
"Hoek!" Tiffany sekali lagi menumpahkan isi perutnya dan wajah istri Gika itu sidah merah padam serta dipenuhi keringat.
"Minum?" Tawar Gika seraya menyodorkan segelas air hangat untuk Tiffany.
"Ashley sudah datang?" Tanya Tiffany setelah meneguk hingga tandas air yang tadi di sodorkan oleh Gika. Toffany menyalakan kran air, lalu membasuh wajahnya berulang kali.
"Belum. Mungkin sebentar lagi." Jawab Gika seraya mengendikkan bahu.
"Masih mau muntah?" Gika balik bertanya pada Tiffany yang terlihat kacau.
"Ya!" Tiffany tiba-tiba sudah mengalungkan kedua lengannta di leher Gika.
"Sayang, aku sudah mandi dan ganti baju tiga kali. Kau tidak akan muntah di bajuku lagi, kan?" Gika berusaha melepaskan diri dari dekapan maut Tiffany yang biasanya akan berakhir dengan semburan muntah di seluruh tubuh Gika.
"Kenapa kau merasa risih begitu? Kau tak lagi menyukaiku?" Rengut Tiffany mulai kesal pada Gika.
"Bukan begitu! Aku hanya tidak mau mandi dan ganti baju untuk keempat kalinya karena kau menyemburku dengan jampi-jampi muntahmu itu," ujar Gika memberikan alasan.
"Bukankah kau suka Tiff yang agresif?" nada bicara Tiff tak kesal lagi. Gika kuga sedikit heran pada perubahan suasana hati Tiffany yang cepat sekali berubah. Sebentar kesal, sebentar genit, sebentar manja, sebentar galak seperti macan.
Rrrroar! Rrrrooooaaar!
"Iya, begitu-" Gika sedikit tersentak saat Tiffany tiba-tiba sudah menciumnya secara agresif.
Iyaa! Gika suka bagian ini!
Gika tak menyia-nyiakannya dan langsung membalas kecupan Tiffany serta merem*s bokong istrinya itu.
"Buka!" Tiffany mendorong tubuh Gika kekuar dari kamar mandi, lalu langsung menjatuhkannya ke atas ranjang. Wanita itu membuka kaus Gika dengan tergesa dan Gika sendiri juga sudah sangat bersemangat, hingga tiba-tiba....
"Ada apa?" Tanya Gika yang kini hanya tinggal mengenakan underwear saja.
"Hoek!" Tiffany tiba-tiba kembali muntah tepat di atas tubuh Gika.
"Tiff!!!" Geram Gika yang hanya membuat Tiffany tergelak.
"Kelakuan calon anakmu dan bukan aku!" Kilah Tiffany yang langsung berlari ke kamar mandi untuk berkumur-kumur, lalu keluar dengan cepat dengan wajah yang sudah sedikit segar.
"Sepertinya Ashley sudah datang, aku akan menyambutnya. Bye!" Pamit Tiffyang tanpa dosa pada Gika yang masih berbaring dan bermandikan muntahan Tiffany.
Dasar Tiffany!!
****
"Ma," Sunny mengetuk pintu kamar Alsya, lalu mendorongnya perlahan hingga terbuka.
"Papa masih muntah-muntah?" Tanya Sunny pada Alsya yang sedang mengusap punggung Naka.
"Aunty Ashley sudah datang?" Naka mendongakkan kepalamya dan balik bertanya pada Sunny.
"Iya, sudah. Wajah papa sedikit pucat," Sunny memberitahu sekaligus menunjuk ke arah wajah Naka. Sejak Alsya dinyatalan positif hamil, tidak tahu kenapa malah Naka yang mengalami semua gejala morning sickness yang normalnya dialami ibu hamil.
Tapi kata Mom Fe itu bukan hal aneh, karena dulu setiap Mom Fe hamil, Dad Dean juga mengalami apa yang Naka alami. Dad Dean juga muntah-muntah dan ngidam layaknya seorang ibu hamil.
"Kau di kamar saja, dan biar aku yang menemui Ashley," usul Alsya masih sambil mengusap punggung Naka.
