuhan tanpa menunggu Edward. Namun Richard tak melihat Ashley dan hanya ada anak-anak serta seorang pria yang seluruh rambutnya sudah memutih sedang duduk bersama anak-anak.
"Selamat sore!" Sapa Richard sesopan mungkin.
"Sore!" jawab anak-anak dan pria tua tadi serempak.
"Cari siapa, Om?" Tanya seorang anak yang paling cepat menghampiri Richard.
"Kak Ashley ada?" Tanya Richard seraya berjongkok untuk menyamakan posisinya dengan anak tadi.
Ya, Richard sering melihat Mom dan Dad melakukan itu saat bicara padanya dan juga pada Gika, Naka, dan Elleanore saat dulu mereka masih kecil. Jadi sampai sekarang, Richard selalu menerapkannya jika berbicara oada anak-anak.
"Kak Ashley pergi tadi," jawab ank tersebut seraya mengulas senyum.
"Pergi kemana? Kuliah?" Tanya Richard lagi memastikan.
"Ashley tak mengatakan mau pergi kemana. Tadi katanya ada urusan penting dan terlihat buru-buru." Bukan anak tadi yang menjawab, melainkan pria tua yang duduk bersama anak-anak.
Richard segera menghampiri pria tua yang sepertinya bukan orang sembarangan tersebut. Apa ini pemilik panti asuhan?
Richard menyalami dengan sopan pria tua tadi dan tak lupa mengulas senyum.
"Kau temannya Ashley?" Tanya pria tua itu memastikan.
"Iya, saya Richard, Sir."
"Anda?"
"Aku-"
"Tuan Bowles?" Ucap Edward yang sudah muncul di belakang Richard yang ternyata mengenali pria tua tadi.
"Edward! Lama tidak bertemu!" Sapa Tuan Bowles pada Edward.
"Kau mengenalnya, Ed?" Tanya Richard menatap penuh selidik pada sang asisten.
"Ya, aku pernah bekerja pada Tuan Bowles sebelum menjadi asistenmu," jawab Edward jujur. Seperti ada kesedihan yang ditahan oleh Edward.
"Kau sudah baik-baik saja dan melanjutkan hidupmu sekarang, Ed?" Tanya Tuan Bowles lagi menatap sendu pada Edward.
"Saya sedang berusaha, Tuan!" Jawab Edward seraya menundukkan wajahnya. Richard sangat tahu kalau Edward sedang menyembunyikan sesuatu.
"Ngomong-ngomong, Tuan Bowles sedang ada urusan di kota ini?" Tanya Edward selanjutnya berbasa-basi setelah pria itu berhasil menguasai dirinya.
"Hanya sedang menjenguk anak-anak luar biasa ini," jawab Tuan Bowles seraya menunjuk ke anak-anak panti yang masih mengelilinginya.
"Tuan Bowles adalah donatur tetap di panti asuhan ini, dan selalu menyempatkan datang, saat sedang berada di kota ini," jelas ibu kepala panti yang sudah ikut bergabung bersama mereka.
"Ngomong-ngomong, terima kasih atas semua hadiahnya, Rich!" Lanjut ibu kepala panti lagi menatap tulus pada Richard yang langsung mengulas senyum dan mengangguk.
"Ibu akan menghubungi Ashley dulu-"
"Tidak usah, Bu! Biar saya saja." Cegah Richard cepat.
"Permisi semuanya," pamit Richard selanjutnya seraya berlalu pergi. Pria itu sudah mengutak-atik ponselnya dan sepertinya langsung menghubungi Ashley.
****
[Kau dimana? Kenapa tidak berada di panti asuhan?] -Richard-
Ashley yang masih menunggu Tiffany bangun, membuka ponselnya saat ada pesan masuk dan rupanya pesan itu dari Richard si kanebo kering.
Padahal sangat bisa telepon! Kenapa malah cuma mengirim pesan? Tidak punya pulsa untuk menelepon?
Ashley terkikik sendiri dan segera menelepon Richard tanpa terlebih dahulu membalas pesannya.
Cukup lama hingga telepon Ashley di angkat oleh Richar. Mungkin tuan kanebo kering itu grogi.
