
Edward menoleh ke arah Elleanore yang masih diam tanpa berucap sepatah katapun sejak tadi mereka meninggalkan rumah Dad-nya Edward. Tentu saja Edward paham kalau sebenarnya Elleanore masih shock dengan apa yang ia lihat di apartemen Dad-nya Edward tadi. Dua pria tinggal di dalam satu rumah, dan berperan seolah salah satu dari mereka adalah istri dan satu lainnya adalah suami.
Edward sebenarnya sangat bisa mengelak atau berbohong pada Elleanore perihal keluarganya, namun Edward tak melakukannya karena Edward tak ingin menyembunyikan apapun dari Elleanore.
Edward meraih tangan Elleanore, lalu menggenggamnya dengan erat, hingga membuat Elleanore yang sejak tadi menatap kosong ke depan jadi menoleh ke arah Edward.
"Dulu Mom dan Dad menikah karena perjodohan. Aku juga tak terlalu tahu awal hubungan," Edward akhirnya buka suara dan memulai ceritanya.
"Lalu saat aku berusia lima tahun, Mom dan Dad resmi berpisah."
"Dad pergi dari rumah karena diusir oleh Mom. Sejak awal Mom memang yang memiliki kuasa atas semuanya termasuk diriku." Edward tersenyum kecut.
"Kau tinggal bersama Mom hingga dewasa?" Tanya Elleanore yang akhirnya ikut buka suara dan menanggapi cerita Edward.
"Sampai aku berusia tujuh belas tahun lebih tepatnya."
"Mom memberikan hadiah sebuah apartemen saat aku berusia tujuh belas tahun, dan sejak saat itu aku memutuskan untuk keluar dari rumah Mom." Terang Edward yang kembali menatap kosong ke depan.
"Mom tidak protes atau melarang?" Tanya Elleanore lagi.
"Tidak peduli lebih tepatnya."
"Mom jarang di rumah dan selalu sibuk mengejar ambisinya. Mom juga selalu berpikir, kalau selusin maid serta pengasuh yang ia bayar untuk melayaniku sudah bisa menggantikan perannya sebagai seorang ibu."
"Padahal itu semua tidak benar." Raut wajah Edward sudah berubah sendu. Elleanore mengusap-usap punggung Edward dan mencoba menyalurkan kekuatan untuk suaminya tersebut.
"Bahkan sampai detik ini Mom masih saja sibuk dengan dirinya sendiri," Edward tersenyum kecut.
"Dan Dad yang merasa dirinya dicampakkan oleh Mom kehilangan kepercayaan diri sebagai laki-laki hingga akhirnya trauma menjalin hubungan dengan seorang wanita, dan akhirnya kau tahu sendiri."
"Aku tak ingin menutupi apapun tentang keluargaku, El! Kau sudah tahu semuanya. Keluargaku memang seburuk itu," ucap Edward lirih yang langsung membuat Elleanore meraup Edward ke dalam pelukannya.
"Aku pernah membaca sebuah kata mutiara."
"Kita tidak bisa memilih di keluarga seperti apa kita dilahirkan, tapi kita bisa memilih keluarga seperti apa yang kedepannya akan kita bangun ketika sudah dewasa." Elleanore mengusap lembut kepala Edward yang kini mengangguk.
"Kita akan membangun sebuah keluarga yang penuh kasih sayang ke depannya." Edward menggenggam erat tangan Elleanore.
"Mendidik dan membesarkan anak-anak kita dengan limpahan kasih sayang serta perhatian seperti yang dilakukan oleh Mom Fe dan Dad Dean."
"Keluargamu adalah panutanku dalam membangun sebuah keluarga ke depannya," tukas Edward panjang lebar yang langsung membuat Elleanore tertawa kecil.
"Tapi jangan menyuruhku untuk punya banyak anak seperti permintaan Dad pada Mom," pinta Elleanore seraya mengusap butir bening di sudut mata Edward.
"Empat bukan jumlah yang banyak aku rasa. Abang Gika saja mau membuat selusin," sahut Edward mencari pembenaran.
"Ck! Tapi kata Kak Ashley kau masih kaku dan belum bisa menggendong bayi."
"Aku akan belajar nanti! Dan aku sudah tak kaku pada anak-anak! Kemarin di lokasi bencana aku sudah bermain bersama mereka, membacakan dongeng untuk mereka." Edward bercerocos panjang lebar.
"Baiklah, aku percaya." Elleanore menangkup gemas wajah Edward.
"Ada apa? Mau membuat bayi lagi?" Tanya Edward mengerling nakal pada Elleanore.
"Kau akan membuatku pingsan!"
"Tadi pagi saja kau sudah menggempurku hingga aku tak berdaya," Elleanore tersipu malu.
"Aku akan memberikan nafas buatan kalau kau pingsan," ujar Edward tetap genit.
"Mmmmmmmm!" Elleanore mendekatkan wajahnya ke wajah Edward, seperti hendak mencium. Tapi Elleanore tak benar-benar mencium Edward dan hanya mengusap wajah suaminya tersebut.
"Ayo jalan-jalan mumpung masih disini!" Ajak Elleanore seraya bangkit berdiri, lalu meninggalkan Edward yang hanya berdecak kecewa karena tak mendapat kecupan dari Elleanore.
"El!"