"Tidak! Aku akan ikut berkumpul ke depan-"
"Sebentar," Naka menghela nafas panjang lalu pria itu bangkit berdiri dengan cepat dan lari ke kamar mandi. Tak berselang lama terdengar suara Naka yang sedang muntah-muntah.
"Sunny!" Panggil Naka yangbsudah melongokkan kepalanya keluar dari kamar mandi.
"Iya, Pa?"
"Minta maid membuatkan rujak seperti yang semalam, ya!" Ujar Naka pada sang putri sambung.
"Oke, Pa! Yang banyak mangga mudanya, ya?" Sunny tertawa kecil sebelum kemudian gadis itu keluar dari kamar dan kembali menutup pintu.
"Kausmu basah lagi," ujar Alsya yang sudah menyusul Naka masuk ke dalam kamar mandi. Alsya membantu melepaskan kaus suaminya tersebut.
"Apa efek kehamilan selalu membuatmu terlihat semakin cantik?" Tanya Naka yang sudah meraih dagu Alsya lalu mengusap lembut wajah istrinya tersebut.
"Kau pasti sedang menggodaku agar aku memberikan obat antimual lagi," tebak Alsya yang wajahnya sudah bersemu merah.
"Sejauh ini, hanya obat itu yang manjur," Naka memiringkan kepalanya, lalu mengecup bibir Alsya.
"Kita harus ke depan dan berkumpul bersama yang lain!" Alsya mengungatkan sembari tangannya mengusap dada Naka yang tak tertutupi sehelai kainpun.
"Kita bisa pakai mode quick," Naka tersenyum nakal pada Alsya lalu kembali mengecup bibir istrinya tersebut.
"Satu kali saja, agar aku tak muntah-muntah lagi," Naka mencari alasan.
"Ck! Alasanmu bagus sekali," Alsya tertawa kecil dan wanita itu sudah mengalungkan kedua lengannya di leher Naka. Seolah tak membuang waktu, Naka langsung menggendong Alsya dan membaringkannya dengan hati-hati di atas tempat tidur.
"Kunci dulu pintunya atau Sunny akan mengintip nanti." Alsya mengingatkan dan Naka langsung bergerak cepat untuk mengunci pintu kamar.
"Pelan-pelan dan jangan barbar!" Oesan Alsya saat tangan Naka mulai melucuti bajunya.
"Memangnya kapan aku pernah barbar?" Naka mengerling nakal pada Alsya, sebelum.kemudian pria itu lanjut menyatukan bibirnya dengan bibir Alsya dan memulai pergelutan singkat mereka.
****
"Kita akan tinggal di rumah Mom mulai sekarang?" Tanya Ashley yang balik menatap pada Richard.
"Ya, sesuai permintaan Mom dan Dad. Mereka tidak mau sesuatu terjadi pada calon cucu mereka," Richard mengusap perut Ashley yang masih datar.
Ashley mengangguk.
"Ayo turun!" Ajak Ashley selanjutnya dan Richard langsung melepaskan sabuk pengamannya, lalu turun terlebih dahulu. Richard lanjut membukakan pintu dimana Ashley duduk dan membimbing istrinya itu untuk turun perlahan dari dalam mobil.
"Aku tiba-tiba ingin makan rujak," bisik Ashley pada Richard saat merrka melangkah ke teras.
"Nanti biar maid yang membuatkan," ujar Richard cepat.
"Welcome, ibu hamil ketiga kita!" Sambut Elleanore yang langsung memeluk Ashley dengan erat.
"Ibu hamil ketiga?" Tanya Ashley bingung. Sedangkan Elleanore malah mengangguk-angguk dan membuat Ashley semakin bingung.
"Tiffany dan Alsya juga baru saja memberitahukan kehamilan mereka," ujar Richard memberitahu Ashley yang langsung menganga tak percaya.
"Benarkah?" Ashley menatap bergantian pada Elleanore dan Richard.
"Mom dan Dad akan mendapatkan tiga cucu sekaligus tahun depan," celetuk Elleanore seraya tertawa. Ini memang sudah masuk akhir tahun, jadi HPL Ashley, Tiffany, dan Alsya memanglah tahun depan.
