
Ashley sedang menggigit roti selai stroberinya di dalam mobil Richard, saat ponsel gadis itu kembali berdering. Ada nama Tiffany di layar ponsel Ashley.
Tumben, nona muda yang galak itu menelepon Ashley.
"Halo, Tiff!" Sapa Ashley masih dengan mulut penuh roti.
Richard yang duduk di belakang kemudi menoleh sejenak pada Ashley, lalu menyodorkan tisu seraya menunjuk ke sudut bibir Ashley karena selai dari roti sedikit belepotan di ujung bibir Ashley.
"Kau kemana semalam?" Tanya Tiffany dengan nada galak.
"Tidur!" Jawab Ashley seraya menyeka selai stroberi yang belepotan di bibirnya.
"Tidur bersama Richard? Sampai aku telepon berulang kali dan tidak kau angkat!" Cecar Tiffany yang malah ganti mengomeli Ashley.
"Tidur sendiri! Rich ya tidur di kamarnya!" Jawab Ashley sebelum kemudian terdengar deheman dari Richard. Sepertinya Ashley bicara terlalu keras.
"Maaf!" Ringis Ashley pada Richard sebelum lanjut bicara pada Tiffany di seberang telepon.
"Lagipula, ada apa meneleponku malam-malam? Kau kan punya banyak maid sekarang."
"Henry katanya pingsan dan masuk rumah sakit. Kau tahu dia sakit apa?"
"Apa?" Ashley langsung batuk-batuk karena tersedak roti selainya akibat mendengar Tiffany yang menyebut Henry pingsan dan masuk rumah sakit.
"Pelan-pelan makannya," ujar Richard yang satu tangannya sudah mengusap-usap punggung Ashley.
"Rich, memang benar Henry masuk rumah sakit?" Tanya Ashley pada Richard untuk memastikan.
"Kata Mom begitu. Tadi malam Henry pingsan di rooftop saat sedang bersama Elleanore." Jawab Richard yang pandangannya masih fokus ke jalan di depan.
"Ash!"
"Iya!" jawab Ashley cepat.
"Kau sedang bicara pada siapa?"
"Pada Richard! Aku baru mau ke kampus diantar Richard. Jadi Henry sakit apa?" Ashley balik bertanya pada Tiffany.
"Iya aku tadi tanya padamu, Henry sakit apa? Kenapa kau malah balik bertanya kepadaku?"
"Aku tidak tahu!"
"Aku langsung ke apartemen Richard semalam setelah acara. Coba kau tanya saja pada Gika! Akan kukirim nomornya kepadamu!" Pungkas Ashley seraya menutup telepon karena mobil Richard juga sudah masuk ke kawasan kampusnya.
Ashley mengirimkan nomor kontak Gika ke ponsel Tiffany dengan cepat sebelum gadis itu menyimpan kembali ponselnya.
"Terima kasih sudah mengantarku, Rich!" Ucap Ashley seraya mengulas senyum pada Richard yang hanya mengangguk samar.
Ashley sudah membuka pintu mobil dan bersiap keluar, saat Richard memanggilnya kembali.
"Ash!"
"Iya?" Ashley menoleh pada Richard.
"Nanti pulang jam berapa?" Tanya Richard.
"Belum tahu! Tapi nanti aku naik taksi saja. Aku sudah hafal alamat apartemenmu." Jawab Ashley bersungguh-sungguh.
Richard mengeluarkan sesuatu dari dompetnya.
"Uangku masih ada, Rich!" Sergah Ashley cepat yang mengira Richard akan memberinya uang untuk naik taksi.
"Kartu akses apartemen," Ujar Richard seraya mengangsurkan sebuah kartu pada Ashley yang langsung membuat gadis itu tertawa malu karena sudah salah sangka.
"Kulkas di apartemen juga masih kosong karena aku belum sempat mengisinya. Nanti kau pesan makanan saja kalau lapar," ujar Richard lagi yang hanya membuat Ashley mengangguk.
"Aku boleh belanja dan mengisinya?" Tanya Ashley meminta izin.
"Ya! Tentu saja boleh! Anggap saja apartemenmu sendiri dan tak perlu sungkan," jawab Richard seraya mengulas senyum.
