
Gika masih bungkam dengan ledekan dari Elleanore. Pria itu juga sudah melepaskan cengkeramannya pada kerah baju Henry karena ponsel di sakunya mendadak berdering nyaring.
"Abang Gika jatuh cinta! Abang Gika jatuh cinta!"
"Semoga Kak Tiff yang terakhir dan bisa bikin abang tobat!" Cerocos Elleanore yang seolah sudah lupa dengan kesedihannya soal Edward tadi.
"Aamiin!" Timpal Henry yang langsung mengaminkan kalimat Elleanore yang terakhir. Sedangkan Gika hanya melempar tatapan tajam pada Henry dan Elleanore seolah sedang memikirkan cara menyumpal mulut adiknya yang ember bocor ini agar pengakuan Gika tadi tak sampai ke telinga Mom atau Tuan Bowles, atau siapapun!
Gika mengambil ponselnya yang terus saha berdering dari dalam saku celana dan kedua matanya kembali harus membelalak saat melihat nama yang tertera di layar ponsel.
"Mom?"
Kenapa Mom Fe sudah lamgsung menelepon Gika? Apa Elleanore dan Mon Fe berhubungan melalui telepati? Atau Elleanore sebenarnya adalah Mom Fe yang sedang menyamar?
"Halo Mom!" Sambut Gika akhirnya yang terpaksa mengangkat telepon dari Mom Fe.
"Kau dimana, Gika?"
"Sedang menggerebek Elleanore yang sedang berpacaran dengan Henry di rooftop, Mom! Gika rasa Elleanore sudah kebelet ingin menikah dengan Henry," Gika tidak tahu ilham apa yanv baru saja menghinggapinya, hingga secara tiba-tiba, di detik-detik terakhir harga dirinya nyaris hancur, Gika akhirnya bisa menemukan sebuah ide untuk membungkam kebocoran pada mulut Elleanore yang masuk stadium akut!
"Abang!" Gertak Elleanore saat mendengar tuduhan konyol Guka kepadanya.
Gika langsung memasang wajah meledek pada Elleanore seraya memeletkan lidahnya.
"Elleanore berpacaran dengan Henry? Sejak kapan? Mom mencarinya sejak tadi karena Aunty Navya sudah datang dan Elleanore malah menghilang."
"Dia di rooftop! Sedang bersama Henry sang selingkuhan. Sampaikan saja pada Aunty Navya dan Victor agar di gerebek!" Gika mengompori.
"Jangan sembarangan!" Gantian Henry yang menggertak Gika dan berusaha merebut ponsel tuan model pawang macan itu.
"Apa, Kau!!" Gika beringsut mundur dan terus menghindari Henry serta mempertahankan ponselnya.
"Gika!"
Suara Mom Fe dari ujung telepon hanya diabaikan Gika karena pria itu sibuk rebutan ponsel dengan Henry.
"Gika!"
"Gika De Chio!"
Masih tak ada tanggapan dari Gika yang sibuk kejar-kejaran dengan Henry di rooftop bak kucing dan tikus.
"Abang berikan ponselnya!" Gertak Elleanore ikut-ikutan mencegat Gika dari arah lain. Kini Gika sudah berhasil dikepung oleh Henry dan Elleanore.
"Jangan main keroyokan begini!" Protes Gika pada Elleanore dan Henry yang terus mendesaknya dari dua arah berbeda. Maju kena mundur kena!
Gika kembali menempelkan ponselnya di telingadan hendak melapor pada Mom Fe serta membuat tuduhan palsu saat kemudian Gika menyesali semua tindakannya tersebut.
"Magika Dechio Alexander!"
Oh ya ampun! Siapa orang bodoh yang sudah menekan loudspeaker di layar ponsel Gika?
Gika sendiri pastinya karena sejak tadi hanya ia yang memegang serta menggenggam erat ponselnya agar tak diambil oleh Henry dan Elleanore. Dan sekarang sepertinya gendang telinga Gika baru saja pecah dan terbelah karena teriakan Mom Fe yang begitu menggema
"Gika tuli, Mom!" Cicit Gika seraya meringis serta menjauhkan ponselnya dari telinga.
"Cepat turun sekarang karena Tuan Bowles menunggumu di bawah!"
Baiklah!
Sepertinya yang pecah dan terbelah bukan hanya gendang telinga Gika melainkan juga jantung Gika serelah mendengar kalimat perintah dari Mom Fe barusan.
Tuan Bowles mencari Gika?
Apa opa Tiffany macan rrrooaaar itu juga punya hubungan batin dan berhubungan via telepati bersama Elleanore?
"Sekarang, Mom?" Tanya Gika masih tak percaya dan shock tentu saja.
"Iya sekarang!"
