
"Om Naka!" Seru Sunny yang baru kembali dari pantai, saat masuk ke dalam resort dan melohat Naka yang sedang mengobrol dengan karyawan resort.
"Hai, Sunny!" Balas Naka yang langsung memeluk Sunny. Naka juga melihat sekilas ke arah Alsya yang mengekor di belakang Sunny. Wanita itu mengulas senyum tipis.
"Om sedang apa di sini?" Tanya Sunny selanjutnya pada Naka.
"Sedang ada urusan. Kebetulan ada hal yang harus Om urus."
"Iya, begitu," jelas Naka seraya mengusap puncak kepala Sunny.
"Sedang ada urusan?" Sapa Alsya yang sudah menghampiri Naka dan Sunny.
"Ya! Kebetulan sekali, ya?" Jawab Naka sedikit berakting. Biasanya Gika yang pandai melakukan hal ini. Apa Naka sudah ketularan sekarang?
"Bagaimana liburanmu bersama Sunny?" Gantian Naka yang bertanya sekaligus berbasa-basi.
"Luar biasa! Sunny sampai gosong karena terus-terusan ke pantai," jawab Alsya sedikit terkekeh.
"Mama!" Sunny langsung mencebik saat diledek gosong oleh sang mama.
"Iya, enggak! Sunny makin cantik dan kulitnya eksotis!" Hibur Alsya menggombali sang putri.
Jika biasanya yang menggombal itu seorang pacar, kenapa ini jadi seorang mama pada putrinya?
"Sekarang jam berapa, Om?" Tanya Sunny selanjutnya pada Nak. Gadis itu juga sidah meraih tangan Naka dan hendak melihat sendiri jam di arloji Naka.
"Jam empat sore."
"Sunny janjian dengan seseorang?" Tanya Naka menyelidik.
"Ya! Mau telepon Opa!" Jawab Sunny seraya berlari ke arah kamarnya.
"Sunny! Jangan lari-lari!" Seru Alsya memperingatkan sang putri.
"Aku duluan, Naka!" Pamit Alsya ala kadarnya ke Nak yang hanya melambaikan tangan dan tersenyum ke arah ibu satu anak itu.
****
"Makananku sudah datang?" Tanya Gika yang baru selesai berpose di depan kamera.
"Belum, mungkin sebentar lagi," jawab Henry yang masih sibuk mengutak-atik ponselnya.
"Kau tidak ada jadwal kuliah?" Tanya Gika lagi.
"Tidak ada! Hari ini aku libur dan besok baru ada kelas malam," jawab Henry lagi bersamaan dengan seorang kurir makanan yang datang menghampiri mereka.
"Henry?" Tanya kurir itu seraya merapatkan topi yang menutupi kepalanya. Suaranya adalah suara perempuan. Mungkinkah kurir ini adalah seorang perempuan?
"Ya! Mana pesananku?" Jawab Henry dan kurir tadi langsung memberikan bungkusan di tangannya pada Henry.
Lalu setelahnya si kurir berbalik dan malah tak sengaja menubruk seseorang di belakangnya.
"Sial!" Umpat kurir tadi yang topinya sempat terlepas. Rambut hitam panjangnya langsung terburai dan menarik perhatian Gika serta Henry.
"Maaf, Mas!"
"Eh, Mbak!" Ucap seorang crew yang menabrak si kurir.
"Jalan lihat-lihat, makanya!" Omel kurir perempuan itu galak seraya meraih topinya saat Henry dan Gika lanhsung mengenali dia siapa dan menyebut namanya secara serempak.
"Tiff?"
Dobel sialan!
"Sedang apa kau disini, Nona macan?"
"Rrrooooarrr!" Gika meledek Tiffany seraya tergelak.
"Sedang cari uang! Apa kau tak lihat?" Jawab Tiffany bersungut pada Gika yang sedang melahap makanannya.
"Rrrooooarrr!" Gika meledek Tiffany sekali lagi.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Henry yang hendak memeriksa Tiffany, namun disentak oleh gadis itu. Tiffany juga mendelik galak ke arah Henry.
"Henry! Minumku mana?" Tanya Gika yang sepertinya kepedasan.
"Ini!" Jawab Henry yang langsung menyodorkan satu botol minuman ke arah Gika. Sementara Tiffany sudah berlalu pergi dari tempat itu tanpa pamit tanpa basa-basi.
"Coba kamu cek! Gadis macan tadi naik motor pink-nya atau tidak?" Perintah Gika pada Henry.
"Harus?" Tanya Henry dengan ekspresi wajah mengesalkan.
"Iyalah! Masih saja bertanya!" Sungut Gika yang malah bangkit berdiri dan meninggalkan makananya. Gika yang penasaran, segera menuju ke pintu keluar dan masih melihat sekilas, Tiffany yang tadi mengenakan topi dan jaket hitam, naik motor skuter matic pink yang dibelikan Gika.
Cih!
Kemarin saja sok-sokan menolak!
Akhirnya dipakai juga!
Cibir Gika dalam hati.
"Jadi, dia naik motor apa?" Tanya Henry kepo yang membuat Gika kaget.
"Sialan! Membuatku kaget saja!" Omel Gika pada asistennya tersebut.
"Dia naik motor pink dan sebentar lagi akan jadi pinkywati!" Ujar Gika lagi yang langsung membuat Henry tertawa kecil.
