Queen Of Alexander'S

Queen Of Alexander'S
PERMINTAAN RICHARD



Ashley menatap pada langit hitam di atasnya yang malam ini hanya hitam tanpa ada cahaya bintang. Saat ini, gadis dua puluh satu tahun itu tengah berada di rooftop hotel, menunggu Richard yang katanya mau mengambil minum.


Tak berselang lama, Richard akhirnya datang seraya membawa dua gelas minuman di tangannya. Tunangan Ashley itu sudah melepaskan jasnya, dan kini hanya mengenakan sebuah kemeja putih yang lengannya sudah di gulung.


"Maaf lama," ucap Richard seraya menyodorkan segelas minuman pada Ashley.


"Terima kasih!" Ucap Ashley seraya mengulas senyum ke arah Richard yang hanya mengangguk samar. Richard sudah duduk di samping Ashley dan kini dua orang itu sama-sama memandang ke arah kerlap kerlip lampu kota di bawah sana, seeta deretan kuda besi yang menenuhi jalanan kota.


"Tadi mau bicara apa?" Ashley yang terlebih dahulu buka suara.


"Kita menikah satu pekan lagi," jawab Richard to the point yang tentu saja langsung membuat Ashley kaget.


"Kenapa cepat sekali?"


"Mom yang merencanakan. Tadi undangan pernikahan juga sudah langsung dibagikan saat tamu pulang." Jelas Richard seraya menyilangkan kaki kanannya ke atas kaki kiri. Pria itu meneguk minuman di tangannya sebelum lanjut bicara.


"Seperti kataku di awal, pernikahan ini tak akan merugikanmu. Aku tak akan menyentuhmu-"


"Kau sudah mencium bibirku dengan lancang tadi di depan Anneth!" Sergah Ashley memotong pernyataan Richard soal tidak pernah menyentuh.


"Iya itu hanya batas maksimalnya. Aku aku tidak akan bertindak lebih jauh. Mungkin di lain waktu kita harus kembali melakukan yang itu demi meyakinkan orang-orang kalau kita suami istri," jelas Richard mencari pembenaran.


"Aku janji tak akan melakukan hal lain yang membuatmu rugi! Perjanjian ini tak akan berlangsung lama! Kita menikah mungkin dua atau tiga tahun, lalu setelahnya kita akan berpisah, dan kau tak akan rugi apapun. Kau masih bisa menjalin hubungan dengan pria lain," sambung Richard lagi yang sebenarnya terasa sedikit menyakitkan di hati Ashley. Tapi sejak awal Ashley sudah setuju menjadi pacar, tunangan serta istri sewaan untuk Richard. Jadi terima saja!


"Boleh aku bertanya satu hal, Rich?" Ashley akhirnya buka suara setelah menarik nafas panjang berulang kali.


"Ya, silahkan!"


"Bagaimana kalau teenyata di tengah-tengah pernikahan kontrak kita terjadi sesuatu yang tidak terduga?"


"Maksudnya?" Richard mengernyit bingung.


"Misalnya tiba-tiba kau jatuh cinta kepadaku," jelas Ashley mengutarakan sebuah kemungkinan.


"Itu tak akan terjadi," sergah Richard cepat dan tegas.


"Aku hanya bertanya andai itu terjadi! Kau tidak pernah tahu perasaanmu ke depannya, Rich!" Ashley terus memancing.


"Baiklah, andai itu terjadi maka perjanjian akan otomatis batal! Tapi itu hanya berlaku jika aku yang jatuh cinta dan sama sekali tidak berlaku jika kau yang jatuh cinta!" Richard kembali menegaskan dan Ashley refleks tergelak.


"Aku sudah kebal! Jadi aku juga tak mungkin jatuh cinta kepadamu! Aku sangat bisa menjaga hati dan perasaanku!" Jawab Ashley sombong.


"Ya, sebaiknya kita berdua memang melakukan hal itu dan tak perlu saling jatuh cinta, jadi tak perlu ada yang merasa dirugikan!" Ujar Richard lagi sok teroritis.


"Baiklah, terserah!" Timpal Ashley sedikit malas.