Jawaban Mom Fe tegas dan lantang. Berarti Mom Gika itu memang serius. Lalu ada apa gerangan Tuan Bowles mencari Gika?
Mau memberitahu alamat rumahnya agar Gika bisa secepatnya menagih kompensasi oada gadis macan rrrooaaar itu?
Baiklah!
Gika akan dengan senang hati menemui Tuan Bowles!
Rrrooaaar! Rrrrooooaaar!
"Baik, Mom! Gika akan turun sekarang," pungkas Gika bersamaan dengan sambungan telepon yang terputus.
****
Tak sampai sepuluh menit, dan Gika sudah berada di ballroom hotel, berbaur dengan para tamu yang hadir malam ini. Kebanyakan memang para eksekutif muda rekan bisnis Dad dan Abang Richard!
Ya, sejak dulu menurut Gika Abang Richard adalah cerminan Dad saat muda. Sok cool!
"Hai, Mom!" Sapa Gika seraya merangkul mesra Mom Fe yang sedang duduk bersama Dad Dean dan Tuan Bowles. Sudah langsung bisa ditebak wajah Dad Dean yang berubah bersungut pada Gika yang merangkul-rangkul Mom Fe. Dasar bucin!
"Kau dari mana saja? Cepat duduk!" Titah Mom Fe seraya mengusap lengan Gika. Kode berupa belitan kaki dari Dad Dean langsung menghampiri kaki Mom Fe di bawah meja.
Ck! Dasar suami bucin!
"Selamat malam lagi, Tuan Bowles!" Sapa Gika seraya tersenyum pada Tuan Bowles yang hanya tersenyum seraya mengangguk.
Gika segera duduk di antara Dad Dean dan Tuan Bowles, karena memang hanya itu satu-satunya kursi yang tersisa.
Aneh!
Meja lain kursinya ada enam sampai delapan padahal. Kenapa yang disini cuma empat?
"Jadi, ada apa, Mom?" Tanya Gika yang akhirnya buka suara,karena sejak tadi para orang tua ini hanya diam saja.
"Dad sudah bicara pada Tuan Bowles, Gika! Tentang keinginanmu untuk mempersunting Tiffany-"
Tapi, Dad!" Gika menyela penjelasan Dad Dean.
"Dengarkan dulu, Gika!" Sergah Mom Fe menatap tegas pada sang putra. Gika langsung diam dan tak jadi protes.
"Syarat apa?" Sergah Gika tak sabar.
"Silahkan, Tuan Bowles!" Dad Dean mengangguk ke arah Tuan Bowles.
"Berhentilah jadi model serta hilangkan kebiasaan burukmu yang kerap bergonta-ganti teman kencan itu!" Jawab Tuan Bowles seraya menatap tegas pada Gika.
"Lalu fokuslah belajar bisnis, karena Tiffany adalah satu-satunya cucuku yang kelak akan mewarisi semua perusahaan milik The Bowles. Jadi aku ingin Tiff punya suami yang paham bisnis dan tahu bagaimana menjalankan sebuah perusahaan." Jelas Tuan Bowles panjang lebar yang langsung membuat Gika diam untuk beberapa saat.
"Maaf, Tuan Bowles! Tapi saya tidak ada niat mempersunting Tiffany-"
"Gika!" Kemarahan Dad Dean teredam oleh isyarat tangan dari Tuan Bowles. Sepertinya opa Tiffany itu ingin mendengar pengakuan lengkap Gika.
"Tadinya saya hanya ingin menemui Tiffany saja dan tak berniat mempersunting gadis macan itu-"
"Maaf, Tuan Bowles!" Gika buru-buru minta maaf karena keceplosan menyebut Tiffany macan.
"Iya, teruskan!" Tuan Bowles masih tersenyum hangat.
"Iya, seperti yang Gika katakan di awal pada Tuan Bowles kalau saya ingin menemui Tiffany agar Tiffany bisa minta maaf pada saya karena dia pernah menuduh saya sebagai orang yang sudah menabrak dan membuatnya celaka. Padahal yang dia maksud saat itu adalah Naka." Jelas Gika yang tetap mempertahankan modus sebelumnya.
Agar terlihat konsisten saja!
"Baiklah, Gika! Kalau seperti itu urusannya, saya sebagai Opanya Tiffany akan mewakili Tiff saja untuk minta maaf. Dan kau tak perlu lagi ngotot menemui Tiffany!"
"Tiffany mungkin akan menikah dengan pria lain-"
"Apa?" Gika mendadak kalang kabut saat Tuan Bowles melarangnya bertemu Tiffany dan Tiffany akan menikah dengan pria lain?
"Tidak bisa begitu,Tuan Bowles! Saya harus bertemu Tiffany!" Sergah Gika yang sudah benar-benar kalamg kabut.
