
Gika melepaskan pagutannya pada wanita yang akan menemaninya malam ini. Mendadak Gika jadi kehilangan gairah untuk bercinta dan menyentuh wanita seksi ini. Sejak tadi pikirannya terus saja tertuju pada wanita macan rrrooaaar itu!
Tiffany!
"Ada apa, Gika?" Tanya wanita itu yang seperti tak terima saat Gika tiba-tiba mengakhiri pagutan mereka.
"Aku mendadak kehilangan gairah!" Jawab Gika seraya meraih kemejanya, lalu memakai benda itu dengan cepat.
"Tapi kita baru pemanasan, Gika! Aku akan memuaskanmu malam ini!" Wanira itu mulai merayu Gika.
"Tidak, terima kasih!" Gika menatap tanpa selera ke tubuh setengah naked di depannya tersebut.
"Akan ku transfer bayaranmu malam ini dan aku tetap membayarmu penuh. Tapi aku akan pergi sekarang!" Ujar Gika seraya merapikan rambutnya secara asal, lalu meraih ponsel dan dompetnya dan keluar dari kamar hotel tersebut!
"Gika!" Panggilan wanita tadi hanya Gika abaikan dan Gika terus melenggang menuju ke lift untuk secepatnya pergi dari hotel bodoh ini.
"Pergi kau, Tuan model sinting!" Makian Tiffany kembali berkelebat di benak Gika dan entah mengapa malah membuat pria itu menyungginglan senyum di bibirnya.
"Kesini dan bawa pergi motor pinkmu itu! Aku tak butuh!" Gika kembali menyunggingkan senyum.
"Tidak butuh ya tidak usah dipakai!" Gika refleks bergumam hingga seseorang yang berdiri di depannya menoleh ke belakang.
"Eheem! Ada apa?" Tanya Gika ketus seraya membenarkan kaca mata hitamnya.
Sial!
Kenapa Gika malah seperti orang gila begini hanya karena ingat pada makian Tiffany?
Tapi wanita itu seksi sekali saat marah-marah dan memaki-maki Gika. Dan sekarang Gika benar-benar penasaran bagaimana Tiffany akan meracau jika Gika mengajaknya bercinta di atas ranjang.
"Aku harus bisa tidur dengan Tiffany!" Tekad Gika dalam hati, bersamaan dengan pintu lift yang terbuka di sebuah lantai yang tentu saja bukan lantai tujuan Gika.
Seseorang masuk ke dalam lift dan membuat Gika kaget setengah mati.
"Dad!" Gika buru-buru menutup mulut sialannya yang keceplosan. Namun Dad Dean terlanjur mendengar dan pria itu menoleh pada Gika lalu menatap aneh pada si ninja hitam.
"Sedang memata-matai seseorang?" Tanya Dad Dean yang rupanya langsung tahu kalau itu adalah Gika, putranya yang saat kecil dulu sok-sokan jual mahal dan selalu enggan ia gendong.
Dasar Gika!
"Sedang menyamar!" Jawab Gika bersungut.
"Menyamar? Memangnya ada yang mengenalimu?" Tanya Dad Dean heran.
"Banyak! Gika model terkenal, Dad!" Jawab Gika berbisik-bisik pada Dad Dean.
"Hmmm, begitu, ya! Lalu sedang apa disini malam-malam? Ada acara atau pemotretan?" Tanya Dad Dean lagi.
"Tidak ada! Hanya sedang cari angin," jawab Gika tetap berbisik.
"Cari angin atau cari lubang?" Sindir Dad Dean bersamaan dengan pintu lift yang akhirnya terbuka tepat di lantai yang menuju ke lobi utama hotel.
"Lubang apa maksud Dad?" Gika menahan langkah Dad Dean seolah minta penjelasan.
"Tidak usah pura-pura polos! Kau pikir Dad tidak tahu kelakuanmu selama ini yang gemar check in di hotel bersama seorang jal*ng?" Dad Dean merendahkan nada bicaranya.
"Gika hanya menyalurkan kebutuhan," sergah Gika mencari pembenaran.
"Kebutuhan seorang pria? Menikah dan jadilah pria sejati, Gika! Sudah cukup kau bermain-main dan menjadi pria brengsek!"
"Sejak dulu, Dad tidak suka dengan gaya hidupmu yang itu!" Cecar Dad Dean tegas.
"Tapi Dad tak pernah menegur Gika dan membiarkan saja! Bukankah itu artinya Dad mendukung Gika?" Gika masih menyangkal dan mencari pembenaran.
"Dad diam karena menunggu kau sadar. Tapi sampai sekarang kau masih belum sadar ternyata," dad kandung Gika itu geleng-geleng kepala.
"Tirulah Richard yang gentle sebagai seorang pria! Dia tak pernah menyentuh wanita manapun sebelum sah sebagai suami istri. Atau Naka-"
"Ngomong-ngomong soal Naka." Gika menyela omelan Dad Dean.
