
"Richaaard!!!"
Ashley kehilangan tempat berpijak dan wanita itu merasakan tubuhnya yang melayang dan tertarik ke bawah.
Hingga tangan Ashley yang masih menggapai ke udara, berhasil meraih sebuah akar pohon. Ashley menejamkan kedua matanya dan memegang akar pohon tersebut sekuat tenaga memakai tangannya yang masih terikat.
"Ashley!" Terdengar teriakan Richard dari atas.
"Lepas!" Ashley menendang-nebdang tangan Andrew yang masih memegangi kakinya.
"Kau pikir aku akan melepaskanmu, hah?"
"Kau harus ikut mati bersamaku--"
"Bugh!"
Ashley menendang tepat di wajah Andrew bersamaan dengan akar pohon yang mulai tak kuat menahan beban tubuh Ashley.
"Lepaskan kakiku!" Ashley terus menendang-nendang Andrew dengan membabi buta, hingga pegangan tangan Andrew pada kaki Ashley terlepas.
"Hah!" Ashley memekik saat akar pohon itu semakin tak kuat menahan bebannya.
Ashley akan jatuh!
Ashley akan mati!
"Ashley!" Teriak Richard lagi seraya mengulurkan tangannya dan berusaha meraih tangan Ashley yang masih terikat tali tambang.
"Richard!"
"Rich, tolong aku!" Ashley memejamkan matanya karena takut.
"Bertahanlah sebentar!" Richard sekuat tenaga menggapai Ashley, hingga tepat saat akar pohon tempat Ashley bergelantungan terlepas dari tanah, Rich sudah menggenggam tangan Ashley.
"Richard!" Jerit Ashley yang mengira tubuhnya akan terjun bebas ke dasar jurang.
"Aku memegangmu!" Richard menatap lekat wajah Ashley yang tampak ketakutan dalam gelapnya malam.
"Tolong aku!" Cicit Ashley yang sudah mulai menangis.
"Ashley, dengarkan aku!"
"Aku akan menarikmu ke atas, tapi kau juga harus merangkak naik perlahan!" Richard membimbing Ashley dan berusaha menenangkan istrinya itu.
"Aku takut," Ashley menoleh ke bawah dan hanya ada kegelapan di sana. Kegelapan yang sama yang baru saja menelan Andrew.
"Aku takut, Rich!" Cicit Ashley lagi.
"Jangan melihay ke bawah, oke!" Richard masih berusaha menenangkan Ashley.
"Ashley, jangan melihat ke bawah dan tatap saja wajahku!"
"Aku akan mulai menarikmu!" Richard mulai menarik Ashley yang berkeringat dingin, saat pegangan pria itu nyaris terlepas.
"Rich!" Jerit Ashley semakin ketakutan.
"Aku masih memegangmu!" Richard meyakinkan Ashley dan menatap wajah ketakutan istrinya tersebut.
"Bertahanlah sebentar!" Richard kembali menarik tangan Ashley, bersamaan dengan beberapa poliso di belakang Richard yang juga menarik tubub Richard.
"Tetal tenang! Kau hampir sampai." Richar terus menarik Ashley dan kaki Ashley yang mulai menemukan pijakan, sedikit membantu untuk mulai merangkak naik.
Richard masih terus menarik Ashley hingga akhirnya tubuh istrinya yang sudah berlumuran darah di leher tersebut sampai ke bibir jurang.
"Aku mendapatkanmu!" Richard memegangi pingganga Ashley dan membawanya naik. Tangis Ashley langsung pecah di dalam dekapan Richard.
Bisa Richard rasakan tibuh Ashley yang gemetaran sekarang.
"Kau aman, Sayang!"
"Kau sudah aman sekarang!" Richard mendekap erat tubuh Ashley saat kemudian Richard merasakan tubuh itu jatuh meluruh di dalam pelukannya.
"Ashley!" Panggil Richard bersamaan dengan Ashley yang tiba-tiba pingsan di dalam dekapannya
"Cepat panggil ambulans!"
****
Ashley membuka mata dan langsung mendapati langit-langit ruangan yang berwarna serba putih. Ada botol infus juga tergantung di atas kepala Ashley, lalu terhubung melalui selang dan berakhir di lengan Ashley.
"Kau sudah bangun?" Suara lembut Richard serta usapan tangan dari syami Ashley itu langsung membuat Ashley menolehkan kepalanya ke samping.
"Aku di rumah sakit?" Tanya Ashley menatap pada wajah Richard yang terlihat lelah. Bahkan ada dua kantung mata yang warnanya begitu kontras dengan wajah putih Richard.
Berapa lama pria ini tak tidur?
"Aku benar-benar cemas!" Ucap Richard dengan nada lirih. Pria itu mengecup tangan Ashley berulang kali.
"Berapa lama aku tidur?" Tanya Ashley bingung.
"Hampir dua hari," jawab Richard. Ashley terdiam sesaat sebelum kemudian wanita itu meraba perutnya sendiri.
"Rich, aku-"
"Dia baik-baik saja!" Potong Richard yang sudah ikut mengusap perut Ashley.
"Kau sudah tahu?"
"Kenapa kau tak memberitahuku kalau kau sedang hamil?" Tanya Richard tak mengerti.
"Tapi aku benar-benar tak tahu kalau akhirnya akan seperti ini," Ashley tiba-tiba sudah berurai airmata.
