Queen Of Alexander'S

Queen Of Alexander'S
SALAH TINGKAH



Gika masih terlihat  bingung di dalam kamar perawatan Tiffany sambil berpikir kemana perginya gadis macan itu. Mustahil Tiff sudah diperbolehkan pulang karena siang tadi dia baru selesai di operasi.


Saat Gika masih berkubang dengan kebingungannya itulah, tiba-tiba ponsel di sakunya berdering. Ada nama Naka di layar.


Ya!


Pria itu pasti tahu Tiffany dimana!


Atau jangan-jangan Naka yang menyembunyikan Tiffany?


Dasar serakah! Sudah punya mamanya Sunny tapi masih tertarik juga pada Tiffany!


Mungkin status jomblo Naka selama ini hanya sebuah alibi untuk menyembunyikan jiwa sejati Naka yang sebenarnya juga playboy sejenis Gika.


"Halo!" Sambut Gika ketus.


"Kau sedang menjenguk siapa? Bukan menjenguk Tiffany, kan?"


Nada bicara Naka terdengar meledek.


Sial!


Pasti saudara kembar Gika itu baru saja bertemu Dad Dean.


"Menjenguk temanku!" Jawab Gika ketus.


"Apa temanmu kecelakaan juga dan kakinya patah juga?" Ledek Naka sekali lagi.


"Diam! Kau dimana sekarang?" Gertak Gika bersungut-sungut. Gika keluar dari kamar Tiffany dengan sejuta kesal di hatinya.


"Di depan kamar perawatan Cecilia. Satu lantai si atasmu."


"Tak usah sok tahu aku di lantai mana! Dan jangan beritahu semua orang! Atau..." Gika memikirkan sesuatu untuk mengancam Naka.


"Atau apa?"


"Atau aku akan melaporkan pada Mom perihal Sunny dan mamanya Sunny!" Akhirnya Gika menemukan ancaman yang tepat.


"Laporkan saja! Agar Mom dan Dad cepat melamarkan Mamanya Sunny untukku."


Gika refleks bersiul.


"Seleramu ternyata janda beranak satu, hah?"


"Janda lebih menggoda, Papa Naka!" Ledek Gika selanjutnya bersamaan dengan telepon yang ditutup sepihak oleh Naka.


Dasar tidak sopan!


Gika mempercepat langkahnya menuju ke lift untuk naik ke lantai di atasnya, dimana kamar perawatan Cecilia berada.


Tepat saat Gika keluar dari lift, Gika sudah langsung berhadapan dengan Ashley dan Richard yang sepertinya hendak masuk ke dalam lift.


"Gika De Chio!" Panggil Ashley lebay pada Gika seperti biasa. Calon kakak ipar Gika itu juga tiba-tiba sudah menggamit lengan Gika dan Richard  ekspresinya juga hanya biasa saja seolah tanpa beban.


"Rich! Tolong ambil foto kami berdua," Ashley menyodorkan ponselnya pada Richard yang langsung menerima tanpa berucap sepatah katapun.


Dasar kanebo kering!


Richard sedikit melangkah mundur dan bersiap mengambil foto Gika dan Ashley.


"Abang Richard tidak cemburu, Kak?" Tanya Gika seraya meringis pada Ashley.


"Cemburu pada adiknya? Konyol sekali!" Ashley terkekeh dan mengeratkan gamitannya pada Gika. Ekspresi wajah Richard tetap datar dan pria itu lanjut mengambil foto Ashley dan Gika.


Tanpa aba-aba!


"Sudah?" Tanya Gika bingung karena Richard tidak menghitung atau mengatakan sesuatu sebagai aba-aba.


Aneh juga Abang kanebo keringnya Gika ini. Seumur-umur Gika memang belum pernah minta Richard mengambil foto dirinya. Tak bisa dibayangkan kalau Richard alih profesi jadi fotografer, modelnya pasti bingung kapan harus pose senyum, merengut, meringis, atau manyun.


"Sudah belum, Bang?" Tanya Gika lagi yang masih meringis. Bisa kering gigi Gika nanti kalau kelamaan meringis.


"Sudah!" Jawab Richard singkat, padat, dan jelas seraya menyodorkan ponsel Ashley pada sang empunya.


"Coba lihat!" Tanya Gika penasaran yang langsung melohat hasil tangkapan layar Richard tadi.


"Bagus!" Komentar Ashley seraya tersenyum senang. Gika mengangguk membenarkan. Setidaknya gambarnya tidak kabur atau kepala Gika terpotong setengah.


"Jadi, Kak Ashley mau pulang?" Tanya Gika berbasa-basi.


"Ya!"


"Kau mau menjenguk Cecil?" Ashley balik bertanya pada Gika.


"Iya, sebenarnya begitu." Gika menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Ash!" Panggil Richard yang sepertinya adalah kode agar Ashley mengakhiri basa-basinya pada Gika.


"Baiklah!" Jawab Ashley malas.


"Kami pulang dulu, Gika! Bye!" Pamit Ashley seraya menghampiri Richard. Saat keduanya hampir masuk ke lift, Gika baru memanggil kembali calon kakak iparnya tersebut.


"Kak Ashley!"


