
"Dia sudah tidur nyenyak," ucap Naka pada Alsya saat membuka kamar hotel dimana tadi Sunny beristirahat.
"Akan kugendong saja," Alsya terlihat berpikir.
"Nanti kalau dia terbangun, dia malah tidak akan bisa tidur lagi. Kau menginap saja disini dan pulang besok pagi," saran Naka yang langsung berhadiah tatapan horor dari Alsya.
"Hanya karena kita akan menikah sebentar lagi, bukan berarti kita bisa tidur sekamar sekarang!" Alsya menatap marah pada Naka, namun pria dua puluh lima tahun tersebut malah tertawa renyah.
"Memangnya yang mau tidur sekamar denganmu siapa?" Tanya Naka yang sudah bersedekap dan mencondongkan tubuhnya ke arah Alsya yang langsung salah tingkah.
"Kau tidak menginap disini?" Tanya Alsya tergagap.
Ya ampun!
Alsya sepertinya baru saja salah sangka.
"Aku menginap juga, tapi aku akan menemani Hendy di sebelah," Naka menunjuk ke kamar di sebelah kamar Sunny, dimana tadi Hendy beristirahat. Wajah Alsya seketika memerah karena sudah salah sangka.
"Besok pagi baru aku akan mengantar kau dan Sunny pulang," lanjut Naka lagi yang semakin mendekatkan wajahnya pada Alsya.
"Ba-baiklah!" Wajah Alsya langsung memanas dan senyuman Naka semakin lebar.
"Aku akan masuk dan beristirahat!" Lanjut Alsya lagi semakin salah tingkah.
"Ya! Selamat malam dan selamat beristirahat!" Bisik Naka pada Alsya sebelum kemudian pria itu keluar dari kamar. Alsya masih mematung hingga Naka menghilang ke kamar sebelah.
"Memalukan sekali!" Gumam Alsya sebelum wanita itu masuk kd kamar dan menutup pintu. Alsya benar-benar malu pada Naka karena sudah berpikir kalau Naka akan mengajaknya tidur di satu kamar.
****
"Tidurlah di sofa, El!" Ucap Gika pada Elleanore yang sedari tadi hanya duduk di samping bed perawatan Henry. Adik bungsunya itu sudah terlihat mengantuk karena ini memang sudah lewat tengah malam.
"Abang nggak tidur?" Elleanore malah balik bertanya pada Gika yang hanya mondar-mandir sejak tadi. Seperti halnya Elleanore, Gika juga sedang bingung dan menerka-nerka bagaimana Henry dang pria baik bisa terkena penyakit mematikan itu. Dan kata dokter sakit Henry sudah masuk stadium akut. Bukankah itu artinya Henry sudah lama menyembunyikan sakitnya?
Tapi Henry terlihat sehat selama ini dan hanya tubuhnya saja yang kelihatan kurus dari bulan ke bulan.
Ah, tentu saja!
"Abang!" Tegur Elleanore lagi pada Gika yang malah melamun.
"Nanti aku juga akan tidur. Sekarang kau tidur saja duluan! Kau sepertinya sudah sangat mengantuk!" Gika membimbing Elleanore agar bangkit berdiri, lalu mengajak adik bungsunya tersebut ke sofa.
"Bangunkan El jika Henry bangun, ya, Bang!" Pinta Elleanore setelah gadis itu merebahkan tubuhnya ke sofa.
"Iya! Cepat tidur!" Gika mengusap kening Elleanore seolah adik Gika itu adalah seorang bocah lima tahun tang harus diusap-usap keningnya agar cepat terlelap.
"Abang! El bukan bayi!" Omel Elleanore seraya menyentak tangan Gika.
"Oh, udah besar? Abang kira masih bayi!" Gika sedikit berkelakar sementara Elleanore langsung merengut. Elleanore mengubah posisinya menjadi berbaring miring agar gadis itu bisa menatap wajah Henry yang masih terlelap. Rasa kantuk dengan cepat menghampiri Elleanore dan tak butuh waktu lama, mata gadis itu sudah terpejam dan nafasnya sudah teratur. Gika segera membentangkan selimut untuk menutupi tubuh Elleanore, lalu pria itu memutuskan keluar sejenak dari kamar perawatan Henry untuk mencari udara segar.
Gika terlebih dahulu memeriksa Henry sebelum keluar. Henry masih terlelap dan wajahnya terlihat tenang. Gika menghela nafasnya dan lanjut keluar dari kamar perawatan. Suasana sepi karena ini memang dudah lewat tengah malam. Gika mengedarkan pandanake kanan dan kiri lorong, saat tiba-tiba pandangannya tertumbuk pada seseorang yang berpakaian serba hitam yang terlihat sedang menelepon seseorang. Gika memicingkan matanya dan seperti mengenal pria berkostum serba hitam itu.
Bukankah itu...
Gika bergerak cepat menghampiri pria asing itu. Namun pri tersebut malah lari dan seolah menghindari Gika. Tentu saja hal itu membiat Gika mempercepat langkahnya,hingga akhirnya....
Hap!
Gika berhasil meraih jaket pria tadi dan segera menariknya dengan cepat, hingga pria itu jatuh tersungkur dilantai. Gika langsumg menindih dan mengunci kedua tangannya di belakang.
"Kau sedang memata-mataiku, hah?"
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.