"Tuan Bowles sudah mewakili Tiffany minta maaf, Gika! Jadi untuk apa lagi kamu memaksa menemui Tiffany?" Cecar Mom Fe yang benar-benar tak mengerti dengan sikap Gika.
"Gika mau..."
"Gika mau mengambil motor pink yang pernah Gika belikan untuk Tiff!" Jawab Gika akhirnya mencari-cari alasan. Penting Gika bisa ketemu Tiffany dulu. Bisa hancur dunia persilatan Gika kalau gadis macan rrrooaaar itu menikah dengan pria lain.
Otak Gika sudah terkontaminasi olehnya!
"Kami akan mengantarnya nanti!" Jawab Tuan Bowles santai.
"Tapi-"
"Tapi Gika ingin mengambilnya sendiri, Opa!" Ujar Gika ketas kepala.
"Gika jangan berlebihan! Bukankah katamu tadi kau tak ada perasaan apappun pada Tiffany? Lalu kenapa kau kalang kabut begitu?"
"Gika menyukai Tiffany, Dad! Gika harus bertemu Tiffany dan kencan dengannya!"
Entah sadar atau tidak tapi kalimat yang dilontarkan Gika barusan benar-benar berakibat fatal untuk dunia seorang Gika De Chio. Selain bogem mentah Dad Dean yang langsung mendarat di wajahnya, Gika juga baru saja membuat sebuah pengakuan yang benar-benar di luar dugaan.
"Jadi kau ngotot ingin menemui cucuku hanya agar kau bisa mengencaninya, lalu meninggalkannya seperti pacar-pacarmu yang lain?" Tuan Bowles menatap penuh kecewa pada Gika.
"Cucuku bukan seorang gadis murahan, dan aku rasa kau memang bukan pria yang pantas untuk Tiffany!"
Gika bungkam seribu bahasa dengan ungkapan kekecewaan dari Tuan Bowles.
"Aku pamit pulang sekarang, Dean, Felichia! Terima kasih atas undangan kalian malam ini!" Tuan Bowles sudah bangkit berdiri dan secara tiba-tiba Gika itu bangkit dari duduknya lalu memeluk kaki Tuan Bowles.
"Opa!"
"Maafkan Gika dan tolong berikan Gika kesempatan untuk bisa bertemu Tiffany!" Mohon Gika pada Tuan Bowles.
"Penuhi syarat yang aku ajukan tadi jika kau ingin bertemu Tiffany! Anak buahku akan ada dimana-mana untuk mengawasimu dan jika sekali saja kau ketahuan masih mengencani gadis-gadis di luaran sana..." Tuan Bowles menjeda kalimatnya sejenak.
"Jangan harap kau bisa bertemu dengan Tiffany lagi."
"Belum tentu juga Tiffmau dengan pria playboy sepertimu!" Pungkas Tuan Bowles sinis seraya berlalu dari hadapan Gika, setelah beberapa pengawalnya memaksa untuk melepaskan Gika yang memohon kepadanya.
"Bangunlah!" Mom Fe membimbing Gika yang tampak kacau agar bangkit berdiri.
"Dad sudah memperingatkanmu sebelumnya, Gika! Sekarang kau rasakan sendiri akibatnya!" Sergah Dad Dean yang langsung berhadiah pukulan di lengan dari Mom Fe.
"Jangan seperti itu! Kita harus menyemangati Gika agar berjuang!"
"Mom!" Panggil Gika melas.
"Iya, Gika!"
"Kenapa hati Gika sakit mendengar kata Opa Bowles yang melarang Gika bertemu Tiffany tadi, ya?" Curhat Gika tetap melas.
"Kau sedang jatuh cinta pada Tiffany, Gika!" Jelas Mom Fe bersungguh-sungguh.
"Mustahil! Gika benci pada gadis macan rrrooaaar itu sejak dulu, Mom!" Sanggah Gika ngeyel.
"Cinta dan benci itu bedanya hanya setipis tisu toilet!" Sahut Dad Dean absurd.
"Apa tidak ada analogi yang lebih elegant? Kenapa bawa-bawa tisu toilet, Dad?" Tanya Gika bersungut.
"Cinta dan benci itu bedanya memang tipis, Gika! Tak perlu lagi menyangkal perasaanmu pada Tiff dan mulailah berjuang!"
"Mom mendukungmu!" Mom Fe memeluk sang putra dan berusaha memberikan semangat, meskipun apa yang kini dilakukan mom Fe tersebut langsung membuat api cemburu di hati Dad Dean mendadak berkobar.
"Sudah jangan lama-lama memeluknya!" Dad Dean memisahkan Gika dan Mom Fe.
"Dasar Dad bucin!" Cibir Gika seraya terkekeh.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.