Queen Of Alexander'S

Queen Of Alexander'S
PAWANG MACAN



Tiffany yang beru selesai mandi dan berganti baju, kaget setengah mati saat baru membuka pintu kamar mandi dan sudah ada Gika di depan pintu.


"Rrrrooooaaar!" Gika mengaum lebay pada Tiffany yang hanya memutar bola matanya.


Dasar pawang macan!


"Mana lingerie-mu? Kenapa malah pakai piyama lengan panjang begini?" Cecar Gika setelah memindai penampilan Tiffany dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Aku tidak punya lingerie!" Jawab Tiffany ketus.


"Bukannya sudah dikasih sama Kak Ashley?" Cecar Gika seraya mencari kotak berisi lingerie yang tadi diberikan oleh Ashley.


"Ini! Lihat ini!" Gika menunjukkan kotak berisi lingerie tersebut dengan lebay pada Tiffany.


"Ck! Risih tidur pakai kayak gitu! Lebih enak pakai piyama begini," sungut Tiffany seraya mendaratkan bokongnya ke atas tempat tidur yang bertabur kelopak bunga mawar. Bukan hanya tempat tidur sebenarnya yang bertabur kelopak bunga mawar, tapi juga seluruh lantai kamar Gika.


"Ck! Baiklah!"


"Tapi nanti jangan marah, kalau aku sobek piyamamu itu!" Ujar Gika seraya menarik piyama Tiffany. Namun tangan pria itu dengan cepat disentak oleh Tiffany.


"Kau belum mandi!" Gertak Tiffany galak.


"Nanti saja mandinya! Aku masih wangi, kok!" Jawab Gika penuh percaya diri yang langsung membuat Tiffany mencibir.


"Dasar jorok!" Gumam Tiffany sebal.


"Beneran wangi ini!" Gika menanggalkan kausnya dan saat Tiffany menoleh ke arah Gika, gadis itu refleks menjerit


"Haaaah!" Tiffany beringsut mundur melihat Gika yang kini bertel*njang dada.


"Kenapa kau buka baju?" Gertak Tiffany galak.


"Tentu saja aku buka baju! Mana ada orang bercinta pakai baju lengkap," Cerocos Gika yang membuat Tiffany kembali memutar bola matanya.


"Tidak usah pura-pura polos begitu!" Lanjut Gika yang sudah ganti berdiri dan hendak ganti menurunkan celananya.


"Kau mau apa lagi sekarang?" Tiffany menutup wajahnya dengan kedua tangan karena masih tak siap melihat senjata Gika yang entah sebesar dan sepanjang apa.


"Mau menunjukkan Gika junior kepadamu," jawab Gika seraya mengerling nakal dan berusaha membuka telapak tangan Tiffany yang masih menutup rapat wajah gadis itu


"Aku nggak mau lihat!" Sergah Tiffany seraya bangkit berdiri masih sambil menutup kedua matanya. Gadis mengintip lewat sela-sela jari, seolah sedang mencari sesuatu.


"Sedang mencari apa, Tiff?" Tanya Gika heran.


"Saklar lampu!" Jawab Tiffany jujur bersamaan dengan gadis itu yang akhirnya menemukan apa yang ia cari.


Tiffany menekannya dan suasana kamar Gika langsung gelap gulita.


"Jadi kau lebih suka gelap-gelapan, hah?" Bisik Gika yang yernyata sudah memeluk Tiffany dari belakang. Gadis itu sampai berjenggit karena kaget.


"Kau mau apa? Lepas!" Tiffany menggeliat saat tangan Gika mulai aktif merana dan merem*s gunduka kenyalnya.


"Lepas!" Tiffany hendak menyikut perut Gika, namun siapa enyangka kalau Gika ternyata sudah hafal dan sudah persiapan.


"Gika!" Jerit Tiffany saat Gika mengangkat tubuhnya, lalu menjatuhkannya ke atas tempat tidur.