"Ssssttt!" Richard buru-buru menghapus airmata yang mengalir dari kedua pelupuk mata Ashley.
"It's okay!"
"Kau sudah aman disini. Ada banyak pengawal Dad yang menjagamu."
"Kau aman, Sayang!" Richard menciumi tangan Ashley berulang-ulang, lalu pria itu lanjut merebahkan kepalanya di atas perut Ashley.
"Kau belum tidur?" Ashley mengusap kepala Richard. Pria itu tak berhenti menatap pada wajah Ashley yang sedikit memar di beberapa bagian karena tergores akar-akar pohon.
"Aku mencemaskanmu."
"Richard sudah menukarmu dengan sebuah mega proyek!"
"Kau tidak pernah menukarku dengan sebuah mega proyek seperti yang dikatakan Andrew, kan?" Tanya Ashley yang matanya sudah kembali berkaca-kaca.
"Tentu saja tidak!" Richard sudah mengangkat kepalanya dari atas perut Ashley dan ganti menangkup wajah istrinya tersebut.
"Kau istriku, Ash! Dan aku tak akan pernah menukarmu dengan apapun, semiskin apapun aku!" Ucao Richard bersungguh-sungguh dan Ashley langsung mengangguk-angguk.
"Aku mencintaimu."
"Kau percaya padaku, kan?" Tanya Richard menatal penuh kesungguhan ke dalam kedua netra Ashley.
"Aku percaya," jawab Ashley nyaris tanpa suara.
"Aku percaya, Rich!" Ulang Ashley sekali lagi yang segera menghambur ke dalam pelukan Richard.
"Ngomong-ngomong, apa Andrew tewas?" Tanya Ashley yang sudah mulai tenang dan menyeka airmatanya sendiri.
"Andrew masih bernafas saat polisi menemukannya di dasar jurang. Tapi kedua kakinya patah dan ada luka serius di kepalanya."
"Dan sekarang Andrew koma." Jelas Richard pada Ashley yang langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Tapi meskipun begitu, proses hukum untuk Andrew akan tetap berjalan setelah nanti pria itu bangun dari koma. Dad tidak akan mencabut laporannya pada pria gila yang sudah menculik dan menyakiti menantu kesayangannya ini," lanjut Richard lagi seraya menangkup wajah Ashley.
"Menantu kesayangan?" Ashley berdecak tak percaya.
"Bagaimana dengan Tiff dan Kak Alsya?" Tanya Ashley lagi.
"Mereka juga menantu kesayangan Mom dan Dad!" Jawab Richard seraya tertawa kecil.
"Semuanya kesayangan, ya?" Ashley ikut tertawa kecil, sebelum kemudian pandangannya tertumbuk pada Mom Fe yang terlelap di sofa.
"Mom disini sejak kapan?" Tanya Ashley selanjutnya pada Richard.
"Sejak aku membawamu ke rumah sakit. Mom selalu menjagamu disini karena Mom sama khawatirnya denganku," jelas Richard yang langsunh membuat jati Ashley merasa terharu. Mom Fe memang sosok Mom yang sempurna untuk Ashley yang tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu.
"Aku lapar, Rich," ungkap Ashley selanjutnya, setelah Rich sedikit menaikkan bed perawatan di bagian kepala, agar Ashley busa setengah berbaring.
"Mau makan apa? Biar aku pesanankan," Richard sedikit merapikan rambut Ashley yang berantakan.
"Apa, ya? Aku bingung," Ashley tertawa kecil.
"Sekarang jam berapa?" Tanya Ashley seraya melihat jam di arloji Richard.
"Sudah lewat tengah malam," Ashley merengut sedih.
"Masih banyak yang jual makanan. Kau mau apa memangnya?" Tanya Richard lembut.
"Siomay," jawab Ashley akhirnya.
Richard tampak berpikir sebentar sebelum kemudia pria itu bangkit berdiri dan mencium kening Ashley.
"Sebentar," pamit Richard seraya berjalan menuju ke arah pintu kamar perawatan. Tak berselang lama, Richard sudah kembali masuk lagi.
"Mana siomay-nya?" Tanya Ashley yang melihat Richard tak membawa apapun.
"Sedang dibelikan." Jawab Richard seraya kembali duduk di samping bed perawatan Ashley.
"Ngomong-ngomong, selamat ulang tahun!" ucap Ashley dengan wajah yang bersemu merah.
"Aku bahkan lupa dengan hari ulang tahunku, dan kau malah mengingatnya," Richard tertawa kecil dan tangannya sudah kembali mengusap perut Ashley.
"Dan hadiah tahun ini benar-benar luar biasa," ucap Richard lagi.
"Mau hadiah tambahan?" Tawar Ashley yang langsung membuat Richard mengernyit.
"Hadiah apa?"
"Kemarilah!" Ashley menarik kepala Richard dan langsung menyatukan bibirnya dengan bibir Richard. Ashley memberikan pagutan panasnya untuk Richard seolah lupa dengan keberadaan Mom Fe yang sedikit mengintip adegan ciuman antara Ashley dan Richard.
Mom Fe mengulas senyum tipis dan memutuskan untuk kembali tidur saja serta tak mau mengganggu momen romantis antara putra dan menantunya.
Dasar pengantin baru!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.