
"Ma, Sunny mau ambil minum dulu," ujar Sunny pada Alsya sedikit berbisik.
"Ada apa?" Tanya Naka yang juga berdiri di dekat ibu dan anak itu karena melihat Sunny yang berbisik-bisik pada Alsya. Malam ini, mereka bertiga sedang berada di pesta pernikahan Rich dan Ashley.
"Sunny mau minum," jawab Alsya menjelaskan pada Naka.
"Papa ambilkan mau?" Tawar Naka yang kini sudah terang-terangan meminta Sunny memanggil dirinya papa. Lagipula, sudah ada lampu hijau dari Alsya dan keluarga besarnya. Hanya tinggal menunggu dirinya dan Alsya naik ke atas pelamian menyusul Ashley dan Richard yang malam ini terlihat begitu bahagia.
"Sunny ambil sendiri saja, Pa!" Jawab Sunny cepat.
"Papa dan Mama silahkan menikmati pestanya," sambung Sunny lagi sedikit mendorong Alsya agar lebih dekat pada Naka.
"Sunny!" Wajah Alsya langsung bersemu merah dan Sunny malah secara usil mengedipkan satu matanya ke arah Naka, lalu gadis itu berlalu ke meja minuman.
Sunny berjalan riang ke arah meja minuman dan hampit sampai saat tiba-tiba seorang anak lelaki yang mungkin seusia ddnagn Sunny atau lebih tua sedikit berbalik dengan cepat dan menumpahkan minuman di gaun pesta Sunny.
Ya ampun!
"Astaga! Aku minta maaf!" Remaja cowok itu buru-buru minta maaf pada Sunny.
"Kau mengotori bajuku!" Sergah Sunny memasang raut marah pada cowok yang sepertinya seusia dengan Archie tersebut. Apa semua remaja cowok selalu menyebalkan?
"Hendy, ada apa?" Tegur seorang pria dewasa yang sudah menghampiri Sunny dan remaja yang ternyata bernama Hendy tadi.
"Hendy tak sengaja menumpahkan minuman di gaun gadis ini, Bang!" Jawab Hendy seraya meringis dan menunjuk ke arah Sunny yang masih merengut.
"Hai, kau Sunny, kan? Anaknya Papa Naka?" Tanya pria dewasa itu tiba-tiba yang ternyata kenal pada Sunny. Tapi Sunny tak mengenalnya. Dia siapa?
"Om siapa?" Tanya Sunny penuh selidik.
"Henry! Abangnya anak nakal ini!" Jawab Henry seraya mengacak rambut Hendy.
"Sunny, sudah belum ambil minumnya?" Naka sudah menghampiri Sunny yang tak kunjung kembali dari meja minuman.
"Papa, lihat!" Adu Sunny pada Naka seraya menunjukkan gaunnya yang kotor.
"Hendy tak sengaja menumpahkan minuman di gaun Sunny, Bang!" Ujar Henry menjelaskan kronologi pada Naka.
"Aku benar-benar minta maaf, Sunny!" Ucap Hendy seraya mengulurkan tangannya ke arah Sunny yang tetap merengut.
"Sunny, Hendy sudah minta maaf." Naka menasehati Sunny dengan lembut.
"Iya, tidak apa-apa," jawab Sunny akhir sembari menyambut jabat tangan Hendy.
"Gaun Sunny bagaimana, Pa?" Cicit Sunny pada Naka.
"Nanti Papa akan minta maid mengambilkan gaun baru untuk Sunny. Ayo ambil minuman dan ke Mama dulu!" Jawab Naka memberikan solusi sekaligus mengajak Sunny kembali ke tempat Alsya.
"Maaf sekali lagi, Bang!" Ujar Henry sekali lagi.
"Tidak apa-apa! Aku duluan!" Pamit Naka seraya menggandeng Sunny dan berlalu pergi. Henry hanya bisa merangkul sang adik yang menunduk penuh rasa bersalah.
"Sudah! Jangan merengut!" Hibur Henry pada Hendy.
"Hendy kenapa, Hen?" Tanya Elleanore yang tiba-tiba sudah menghampirinya Henry dan Hendy.
"Tadi dia tak sengaja menumpahkan minuman di gaun Sunny," Jelas Henry pada Elleanore.
"Hendy akan duduk di sana saja, Bang!" Pamit Hendy seraya menunjuk ke salah satu kursi di sudut ruangan. Setelah mendapat izin dari sang abang, Hendy segera berlalu pergi.
"Sudah datang dari tadi?" Tanya Elleanore seraya.menggamit lengan Henry. Namun hal itu malah membuat Henry meringis karena lengannya memang masih sakit.
"Ada apa? Lenganmu belum sembuh?" Tanya Elleanore khawatir seraya memeriksa lengan kiri Henry.
"Masih sakit sedikit," jawab Henry tetap meringis.
"Coba aku lihat!" Elleanore memaksa Henry untuk duduk, lalu hendak membuka jas yang dikenakan Henry.
"Tidak usah, El!" Tolak Henry cepat.
"Akan aku periksa! Ini sudah hampir satu pekan, kenapa masih ada perbannya?" Elleanore meraba-raba lengan Henry dengan lembut dan bisa merasakan bebatan perban di lengan pria itu.
"Iya masih lebam. Jadi masih harus diperban!" Jelas Henry pada Elleanore.
