Queen Of Alexander'S

Queen Of Alexander'S
JATUH CINTA?



Richard berdecak berulang-ulang saat memeriksa pekerjaan Edward yang tumben berantakan. Pria itu mengangkat gagang telepon internal di atas mejanya, bersamaan dengan Ashley yang baru datang mengantarkan makan siang.


"Ada apa? Kau terlihat kesal?" Bisik Ashley yang sudah mendekat ke arah Richard.


Richard langsung mel*mat bibir Ashley demi mengurangi rasa kesalnya pada Edward. Baiklah, ini sedikit membantu dan Richard rasanya tak mau berhenti. Tapi suara Edward di ujung telepon membuat Richard harus berhenti dan pria itu ganti mendekap tubuh Ashley.


"Ada apa, Rich?"


"Pekerjaanmu kacau semua hari ini, Ed! Apa kau sedang sakit? Atau kau sedang mabuk?" Cecar Richard emosi namun elusan tangan Ashley di dada suaminya itu sedikit meredamkan emosi Richard.


"Aku sakit!"


Suara Edward terdengar lirih dan lesu di ujung telepon. Bukan seperti Edward yang biasa.


"Lalu kenapa pergi ke kantor kalau sakit?" Tanya Richard dengan nada suara yang sedikit melunak.


"Karena jika aku di rumah, aku semakin merasa sakit."


"Kau sakit apa memangnya? Sakitmu aneh sekali?" Richard mengernyit bingung dan Ashley yang sejak tadi tak lepas dari dekapan Richard mendadak jadi kepo.


"Sakit yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata."


Richard semakin mengernyit tak mengerti


"Ke ruanganku sekarang!" Titah Richard akhirnya karena penasaran dengan sakitnya Edward. Tidak biasanya suara Edward terdengar lesu tak bersemangat.


Telepon terputus.


"Edward kenapa?" Tanya Ashley kepo.


"Aku juga tidak tahu!" Jawab Richard seraya meraih dagu Ashley dan memegut sejenak bibir istrinya itu.


Namun benar-benar hanya sejenak, karena Edward ternyata sudah masuk ke ruangan Richard dan terpaksa menghentikan pagutannya pada Ashley.


"Maaf, seharusnya aku mengetuk pintu!" Ucap Edward sedikit sinis, sebelum kemudian pria itu keluar lagi, lalu mengetuk pintu.


Ashley dan Richard saling bertukar pandang dan sama-sama memasang raut wajah bingung dengan sikap aneh Edward.


"Masuk!" Titah Richard akhirnya pada Edward yang masih mengetuk pintu.


Edward masuk ke dalam ruangan Richard, dan wajah pria itu memang terlihat lesu.


"Kau kenapa?" Tanya Richard penuh selidik.


"Tidak apa-apa!" Jawab Edward datar.


"Tapi tadi katamu, kau sedang sakit?" Richard menatap heran pada sang asisten.


"Sekarang sudah tidak," jawab Edward yang raut wajahnya tetap datar.


"Aneh sekali! Kenapa sembuhnya cepat sekali?" Ashley bergumam heran.


"Apa Elleanore akan menikah juga?" Tanya Edward tiba-tiba yang langsung membuat Richard dan Ashley kembali saling bertatap pandang.


"Menikah dengan siapa maksudmu? Dan kenapa tiba-tiba kau melontarkan pertanyaanseperti itu?" Tanya Richard menatap tak mengerti pada sang asisten.


"Kau jatuh cinta pada Elleanore?" Celetuk Ashley tiba-tiba yang langsung membuat Edward sedikit salah tingkah.


"Aku tak berkata begitu!" Kilah Edward akhirnya.


"Aku hanya bertanya, apa Elleanore akan menikah juga mengingat ketiga abangnya sudah menikah semua, dan Elleanore kemarin juga terlihat mesra bersama seorang pria-"


"Pria yang mana?" Tanya Richard penuh selidik memotong penjelasan Edward.


"Yang tadi malam bersama Elleanore!" Jawab Edward yang justru membuat bingung.


"Hendy?" Tebak Ashley yang langsung membuat Edward menggeleng.


"Victor?" Gantian Richard yang bertanya dan kedua alis Edward langsung mengernyit.


"Victor itu siapa?" Edward balik bertanya pada Richard.


Berapa banyak pria yang dekat dengan Elleanore sebenarnya?


"Anaknya Aunty Navya dan Uncle Erlan," jawab Richard saat kemudian Ashley berbisik di telinga suaminya tersebut.


"Victor tidak datang di acara pernikahan Gika kemarin."


"Benarkah?"


Ashley langsung mengangguk yakin.