"Diamlah!" Gika sudah menindih Tiffany dan meletakkan telunjuknya di bibir istrinya tersebut.


"Pergi, Kau!" Tiffany mendorong dan memukul-mukul dada Gika yang masih menindihnya.


"Pergi kemana? Aku suamimu!" Sergah Gika yang berusaha sabar membuka satu persatu kancing piyama Tiffany. Namun istri Gika itu terus meronta, menggeliat, dan memukuli Gika. Jadi Gika yang akhirnya habis kesabaran, tanpa basa-basi lagi langsung menarik piyama Tiffany hingga sobek.


"Gika!!!!" Teriak Tiffany emosi yang langsung membuat Gika mendaratkan bibirnya di atas bibir Tiffany.


Kedua mata Tiffany membeliak, dan gadis itu berhenti meronta sejenak. Selang beberapa saat, Tiffany sudah mulai meronta lagi, meskipun tak se-barbar sebelumnya.


Sedangkan Gika terus melanjutkan ciumannya pada bibir Tiffany yang begitu lembut dan manis.


Astaga! Gika menyukainya.


Gika menatap pada wajah Tiffany yang hanya terlihat samar dj kegelapan kamar. Namun Gika bisa melihat kalau istrinya itu sedang memejamkan matanya dan sudah berhenti meronta.


Gika yang sudah merasa puas mencecap bibir Tiffany, mulai menurunkan ciumannya ke leher Tiffany, lalu meninggalkan beberapa tanda kepemilikan di sana. Tangan Gika juga sudah aktif menyusup ke bawah bra Tiffany hingga membuat gadis itu menggelinjang.


"Emmmh!" Sebuah des*han akhirnya lolos dari bibir Tiffany dan membuat Gika tersenyum simpul.


Ciuman Gika terus turun ke bawah tepatnya ke bagian dada Tiffany yang tak terlalu besar. Namun Gika tak ambil pusing dan langsung melahapnya dengan rakus.


"Aaarrrgh!" Tiffany kembali mengerang dan tangannya menjambak rambut Gika yang semakin gila melahap kedua bukit kembar miliknya.


"Gika!" Tiffany meronta dan tak berhenti menjambak serta memukuli punggung Gika, berharap Gika akan berhenti menghisap-hisap gundukan miliknya yang mulai terasa perih.


"Sudah!" Tiffany yang geram menjambak kuat rambut Gika, namjn nyatanya Gika tak bergeming dan balik menggigit dada Tiffany.


"Auuuw!"


Bugh!


Akhirnya dengkul Tiffany yang maju dan menendang entah perut entah pangkal paha Gika.


"Aduh!" Pekik Gika yang akhirnya melepaskan lahapan mautnya pada dada Tiffany. Pria itu memegangi perutnya yang baru saja kena tendang Tiffany.


"Kenapa kau barbar?" Protes Gika sambil meringis beberapa kali.


"Mulai apa? Aku sedang melakukan pemanasan!" Sergah Gika mencari alasan.


"Atau kau mau langsung pada intinya?"


Entah Tiffany yang lengah atau tindakan Gika yang terlalu gesit, celana Tiffany tiba-tiba sudah ditarik melorot beserta underwearnya juga oleh Gika.


"Gika!" Jerit Tiffany yang refleks menutupi miliknya dengan kedua telapak tangan.


Gika tertawa kecil dan langsung memaksa kedua tangan Tiffany untuk menyimgkir.


"Aku sudah terlanjur lihat!" Gika mengerling nakal pada Tiffany yang kini menatap sengit ke arahnya.


"Bagaimana kali bisa lihat? Kamarnya saja gelap gulita!" Sergah Tiffany bersungut-sungut.


"Aku akan mencicipinya saja kalau begitu!" Cetus Gika yang langsung membuka kedua pangkal paha Tiffany dan melahap 'kue' Tiffany sama seperti tadi Gika melahap dada Tiffany.


