
Naka tiba di rumah saat jam baru menunjukkan pukul tiga sore. Hanya ada Mom Fe di ruamg tengah yang sedang berkutat dengan tumpukan undangan di depannya. Richard sepertinya belum pulang dan Elleanore mungkin juga sedang kuliah. Sedangkan Gika mungkin masih sibuk menjadi pawang macan dan berpose di depan kamera.
"Mom!" Sapa Naka yang langsung memeluk Mom Fe dari belakang.
"Sudah pulang?" Tanya Mom Fe seraya mengusap lengan sang putra.
"Undangan apa ini?" Tanya Naka seraya mengambil satu undangan, lalu membuka dan membacanya sejenak.
Acara Pertunangan Richard Deano Alexander dan Ashley Umika.
"Jadi akhir pekan ini acaranya?" Tanya Naka lagi seraya mengembalikan undangan yang tadi ia baca. Pria itu juga sudah duduk di samping Mom Fe sekarang.
"Iya, jadi! Lebih cepat lebih baik agar Mom juga bisa segera mengurus pernikahan mereka."
"Kau sendiri bagaimana? Sudah jadi melamar Alsya?" Tanya Mom Fe seraya menepuk lembut pundak Naka.
"Belum jadi. Uncle Juna sepertinya kurang setuju Naka menjalin hubungan dengan Alsya."
"Kata Uncle Juna, Naka terlalu muda untuk Alsya," cerita Naka sengan raut wajah lesu.
"Terlalu muda bagaimana? Memang selisih usia kalian berapa? Bukannya Alsya masih 28 atau 29 tahun?" Cecar Mom Fe merasa bingung.
"Mom tahu darimana Alsya umur 28 tahun? Karangan Elleanore?" Kekeh Naka sebelum kemudian putra Mom Fe itu menghela nafas panjang.
"Memang selisih umur kalian berapa? Mom yakin tak terlalu jauh," tanya Mom Fe lagi yang langsung membuat Naka menghela nafas panjang sekali lagi.
"Sepuluh tahun, Mom!" Jawab Naka akhirnya.
"Itu umur Sunny!" Sergah Mom Fe cepat .
"Iya, itu umur Sunny serta selisih umur Naka dan Alsya."
"Jadi Alsya melahirkan Sunny saat usianya sama dengan usia Naka sekarang," jelas Naka panjang lebar yang sedikit membuat Mom Fe shock.
"Apa perbedaan umur kami harus jadi sebuah jurang pemisah, Mom? Naka benar-benar ingin menjadi papa untuk Sunny serta suami untuk Alsya. Tapi kata Uncle Juna, Naka terlalu muda untuk memahami pedihnya masa lalu Alsya."
"Papi Juna juga mengira Naka hanya main-main pada Alsya dan berniat menyakiti hati putri sulungnya itu," lanjut Naka lagi seolah sedang curhat pada Mom Fe.
"Naka." Mom Fe langsung merangkul putranya tersebut.
"Uncle Juna mengatakan apa yang pernah menimpa Alsya di masa lalu hingga ia begitu protektif pada putrinya?" Tanya Mom Fe setelah Naka sedikit tenang.
"Uncle Juna tak cerita apapun. Naka juga bingung harus bertanya ke siapa. Apa mungkin Uncle Alvin-" Naka tak jadi melanjutkan kalimatnya karena ia ingat pada pesan Uncle Alvin tadi.
"Uncle Alvin siapa?" Tanya Mom Fe yang rupanya mendengar gumama Naka.
"Sahabat sekaligus tetangga Uncle Juna. Beliau titip salam untuk Mom dan Dad. Mom tahu keluarga Sanjaya?" Tanya Naka yang langsung membuat Mom Fe berpikir sejenak. Namun kemudian Mom kandung Naka itu menggeleng dengan yakin
"Mom tidak tahu. Tapi mungkin Dad-mu tahu," Mom Fe bangkit dari duduknya untuk menyambut Dad Dean yang baru pulang.
"Kenapa rangkul-rangkulan dengan Naka? Mau membuatku cemburu?" Cecar Dad Dean seraya mengecup sungkat bibir Mom Fe.
"Dean!" Mom Fe tersipu dan wanita itu memukul dada Dad Dean.
"Sama anak sendiri cemburu juga, Dad?" Tanya Naka sedikit menggoda Dad Dean.
"Tentu saja! Kau bukan lagi Naka dua tahun yang menempel di punggung Mom-mu saat rewel," jawab Dad Dean mengenang saat dulu Mom Fe suka menggendong Naka di punggung, terutama saat anak laki-laki Dean itu rewel dan sakit.
