Queen Of Alexander'S

Queen Of Alexander'S
KENAPA?



"Bagaimana?" Tanya Elleanore pada salah satu temannya yang tadi mengantar Edward ke rumah sakit untuk memastikan apa kaki pria itu patah atau tidak.


"Tidak ada yang patah. Hanya memat karena tertimpa kayu tadi dan akan sembuh empat sampai tujuh hari ke depan," terang teman Elleanore yang langsung membuat Elleanore bernafas lega.


Sedangkan Edward sudah duduk, karena rasa nyeri di kakinya, membuat Edward tak bisa berdiri lama.


"Aku pergi dulu, El! Masih ada beberapa orang yang perlu aku bawa ke rumah sakit," pamit teman Elleanore selanjutnya.


"Baiklah! Terima kasih sekali lagi," ucap Elleanore sebelum kemudian gadis itu ikut duduk di samping Edward.


"Kau bawa ponsel atau alat komunikasi lain?" Tanya Elleanore pada Edward yang langsung mengernyit.


"Mau menelepon siapa? Kau sudah mau pulang?" Cecar Edward yang terlihat bersemangat.


"Kau yang akan pulang. Aku masih harus disini," jawab Elleanore yang langsung membuat Edward tak jadi bersemangat.


"Aku tidak apa-apa, El! Aku masih ingin disini!" Sergah Edward tegas dan keras kepala.


"Tapi kakimu terluka, Ed!" Elleanore masih bersikeras.


"Hanya memar dan aku bukan pria lemah!" Jawab Edward tegas.


"Besok juga pasti sembuh!"


"Aku hanya perlu mengompresnya," tukas Edward panjang lebar seraya meraih handuk kecil yang tadi dipakai Elleanore untuk mengompres kakinya sebelum ke rumah sakit. Edward terlihat kesulitan, jadi Elleanore sigap membantu meskipun gadis itu sedikit berdecak karena Edward yang keras kepala sekali.


"Dasar keras kepala!" Gumam Elleanore seraya mengompres kaki Edward yang memar.


Edward tak menyahut dan hanya menatap lekat pada Elleanore.


"Kau tak lagi memanggilku abang sekarang, El?" Tanya Edward yang akhirnya buka suara setelah ia dan Elleanore sama-sama membisu untuk beberapa saat.


"Kau bukan abangku," jawab Elleanore.


"Kau masih marah dan kesal padaku perihal kejadian di GOR itu, kan?" Tebak Edward yang langsung membuat Elleanore membuang nafas dengan kasar.


"Aku sudah melupakannya, jadi tak perlu membahasnya lagi!" Ucap Elleanore tegas.


"Tapi sikapmu berbeda sekarang," keluh Edward yang langsung membuat kedua alis Elleanore saling tertaut.


"Berbeda bagaimana? Aku tetap Elleanore yang sama." Sergah Elleanore menyanggah tuduhan Edward.


"Kau tak lagi mengejarku dan bawel saat bertemu denganku!" Ujar Edward yang akhirnya berani blak-blakan pada Elleanore.


"Bukankah kau tak suka aku kejar dan aku ganggu?" Elleanore tertawa sinis dan hati Edward seketika tersentil.


"Apa tidak ada kesempatan lagi untukku, El?" Tanya Edward tiba-tiba yang langsung membuat Elleanore menatap tak paham pada pria tersebut.


"Kesempatan apa maksudnya? Maaf, aku bingung." Elleanore balik bertanya namun suara gadis itu hanya lirih.


"Kesempatan untuk menjadi kekasihmu atau mungkin suamimu," Edward mengendikkan kedua bahunya danbsuara pria itu memelan di akhir kalimat.


Elleanore sukses membelalakkan mata dan merasa tak oercaya dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Edward. Apa pria ini sedang mabuk?


"Aku dan Henry tak pernah berpacaran!" Sergah Elleanore memotong kalimat Edward.


"Tapi kalian..." Edward ganti menatap bingung ke arah Elleanore.


"Kami sahabat sejak dulu. Dan Henry juga tak pernah mencintaiku," Elleanore tersenyum kecut mengingat Henry yang tak pernah sekalipun mengucapkan kalimat cinta pada Elleanore. Padahal kebaikan serta sikap manis pria itu selalu sukses membuat Elleanore menjadi baper dan berharap banyak.


"Henry hanya mencintai seorang gadis sepanjang hidupnya dan itu bukan aku," curhat Elleanore lagi.


"Mustahil!" Edward bergumam tak percaya.


"Henry hanya mencintai Stefy sejak dulu hingga akhir hayatnya. Mereka berdua memang tak pernah bersatu di dunia ini. Tapj mereka bersatu di dalam keabadian," Elleanore menyeka kasar airmatanya yang mendadak jatuh.


"Maaf," ucap Edward yang tangannya sudah terulur untuk menghapus sisa airmata Elleanore.


"Kenapa minta maaf?" Tanya Elleanore bingung.


"Karena aku sudah membuatmu menangis." Jawab Edward.


"Bukan salahmu," tukas Elleanore lirih, sebelum kemudian Elleanore dan Edward kembali sama-sama diam.


"Ngomong-ngomong, terima kasih karena sudah menyelamatkan aku dari reruntuhan rumah Zizi," ucap Elleanore yang akhirnya buka suara.


"Sama-sama!


"Sudah kewajibanku untuk selalu menjagamu," jawab Edward yang malah membuat Elleanore bingung.


"Maksudnya menjagaku?"


"Aku ingin selalu menjagamu mulai detik ini dan seterusnya, El!"


"Kau bukan bodyguard-ku!" Sergah Elleanore sedikit emosi.


"Aku boleh menjadi bodyguard-mu mulai sekarang kalau begitu?" Edward balik bertanya pada Elleanore yang terlihat semakin bingung.


"Bodyguard apa maksudnya?"


"Bodyguard hati dan bodyguard seumur hidup."


.


.


.


Gombal mu Edward!


🤣🤣


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.