Kedua mata Tiffany hanya membeliak dan gadis itu mendadak lupa caranya berteriak. Tiffany merasakan gelenyar aneh yang merasuki aliran darah, lalu menyebar ke tulang dan sendinya.


"Emmmhh!" Tiffany mengarang tertahan dan mulai menggeliat saat lidah Gika mulai meng-eksplore miliknya di bawah sana. Bibir Tiffany juga mulai meracau tak jelas saat miliknya terus dicecap oleh lidah dan bibir Gika, hingga akhirnya Tiffany merasakan sebuah perasaan membuncah yang hebat dan.....


Tiffany mencapao pelepasannya untuk pertama kali berkat lidaj dan bibir Gika. Nafas istri Gika itu terengah dan Gika bergegas menanggalkan celana yang masih membalut bagian bawah tubuhnya. Gika segera mengarahkan miliknya yang sudah tegak menantang ke dalam milik Tiffany.


Saat itulah, kesadaran Tiffany seolah kembali dan gadis itu kembali meronta.


"Sakit!" Tiffany berontak dan tak berhenti menggeliat.


"Sebentar saja!" Gika masih berusaha mendorong miliknya agar masuk ke dalam milik Tiffany yang ternyata sempit sekali.


Ini kali pertama Gika menyentuh seorang virgin!


"Sakit, Gika!" Kaki Tiffany hendak menendang tapi Gika berhasil menahannya. Gika menindih tubuh Tiffany dan masih betusaha melesakkan miliknya.


"Kenapa sempit sekali?" Gumam Gika yang sudah mulai berkeringat.


"Lepaskan! Itu tidak bisa dimasuki!" Perintah Tiffany seraya memukul dan mencakari punggung Gika.


"Bisa! Pasti bisa!" Tekad Gika yang masih terus berusaha.


"Sakit!"


"Sudah! Lepaskan!" Jerit Tiffany meronta-ronta tak karuan.


Namun Gika masih pantang menyerah dan pria itu berusaha mengacuhkan rasa perih di punggung karena cakaran kuku istri macannya.


"Sudah!"


"Sakit!" Tiffany masih terus meronta.


"Sedikit lagi!" Gika bergumam dan terus mendorong hingga akhirnya....


Bless!


"Gika brengsek!" Maki Tiffany seraya melesakkan kukunya di punggung Gika yang kini malah tersenyum penuh kemenangan.


Gika akhirnya berhasil menjebol gawang Tiffany!


"Hei, kau menangis?" Tanya Gika yang meskipun remang-remang tapi hisa melihat butir bening yang menggenang di kedua mata Tiffany.


"Sakit!" Cicit Tiffany seraya mendelik pada Gika.


"Baiklah, aku minta maaf!" Gika mengecup kening Tiffany cukup lama.


"Milikmu sempit sekali," lanjut Gika seraya terkekeh yang sontak berhadiah pukulan di dada dari Tiffany.


Gika baru akan mulai bergerak, saat punggungnya tiba-tiba dikeplak oleh Tiffany.


"Jangan bergerak! Semakin sakit!" Gertak Tiffany galak.


"Kata siapa? Sakitnya cuma sebentar, lalu kau akan merasa enak dan ketagihan," bisik Gika nakal yang malah membuat Tiffany merasa sebal.


"Sudah pengalaman, hah?" Sungut Tiffany seraya memalingkan wajahnya dan enggan menatap pada Gika yang sudah mulai bergerak perlahan di atasnya.


"Hanya masa lalu," gumam Gika lirih.


"Karena mulai sekarang...." Gika mengerang karena kembali merasakan sempitnya milik Tiffany.


"Mulai sekarang, hanya kau yang akan ada di hatiku, Tiffany sayang!" Gika menangkup wajah Tiffany, lalu mengecup bibir istrinya itu sebentar.


"Hanya kau seorang!"


"I love you, Tiffany!" Bisik Gika sebelum kemudian pria itu kembali menyatukan bibirnya dengan bibir Tiffany.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia