Queen Of Alexander'S

Queen Of Alexander'S
MUSTAHIL!



Gika turun dari tangga seraya bersiul saat pria itu mendapati Naka yang sedang tersenyum sendiri seraya melihat ponselnya. Naka terlihat sudah rapi dan sepertinya hendak pergi.


Sementara anggota keluarga Alexander yang lain masih belum nampak batang hidungnya.


Entahlah!


Mungkin Mom dan Dad sedang honeymoon dan membuat adik untuk Elleanore. Lalu Elleanore sedang sibuk mengejar-ngejar Edward kanebo kering dan Abang Richard sedang sibuk membeli penyumpal telinga karena pacarnya yang bawel serta lebay luar biasa.


Gika berjalan mengendap-endap dan mendadak merasa penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Naka. Sepertinya saudara kembar Gika itu masih belum menyadari kehadiran Gika di ruangan tersebut. Gika mengintip dari balik punggung Naka, sesuatu yang tertampil di layar ponsel Naka.


Mungkin video porno atau video wanita yang memakai baju kurang bahan.


"Hai, Ma! Om Naka membuatkan Sunny kalung dari kerang! Bagus, ya?" Suara seorang gadis kecil yang Gika taksir berusia sepuluh tahunan terdengar dari ponsel Naka bersamaan dengan video gadis itu yang sedang memegang kalung dari rumah-rumah kerang.


"Bagus!"


"Mama tidak dibuatkan?" Yang ini suara wanita dewasa, yang tak terlihat wajahnya. Sepertinya yang sedang memegang kamera untuk merekam.


Ck!


Gika penasaran padahal!


"Mama dibuatkan kalung dan mahkota sama Om Naka!" Kamera sedikit bergoyang, lalu berubah hitam. Namun tak lama gambar kembali muncul dan yang tampak di layar adalah Naka bersama seorang wanita. Seperti yang memegangi kamera ganti bocah tadi karena bocah tadi sudah menghilang dari layar.


"Pakai, Ma!"


Nah, itu suara gadis kecil tadi tanpa ada wujudnya.


"Ckckck! Sweet sekali pakein kalung kerang ke seorang...." celetukan Gika langsung membuat Naka mematikan layar ponselnya. Gika yang masih berdiri di belakang Naka sontak tertawa seolah baru saja mengetahui sebuah rahasia.


"Jadi, itu customermu yang kemarin kamu jemput, Papa Naka?" Ledek Gika sebelum pria itu kembali tertawa terbahak-bahak.


"Diam!" Gertak Naka galak. Namun bukannya diam, Gika malah mengeraskan tawanya.


"Tunggu, tunggu! Aku ingat gadis kecil tadi."


"Ada lagunya." Gika berdehem dan sepertinya akan menyanyi sebentar lagi.


"Sunny, Sunny! Apa kabarmu, kabar Papa Naka baik-baik saja-"


Plak!


Naka yang kesal sontak mengeplak punggung Gika. Namun sekali lagi, saudara kembar Naka itu bukannya berhenti meledek tapi malah tertawa semakin kencang.


Dasar menyebalkan!


"Sunny, Sunny!" Gika terus saja menyanyi dan meledek Naka.


"Mamanya Sunny, Mamanya Sunny!"


"Dasar sinting!" Maki Naka kesal seraya bangkit dari duduknya dan meninggalkan Gika yang masih menyanyi sendiri seperti orang sinting. Tapi kembaran Naka itu memang sinting sepertinya.


"Aku akan lapor ke Mom, Papa Naka!" Ancam Gika berseru pada Naka yang sudah keluar menuju teras. Tak ada jawaban dari Naka.


"Kau mau menemui Sunny dan mamanya Sunny?" Tebak Gika lagi yang sudah menyusul Naka ke teras.


"Mau ke rumah sakit, melihat Tiff!" Jawab Naka seraya membuka pintu mobilnya.


"Sudah punya mamanya Sunny, kenapa masih mengurusi gadis macan rrrooaaar itu?"


"Kau mau ikut berubah jadi macan juga? Rroooar! Rrrrooooaaar!" Gika mengaum lebay pada Naka yang sudah duduk di belakang kemudi.


"Aku hanya ingin menunjukkan rasa tanggung jawab karena sudah menabraknya! Hanya karena aku menjenguk seorang gadis ke rumah sakit, bukan berarti aku menyukainya!" Sergah Naka dengan nada bicara yang sudah naik tujuh oktaf.


"Bukannya yang menabrakkan dirinya ke mobilmu adalah gadis macan itu? Jadi tak perlulah kau sampai mengurusinya begini! Dia juga ketus dan menyebalkan begitu!" Pendapat Gika seraya bersungut-sungut.


"Kau sepertinya benci sekali dengan Tiff si gadis macan-"


"Rrrrooooaaar!" Auman Gika memotong kalimat Naka.


"Jangan sampai ke depannya kau yang akan jadi pawang macan untuk Tiff," ledek Naka seraya terkekeh.


"Apa maksudnya pawang macan? Aku jatuh cinta, lalu mengejar gadis macan itu seperti orang gila, dan melakukan ìsemua hal demi dia?"


"Mustahil! Mustahil!"


"Rrrrooooaaar!"Cerocos Gika yang benar-benar terlihat seperti orang kesetanan. Dasar Gika!


"Aku yang akan tertawa paling pertama jika itu benar terjadi!" Naka menuding pada Gika masih sambil menahan tawanya.


"Mustahil!" Gika balik menuding pada Naka.


"Baiklah, terserah!"


"Kau mau ikut ke rumah sakit?" Tawar Naka sebelum berangkat.


"Tidak!" Jawab Gika galak.


"Aku ada urusan dan sudah terlambat!" Lanjut Gika seraya bersungut-sungut dan menuju ke mobilnya.


****


"Tuan Bowles, Nona Tiffany sepertinya hendak kabur dari rumah. Dia membawa ransel dan pergi mengendap-endap."


"Ikuti diam-diam dan jaga dari kejauhan! Segera kabari dia pergi kemana!" Titah Tuqn Bowles pada anak buahnya.


"Baik, Tuan Bowles!"


Tiffany memang jadi pendiam dan tak mau bicara pada Tuan Bowles lagi setelah kasus bunuh diri yang dilakukan Stefy. Padahal Tuan Bowles juga merasakan kesedihan yang sama yang dirasakan oleh Tiffany. Dan saat surat peninggalan Stefy dibacakan, Tiffany sepertinya merasa ketakutan. Stefy memang berpesan pada sang kakek agar memberikan hak waris Stefy pada Tiffany,karena bagi Stefy Tiffany adalah saudarinya meskipun tak ada hubungan darah di antara mereka.


Mungkin Tiffany takut kalau Tuan Bowles akan menjodohkannya juga dengan seirang pria seperti yang sebelumnya Ruan Bowles lakukan pada Stefy. Jadilah sekarang Tiffany pergi dari rumah secara diam-diam.


"Tuan Bowles, Nona Tiffany pergi ke kota X," lapor anak buah Tuan Bowles selanjutnya.


"Arahkan ke panti asuhan Kasih Bunda! Biarkan dia tinggal di sana dan menenangkan diri." Titah Tuan Bowles


"Kami perlu mengawasinya?"


"Tidak usah! Dia akan langsung tahu jika di awasi. Biarkan saja dulu!" Putus Tuan Bowles akhirnya.


Tuan Bowles percaya, Tiffany bisa menjaga diri dan gadis itu tak akan kemana-mana lagi.


Lagipula, sebulan sekali Tuan Bowles memang rutin berkunjung ke panti asuhan tersebut karena ia adalah donatur tetap di sana.


"Opa, sedang apa disini?" Tanya Ashley yang langsung mengenali Tuan Bowles yang tadi membuka pintu. Sementara Tuan Bowles tidak menjawab sapaan Ashley dan malah langsung menghampiri Tiffany yang menatapnya dengan ketus.


