Queen Of Alexander'S

Queen Of Alexander'S
KACAU



"Rich! Kau datang bersama siapa ini? Kekasihmu?" Pertanyaan yang dilontarkan oleh seorang pria paruh baya langsung membuat Richard mengumpat dalam hati berulang kali.


"Uncle Erlan! Dapat undangan juga?" Richard segera berbasa-basi pada mantan suami Mom Fe tersebut.


"Iya. Kebetulan menggantikan Abang Matthew yang sedang berada di luar kota," jawab Uncle Erlan sedikit menjelaskan. Richard mengangguk paham.


"Jadi, ini pacar barumu, Rich?" Sekarang gantian Aunty Navya yang melontarkan pertanyaan.


"Tunangan, Aunty!" Jawab Ashley cepat yang benar-benar membuat Richard ingin menyumpal mulut gadis itu.


"Sudah tunangan? Kapan? Kenapa tidak mengundang kami?" Cecar Aunty Navya sedikit kecewa.


"Baru rencana," Richard meringis dan salah tingkah.


Habis sudah!


Setelah ini Aunty Navya pasti akan cerita ke Mom dan Dad. Dan Richard akan terpaksa memperpanjang masa sewa Ashley sebagai pacar pura-puranya. Padahal Richard sudah sangat ingin menjauh sejauh-jauhnya dari gadis bawel menyebalkan ini!


Sial! Sial! Sial!


"Oh, berarti secepatnya, ya! Aunty tunggu undangannya, Rich!" Ujar Aunty Navya seraya menepuk punggung Richard.


"Iya, Aunty!" Jawab Richard tanpa semangat.


Kacau sudah semuanya!


"Oh, iya! Siapa nama calon tunanganmu, Rich?" Tanya Aunty Navya selanjutnya.


"Ashley, Aunty!" Jawab Ashley seraya menyalami Aunty Navya dan tersenyum hangat.


"Ashley! Nama yang cantik, ya! Secantik orangnya."


"Fe dan Dean beruntung sekali punya calon menantu secantik ini," ujar Aunty Navya lagi memuji-muji Ashley.


"Elleanore juga cantik," timpal Uncle Erlan memuji Elleanore yang tak berada di sini.


Ya ya ya!


Pasangan suami istri ini selalu meng-klaim Elleanore sebagai calon menantu mereka bahkan sejak Elleanore baru saja lahir! Padahal Elleanore saja masih ogah-ogahan dengan Victor dan malah tergila-gila pada Edward.


Tapi terserahlah!


Richard tak mau ikut-ikutan pusing karena Richard sudah pusing memikirkan dirinya yang akan kerap bersama Ashley setelah ini.


Sial! Sial! Sial!


"Ngomong-ngomong, Victor tidak ikut datang, Aunty?" Tanya Richard berbasa-basi menyela obrolan Aunty Navya dan Ashley yang mulai melantur kemana-mana.


Lagipula, Ashley cerewet sekali dan selalu punya jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan Aunty Navya. Dan gadis itu tak sedikitpun merasa gugup atau canggung saat menjawab pertanyaan Aunty Navya. Sepertinya sudah sangat berpengalaman!


"Victor sedang menemani Elleanore ke acara reuni malam ini," jelas Aunty Navya yang hanya membuat Richard mengangguk.


****


Victor hanya memutar bola matanya dengan malas saat melihat tingkah lebay Elleanore saat bertemu teman-teman SMA-nya. Pria itu memilih duduk di sudut ruangan dan melihat Elleanore saja dari kejauhan. Toh gadis itu juga sibuk dengan teman-temannya!


Sebenarnya Victor tadi merasa malas mengantar Elleanore ke acara reuni tak jelas seperti ini. Tapi karena Mami Navya memaksa Victor, jadilah Victor terpaksa menurut agar tak kena omel.


Lagipula, Victor juga tidak tahu kenapa Mami Navya bersemangat sekali menjodohkan Victor dengan Elleanore, padahal ini bukan jaman Siti Nurbaya. Dan Victor juga bukan pria tak laku yang tak bisa mencari jodoh sendiri seperti Abang Richard yang dingin macam kanebo kering itu! Victor sangat bisa mencari jodoh sendiri.


Ck!


Dasar Mami aneh!


"Ini calon suami kamu, ya, El?" Tanya seorang teman Elleanore saat Elleanore menghampiri Victor yang duduk sendiri di pojok ruangan.