"Lalu pria yang dimaksud Edward siapa?" Richard masih terlihat menerka-nerka.


"Juan?" Richard dan Ashley berucap serempak.


"Iya yang itu. Elleanore terlihat mesra bersama Juan. Apa mereka akan menikah dalam waktu dekat?" Tanya Edward dengan raut wajah datar.


Ashley langsung tergelak dengan pertanyaan konyol Edward.


"Juan perasaan sudah punya pacar. Namanya Jasmine kalau tidak salah." Ashley masih terus tergelak dan Edward mulai salah tingkah.


"Apa kau sedang cemburu?" Tebak Richard akhirnya seraya menuding pada Edward.


"Tidak!" Sanggah Edward cepat.


"Kau menyukai Elleanore, ya?" Gantian Ashley yang menggoda Edward.


"Sama sekali tidak!" Kilah Edward sekali lagi namun tetap salah tingkah.


"Dia sudah pernah menyakiti Elleanore dan meninggalkannya di GOR tanpa pamit hingga Elleanore nyaris celaka." Richard mengingatkan kembali tentang kesalahan Edward di masa lalu.


"Aku menyesal, oke!" Sergah Edward dengan suara meninggi.


"Aku juga sudah minta maaf pada Elleanore!" Lanjut Edward lagi mencari pembenaran.


"Elleanore sudah memaafkanmu?" Tanya Ashley penuh selidik.


"El bukan tipe gadis pendendam, Ash!" Richard membela Elleanore.


"Tapi Elleanore tak lagi mengejarku sekarang," Edward akhirnya membuat pengakuan.


"Ouh, jadi kau merasa kehilangan sekarang?" Goda Ashley lagi seraya menahan tawa.


"Kau saja tak pernah menghiraukannya dulu dan malah membuatnya hampir celaka. Lalu untuk apa El mengejarmu lagi?" Richard berkata sinis.


"Hey, hey, hey! Sayang!" Ashley merengkuh kedua pundak Richard, lalu menangkup wajah suaminya itu dengan gemas. Jangan tanya bagaimana ekspresi wajah Edward saat ini.


"Kita seharusnya mendukung asistenmu yang patah hati ini, dan tidak memojokkannya begini." Ashley masih menangkup wajah Richard yang entah kenapa semakin tampan saja dari hari ke hari. Ashley jadi ingin menyeretnya ke tempat tidur di balik rak, lalu menciumi wajah tampan Richard.


"Tapi dia sudah pernah membuat El hampir celaka, Sayang!" Richard balik menangkup wajah Ashley.


"Sudahlah! Aku akan keluar saja, jika kalian berdua hanya pamer kemesraan!" Rengut Edward yang sepertinya sedang cemburu pada Ashley dan Richard.


"Tunggu, Ed! Tidak usah buru-buru!" Cegah Ashley pada asisten Richard tersebut.


"Setiap orang punya kesempatan kedua, Rich! Jadi sekarang biarkan Edward berjuang untuk memenangkan hati El."


"Kalau El tidak mau?" Richard menuturkan kemungkinan.


"Kita tidak pernah tahu perasaan El! Setidaknya biarkan Edward berjuang dulu dan kita harus mendukungnya. Jika nanti di akhir ternyata El sudah tak ada perasaan apapun pada Edward, ya mau bagaimana lagi." Ashley menatap prihatin pada Edward.


"Edward harus berlapang dada menerimanya karena cinta memang tidak bisa dipaksakan." Lanjut Ashley saja.


"Anggap saja konsekuensi karena kau pernah mengacuhkan Elleanore saat gadis itu tergila-gila padamu," timpal Richard yang semakin membuat Edward merasa pesimis.


"Tetap semangat, Ed! Kami mendukungmu secara penuh pokoknya!" Ashley sudah menepuk punggung Edward dan memberikan semangat pada asisten Richard tersebut.


"Lalu aku harus bagaimana sekarang?" Tanya Edward bingung.


"Mulailah berusaha untuk menaklukkan hati El!" Ujar Ashley penuh semangat.


"Caranya?" Edward memasang raut wajah polos yang langsung membuat Ashley menepuk keningnya.


"Apa kau belum lernah pedekate pada seorang gadis sebelum ini?" Tanya Ashley menatap tak percaya pada Edward yang hanya menggeleng.


Sekali lagi, Ashley harus kembali menepuk keningnya.


"Sudah kubilang kalau dia itu lebih kaku dari aku," celetuk Richard yang hanya membuat Ashley memutar bola matanya.


Dulu Richard juga sekaku kanebo kering. Baru belakangan ini saja sedikit lemas setelah berulang kali celap celup pada Ashley.


Dasar sesama kanebo kering!


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.