Queen Of Alexander'S

Queen Of Alexander'S
TERPAKSA



Beberapa bulan berlalu.


Edward yang baru saja menyalakan mesin mobil, kembali memutar kunci dan mematikan kembali mesin mobilnya. Pria itu melepaskan sabuk pengaman dengan tergesa dan turun dari mobilnya.


"El!" Panggil Edward sedikit ragu pada Elleanore yang baru saja keluar dari kediaman Alexander.


Tadi pagi-pagi sekali, Edward memang datang ke kediaman Alexander untuk mengambil pekerjaan. Richard sedang tidak bisa ke kantor beberapa hari ini jarena Ashley yang terus saja merengek pada suaminya itu dan tak mau ditinggal. Bawaan ibu hamil memang kadang di luar nalar.


"Ya?" Jawab Elleanore dengan raut wajah datar.


"Mau ke kampus?" Tanya Edward berbasa-basi.


"Aku sudah tidak kuliah! Aku mau ke yayasan," jawab Elleanore tetap dengan raut datar. Tak ada lagi senyuman atau tatapan penuh kehangatan seperti yang dulu sering Elleanore tunjukkan saat gadis itu berjumpa dengan Edward. Lalu Elleanore juga akan mencecar Edward dengan berbagai pertanyaan yang membuat pekak telinga.


Tapi sekarang semua sudah tidak ada. Elleanore seolah berubah menjadi orang lain di depan Edward. Padahal saat bersama anggota keluarag Alexander, gadis ini masih cheerful dan bawel.


Mungkin Elleanore memang masih marah pada Edward dan belum move on dari Henry.


"Mau aku antar?" Tawar Edward seramah mungkin.


"Tidak terima kasih. Aku sedang buru-buru. Bye!" Tolak Elleanore sekaligus berpamitan. Gadis itu setengah berlari menuju ke mobilnya, lalu tak berselang lama, mobil warna putih itu sudah melaju meninggalkan kediaman Alexander dan meninggalkan Edward yang masih mematung seperti orang bodoh.


Edward memang bodoh, terutama dalam hal pedekate pada Elleanore. Sidah beberapa bulan berlalu dan tak ada kemajuan appaun dalam usaha Edward mendekati Elleanore.


"Kak El!" Seru Hendy yang baru keluar dari rumah seraya mengenakan seragam sekolahnya.


"Yah! Udah pergi!" Gumam Hendy lagi yang langsung membuat Edward mengernyitkan kedua alisnya.


"Eheem!" Edward berdehem pada Hendy yang wajahnya mirip sekali dengan Henry. Mungkin itu juga alasan lain Elleanore tak kunjung bisa move on dari Henry. Adiknya Henry tinggal di kediaman Alexander dan Elleanore setiap hari mingkin merasa sedang melihat Henry saat melihat wajah Hendy.


"Belum berangkat sekolah, Hendy?" Edward berbasa-basi pada Hendy.


"Hendy lupa kalau Sunny menginap di rumah Opinya, Bang! Tadi Hendy mau bareng Kak El, tapi malah udah pergi Kak El nya," tutur Hendy yang hendak masuk lagi ke dalam rumah, namin Edward mencegah dengan cepat.


"Hendy! Bareng abang saja!" Ajak Edward ramah.


"Benar?" Tanya Hendy yangvkedua matanya sudah berbinar.


"Iya, ayo!" Ajak Edward sekali lagi seraya membuka pintu mobilnya. Hendy tak membuang waktu lagi dan segera ikut masuk ke dalam mobil Edward.


"Sekolah kamu di mana?" Tanya Edward yang sudah mulai melajukan mobilnya menuju ke gerbang utama kediaman Alexander.


"SMP 4, Bang!" Jawab Hendy.


"Oh, kamu masih SMP, ya? Abang kira sudah SMA," Edward sedikit terkekeh dan tak menyangka akan secepat ini akrab dengan Hendy. Padahal biasanya Edward akan bersikap kaku pada orang yang tak terlalu ia kenal.


"Baru juga dua belas tahun, Bang! Baru kelas tujuh," jelas Hendy lagi.


"Tapi udah tinggi sekali kamu," Edward kembali terkekeh dan tetap fokus pada jalanan di depannya. Hendy dan Edward masih asyik mengobrol, sampai saat mobil Edward hampir tiba di sekolah Hendy, pria itu melihat mobil Elleanore yang berhenti di pinggir jalan dan sepertinya sedikit bermasalah.


"Itu mobil Kak El, Bang!" Ujar Hendy yang ternyata juga melihat mobil Elleanore.


"Iya, sepertinya terjadi sesuatu," gumam Edward yang langsung menepikan mobilnya di belakang mobil Elleanore.


Edward turun dari mobil dan segera menghampiri mobil Elleanore.


"Ada apa?" Tanya Edward selanjutnya.


"Ban kempes," jawab Elleanore datar.


"Tapi temanku sedang dalam perjalanan kesini dan akan menjemputku sebentar lagi," lanjut Elleanore sebelum Edward sempat menawarkan tumpangan.


"Masih lama? Ayo aku antar saja," tawar Edward tak menyerah.


"Sebentar lagi. Aku akan menunggu-"


"Bang Edward! Hendy sudah telat!" Seruan Hendy dari dalam mobil membuat Elleanore dan Edward menoleh serempam pada bocah dia belas tahun tersebut.


"Hendy bersamamu?" Tanya Elleanore menatap kaget pada Edward.


"Iya, tadi kau lupa mengantarnya ke sekolah-"


"Ya ampun!" Elleanore mengetuk keningnya sendiri.


"Jadi aku ajak bareng saja sekaloan berangkat ke kantor." Edward melanjutkan kalimatnya.


"Aku benar-benar lupa!" Ujar Elleanore yang buru-buru menghampiri Hendy yang masih berada di dalam mobil Edward.


"Mobil Kak El kenapa? Ayo bareng Hendy dan Abang Edward saja. Sepertinya Kak El juga buru-buru," ajak Hendy pada Elleanore.


Elleanore baru saja alan menjawab saat ponsel gadis itu berbunyi. Segera Elleanore mengangkatnya.


"Iya! Sudah dimana?"


"Sudah sampai di lokasi. Kau dimana?"


"Ya ampun! Tadi kan aku suruh jemput di dekat bundaran!" Elleanore sedikit berdecak.


"Naik taksi saja! Dan cepag menyusul!"


"Baiklah!" Jawab Elleanore kesal.


"Ayo, Kak El!" Ajak Hendy lagi.


"Aku sudah menelepon bengkel dan nanti mereka akan mengurus mobilmu. Ayo aku antar sekalian!" Ujar Edward yang sudah ikut menghampiri Elleanore dan Hendy.


Elleanore hanya menghela nafas dan akhirnya membuka pintu belakang mobil Edward, lalu masuk ke dalamnya. Edward mengulas senyum tipis sebelum ikut masuk dan duduk di belakang kemudi.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.