"Bukan! Dasar sok tahu!" Gerutu Elleanore sebelum gadis itu kembali pergi. Rupanya Elleanore tadi menghampiri Victor hanya untuk mengambil dan menghabiskan minuman Victor.


Dasar Elleanore menyebalkan!


"Hai, Calon suaminya El!" Sapa seorang pria yang sudah duduk di samping Victor.


Siapa lagi pria ini?


"Bukan! Aku bukan calon suamingadis bawel itu!" Sanggah Victor seraya berdecak berulang-ulang.


"Tahu darimana dan kau itu siapa?" Tanya Victor galak.


"Oh, iya!"


"Aku Henry, teman sebangku Elleanore saat SMA!" Henry memperkenalkan dirinya sendiri pada Victor.


"Teman sebangku?" Victor menganga tak percaya.


"Berapa bulan jadi teman sebangku El?" Tanya Victor lagi kepo.


"Hampir tiga tahun. Kebetulan kami selalu satu kelas dari kelas sepuluh sampai kelas dua belas," jelas Henry.


"Serius? Kau tidak stroke sebangku bersama gadis bawel itu? Kupingmu tidak panas dan sakit mendengar kecerewetan Elleanore?" Cecar Victor yang langsung membuat Henry tertawa.


"Tentu saja tidak! Elleanore gadis yang lucu dan periang. Dia juga baik dan tak pernah membeda-bedakan teman," ujar Henry memuji-muji Elleanore.


"Kau sepertinya menyukai Elleanore!" Tebak Victor menerka-nerka.


"Menyukainya sebagai sahabat. Kk bersahabat!" Ujar Henry yang hanya membuat Victor tersenyum tipis.


"Henry! Kau datang?" Elleanore tiba-tiba sudah menghampiri Henry dan merangkulkan lengannya ke leher pria itu.


"Aku kira masih sibuk mengurus jadwal Abang Gika De Chiolatos!" Ujar Elleanore lagi meledek nama panggung Gika. Henry hanya terkekeh mendengarnya.


"Sudah selesai pemotreran tadi. Jadi aku ijin datang kesini. Gika juga sedang sibuk dengan pacar barunya," jelas Henry yang langsung membuat Elleanore berdecak dan geleng-geleng kepala.


"Ganti pacar lagi?"


"Katanya begitu! Baru dua hari," jawab Henry yang kembali membuat Elleanore geleng-geleng kepala.


"Benar-benar playboy cap buaya!" decak Elleanore bersamaan dengan ponsel Henry yang tiba-tiba berdering.


"Aku angkat telepon sebentar!" Izin Henry pada Elleanore dan Victor. Henry sedikit menjauh sebelum mengangkat telepon dari Gika.


"Hen, kau dimana?"


"Masih di tempat reuni. Ada apa?" Tanya Henry pada Gika yang suaranya terdengar terengah-engah di seberang telepon.


Gika gila!


Pasti pria itu sedang main kuda-kudaan dengan pacar barunya. Kenapa masih sempat-sempatnya menelepon Henry?


"Aku lupa kalau aku ada janji membelikan sebuah motor untuk seseorang."


"Motor?" Dahi Henry berkerut.


"Ya! Untuk seseorang bernama Tiff yang tinggal di panti asuhan Kasih Bunda. Kau urus, ya!"


"Kenapa kau membelikan motor untuk Tiff?"


"Aku menabrak motornya kemarin, lalu motornya terseret kontainer dan hancur. Hanya motor butut sebenarnya, tapi karena Tiff menangis meraung-raung meratapi motor butut jeleknya, jadi aku berjanji akan mengganti dan membelikannya yang baru."


"Lagipula harga motor hanya berapa! Aku tak akan jatuh miskin hanya karena membelikan motor untuk seorang wanita menyebalkan seperti Tiff." Gika menjelaskan panjang kali lebar masih dengan nafas yang ngos-ngosan. Membuat otak Henry ikut traveling saja! Dasar Gika menyebalkan!


"Kau bisa mengurusnya, kan?"


"Baiklah, bisa! Tapi motornya yang model bagaimana?"


"Terserah kau saja mau beli yang bagaimana! Aku tak tahu menahu soal motor."


"Jangan lupa kau urus! Bye!"


Sambungan telepon terputus dan Henry hanya mengendikkan kedua bahunya lalu kembali bergabung bersama Elleanore dan Victor lagi.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.