"Halo!" Singkat, padat, tak ada basa-basi! Dasar kanebo kering.
"Kau ke panti asuhan memangnya?" Tanya Ashley penuh selidik.
"Ya!"
"Untuk?" Ashley ikut bertanya sepotong-sepotong agar Richard berbicara lebih banyak.
"Mengantar hadiah. Kau dimana?"
"Untuk anak-anak!" Suara Richard mulai ketus.
"Kau dimana?" Tanya Richard lagi.
"Di rumah sakit!"
"Kau sakit?"
Suara Richard terdengar khawatir. Ashley langsung terkikik senang.
"Mmmmm," Ashley tak langsung menjawab dan sengaja memancing agar Richard bertanya dan bicara lagi. Suaranya lumayan merdu padahal, lalu kenapa pria itu irit bicara dan jarang bersuara?
"Ash! Kau sakit apa?"
"Aduh!" Ashley pura-pura mengaduh dan meringis lebay. Henry dan Gika sampai heran dengan yang dilakukan Ashley.
"Kau kenapa, Ash?" Tanya Henry yang buru-buru menghampiri Ashley sekaligus memeriksa apa yang terjadi pada calon kakak ipar Gika itu.
"Ash, kau bersama siapa itu?"
"Bersama seorang pria," jawab Ashley memancing Richard.
"Jangan macam-macam bersama pria lain! Kau sudah aku kontrak eksklusif!" Nada bicara Richard sudah naik tujuh oktaf. Sebelum kemudian telepon terputus.
Tuut tuut!
Ashley terkikik sendirian membayangkan Richard kanebo kering yang mungkin kini sedang panik.
"Ash! Kenapa malah tertawa?" Tanya Henry bingung.
"Tidak ada! Aku baik-baik saja!" Jawab Ashley seraya menepuk pundak Henry. Gika yang masih duduk di sudut ruangan hanya melirik sekilas pada Henry dan Ashley yang entah sedang berbicara apa. Pria itu mengendikkan bahu sesaat lalu kembali fokus ke layar ponselnya.
"Uhuuk! Uhuuk!"
Setelah sempat hening beberapa saat di dalam ruangan tersebut, tiba-tiba terdengar suara batuk dari Tiffany yang sepertinya sudah bangun dari tidurnya. Cepat-cepat Ashley menghampiri sahabatnya tersebut dan memeriksa kondisi Tiffany.
"Tiff, kau sudah bangun?"
"Aku dimana?" Tanya Tiffany seraya meringis saat gadis itu mencoba menggerakkan satu kakinya.
"Kakiku-"
"Di gips karena patah. Tapi sudah selesai di operasi dan kau akan segera pulih!" Jawab Ashley panjang lebar yang langsung membuat Tiffany mendengus sebal.
"Semua gara-gara Gika De Chio-"
"Hei!" Gertak Gika galak yang merasa namanya disebut-sebut oleh Tiffany. Pria itu akhirnya beranjak dari duduknya dan menghampiri bed perawatan Tiffany.
"Sedang apa kau disini?" Tiffany langsung menyalak pada Gika
"Sedang memastikan kalau patah kakimu tak menimbulkan komplikasi."
"Lagipula, bukan aku yang tadi mebabrakmu, tapi Naka! Dia sudah pulang tadi karena mengantuk."
"Dan sekali lagi aku ulangi, kalau yang menabrakmu adalah Naka Bukan Gika De Chio!" Cerocos Gika panjang lebar nyaris tanpa jeda.
"Siapa Naka?" Tanya Tiffany mengernyit pada semua orang.
"Kembarannya Gika De Chio!"
"Wajahnya sangat mirip dan mereka sama tampannya," jawab Ashley lebay yang langsung membuat Tiffany terlihat shock.
"Jadi maksudmu, tuan model menyebalkan ini punya kembaran dan mereka ada dua?"
.
.
.
Tenang, Tiff! Yang satu nggak se-sinting yang ada di depanmu 😆😆😆
Di awal tokohnya kelihatan banyak, ya!
Makin ke belakang makin mengerucut karena ternyata mereka saling berhubungan.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.