"Kita akan tinggal di apartemenku setelah menikah dan nanti surat kontrak pernikahannya kau tandatangani setelah acara pernikahan saja. Aku belum menyiapkannya dan aku ada kunjungan ke luar negeri selama tiga hari mulai besok!" Jelas Richard lagi pada Ashley.


"Aku perlu ikut?" Tanya Ashley memastikan.


"Tidak usah! Sudah ada Edward!" Jawab Richard cepat.


"Aku boleh titip oleh-oleh?" Tanya Ashley lagi.


"Mau titip apa?" Richard balik bertanya.


"Kau pikirkan saja dulu dan nanti beritahu aku jika sudah tahu kau mau dibelikan apa!" Ucap Richard akhirnya seraya meneguk habis minumannya.


"Baiklah! Aku sudah boleh pulang?" Tanya Ashley lagi pada Richard seraya bangkit berdiri. Namun Ashley sedikit teledor dan tak sengaja menumpahkan minumannya di gaun.


"Oh, ya ampun!" Ashley berdecak kesal.


"Pakai ini!" Lagi-lagi Richard mengeluarkan sebuah sapu tangan dari saku celana dan menyodorkan pada Ashley. Namun baru saja Ashley akan menerimanya, Richard malah tak jadi memberikan dan menyuruh Ashley untuk kembali duduk.


"Biar aku saja!" Ashley berjongkok di depan Ashley dan membersihkan bekas minuman di gaun Ashley dengan cekatan.


"Apa kau selalu membawa sapu tangan kemanapun? Kenapa selalu ada sapu tangan di saku celanamu?" Cecar Ashley merasa kepo.


"Formalitas!" Jawab Richard singkat.


Padahal tadi sudah bisa bicara berkalimat-kalimat. Lalu kenapa sekarang kembali ke mode singkat dan padat bahasa Tuan kaya ini.


"Ngomong-ngomong, cincin pertunangannya boleh aku simpan setelah kontrak pernikahan kita selesai nanti?" Tanya Ashley lagi seraya menunjukkan cincin bermata berlian yang kini melingkar di jari manis Ashley. Kalau dijual sepertinya bisa untuk membeli motor matic baru.


"Semua yang sudah kuberikan untukmu tak akan kuminta kembali. Jadi tenang saja!" Jawab Richard datar.


"Termasuk kartu kredit unlimited kemarin?" Tanya Ashley menganga tak percaya.


"Oh, iya! Yang itu mau aku ambil dan aku ganti dengan yang baru," Richard mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya.


"Itu kartu debet! Aku sudah punya sendiri," tolak Ashley cepat.


"Yang ini dariku berisi gajimu selama menjadi tunangan dan istri kontrakku nanti. Passwordnya tanggal lahirmu," jelas Richard yang memaksa untuk memberikan kartu debet tadi pada Ashley.


"Baiklah, terima kasih! Aku benar-benar seorang gadis bayaran, ya?" Ashley tersenyum miris.


Miris pada statusnya di hadapan Richard.


"Jangan merendah begitu! Kita akan hidup sebagai teman ke depannya!" Ujar Richard yang sama sekali tak membantu membuat perasaan Ashley menjadi lebih baik.


"Mom pasti kecewa sekali saat tahu aku hanya istri kontrakmu," ujar Ashley lagi yang terus saja kepikiran dengan perasaan Mom Fe nantinya. Ashley benar-benar menemukan sosok seorang ibu saat betada di dekat Mom Fe. Seandainya bisa memilih, tak masalah Ashley tak menikah dengan Richard, andai Ashley tetap bisa menjadi putri dari Mom Fe yang selalu menyayangi Ashley dengan tulus dan menerima Ashley di keluarga Alexander.


"Mom tidak akan tahu dan itu adalah urusanku nantinya!" Tukas Richard lagi yang hanya membuat Ashley diam.


"Baiklah! Aku akan pulang sekarang. Sapu tanganmu tadi biar aku cucikan!" Ashley meminta sapu tangan yang masih dipegang oleh Richard.


"Ayo aku antar!" Richard sudah bangkit berdiri dan berjalan beriringan dengan Ashley untuk turun dari rooftop, lalu mereka langsung meluncur pergi meninggalkan hotel milik keluarga Alexander tersebut.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.