
"Kau carikan aku wanita malam ini. Aku sedang butuh kehangatan," ucap Gika pada Henry saat mereka tiba di kediaman Alexander.
"Gika, berhentilah bermain-main dengan banyak wanita-" Henry belum menyelesaikan kalimatnya saat Gika sudah mengangkat satu tangannya sebagai isyarat agar sahabat sekaligus manajernya itu diam.
"Kau memang manajerku! Tapi jangan pernah mencampuri urusanku yang itu!"
"Aku punya kebutuhan!" sergah Gika mencari alasan.
"Aku juga punya kebutuhan, tapi aku bisa menahannya! Tak perlu menuruti nafsu begitu!"
"Atau kalau memang kebutuhanmu sudah naik ke ubun-ubun, menikah saja dan hanya fokus pada satu wanita!" Cerocos Henry menceramahi Gika panjang kali lebar.
"Berhentilah jadi pria brengsek yang tidur dengan banyak wanita, atau tak akan ada lagi wanita yang mau menikah denagn pria bekas sepertimu!" Sindir Henry lagi dengan nada pedas. Pria itu melepaskan sabuk pengamannya dan meraih waistbag-nya. Namun Henry ternyata lupa menutup ritsleting waistbag tersebut hingga membuat isinya terhambur. Ada beberapa botol obat yang keluar dari tas Henry.
"Obat apa itu, Hen?" Tanya Gika curiga.
"Multivitamin," jawab Henry seraya membereskan barang-barangnya.
"Sebanyak itu?" Gika mengernyit tak percaya.
"Ya! Agar aku kuat menghadapi kelakuanmu yang luar biasa itu!" Sindir Henry lagi yang langsung membuat Gika berdecak.
"Aku akan pulang naik motor saja," ujar Henry selanjutnya seraya memakai waistbag-nya.
"Bagaimana dengan wanitaku malam ini?" Tanya Gika menagih.
"Cari saja sendiri!" Jawab Henry ketus dan sedikit kesal.
"Kau boleh dapat satu jika memang kau ingin, Hen!" Gika memberikan penawaran.
"Maaf?" Henry tersenyum sinis ke arah Gika.
"Aku akan mencarikan untukmu juga," Gika berkata sedikit ragu.
"Aku bukan pria brengsek sepertimu! Jadi simpan saja sendiri penawaranmu tadi!" Pungkas Henry sebelum pria itu meninggalkan Gika. Pria itu pergi ke garasi untuk mengambil motornya, lalu lanjut ke apartemen Gika di pusat kota yang merupakan tempat tinggal Henry bersama adik semata wayangnya, Hendy.
"Gika, kau sudah pulang?" Sapa Naka yang sepertinya baru bangun dari tidur. Pria itu terlihat berantakan, sangat berbeda dengan Gika yang tetap tampan meskipun bangun tidur.
"Ya! Aku sudah disini, berarti aku sudah pulang! Kau mau mengusirku?" Jawab Gika dengan nada ketus.
"Aku hanya bertanya!" Sergah Naka yang hanya membuat Gika mendengus malas.
"Apa Tiffany sudah bangun?" Tanya Naka selanjutnya pada Gika yang sudah mendaratkan bokongnya di sofa ruang tengah.
"Sudah! Gadis macan itu sudah bangun dan sudah mengaum lagi!"
"Rrroooar! Rrroaaar!" Gika menirukan auman macan berulang-ulang seolah sedang geregetan. Naka hanya menahan tawa dengan kelakuan sinting saudara kembarnya tersebut.
"Tapi menurutku kau lebih mirip macan ketimbang Tiffany," kekeh Naka yang lagi-lagi hanya ditanggapi Gika dengan dengkusan.
"Halo!"
"Carikan aku wanita malam ini di tempat biasa!"
"Iya, malam ini!" Pungkas Gika yang sudah sampai di kamarnya. Gika melempar ponselnya ke atas tempat tidur dan segera menanggalkan bajunya, lalu pergi mandi. Gika akan menyegarkan otaknya dulu!
****
"Jadi, kak Tiff akan pulang ke rumah kita nanti, Mom?" Tanya Elleanore memastikan lagi setelah Mom Fe mengungkapkan rencananya.
"Tentu saja! Inj sebagai bentuk pertanggungjawaban karena Naka yang sudah membuat Tiff jadi seperti ini."
"Tapi, Tante! Tiff sudah baik-baik saja dan Tiff akan pulang ke panti asuhan saja. Ada Ashley yang akan merawat Tiff," Tiffany mencari alasan.
"Aku sibuk kuliah, Tiff! Kau tahu sendiri, kan?" Sergah Ashley yang sepertinya niat sekali membuat Tiff tinggal di kediaman Alexander.
"Ashley juga harus mempersiapkan acara pertunangannya dengan Richard beberapa hari lagi," timpal Mom Fe mengingatkan yang langsung membuat Ashley tersedak ludahnya sendiri.
"Beberapa hari lagi, Mom? Tapi bukannya kata Mom masih sebulan lagi?" Tanya Ashley salah tingkah seraya berulang kali menatap pada pintu kamar perawatan. Ashley rasanya ingin menyeret Richard masuk ke ruangan ini dan membantunya bicara pada Mom Fe agar mengulur lagi rencana pertunangannya dengan Richard.
Meskipun kata Richard pertunangan ini hanya pura-pura dan sementara, namun tetap saja Ashley merasa takut. Ashley takut jika ia menjadi bagian dari keluarga Alexander, dirinya akan terlena dengan semua kasih sayang dan kehangatan yang diberikan oleh Mom Fe da Dad Dean.
Ya, siapapun pasti akan langsung terlena dan enggan pergi lagi jika sudah merasakan kasih sayang tulus dari keluarga Alexander. Termasuk Ashley yang hanya seorang gadis yatim piatu yang tak pernah merasakan kehangatan sebuah keluarga sejak kecil.
"Lebih cepat lebih baik, Kak!" Ujar Elleanore seraya menepuk punggung Ashley.
"El benar! Lebih cepat lebih baik," timpal Mom Fe seraya mengulas senyum. Ashley hanya menghela nafas dan rasanya sia-sia saja menolak sekarang. Mungkin Richard akan punya jalan keluar nanti.
Terserah!
Ashley bingung.
Ashley masih bergumul dengan kebingungannya saat pintu kamar perawatan Tiffany tiba-tiba dibuka dari luar dan seorang pria tua yang kini berdiri di ambang pintu benar-benar membuat Ashley kaget.
"Opa?"
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.