
Richard masih diam setelah mendengar syarat yang diajukan oleh Andrew.
"Apa kau sedang bercanda, Andrew Desmond?" Tanya Richard yang mendadak merasa geram dengan syarat yang baru saja dikemukakan oleh Andrew.
Menukar Ashley dengan sebuah proyek? Itu gila!
Meskipun Ashley hanya berstatus istri kontrak Richard tapi tetap saja, Richard tidak akan menyerahkan Ashley begitu saja.
"Sama sekali tidak!" Jawab Andrew yang wajahnya masih tetap terlihat tenang.
"Aku jatuh cinta pada Ashley sebelum kau mengenal dan menikahinya!"
"Kau saat itu hanya menyewa Ashley sebagai pacar bayaran!" Sergah Richard mulai emosi.
"Ya, itu benar! Tapi kemudian aku sadar kalau aku mencintai Ashley. Aku ingin mengungkapkannya tapi aku kehilangan kontak Ashley sedangkan posisiku masih di luar negeri. Jadi seyelah membali aku hebdak mewujudkan niatku untuk menikahi Ashley, tapi rupanya kau sudah terlebih dahulu menikahinya." Tutur Andrew panjang lebar menatap sinis pada Richard.
"Tapi aku tahu, kalau sebenarnya kau itu menikahi Ashley hanya demi mendapatkan proyek-proyek yang lebih besar, karena awal hubunganmu dengan Ashley juga hanya sebagai pacar sewaan untuk memenuhi ambisimu mendapatkan sebuah proyek. Jadi jika selanjutnya kau menikahi Ashley, aku yakin niatmu juga tak jauh-jauh dari itu!" Sindir Andrew yang entah bagaimana bisa tahu tentang awal hubungan Richard dan Ashley.
"Jadi sebelum kau menyakiti hati Ashley dengan niat busukmu itu, lebih baik kau berikan Ashley kepadaku dan akan kutukar Ashley dengan mega proyek impianmu-"
"Dasar keparat!" Maki Richard yang langsung menerjang Andrew.
Andrew jatuh tersungkur ke atas lantai dan Richard yang masih belum puas lanjut menindih Andrew dan menarik kerah baju pria sialan itu.
"Kau pikir aku akan menukar istriku dengan proyek sialanmu itu?"
"Aku menikahi Ashley karena aku mencintainya bukan karena ambisi apapun!" Sergah Richard penuh emosi.
"Bohong!" Andrew masih menatap sinis pada Richard.
"Terserah apa katamu!" Richard menatap sengit pada Andrew.
"Tapi aku tak akan pernah menukar Ashley dengan apapun! Ashley Umika istriku dan aku mencintainya!" Ucap Richard tegas seraya bangkit dari atas Andrew, lalu sedikit merapikan kemeja serta jasnya.
Andrew juga sudah bangkit berdiri mengikuti apa yang baru saja dilakukan Richard.
"Edward!" Panggil Richard yang sudah menempelkan telepon internal di telinganya.
"Pembicaraanku dengan Andrew Desmond sudah selesai. Masuk kemari dan antarkan Tuan Desmond ke lobi bawah!" Perintah Richard pada Edward di seberang telepon.
"Aku kesana sekarang!"
Richard menutup telepon setelah mendengar jawaban Edward. Pria itu ganti meraih map yang tadi diberikan Andrew dan mengembalikannya secara kasar pada Andrew.
"Alexander Group tak tertarik untuk menjalin kerja sama apapun dengan perusahaanmu, Tuan Desmond! Silahkan oergi dari ruanganku dan dari gedung kantorku!" Usir Richard bersamaan dengan Edward yang sudah tiba di ruangannya. Edward sedikit kaget melihat Richard dan Andrew yang penampilannya sedikit berantakan.
"Aku tak akan menyerah, Rich! Kau akan menyerahkannya padaku suatu hari nanti!" Pungkas Andrew yang kembali membuat Richard geram.
"Antarkan Tuan Desmond ke kantai bawah, Edward!" Perintah Richard sekali lagi pada Edward yang hanya mengangguk patuh.
"Silahkan, Tuan Andrew!" Pintu ruangan kembali tertutup setelah Andrew dan Edward keluar. Richard mengendurkan dasinya dan membuka jasnya dengan kasar. Pria itu menghampiri kulkas di sudut ruangan, lalu mengambil sebotol air mineral dingin dan meneguknya hingga tandas.
Richard harus menemui Ashley sekarang!
****
"Nona Ashley belum datang, Tuan!" Ucap maid saat Richard bertanya tentang keberadaan Ashley.
"Lalu Mom dan yang lainnya kemana?" Tanya Richard lagi.
"Nyonya juga masih belum pulang, sedangkan Tuan Gika dan Tuan besar je kantor serelah makan siang tadi. Tian Naka juga pergi untuk mengurus sesuatu," terang maid yang hanya membuat Richard mengangguk.