"Kau tidak mengompresnya? Tidak minum obat dari dokter? Kenapa lebamnya tidak hilang-hilang?" Cecar Elleanore yang akhirnya memaksa untuk membuka jas Henry, lalu menggulung perlahan lengan kemeja pria itu.
"Aku tak mau merepotkan keluargamu," jawab Henry akhirnya yang langsung membuat Elleanore mendongakkan wajahnya, lalu menatap lekat wajah Henry.
"Kau terluka karena menyelamatkan aku, Hen! Kenapa masih takut merepotkan?" Cecar Elleanore menatap tak percaya pada Henry.
"Itu hanya kebetulan, oke!" Jawab Henry mencari alasan.
"Tetap saja! Kau sudah menyelamatkan nyawaku hari itu," Elleanore menggeser kursinya ke samping Henry, lalu menyandarkan kepalanya ke pundak pria itu.
"Sejak dulu kau adalah temanku yang terbaik, Hen!" Ujar Elleanore lagi tetap bersandar di pundak Henry.
"Tidak usah berlebihan!" Henry mengulas senyum tipis dan tangannya mengusap-usap kepala Elleanore.
"Kenyataannya begitu. Kau juga belum punya pacar hingga sekarang. Apa kau sedang menunggu seseorang?" Tanya Elleanore tiba-tiba yang langkah membuat Henry tertawa kecil.
"Menunggumu maksudnya?" Tanya Henry masih tertawa kecil.
"Mungkin saja! Aku percaya diri sekali, ya?" Elleanore ikut tertawa.
"Kita berteman saja seperti selama ini, El! Aku suka menjadi teman dan sahabatmu," ujar Henry akhirnya yang sudah berhenti tertawa.
"Kau tidak ingin kita menjalin hubungan lebih?" Pertanyaan Elleanor langsung membuat raut wajah Henry berubah, sebelum kemudian pria itu menggeleng dengan cepat.
"Tapi aku nyaman di dekatmu dan saat bersamamu, Hen!" Ucap Elleanore blak-blakan yang sudah kembali menyandarkan kepalanya di pundak Henry.
"Kau selalu bisa melindungiku-"
"Aku akan terus melindungimu selagi aku bisa, El!" Sela Henry memotong kalimat Elleanore.
"Tapi seperti kataku di awal, agar kita berteman saja dan tak perlu menjalin hubungan lebih-"
"Kau tidak mau jadi pacarku?" Tanya Elleanore tiba-tiba yang raut wajahnya sudah berubah merengut.
Henry hanya diam dan merasa bingung harus menjawab pertanyaan Elleanore bagaimana. Henry juga sebenarnya ingin menjalin sebuah hubungan, merasakan jatuh cinta, menikah, lalu membangun sebuah keluarga. Tapi semua hal itu rasanya mustahil untuk Henry yang kini hidupnya berada di dunia abu-abu.
Henry hanya akan menyakiti Elleanore jika ia menjalin hubungan bersama Elleanore sekarang.
"Kau pantas mendapatkan yang lebih baik, El!" Jawab Henry akhirnya seraya mengusap wajah Elleanore, lalu pria itu bangkit berdiri dan berlalu pergi dari samping Elleanore.
Sepasang mata yang sejak tadi melihat kedekatan Elleanore dan Henry langsung menghela nafas kasar. Pria itu menyambar segelas minuman yang dibawa seorang pelayan yang kebetulan melintas di depannya. Minuman di dalam.gelas langsung tandas tak bersisa setelah diteguk kasar oleh pria yang wajahnya sedikit frustasi tersebut.
"Edward, kau sendirian?" Sapaan dari Tuan Bowles membuat pria frustasi tadi tersentak kaget.
"Tuan Bowles! Anda datang juga!" Balas Edward yang langsung mengulas senyum.
"Iya. Aku menemani Tiff." Tuan Bowles menunjuk ke arah seorang gadis yang duduk di atas kursi roda dan wajahnya terlihat ketus.
"Kau sendiri, datang bersama siapa?" Tuan Bowles ganti bertanya pada Edward.
"Sendirian," Jawab Edward tersenyum kecut.
"Tidak punya pacar?" Tanya Tuan Bowles lagi sedikit berkelakar. Edward hanya tertawa kecil dan enggan menjawab pertanyaan yang terakhir.
Namun tawa serta keakraban di antara Edward dan Tuan Bowles nyatanya malah membuat seseorang yang melihatnya diselimuti api cemburu.
Magika Dechio Alexander mengepalkan erat tangannya, saat melihat keakraban Tuan Bowles dan Edward. Api cemburu berkobar hebat di dada mantan tuan model tersebut.
Jadi itu alasan Tuan Bowles menyuruh Gika belajar bisnis sebelum serius pada Tiffany? Opa Tiffany itu rupanya sudah punya kandidat calon suami untuk Tiffany yaitu Edward Anthony, asisten abang Richard yang masih belum dipecat padahal sudah hampir membuatnya Elleanore celaka.
"Tidak akan aku biarkan! Awas kau, Edward!"
.
.
.
Mbuhlah!
BTW yang kangen keluarga Halley terutama si Liam somplak bisa melipir ke sebelah.
Ini cerita tentang Robert (asisten Liam Halley) dan Sita (sahabatnya Teresa). Baru 5 eps. Silahkan dimasukkan rak dulu. Sekian terima gaji!