"Baiklah! Aku masuk dulu!"
****
Tiffany menatap pada deretan nomor yang baru saja dikirim.oleh Ashley ke ponselnya. Itu adalah nomor Gika De Chio menyebalkan!
Haruskah Tiffany menelepon demi mengetahui kabar tentang Henry?
Tapi Tiffany benar-benar penasaran setengah mati dan pengawal Opa yang tak berguna itu tak bisa mencari info tentang sakitnya Henry sekarang. Jadi satu-satunya jalan, Tiffany harus menelepon Gika sekarang demi tahu keadaan Henry.
Kenapa juga Ashley tak mengirimkan nomor Elleanore saja atau nomor Mom Fe? Kenapa harus nomor Gika De Chio?
Tiffany mencoba menghubungi Ashley sekali lagi, namun ponsel hadis itu malah mati sekarang.
"Pasti lupa dicharger! Dasar Ashley!" Gerutu Tiffany sebal.
"Tiff! Kau sudah siap-siap? Kita akan pulang pagi ini," ujar Opa Bowles yang sudah masuk ke dalam kamar Tiffany.
Saat ini Tiffany dan Opa Bowles memang masih berada di hotel dan baru akan pulang ke rumah Opa Bowles yang berada di kota Z pagi ini.
Tiffany masih diam dan bingung harus menjawab pertanyaan Opa Bowles bagaimana.
"Ada apa? Kenapa wajahmu terlihat cemas?" Tanya Opa Bowles penuh selidik.
"Tiff boleh pulang belakangan, Opa? Tiff mau ke rumah sakit dulu," Tiffany menyibak selimut yang menutupi kakinya, lalu gadis itu bangun dan berjalan terpincang menuju ke kamar mandi.
"Pakai tongkatmu, Tiff!" Perintah Opa Bowles seraya berdecak karena Tiffany yang selalu keras kepala.
"Kaki Tiff sudah membaik dan tidak sakit!" Jawab Tiffany seperti tebakan Opa Bowles tadi. Keras kepala!
"Tiffany mau ke rumah sakit dulu," ujar Tiffany lagi.
"Siapa yang sakit?" Tanya Opa Bowles penuh selidik.
"Henry! Kata Ashley, Henry pingsan semalam setelah acara pernikahan. Tiffany hanya ingin memastikan kalau Henry sudah baik-baik saja sekarang," ujar Tiffany panjang lebar.
"Kau menjalin hubungan dengan Henry? Kenapa kau sepertinya peduli sekali?" Tanya Opa Bowles lagi penuh selidik.
"Sama sekali tidak!" Kilah Tiffany cepat.
"Tiff hanya ingin tahu Henry sakit apa dan kenapa bisa sampai pingsan."
"Sekalian Tiffany mau bertanya pada pria itu kenapa dulu ia malah mengantar Stefy pulang ke rumah, saat Stefy sudah kabur dari rumah dan dari perjodohan yang Opa rencanakan."
"Pasti ada alasan dari semua itu!" Tukas Tiffany panjang lebar yang sebenarnya sudah lama ingin mencecar Henry.
"Mungkin karena dia pria pengecut yang tak berani memperjuangkan hubungannya dengan Stefy," Opa Bowles berucap sinis.
"Ayo pulang dan tak perlu lagi mengurusinya!" Ajak Opa Bowles selanjutnya dengan nada bicara yang terdengar tegas.
"Tidak! Tiff mau ke rumah sakit dulu untuk menjenguknya!"
"Opa pulang saja sendiri kalau mau pulang sekarang! Tiffany bukan anak kecil yang harus Opa awasi setiap saat!" Sergah Tiffany yang benar-benar keras kepala.
Tiffany kembali meraih ponselnya dan menelepon anak buah Opa Bowles yang masih menguntit Gika.
"Halo, Nona!"
"Jemput aku ke hotel, lalu antar aku ke rumah sakit tempat Henry dirawat! Sekarang!" Perintah Tiffany tegas seraya menutup telepon kembali.
"Tiffany, kau benar-benar keras kepala!" Opa Bowles berdecak tak percaya dan Tiffany hanya acuh. Gadis itu kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk bersiap-siap, mengabaikan tatapan marah dari Opa Bowles.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.