Queen Of Alexander'S

Queen Of Alexander'S
SURAT KONTRAK



Gika keluar dari lift yang mengantarnya ke rooftop setelah Elleanore menelepon dan memberitahu kalau Henry pingsan di rooftop.


"Apa yang terjadi, El?" Tanya Gika seraya menghampiri Elleanore yang masih terduduk di lantai rooftop seraya memangku Henry yang belum sadarkan diri.


"El tidak tahu, Bang! Henry tiba-tiba jatuh dan pingsan!" Jawab Elleanore panik. Tak berselang lama, Naka, Dad Dean dan Mo Fe sudah menyusul ke ayas rooftop bersama beberapa karyawan hotel juga. Mereka segera memberikan pertolongan dan membawa Henry ke rumah sakit.


"Hendy sudah tidur tadi. Apa sebaiknya diberitahu, Mom?" Tanya Gika meminta pendapat Mom Fe.


"Tidak usah! Nanti biar maid yang menjaga. Kita ke rumah sakit dulu dan cari tahu Henry sakit apa sebenarnya," jawab Mom Fe bijak. Gika hanya mengangguk dan kembali menghampiri Elleanore yang terlihat sangat cemas.


"Kau dan Henry sedang apa tadi di rooftop? Kalian melakukan sesuatu?" Kedua telunjuk Gika membentuk tanda kutip.


"Gika!" Tegur Mom Fe galak pada Gika yang pikirannya selalu mengarah ke hal-hal tak senonoh. Entah menuruni sifat siapa anak Mom Fe yang satu itu.


"Gika hanya bertanya dan memastikan, Mom! Mungkin saja Henry hebdak melakukan sesuatu pada Elleanore, lalu Elleanore menendangnya hingga pingsan," Gika sedikit tertawa kecil seolah kelakar garingnya itu terdengar lucu sekarang.


"Ini bukan waktunya bercanda, Gika!" Gantian Dad Dean yang menegur Gika dengan galak, segalak Mom Fe tadi. Memang klop sekali Mom dan Dad-nya Gika itu!


"Iya, maaf!" Gumam Gika yang sidah mengulurkan lengannya untuk merangkul Elleanore.


"Henry sebenarnya sakit apa, Bang?" Tanya Elleanore yang sudah menbenamkan kepalanya ke dalam pelukan Gika.


"Abanv kan sahabatnya dan dekat dengan Henry. Pasti abang tahu Henry sakit apa," ujar Elleanore lagi yang terlihat sangat cemas.


"Aku benar-benar tidak tahu! Henry tak pernah cerita kalau dia sakit-" kalimat Gika terhenti saat tiba-tiba Gika ingat pada beberapa obat yang selalu Henry nawa kemana-mana. Henry pernah mengatakan kalau itu adalah multivitamin. Mungkinkah Henry berbohong dan pria itu sebenarnya tengah menjalani pengobatan? Tapi Henry sakit apa?


Ceklek!


Pintu ruangan akhirnya dibuka dan dokter keluar dari ruangan. Elleanore dan Gika langsung bangkit dari duduk dan menyusul Mom serta Dad yang sufah terlebih dahulu menghampiri Dokter.


"Infeksinya sudah menyebar ke selaput otak dan juga paru-paru. Henry todak meminum obat dengan teratur dan jadwalnya benar-benar berantakan." Ujar Dokter yang tentu saja langsung membuat semuanya merasa bingung.


"Infeksi apa maksudnya, Dok? Henry sakit apa?" Tanya Elleanore mendahului Mom Fe dan Dad Dean.


"HIV. Dia belum memberitahu?" Dokter balik bertanya dan Elleanore langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan karena shock.


"Dokter jangan bercanda!" Sergah Gika penuh emosi yang hampir menarik baju dokter. Namun Dad Dean meredm amarah putranya itu dengan cepat dan mencekal kedua tangan Gika


"Henry pria baik-baik! Dia tak mungkin terkena penyakit laknat itu!" Sergah Gika lagi penuh emosi.


"Sudah sejak setahun yang lalu Henry rutin minum obat. Tapi dia tak pernah meminum obatnya dengan teratur." Jelas dokter lagi.