****
"Positif!" Elleanore memamerkan testpack yang menunjukkan dua garis merah pada seluruh anggota keluarga Alexander yang sore ini berkumpul di halaman belakang kediaman Alexander.
Beberapa minggu setelah pulang dari honeymoon, Elleanore tak lagi mendapatkan tamu bulanan dan istri Edward itu langsung positif hamil.
"Kak Ashley, hati-hati!" Semuanya refleks berteriak pada Ashley yang semakin pecicilan di kehamilan keduanya kali ini.
"El nggak bisa nafas, Kak!" Protes Elleanore pada Ashley yang memeluknya begitu erat.
"Baiklah, maaf! Sekali lagi selamat!" Ucap Ashley yang akhirnya melepaskan pelukannya pada Elleanore.
"Kau juga selamat, Ed-" Ashley baru saja akan memeluk Edward saat terdengar deheman keras dari Richard yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakang Ashley.
"Ash!" Tegur Richard cemburu. Semua anggota keluarga Alexander sontak tergelak.
"Baiklah, kita salaman saja, ya!" Ashley akhirnya hanya mengajak Edward salaman agar tak kena omel dari Richard bucin.
"Selamat ya, Sayang!" Mom Fe memeluk Elleanore dan turut bahagia dengan kabar kehamilan Elleanore. Pun dengan Tiffany dan Alsya yang juga bergantian memeluk dan memberi selamat untuk Elleanore serta Edward.
"Nanti yang ini kembar empat, ya!" Celetuk Tiffany yang langsung diaminkan oleh semua anggota keluarga Alexander.
"Kak Tiff kembar lima berarti," Elleanore balik berceletuk pada sang kakak ipar.
"Oh, tidak! Bayi Ashley itu yang kembar. Kehamilanku yang sekarang tunggal," jelas Tiffany pada semuanya.
"Nanti yang berikutnya kembar lima! Aku sudah tahu caranya!" Celetuk Gika yang langsung berhadiah delikan dari Tiffany.
"Masih mau berreproduksi?" Tanya Naka menatap heran pada sang saudara kembar.
"Aku hanya menjalankan titah Opa Bowles yang ingin memiliki selusin cicit," kilah Gika mencari alasan.
"Kau saja yang hamil selanjutnya, bukan aku!" Sungut Tiffany kesal.
"Jadi, bayi kak Ashley kembar?" Tanya Elleanore penasaran.
"Kata dokter begitu." Bukan Ashley, melainkan Richard yang menjawab. Pria itu juga sudah merangkul Ashley dengan posesif seperti biasa.
"Dad akan membangun satu lantai tambahan di rumah nanti agar semua punya kamar sendiri-sendiri," ujar Dad Dean yang ikut-ikutan merangkul Mom Fe dengan mesra.
Ya ya ya!
Sekarang semuanya sudah punya pasangan, termasuk Sunny yang selalu lengket dengan Hendy kapanpun dimanapun. Sudah bisa lanjut ke pelaminan sepertinya.
"Kenapa tidak dua lantai tambahan, Opa? Agar semua cucu Opa punya playground pribadi di lantai paling atas," cetis Sunny memberikan ide.
"Ide bagus! Kita bangun playground yang lebih luas untuk cucu-cucu kita, Dean!" Timpal Mom Fe mendukung ide Sunny.
"Baiklah! Dad akan membangunnya. Kalian semua senang sekarang?" Putus Dad Dean akhirnya yang langsung membuat semuanya bersorak dan para bayi yang mendadak menangis bersamaan seperti koor paduan suara. Semuanya langsung sibuk menggendong dan menimang-nimang bayi masing-masing. Kecuali Edward dan Elleanore yang bayinya masih berada di dalam perut, masih bisa santai rangkul-rangkulan.
"Jangan hanya sibuk pacaran! Kau harus belajar menggendong bayi mulai sekarang!" Ucap Gika tegas seraya memberikan bayi Gwen ke pangkuan Edward. Gika lanjut berlari ke toilet untuk muntah-muntah.
"Abang Gika masih ngidam?" Tanya Elleanore seraya membenarkan posisi bayi Gwen di pangkuan Edward. Seperti kata Ashley, Edward benar-benar masih kaku dan terlihat grogi.
"Sepertinya akan begitu terus sampai aku melahirkan. Biar dia merasakan dan berpikir ulang saat akan menghamiliku lagi," Cerocos Tiffany yang masih menimang-nimang bayi Griff. Namun sesaat kemudian, Mom Fe sudah mengambil alih bayi Griff dari gendongan Tiffany dan meminta menantunya itu untuk duduk saja.
"Dad dulu meskipun ngidam terus saat Mom hamil juga tidak kapok dan masih terus menghamili Mom kalian," celetuk Dad Dean yang langsung berhadiah cubitan dari Mom Fe.
"Tadinya Dad mau membuat kalian jadi sebelas bersaudara, tapi Mom menolak. Jadi Dad bisa apa," Dad Dean masih melanjutkan kalimatnya.
"Sekarang anak, menantu, dan cucumu sudah sebelas lebih. Jadi sudah tercapai keinginanmu, kan?" Sahut Mom Fe yang langsung membuat semuanya tergelak.
"Kita buat satu lagi tidak masalah sepertinya," ucap Dad Dean seraya mengerling nakal pada Mom Fe.
"Ingat umur, Dad!" sahut semua anak dan menantu di keluarga Alexander secara serempak.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.