Queen Of Alexander'S

Queen Of Alexander'S
MAU KEMANA?



Edward dan Richard berjalan beriringan masuk ke kediaman Alexander, saat mereka melihat di ruang tengah semua anggota keluarga Alexander sudah berkumpul. Selain itu ada Henry, Hendy, dan juga Ashley yang ikut berkumpul juga.


"Ada apa?" Tanya Richard seraya mendekat ke arah Ashley. Wajah semua orang terlihat tegang dan Elleanore malah sudah sembab wajahnya, seolah baru saja menangis lama sekali. Gadis itu juga duduk di dekat Henry dan sesekali menyandarkan kepalanya di bahu Henry. Membuat suasana hati Edward mendadak jadi panas saja!


"Henry katanya ingin bicara hal penting," ujar Ashley memberitahu Richard serasa menatap pada wajah suaminya tersebut.


"Kau sedikit pucat. Apa kau sakit?" Tanya Ashley selanjutnya seraya berbisik.


"Sepertinya mau kena flu."


"Aku akan minum obat nanti setelah pulang ke apartemen," jawab Richard yang langsung membuat Ashley mengangguk.


"Rich!" Panggil Edward yang sepertinya sudah tak tahan dengan pemandangan Henry dan Elleanore yang berdekatan.


"Iya! Ayo ke ruangan dan ambil berkasnya, lalu kau bolehkah pulang!" Jawab Richard seraya mengayunkan langkahnya menuju ke ruang kerja bersama dengan Edward. Tak berselang lama, kedua pria itu sudah keluar lagi dan Edward langsung pamit pulang, setelah sedikit berbasa-basi pada Mom Fe dan Dad Dean.


Richard yang sudah melepaskan jas serta dasinya, mengambil posisi duduk di samping Ashley dan ingin turut mendengarkan apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Henry.


"Ini kenapa, Bang? Kata Abang Naka, Abang Henry dari luar kota. Lalu kenapa tangannya ada bekas infus begini?" Tanya Hendy seraya menelusuri lengan Henry.


"Ini bukan bekas infus!" Kilah Henry berdusta.


"Abang tergores pinggiran meja kaca kemarin, jadi harus diplester begini agar tak infeksi kata dokter," lanjut Henry menjelaskan pada sang adik.


"Lalu maksudnya Abang mau pergi lagi, Abang mau kemana?" Tanya Hendy lagi tak mengerti.


"Abang ada urusan lagi di luar kota. Jadi-"


Uhuuk! Uhuuk!


Henry batuk-batuk cukup lama dan penjelasannya pada Hendy sejenak terjeda.


"Jadi Abang mau kau tinggal di rumah ini mulai sekarang."


"Abang sudah bicara pada Aunty Fe dan Dad Dean, dan beliau berdua bersedia menjadi orang tua angkatmu mulai sekarang." Henry menatap pada Mom Fe dan Dad Dean yang duduk berdampingan.


"Abang mau kau belajar yang rajin mulai sekarang dan meraih apapun yang kau cita-citakan!" Henry mengusap kepala Hendy sekali lagi.


Elleanore yang merasa tak sanggup menyaksikan pemandangan ini memilih untuk pergi dan berlari menaiki tangga. Ashley dan Mom Fe turut menyusul Elleanore dan membiarkan para pria yang tinggal bersama Hendy dan Henry.


"Abang mau kemana sebenarnya?" Tanya Hendy dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Henry tak menjawab pertanyaan Hendy dan hanya memeluk adik semata wayangnya tersebut.


"Maaf, karena belum bisa mebjadi abang yang baik untukmu, Hendy!" Lirih Henry seraya memeluk Hendy dengan erat dan mata yang sudah berkaca-kaca.


Henry kembali batuk-batuk tanpa jeda dan saat Hendy melepaskan pelukan sang Abang, rupanya Henry sudah kembali tak sadarkan diri.


"Abang!"


****


"Dokter tidak mengijinkanmu pergi, melakukan perjalanan, ataupun turun dari bed perawatan ini!" Ujar Gika panjang lebar seraya menatap tegas pada Henry yang sudah kembali sadar.


"Aku tetap ingin pergi. Kau pasti bisa mengurusnya, Gika De Chio!" Jawab Henry keras kepala.


"Kenapa kau keras kepala sekali, Hen!" Sergah Gika penuh emosi.


"Hidup, mati semuanya sudah suratan takdir, Gika!"


"Lagipula, satu tahun hidup dalam kibangan rasa bersalah juga rasanya tak enak sekali," lanjuy Henry seraya tersenyum kecut.


"Jadi maksudnya kau mempercepat penyakitmu menjadi parah hanya karena rasa bersalahmu pada Stefy, begitu?" Sergah Gika benar-benar tak mengerti dengan kemauan Henry.


"Bukankah kai sendiri yang bilang kalau hidup dan mati adalah suratan takdir? Jadi kematian Stefy juga adalah suratan takdir! Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri!" Cecar Gika lagi kembali emosi.


"Tapi andai hari itu aku tak mengantar Stefy pulang-" suara Henry tercekat di tenggorokan karena pria itu tak mampu melanjutkan kata-katanya.


"Semuanya sudah takdir!" Gika menepuk punggung Henry dan bangkit berdiri, sepertinya hendak meninggalkan Henry.


"Bantu aku keluar dari sini, Gika!" Henry memohon pada Gika sekali lagi.


"Lalu kau akan pingsan lagi!" Sergah Gika mendelik pada Henry.


"Aku tak selemah itu!" Sanggah Henry cepat.


"Dasar keras kepala!" Cibir Gika seraya membuka pintu kamar perawatan dan hendak keluar.


"Gika!" Panggil Henry masih berharap. Namun nyatanya Gika hanya mengabaikan Henry dan pria itu sudah menghilang di balik pintu.


Henry hanya bisa mendes*h putus asa karena ia tak akan isa kemana-mana setelah ini.


****


"Ssstttt!"


Jam menunjukkan lewat tengah malam, saat seseorang membangunkan Henry dan sedikit membuat kaget.


"Kau siapa?" Tanya Henry menatap awas pada pria berkostum serba hitam di depannya.


"Ninja!" Jawab pria yang ternyata adalah Gika tersebut.


Gika melepas dengan hati-hati jarum infus dari tangan Henry, entah belajar darimana.


"Baiklah, sudah! Sekarang pakai baju ini dan kita akan pergi dari rumah sakit sesuai keinginanmu!" Gika mengangsurkan baju serba hitam pada Henry.


"Kau sudah memesankan tiket?" Tanya Henry lagi sembari mengganti pakaiannya.


"Sudah! Kau dan Elleanore akan berangkat besok pagi-pagi! Kau senang sekarang?" Jawab Gika ddngan nada lebay yang hanya membuat Henry tersenyum tipis.


"Aku datang sebentar lagi, Stefy Sayang!"


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.