Elleanore sudah terisak di pelukan Mom Fe dan Gika masih bertanya-tanya bagaimana Henry bisa terkena penyakit itu. Henry saja selalu mengomeli Gika tentang kebiasaan Gika yang kerap bergonta-ganti pasangan.


"Apa Henry sudah bangun, Dok?" Tanya Elleanore seraya menghapus airmatanya.


"Sementara biarkan dia beristirahat dulu. Kondisinya masih lemah." Jawab Dokter menjelaskan.


"Sebaiknya kita pulang dan istirahat juga," usul Dad Dean pada Mom Fe dan kedua anaknya.


"El akan disini menjaga Henry," ucap Elleanore keras kepala.


"El!"


"Mom dan Dad pulang dan istirahat saja. Gika akan disini menemani Elleanore," ujar Gika menengahi.


"Baiklah! Nanti Mom akan menyuruh maid mengantarkan baju ganti untukmu kesini," mom Fe mengusap punggung Elleanore yang wajahnya masih terlihat sendu. Apa Elleanore sudah jatuh cinta pada Henry?


"Henry pria yang kuat. Kita hanya perlu memberikannya semangat dan dukungan agar ia rutin menjalani pengobatan lagi." Ucap Dad Dean seraya memeluk Elleanore yang kembali tergugu.


"Henry akan sembuh kan, Dad?" Cicit Elleanore yang tentu saja tak perlu dijawab oleh Dad Dean atau siapapun. Semua tentu ingin Henry bisa sembuh dan sehat lagi. Tapi jika infeksinya saja sudah menyebar, hal terakhir yang bisa dilakukan hanyalah berdoa dan melakukan pengobatan semaksimal mungkin.


"Kita hanya perlu memberikan Henry dukungan dan membuatnya bahagia." Gumam Dad Dean seraya mengeratkan pelukannya pada Elleanore. Mom Fe ikut memeluk putrinya tersebut seolah turut merasakan apa yang kini dirasakan oleh Elleanore.


****


"Selamat datang!" Ucap Richard seraya membuka pintu apartemen mewahnya. Ashley langsung ternganga saat melihat apartemen Richard yang begitu besar dan lengkap.


"Ini apartemenmu?" Tanya Ashley seraya mengedarkan pandangannya dan gadis itu tak berhenti berdecak kagum.


"Kau menyukainya? Kita akan tinggal disini mulai sekarang, jadi aku harap kau merasa nyaman menganggapnya seperti rumahmu sendiri."


"Nanti aku akan memberikanmu kartu akses." Tutur Richard panjang lebar menjelaskan pada Ashley.


"Ya. Aku menyukainya." Jawab Ashley masih sambil mengedarkan pandangannya ke setiap sudut apartemen Richard.


"Ke lantai atas. Ada satu kamar dan ruang kerja serta perpustakaan kecil di sana," jelas Richard.


"Pasti kamarmu," tebak Ashley seraya terkekeh.


"Kamarmu ada di bawah." Richard mengajak Ash melihat dua kamar yang ada di lantai bawah.


"Kau mau kamar yang mana?" Tanya Richard memberikan pilihan. Kedua kamar itu sama-sama luas dan mewah.


"Aku boleh memilihnya sendiri?" Tanya Ashley seraya tertawa kecil.


"Tentu saja! Aku mau kau merasa nyaman tinggal disini. Jadi silahkan kau pilih yang mana yang membuatmu nyaman. Atau kalau kau bingung kau boleh mencoba tidur di kamar yang ini dulu, lalu besok kau baru todut di kamar satunya lagi."


"Nanti baru kau bisa mengambil keputusan," terang Richard yang langsung membuat Ashley manggut-manggut.


"Aku akan mencoba idemu tadi. Kau sudah banyak bicara sekarang, hah!" Goda Ashley seraya menepuk punggung Richard dan tertawa kecil.


Richard terdiam untuk beberapa saat dan masih berusaha mencerna kalimat Ashley tadi.


Benarkah Richard sudah banyak bicara sekarang? Apa ini ada hubungannya denagn kedekatan Richard dan Ashley yang begitu bawel?


"Kalian sudah datang?" Tanya Edward yang datang dari lantai dua apartemen. Pria itu menuruni tangga dengan cepat sementara Ashley masih terbengong-bengong sekaligus bertanya-tanya.


"Edward tinggal disini juga?" Tanya Ashley akhirnya karena merasa bingung.