"Sudah menenangkan dirinya, Tiff! Ayo pulang bersama Opa!" Ajak Tuan Bowles lembut pada Tiffany.


Lembut tapi tegas.


"Tidak!" Sentak Tiffany galak.


"Tiff tidak mau pulang! Tiff mau disini!" Tiffany masih terus melempar tatapan tajam pada Tuan Bowles.


"Opa tak akan menjodohkan kamu dengan pria manapun!" Bujuk Tuan Bowles lembut.


"Tiff tidak mau pulang! Ada Stefy di rumah itu," raut kemarahan di mata Tiffany sudah berubah menjadi raut sendu sekarang. Tuan Bowles langsung paham kalau ternyata alasan lain Tiffany pergi adalah dia yang selalu ingat pada Stefy saat berada di kediaman Bowles.


Ya, Tuan Bowles juga merasakannya dan benar-benar tersiksa selama hampir satu tahun ini.


Tersiksa atas rasa bersalah serta keegoisannya. Tuan Bowles mendekat ke arah Tiffany dan memeluk gadis itu.


"Maaf atas semua keegoisan Opa, Tiff! Tapi saat ini hanya kau, satu-satunya cucu Opa." Namda bicara Tuan Bowles sudah berubah sendu.


"Pulanglah bersama Opa!" Bujuk Tuan Bowles lagi seraya mengusap punggung Tiffany.


"Setidaknya sampai kakimu pulih. Lalu setelahnya terserah apa kau ingin tetap bersama Opa atau ingin pergi meninggalkan Opa," lanjut Tuan Bowles yang langsung membuat Ashley, Mom Fe, dan El ikut berkaca-kaca.


Ashley menghampiri Tiffany dan menggenggam tangan sahabatnya tersebut. Kini Ashley paham, kenapa Tiffany selalu saja menghindari bertemu Tuan Bowles saat pria tua itu datang ke panti asuhan. Ternyata Tiffany adalah cucu Tuan Bowles.


"Pulanglah, Tiff! Jangan biarkan Opa kamu kesepian," Ashley ikut-ikutan membujuk Tiffany.


"Ashley benar, Tiff! Opa kamu begitu menyayangimu. Jadi pulanglah bersama Opa dan jangan membiarkan beliau kesepian."


"Jika kau merasa marah pada Opa, ingatlah semua kebaikan dan kasih sayang yang sudah diberikan opa kepadamu," Mom Fe ikut-ikutan memberikan nasehat dan membujuk Tiffany dengan lembut.


Benar-benar sosok Mom yang sempurna, dan jauh berbeda dari Gika sombong menyebalkan itu. Tiff mendadak jadi ragu, apa Gika benar-benar anaknya Mom Fe. Jangan-jangan tuan model sombong nan pongah itu hanya anak pungut!


Tiffany menahan tawanya.


"Ada apa? Kenapa kau malah tertawa?" Tanya Ashley heran.


"Tidak ada!" Tiffany kembali menghambur ke pelukan Tuan Bowles.


"Tiff akan pulang bersama Opa, tapi dengan satu syarat, Opa tidaj akan memaksa Tiff untuk menikah dengan pria pilihan Opa," Tiffany mengajukan syarat.


"Iya, Opa janji." Jawab Ruan Bowles bersungguh-sungguh.


"Kau bisa memilih sendiri pria yang kelak akan menjadi pasanganmu," sambung Tuan Bowles lagi.


"Sudah ada, Opa!"Celetuk Elleanore tiba-tiba yang langsung membuat semua orang menoleh ke arah gadis itu.


"Siapa?" Tiffany yang terlebih dahulu buka suara karena ia merasa masih jomblo dan belum berpacaran dengan pria manapun. Apa adik Gika De Chio ini sedang mabuk?


"Abang Gika!" Jawab Elleanore tanpa dosa yang langsung membuat Tiffany melebarkan kedua bola matanya.


Mustahil!


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.