"Ya!" Ashley kembali menghentikan langkahnya dan menoleh pada Gika. Richard berdecak dan terpaksa ikut berhenti menunggu Ashley.


"Apa si gadis macan."


"Rrrrooooaaar!" Gika mengaum hingga membuat Ashley terkekeh.


Kenapa juga Gika menanyakan keberadaan Tiffany pada Ashley?


Tapi itu lebih baik ketimbang Gika bertanya pada Naka yang pasti akan berhadiah ledekan tanpa henti.


Ck!


Gika kan hanya memastikan kalau si gadis macan itu tak terkena komplikasi gara-gara patah tulangnya, sekaligus Gika mau minta kompensasi.


"Tiff sudah dibawa Opa Bowles dan katanya akan dipindahkan ke salah satu rumah sakit ternama di kota mereka untuk pemulihan lebih cepat," jelas Ashley yang langsung membuat Gika membulatkan bola matanya.


"Opa Bowles? Siapa dia? Suami simpanan gadis macan itu? Rroooar! Rrrrooooaaar!" Cecar Gika lengkap dengan aumannya  yang langsung membuat Ashley tergelak.


"Tentu saja bukan! Opa Bowles itu opanya Tiff!"


"Tiff punya Opa?" Gika bertanya tak percaya.


"Yup! Tiff ternyata cucu seorang pengusaha! Dan dia juga lulusan sekolah desain. Luar biasa, bukan?" jawab Ashley yang semakin membuat Gika menganga tak percaya.


Gadis macan sombong itu! Cucu pengusaha?


Lalu untuk apa dia di panti asuhan dan menjadi kurir?


Sedang gabut?


"Dibawa ke kota mana?" Tanya Gika lagi yang sudah tak peduli pada rasa malunya.


"Kota...." Ashley terlihat mengingat-ingat.


"Rich, kota mana, tadi?" Ashley bertanya pada Richard yang sejak tadi hanya diam.


"Kota Z!" Jawab Richard singkat.


"Ah, iya! Kota Z!" Ashley mengulangi jawaban Richard.


"Kau yakin Tiff tidak sedang diculik oleh  pria tua bernama Opa Bowles itu?" Tanya Gika lagi yang juga tak tahu kenapa melontarkan pertanyaan konyol begitu.


"Kalau benar Tiff diculik, lalu kau mau apa? Berubah jadi SuperGika dan menyelamatkan Tiff?" Bukan Ashley yang menjawab, melainkan Naka yang entah sejak kapan sudah berada di balik punggung Gika. Dan sialnya ada Elleanore si speaker konslet kedua setelah Ashley juga di samping Naka.


Dobel sialan!


"Jadi, kau menjenguk siapa tadi di bawah?" Tanya Naka selanjutnya dengan nada meledek yang terdengar sangat menyebalkan.


"Aku kan hanya memastikan apa gadis macan rrrooaaar itu masih hidup atau tidak!" Sahut  Gika bersungut-sungut seraya meninggalkan Naka.


"Mom!"


"Mom, Abang Gika-" laporan Elleanore pada Mom Fe terpotong mendadak karena Gika sudah dengan cepat membungkam adik bawelnya itu.


Sementara Ashley yang masih berdiri di depan lift bersama Richard hanya bisa  tertawa menyaksikan adegan di depannya.


"Ayo pulang!" Ajak Richard yang akhirnya bersuara. Pria kanebo kering itu juga meraih tangan Ashley dan menggandengnya masuk ke  lift.


Hanya ada Richard dan Ashley saja di dalam lift.


"Semua keluargamu menyenangkan, ya!" Celetuk Ashley membuka obrolan di dalam lift bersama Richard yang hanya diam seperti patung.


"Besok ada kuliah?" Tanya Richard yang akhirnya buka suara, meskipun ucapannya sama sekali tak nyambung dengan celetukan Ashley barusan.


"Tidak ada! Besok kuliah libur," jawab Ashley.


"Supir akan menjemputmu ke kantor besok-"


"Kenapa bukan kau yang menjemput?" Ashley menyela kalimat Richard.


"Bukankah kau adalah calon tunanganku?" Lanjut Ashley seolah sedang mengingatkan Richard.


"Aku akan menjemputmu besok." Richard mengulangi kalimatnya dan Ashley langsung tersenyum lebar.


Lift sudah sampai di lantai paling bawah rumah sakit. Richard dan Ashley melangkah beriringan keluar dari lift dan menuju ke halaman parkir.


"Ngomong-ngomong, sapu tanganmu tadi boleh aku simpan?" Tanya Ashley seraya berjalan mundur agar bisa menatap pada Richard.


"Awas!" Richard meraih tubuh Ashley dengan sigap, saat gadis itu hampir menabrak kursi tunggu.


"Jalan yang benar dan jangan pecicilan!" Titah Richard menatap tegas pada Ashley.


"Sapu tanganmu tadi boleh untukku?" Ashley mengulangi pertanyaannya.


"Simpan saja!" Jawab Richard singkat.


"Terima kasih!" Ucap Ashley seraya berlari ke halaman parkir, saat gadis itu menabrak seseorang yang sedang tidak ingin Richard lihat.


"Rich!"


.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.