"Tentu saja tidak, Ash! Edward punya apartemen sendiri tak jauh dari sini. Dia disini karena mengerjakan sesuatu," jelas Richard yang langsung membuat Ashley bernafas lega.


"Mengerjakan surat kontrak pernikahan kalian lebih tepatnya!" Edward memperjelas. Prianitu sudah duduk di sofa ruang tengah dan Richard segera mengajak Ashley untuk duduk juga bersama Edward.


"Silahkan dibaca dulu!" Edward menyodorkan dua lembar kertas pada Richard dan suami Ashley itu langsung membacanya dengan serius, lalu mengangguk-angguk. Richard ganti mengangsurkan kertas tadi pada Ashley .


"Kau bisa membacanya dulu, Ash! Kalau ada yang mengganjal atau kau kurang setuju bisa kita diskusikan," ujar Richard.


Ashley langsung membaca kata demi kata yang tertulis di atas kertas putih tersebut. Poin demi poin Ashley baca meskipun beberapa membuat bingung. Inti dari surat kontrak itu adalah pernikahan Ashley dan Rich hanya akan berlangsung selama dua tahun dan mereka tak akan melakukan hubungan suami istri selama jangka tersebut agar Ashley juga tak merasa dirugikan saat mereka berpisah nantinya.


Lalu setelah dua tahun, Richard akan pura-pura memergoki Ashley berhubungan dengan pria lain, dan mereka akan berpisah. Richard akan memberikan sejumlah uang pada Ashley untuk pergi ke luar negeri dan menanggung hidup Ashley di luar negeri selama setahun agar Ashley tidak dikejar-kejar oleh media perihal perpisahannya dengan Richard Alexander.


"Bagaimana? Ada yang membuatmu keberatan?" Tanya Richard setelah Ashley selesai membaca lembar kedua dari surat kontrak tersebut.


"Tentang alasan perpisahan kita," Ashley menunjuk ke poin keempat.


"Kenapa harus aku yang ketahuan selingkuh?" Tanya Ashley meminta penjelasan. Richard langsung mengernyit.


"Maksudku, pertunanganmu sebelumnya dengan Anneth batal karena wanita itu selingkuh. Lalu nanti pernikahanmu juga akan kandas karena pasanganmu selingkuh lagi. Apa itu tak akan membuat image tentang dirimu yang seperti pria bodoh karena mudah sekali diselingkuhi?" Ujar Ashley menjelaskan pertanyaan sebelumnya.


"Maaf jika bahasaku kasar, Rich! Tapi keledai tidak akan jatuh dua kali di lubang yang sama, kan?" Ashley membuat perumpamaan yang langsung membuat Richard terdiam.


"Tepat! Tadinya aku juga ingin memberikan saran di point itu, Rich! Kau akan terlihat bodoh jika memakai skenario perselingkuhan untuk perceraianmu nantinya," timpal Edward yang tumben sepakat dengan Ashley.


"Lalu harus memakai skenario apa? Aku yang selingkuh, begitu?" Tanya Richard menatap bergantian pada Ashley dan Edward.


"Aku pikir itu lebih baik ketimbang aku yang selingkuh," Ashley mengendikkan kedua bahunya.


"Atau kalau mau alasan yang sedikit berbeda mungkin bisa memakai skenario kau tidak menyukai wanita dan orientasi s*ksmu menyimpang," sambung Ashley lagi yang langsung membuat Edward menahan tawa.


"Aunty Fe akan langsung terkena serangan jantung jika kau memakai skenario kedua," celetuk Edward yang masih berusaha menahan tawanya. Padahal kalaupun pria itu mau tertawa terbahak-bahak, Ashley tak mungkin menghakimi.


"Kita pakai skenario aku selingkuh saja kalau begitu," putus Richard akhirnya seraya mendelik pada Edward.


"Semoga kedepannya benar-benar ada wanita yang membuatmu jatuh cinta, jadi kau tak perlu mencari pacar bayaran baru untuk skenario itu," tukas Ashley seraya meraih pena dan membubuhkan tanda tangannya di atas surat kontrak. Richard pun melakukan hal yang sama di samping nama Ashley.


Sekarang resmi sudah, kalau pernikahan ini hanyalah sebuah sandiwara!


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.