"Ayo masuk, Kak!" Ajak Elleanore selanjutnya seraya merangkul Ashley untuk masuk ke dalam kediaman Alexander. Mereka langsung menuju ke ruang tengah, dimana semua orang sudah berkumpul di sana sembari bercengkerama.
"Kak Ashley sudah pulang!" Elleanore berseru pada semua orang dan Mom Fe yang terlebih dahulu menghampiri Ashley lalu memeluk menantu pertamanya tersebut.
"Selamat datang di rumah!" Ucap Mom Fe seraya memeluk erat Ashley. Lalu setelahnya, gantian Alsya dan Tiffany yang juga memeluk Ashley.
"Kau benar-benar membuat khawatir," gerutu Tiffany sedikit mengomeli Ashley.
"Kau hamil juga?" Tanya Ashley seraya mengusap perut Tiffany.
"Ya, enam minggu kata dokter. Kak Alsya juga enam minggu," jelas Tiffany seraya menunjuk ke arah Kak Alsya yang masih berdiri di antara mereka.
"Kau?" Kak Alsya ganti bertanya pada Ashley.
"Enam minggu juga!" Jawab Ashley seraya tergelak dan mereka semua langsung tergelak bersama.
"Jadi, apa kita sebelumnya janjian saat membuat cucu untuk Mom dan Dad?" Tanya Gika yang sudah merangkul Naka serta Richard.
"Aku rasa begitu!" Jawab Naka seraya terkekeh. Richard tak ikut menyahut dan pria itu hanya tertawa kecil.
Ck!
Masih saja seperti kanebo kering!
"Papa, rujaknya sudah siap!" Lapor Sunny yang baru tiba dari dapur seraya mrmbawa secobek bumbu rujak. Ada dua maid yang mengekori Sunny dan turut membawakan dua nampan potongan buah.
"Waaah! Rujak!" Ashley berbinar dan langsung menghampiri nampan rujak tadi.
"Silahkan! Silahkan! Yang ngidam dipersilahkan!" Seru Gika pada semua orang.
Naka dan Ashley bergerak cepat mengambil piring dan memindahkan beberapa potong buah, lalu menyiramnya dengan bumbu rujak. Sementara Tiffany malah bergelayut pada Gika yang kini duduk di sofa.
"Ada apa?" Tanya Gika bingung karena takut kalau-kalau Tiffany akan minta anu di saat semuanya sedang berkumpul. Sifat agresif Tiffany yang muncul setelah kehamilan ini memang sedikit meresahkan meskipun sebenarnya Gika menyukainya.
"Aku mau rujak juga, tapi jambu dan kedondongnya saja," ujar Tiffany pada Gika sedikit merengek.
"Tinggal ambil!" Jawab Gika enteng.
"Ambilin! Sama suapin juga!" Tiffany mendelik pada Gika seolah tak mau dibantah.
"Baiklah! Dasar macan! Rrrooaaar!" Gika mengaum, lalu bangkit berdiri untuk mengambilkan rujak untuk Tiffany.
"Dasar pawang macan! Rrrooaaar!!" Balas Tiffany yang langsung membuat semuanya tergelak.
"Buka mulut!" Ashley berusaha menyuapi Richard dengan potongan mangga muda yang membuat pria itu merem-merem menahan rasa asem dari mangga muda.
"Aku mau melonnya saja, atau bengkuang itu!" Richard menunjuk ke arah buah lain di nampan karena sejak tadi yang Ashley ambil dan suapkan ke Richard hanya mangga muda terus.
"Ini mangganya enak, Sayang! Seger!" Paksa Ashley yang benar-benar membuat Richard tak bisa berkutik lagi.
"Enak, Bang!" Timpal Naka yang juga lahap memakan potongan mangga muda di cocol bumbu rujak.
Sejak kapan juga, Naka jadi ngidam mangga muda begitu?
.
.
.
Ini nanti cucunya mau kembar semua atau bagaimana?
Sumbang ide nama dulu buat cucunya Dean.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.