"Sekarang gantian Naka yang akan menggendong Mom!" Celetuk Naka yang langsung membuat Dad Dean berdecak.
"Dad masih kuat menggendong Mom-mu! Jadi tidak usah ganjen!" Gertak Dean pura-pura marah pada Naka.
"Bagaimana kalau dengkulmu copot saat menggendongku?" Bisik Mom Fe yang langsung membuat Dad Dean berdecak sekali lagi.
"Tidak mungkin! Aku tidak selemah itu!" Sergah Dad Dean dengan nada pongah.
"Baiklah terserah!"
"Ngomong-ngomong, kau kenal keluarga Sanjaya?" Tanya Mom Fe selanjutnya pada sang suami.
"Keluarga Sanjaya?" Dada Dean terlihat mengernyit.
"Dad kenal?" Tanya Naka seraya menatap Dad Dean penuh selidik.
"Ya, dia suaminya Ghea Adisti," jawab Dad Dean akhirnya.
"Siapa Ghea Adisti?" Sekarang gantian Mom Fe yang bertanya.
"Dia...." Dad Dean menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Mantan pacar Dad!" Naka akhirnya menyahut karena sang Dad tak kunjung membuat pengakuan. Mom Fe langsung bersiul.
"Aku pikir hanya ada Melanie sebelum aku. Ternyata ada Ghea juga." Nada bicara Mom Fe terdengar meledek.
"Itu hanya masa lalu jauh sebelum aku mengenalmu!"
"Lagipula, aku dulu pacaran dengan Ghea juga tak macam-macam. Hanya jalan bareng, nonton, makan," jelas Dad Dean panjang lebar seolah sedang mencari pembenaran.
"Iya! Aku juga tak menghakimimu!" Mom Fe menepuk punggung Dad Dean dan berlalu untuk menyimpan tas kerja serta jas sang suami.
"Kau bertemu Alvin Sanjaya?" Tanya Dad Dean yang sudah duduk di samping Naka.
"Ya! Uncle Alvin juga titip salam untuk Dad," jawab Naka cepat.
"Bertemu dimana?"
"Di rumah kedua orang tua Alsya. Uncle Alvin adalah tetangga sekaligus sahabat dari Papinya Alsya," jelas Naka.
"Kau jadi melamar Alsya hari ini berarti?" Dad Dean menepuk punggung Naka dengan bangga.
"Belum!" Jawab Naka yang langsung membuat Dean mengernyit.
"Uncle Juna belum memberikan lampu hijau dan masih keberatan jika Naka menjalin hubungan dengan Alsya," lanjut Naka menjelaskan.
"Tapi apa masalahnya? Kau putra Dad dan punya segalanya! Kau tampan,mapan, dewasa,menyayangi Sunny dan Alsya-"
"Selisih umur mereka jauh sekali!" sahut Mom Fe yang sudah kembali bergabung bersama Dad Dean dan Naka.
"Sejauh apa memangnya?" Tanya Dad Dean penasaran.
"Sejauh sepuluh tahun, Dad!" Jawab Naka seraya tersenyum kecut. Dad Dean langsung diam untuk beberapa saat karena sepertinya ikut merasakan kegundahan hati Naka sekarang.
"Cobalah untuk mengorek apa yang sebenarnya terjadi pada masa lalu Alsya agar kau bisa mengambil langkah untuk mendapatkan restu dari Uncle Juna, Naka!" Mom Fe akhirnya punya solusi untuk sang putra.
"Lalu Naka harus bertanya pada siapa, Mom? Naka tak mungkin menanyakannya langsung pada Alsya atau Om Juna! Mereka pasti akan langsung tersinggung!" Sergah Naka merasa frustasi.
"Tanya saja pada Alvin!" Ujar Dad Dean yang akhirnya buka suara.
"Maksud Dad, Uncle Alvin Sanjaya?" Naka memastikan.
"Ya, bukankah Alvin tetangga sekaligus teman dekat Juna? Jadi dia pasti tahu banyak hal," pendapat Dad Dean.
"Ada benarnya, Naka! Tak ada salahnya mencoba," Mom Fe menepuk punggung Naka dan memberikan semangat untuk putra tersebut.
"Jangan memeluk Naka, Fe!" Dad dean memperingatkan Mom Fe yang sudah mrngambil ancang-ancang untuk memeluk Naka.
"Jangan lebay, Dad! Seperti remaja kemarin sore saja!" Cibir Naka yang langsung menarik dan memeluk Mom Fe dengan mesra. Sengaja agar Dad Dean mencak-mencak.
"Naka!"
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.