Suara hujan yang turun lumayan deras terdengar dari teras depan. Richard menggulung lengan kemejanya dan memilih pergi ke teras untuk duduk sebentar di sana dan menikmati rintik hujan yang jatuh di halaman rumah.
Richard mengutak-atik ponselnya sebentar dan menghubungi Elleanore yang masih pergi bersama Henry ke rumah masa kecil Henry. Ada beberapa bodyguard juga yang pergi bersama mereka demi menjaga Elleanore serta Henry.
"Halo, Bang!"
"Bagaimana kabarmu, El? Sekarang kau dimana?" Tanya Richard seraya melemparkan pandangannya ke pagar utama kediaman Alexander, seolah sedang menunggu seseorang.
"Kabar El baik, Bang! Hanya saja Henry sedikit drop kemarin karena kelelahan. Jadi hari ini kami hanya di rumah dan tidak kemana-mana."
"Sudah! Dan dokter hanya meminta Henry bedrest dulu hari ini."
"Hari Sabtu Naka akan menikah." Richard menyampaikan informasi pada Elleanore.
"Iya, Abang Naka sudah menelepon El dan menceritakan semuanya. Abang Naka juga mengirimkan foto saat lamaran kemarin."
"Kau dan Henry akan pulang?" Tanya Richard penuh harap.
"Sepertinya tidak! Henry bersikeras masih ingin disini dan El hanya ingin mendampingi Henry agar ia tak merasa di kucilkan."
Suara Elleanore sudah terdengar sendu.
"El sayang Henry, Bang!"
Sekarang adik bungsu Richard itu ganti terisak.
"Abang tahu!" Jawab Richard lirih bersamaan dengan pagar utama yang dibuka dari luar. Seseorang sepertinya baru saja menembus hujan.
"Jangan sedih lagi, oke! Kau haris terus membuat Henry tertawa dan bahagia sekarang!" Richard memberikan semangat pada Elleanore seraya bangkit berdiri untuk melihat siapa yang tadi membuka pagar dan menembus hujan.
"Iya, Bang! El akan berusaha!"
"El tutup teleponnya dulu karena Henry sudah bangun."
Sambungan telepon terputus bersamaan dengan Ashley yang sudah tiba di teras dengan tubuh basah kuyup.
"Rich, kau sudah pulang?" Sapa Ashley pada Richard yang terlihat mematung.
"Kenapa kau hujan-hujanan, Ash?" Tanya Richard seraya memindai lekuk tubuh Ashley yang nampak jelas karena baju yang dikenakan oleh gadis itu basah kuyup.
"Iya, tadi aku tidak tahu kalau akan turun hujan. Jadi aku pulang naik angkot dan turun di depan kompleks. Aku lupa membawa payung juga. Jadinya basah kuyup," terang Ashley yang sudah berbalik dan memunggungi Richard, Gadis itu mengumpulkan rambutnya ke samping, lalu memerasnya. Ashley sepertinya tak sadar kalau kini lekuk tubuh Ashley semakin terpampang nyata di hadapan Richard yang berdiri tertegun.
Kenapa Richard baru sadar kalau tubuh Ashley begitu menggiurkan untuk dipeluk? Kemana saja Richard selama ini.
"Rich, bisa kau panggilkan maid agar membawakan aku handuk?" Pinta Ashley pada Richard yang masih mematung di belakangnya.
"Rich! Kau lihat apa?" Tanya Ashley bingung karena Richard masih membisu namun kedua netranya lekat menatap pada Ashley.
"Kau harus ganti baju!" Richard tiba-tiba sudah meraih lengan Ashley hingga membuat gadis itu sedikit kaget.
"Iya, aku akan ganti baju-" Ashley belum menyelesaikan kalimatnya, saat Richard sudah menarik lengannya masuk ke dalam rumah, lalu langsung menuju ke tangga dan setengah berlari menaikinya. Richard membawa Ashley yang masih basah masuk ke dalam kamar yang kini gelap karena lampu belum dinyalakan.
"Rich, lampu-" Ucapan Ashley belum selesai saat tiba-tiba bibir Richard sudah mendarat di bibir Ashley yang terasa dingin. Richard mengecup lembut bibir merah Ashley, mencecap setiap inchinya, dan lidahnya menggelitik bibir Ashley hingga akhirnya Ashley sedikit merenggangkan kedua bibirnya serta memberikan akses lebih pada Richard.
"Aku menginginkannya," ucap Richard di sela-sela pagutannya bersama Ashley. Tangan pria itu juga sudah merem*s bokong Ashley sekarang.
"Apa kau bersedia, Ash?" Tanya Richard pada Ashley yang nafasnya mulai tersengal karena pagutan panas di antara mereka berdua
"Kau bersedia, Ashley?" Tanya Richard sekali lagi karena Ashley tak kunjung memberikan jawaban.
"Ya!" Nafas Ashley terengah.
"Aku bersedia."
.
.
.
Lah, dobel nganu nanti malam 🙈🙈
Semoga othornya nggak ketiduran
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.