"Naka kenapa? Kata Mom kamu Naka baru saja menabrak seorang gadis hingga kakinya patah." Dad Dean mencoba meredam amarahnya.
"Gadis itu yang menabrakkan diri ke mobil Naka. Si gadis macan rrrooaaar! Sebelumnya dia juga menabrakkan diri ke mobil Gika," jelas Gika sedikit mengurang.
"Kau mengenal gadis itu? Kenapa sampai punya julukan untuknya? Gadis apa tadi? Macan rrrrooooaaar?" Dad Dean mengaum juga dan Gika langsung tertawa terbahak-bahak.
"Dad sudah mirip macan! Mau menerjang Mom, Dad?" Goda Gika usil.
"Jangan mengalihkan pembicaraan!" Dad Dean kembali menegur Gika.
"Kau kenal gadis yang ditabrak Naka?" Dad Dean bertanya sekali lagi.
"Kenal tidak kenal. Yang jelas dia galak dan tomboy," jawab Gika lebay.
"Dan dia temannya Ashley! Mereka sama-sama tinggal di panti asuhan, cuma yang membedakan dia galak dan ketus dan tidak sebawel Ashley!" Cerocos Gika panjang lebar menjelaskan pada Dad Dean.
"Iya! Kakak ipar Ashley! Maaf Dad!" Ujar Gika akhirnya.
"Lalu kau mau kemana ini? Ayo pulang bersama Dad!" Tanya Dad Dean selanjutnya.
"Gika mau ke rumah sakit dulu," Gika meringis sambil memikirkan alasan yang tepat.
Tidak!
Gika bukan ingin menjenguk Tiffany macan rrrooaaar itu!
Gika hanya ingin bertanya kenapa Tiffany macan rrrooaaar itu terus saja menghantui otak dan pikiran Gika dengan semua makiannya. Gika kan jadi tidak fokus bercinta dengan gadis lain. Gika juga akan sekalian minta kompensasi agar Tiffany mau bercinta dengannya karena Gika sudah seminggu lebih belum bercinta!
Gika sibuk pemotretan dan sibuk berdebat dengan Tiffany hingga suara serta makian gadis macan rrrooaaar itu, menkontaminasi otak dan pikiran Gika.
Dasar gadis macan rrrooaaar!
"Menjenguk siapa di rumah sakit?" Tanya Dad Dean penuh selidik.
"Teman Gika, Dad!" Jawab Gika dengan wajah meyakinkan agar Dad-nya yang mendadak jadi bawel ini tak bertanya lagi.
"Baiklah, Dad juga mau ke rumah sakit untuk menjenguk Cecil. Dad baru ingat kalau Cecil juga habis kecelakaan," putus Dad Dean akhirnya.
Mati kau, Gika!
"Kau tahu soal Cecilia yang kecelakaan?" Tanya Dad Dean lagi pada putranya tersebut. Ayah dan anak itu sudah berjalan beriringan menuju ke area parkir hotel.
"Ya! Tadi Elleanore mengabari Gika," jawab Gika cepat.
"Nanti jangan lupa untuk menjenguk Cecilia juga!" Pesan Dad Dean selanjutnya
"Siap, Dad!"
****
Gika mempercepat langkahnya untuk menyusuri lorong yang menuju ke kamar perawatan Tiffany setelah ia berpisah dengan Dad Dean di depan lift tadi.
Gika sudah tak sabar melihat reaksi Tiffany saat ia mengajaknya bercinta sebagai kompensasi atas semua omelan serta perdebatan sengit mereka yang membuat otak dan pikiran Gika terkontaminasi.
Gadis macan rrrooaaar itu pasti akan langsung mencak-mencak, tapi dia juga tak akan bisa berbiag apa-apa pada Gika karena kakinya sedang patah dan di gips.
Hahahaha!
Gika akan memperkosa Tiffany di atas bed perawatan kalau perlu. Gika benar-benar tak sabar merasakan sensasi bercinta dengan gadis macan rrrooaaar yang kakinya patah sebelah.
Gika akhirnya sampai di depan kamar perawatan Tiffany. Pas sekali suasana sepi dan sepertinya sedang tak ada yang menjaga Tiffany.
Aneh sekali!
Apa Naka sudah pulang?
Apa Ashley juga sudah pulang?
Gika mengendikkan bahu dan segera mendorong pintu kamar perawatan.
"Hai, Gadis macan! Gika De Chio datang!" Seru Gika pada....
Bed perawatan kosong?
Apa?
Tiffany dimana?
Perasaan Gika tidak salah kamar!
Tapi kenapa kamar ini kosong tak berpenghuni?
Kemana gadis macan rrrooaaar itu pergi?
.
.
.
Ke hatimu mas Gika 😆😆
Moduse Gika bisa ae
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.