"Queen?" Gika mengernyit bingung.
"Elleanore. Sorry!" Henry mengoreksi laporannya. Gika tak berucap apapun dan langsung balik menelepon Elleanore.
"Halo! Ada apa?" Tanya Gika to the point setelah telepon diangkat.
"Pulang sekarang! Abang Richard membawa calon tunangannya ke rumah!"
"Perempuan atau laki-laki? Jangan-jangan Abang Edward yang dibawa." Gika sedikit berkelakar.
"Sembarangan! Perempuanlah! Belum sampai di rumah, sih! El juga penasaran dengan wajahnya."
"Yaudah! Kamu foto saja dan kamu kirimkan ke aku. Nanti kalau cantik akan aku rebut dan aku jadikan pacar," ujar Gika lagi berkelakar.
"Dasar sinting! Cepat pulang! Mom sudah mengomel!"
"Aku masih sibuk!" Pungkas Gika yang langsung menutup sepihak telepon Elleanore.
Hahaha!
Pasti langsung mencak-mencak si Queen di keluarga Alexander itu!
****
Ashley mengeluarkan kaca dari tasnya dan kembali memeriksa riasannya sebelum turun dari mobil Richard. Sedangkan Richard sudah turun duluan dan segera membukakan pintu mobil untuk Ashley.
"Udah sampai?" Ashley berbasa-basi sebelum turun dari mobil dan mengulas senyuman. Tapi sekali lagi, Richard hanya diam dan tak tersenyum sedikitpun serta tak berucap apapun.
Ya ampun!
Tidak bisakah kanebo kering ini Ashley celupin ke air agar sedikit lemes?
Ashley mengedarkan pandangannya ke rumah Richard yang besar bak istana. Kerajaan bisnis Tuan Alexander memang sudah terkenal dimana-mana. Sangat wajar jika rumahnya juga besar dan mewah begini. Tapi semoga Tuan dan Nyonya Alexander tidak langsung menendang Ashley setelah ini.
"Eheem!" Richard berdehem pada Ashley yang masih sibuk melihat kesana kemari.
"Sedang mencari arah pintu keluar kalau nanti tiba-tiba diusir oleh orang tuamu," cengir Ashley yang hanya ditanggapi datar oleh Richard.
Ck!
Pantas saja nggak punya pacar!
Sikapnya seperti itu ternyata!
Richard menghentikan sejenak langkahnya saat mereka tiba di depan pintu utama. Pria itu mengulurkan lengannya ke arah Ashley.
"Apa?" Tanya Ashley bingung dan Rich malah langsung meraih tangan Ashley lalu menggenggamnya masih tanpa berucap apapun.
"Yaelah! Tinggal bilang, 'ayo gandengan!'" Gerutu Ashley mencibir-cibir pada Richard.
Richard dan Ashley baru masuk ke dalam istana Alexander, saat seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik menyapa mereka berdua dengan hangat.
"Rich! Sudah pulang?"
"Iya, Mom!" Jawab Richard seraya memeluk Mom Fe sekilas.
"Ini?" Mom Fe ganti menunjuk ke arah Ashley yang tangannya masih digenggam oleh Richard.
Bisa Ashley rasakan tangan Richard yang terasa dingin. Sepertinya sedang grogi.
Ashley baru tahu kalau Tuan gunung es ini bisa grogi juga!
"Ini Ashley! Pacar Rich!" Jawab Richard mengenalkan Ashley ke Mom Feli. Tadinya Ashley hendak menyalami Mom kandung Richard tersebut, tapi malah Mom Fe langsung memeluk Ashley dengan hangat dan erat. Hati Ashley sejenak membeku karena selama dua puluh satu tahun dirinya tak pernah merasakan hangatnya pelukan seorang ibu seperti ini.
"Cantik!" Puji Mom Fe yang sudah ganti mengusap wajah Ashley dan sedikit merapikan tambut gadis itu.
Ashley benar-benar bukan gadis cengeng. Tapi tidak tahu kenapa, tindakan sederhana Mom Fe ini malah membuat mata Ashley memanas dan Ashley ingin menangis sekarang.
"Ada apa, Ash? Kenapa kau menangis?" Tanya Mom Fe seraya menyeka butir bening di pelupuk mata Ashley.
"Tidak apa-apa, Mom-"
"Eh, maksud Ashley Aunty," Ashley menjawab dengan sedikit tergagap.
"Panggil Mom juga tidak apa-apa!" Ujar Mom Fe cepat.
"Mom juga cantik," Ashley balik memuji Mom Fe dan memaksa untuk mengulas senyum.
"Ayo masuk!" Ajak Mom Fe seraya merangkul Ashley dan membawa gadis itu masuk ke rumah. Sementara Richard memilih untuk mengekori dua wanita tersebut.
"Calon tunangan Abang Richard sudah datang!" Elleanore yang tadi duduk di ruang tengah bersama Dad Dean langsung berseru riang dan menghampiri Ashley. Namun sejenak gadis itu langsung diam saat melihat wajah Ashley yang tidak asing.
"Bukannya kamu Ashley?" Tanya Elleanore memastikan. Ashley hanya meringis sekaligus mengangguk samar.
"Kalian sudah saling kenal?"
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.